Friday, October 4, 2019

Jalsah Salanah Qadian 2016, Satu Nubuatan Yang Tergenapi (Bagian 2-Habis)

 2017/01/23

Belum genap waktu satu tahun, perkataan yang terucap dari mulut berberkat Hudhur ini telah disempurnakan oleh Allah Ta’ala secara menakjubkan. Taufik untuk menggenapi nubuatan tersebut telah diraih oleh para Ahmadi Indonesia karena mereka telah datang untuk mengikuti Jalsah Salanah Qadian 2016 dengan menumpangi sebuah pesawat carteran khusus. 
Berdasarkan ruya tersebut, saya beranggapan bahwa akan tiba waktunya, seperti halnya orang-orang datang ke Qadian untuk mengikuti jalsah dengan mengendarai delman lalu menggunakan kendaraan bermotor yang meninggalkan jejak lubang di jalan-jalan. Saat ini kereta api mengangkut orang-orang ke Qadian. Demikian pula, akan tiba masanya nanti ketika jalsah salanah berlangsung, kita akan kerap mendengarkan pengumuman yang berbunyi “baru saja tiba sekian pesawat dari suatu negara”. Dalam pandangan dunia, hal tersebut akan sangat mengherankan, namun tidak demikian dalam pandangan Allah Ta’ala.
baca juga: 
  • No items.
Lalu beliau Hazrat Muslih Mau’ud (ra) bersabda, “saya meyakini bahwa tidak lama lagi akan tiba masanya ketika orang-orang dari berbagai penjuru dunia akan berdatangan ke Qadian dengan menumpangi pesawat terbang dan moda-moda transportasi lainnya yang sampai saat ini kitapun masih belum mengenalinya. Pada saat itu seluruh jemaat dari berbagai belahan dunia akan berkumpul di Qadian, karena Hazrat Masih Mau’ud (as) telah menerima seluruh ilham yang sama persis seperti yang didapatkan oleh Hazrat Ibrahim (as) ketika membangun Mekah. (Khutbah Jumah 10 Desember 1937).
Hazrat Khalifatul Masih Al-Khamis (atba) telah menyampaikan khutbah Jumah pada tanggal 25 Desember 2015 dari Masjid Baitul Futuh, London. Setelah menyampaikan sabda-sabda Hazrat Muslih Mau’ud (ra) seperti yang tertulis diatas, beliau ABA selanjutnya bersabda,
“Dengan karunia Allah Ta’ala kita sering sekali menyaksikan pemandangan tersebut. Seperti yang telah saya katakan, bahwa para ahmadi yang berasal dari 20 atau 25 negara, saat ini telah tiba di Qadian untuk mengikuti jalsah dengan menumpangi pesawat terbang. Sebagian dari antara mereka ada juga penduduk lokal suatu negeri yang sebelumnya tidak pernah terbayangkan akan dapat berkunjung ke Qadian. Tidak lama lagi akan tiba masanya, suatu hari nanti orang-orang akan datang ke Jalsah Qadian dengan menumpangi pesawat-pesawat carteran,” (Surat Kabar Badar edisi 21 Januari 2016 Hal. 4 Kolom 2).
Belum genap waktu satu tahun, perkataan yang terucap dari mulut berberkat Hudhur ini telah disempurnakan oleh Allah Ta’ala secara menakjubkan. Taufik untuk menggenapi nubuatan tersebut telah diraih oleh para Ahmadi Indonesia karena mereka telah datang untuk mengikuti Jalsah Salanah Qadian 2016 dengan menumpangi sebuah pesawat carteran khusus. Ketika ucapan tersebut keluar dari mulut berberkat Huzur, saat itu juga Allah Ta’ala memerintahkan “Kun” (Jadilah-Pen), lalu pada waktu itu juga para malaikat mulai bekerja untuk memenuhinya. Berlomba-lomba dalam kebaikan, dengan karunia Allah Ta’ala merupakan keistimewaan Jamaah Ahmadiyah. Kita dapat mengatakan bahwa di masa yang akan datang pesawat-pesawat carteran lainnya akan terus berdatangan dan mata rantai ini akan terus meningkat setiap tahunnya. Insya Allah.
Mln. Sayuti Aziz Ahmad Sahib, Principal Jamiah Ahmadiyah Indonesia termasuk dalam rombongan pesawat tersebut dan hadir pada kesempatan Jalsah Salanah Qadian 2016. Ketika menyampaikan kesan-kesan pada sesi kedua di hari pertama Jalsah Salanah, beliau pun menyampaikan perihal penggenapan nubuatan tersebut dengan penuh rasa haru.
Semoga kita menjadi saksi mata akan tibanya masa ketika para ahmadi yang berasal dari berbagai penjuru dunia berkumpul pada Jalsah Qadian 2016. Amin.
Diterjemahkan dari Surat Kabar Mingguan Badr, Qadian 5-12 Januari 2017
Alih Bahasa : Mln. Mahmud Ahmad Wardi
Editor : Talhah Lukman Ahmad
http://warta-ahmadiyah.org/jalsah-salanah-qadian-2016-satu-nubuatan-tergenapi-bagian-2.html

Jalsah Salanah Qadian 2016, Satu Nubuatan Yang Tergenapi (Bagian 1)

 2017/01/23
10 Desember 1937, Sayyidina Hazrat Muslih Mauud (ra) menyampaikan khutbah berkenaan dengan keutamaan dan keberkatan Jalsah Salanah. Dalam khutbah tersebut, selain menjelaskan berkenaan dengan keutamaan dan keberkatan mengikuti jalsah
INDIA – Alhamdulillah, Jalsah Salanah Qadian telah terselenggara dengan sukses, 26 sampai dengan 28 Desember 2016. Sebagaimana yang anda ketahui bahwa Hazrat Masih Mau’ud (as) telah meletakkan pondasi jalsah berdasarkan wahyu dan Ilham dari Allah Ta’ala. Beliau juga telah memberi kabar ghaib bahwa suatu saat nanti Jalsah akan mengalami puncak kesuksesan dan kemajuan yang luar biasa. Beliau (as) bersabda,
“Janganlah menganggap Jalsah ini sebagai perkumpulan biasa saja. Perkara ini adalah murni mendapatkan dukungan kebenaran dan merupakan pondasi untuk meninggikan kalimah Islam. Batu pondasi Jemaat ini telah diletakkan oleh tangan Allah Ta’ala sendiri dan untuk meraih tujuan tersebut, telah dipersiapkan bangsa-bangsa yang tidak lama lagi akan saling bertemu, karena ini adalah pekerjaan Sang Maha Kuasa yang dihadapan-Nya tidak ada perkara yang mustahil. Nubuatan-nubuatan yang berkaitan dengan jalsah Hazrat Masih Mauud (as) ini tengah tergenapi dengan luar biasa dan pada masa yang akan datang pun akan terus tergenapi lebih dahsyat dari sebelumnya. Nubuatan-nubuatan ini bersifat kontinuitas yang akan terus tergenapi di masa yang akan datang dengan keagungan dan manifestasi yang baru. Insya Allah,”
baca juga: 
  • No items.
Satu keistimewaan pada Jalsah Salanah Qadian 2016 adalah keikutsertaan 183 orang ahmadi Indonesia yang datang dengan menumpangi satu pesawat khusus carteran. Pada tanggal 23 desember, sebuah pesawat khusus Malaysia Indonesia Airline (Malindo Airline) yang mengangkut ke 183 Ahmadi yang beruntung tersebut, mengudara dari Bandara Jakarta (Soekarno-Hatta-red) dan tiba pada hari itu juga pukul 16.00 sore waktu setempat di bandara Amritsar setelah terlebih dahulu transit di bandara Kuala Lumpur, Malaysia. Penerbangan berlangsung selama 8 jam. Sesuai peraturan bandara, tidak diizinkan untuk merekam video di area bandara, namun untuk mengabadikan momen-momen bersejarah ini telah dimintakan izin khusus kepada pejabat tinggi bandara. Dengan karunia Allah Ta’ala semata, disebabkan oleh statusnya yang cinta damai, sehingga pihak jemaat mendapatkan izin untuk mengabadikan video di area bandara.
Pada hari terakhir Jalsah Salanah (28/12), sebelum penayangan pidato Huzur secara live di jalsah gah, terlebih dahulu ditayangkan video dokumentasi Jalsah Salanah Qadian 2016. Pada tayangan tersebut diperlihatkan juga video singkat momen tibanya pesawat carter khusus di Amritsar yang membawa penumpang Ahmadi asal Indonesia. Pemandangan tersebut betul-betul menggugah keimanan dan sangat mengharukan. Setelah menyaksikan kemajuan Jalsah yang luar biasa tersebut dan tergenapinya nubuatan-nubuatan agung Hazrat Masih Mauud As, hati diliputi rasa takjub dan bahagia yang tak terhingga, kebahagiaan yang meluluhkan hati dan meneteskan air mata keharuan.
10 Desember 1937, Sayyidina Hazrat Muslih Mauud (ra) menyampaikan khutbah berkenaan dengan keutamaan dan keberkatan Jalsah Salanah. Dalam khutbah tersebut, selain menjelaskan berkenaan dengan keutamaan dan keberkatan mengikuti jalsah, beliua juga bersabda,
“Para hartawan masih belum masuk ke dalam jemaat kita, sedangkan sarana transportasi yang digunakan untuk bepergian dari satu tempat ke tempat lainnya, menuntut biaya yang tidak sedikit sehingga pada saat ini para ahmadi masih kesulitan untuk datang ke Qadian dari negerinya. Namun jika pada suatu masa nanti para hartawan masuk kedalam Jemaat ini dengan karunia Allah Ta’ala atau jika biaya perjalanan menjadi sangat terjangkau dan orang-orang mendapatkan berbagai macam kemudahan, maka pada saat itu orang-orang akan berdatangan (ke Qadian) dari berbagai penjuru dunia. Jika pada saatnya nanti terlahir para hartawan ahmadi di Amerika yang memiliki kemampuan untuk membiayai perjalanan (ke Qadian), maka selain ibadah haji adalah penting baginya untuk datang ke Qadian sekurang-kurangnya satu atau dua kali untuk mengikuti jalsah salanah, sebab Qadian merupakan khazanah keberkatan ilmu dan limpahan keberkatan markaz akan tercurah kepada mereka. Saya yakin, akan tiba masanya nanti orang-orang akan berdatangan kemari dari negeri-negeri yang jauh, sebagaimana terdapat satu ru’ya Hazrat Masih Mau’ud (as), di dalam ru’ya tersebut beliau melihat bahwa beliau (as) sedang berenang di udara lalu bersabda. “Dahulu Hazrat Isa (as) berjalan di air sedangkan aku tengah berenang di udara dan karunia Tuhan yang turun kepadaku lebih besar dari pada karunia yang turun kepada beliau (as),”
Diterjemahkan dari Surat Kabar Mingguan Badr, Qadian 5-12 Januari 2017
http://warta-ahmadiyah.org/jalsah-salanah-qadian-2016-satu-nubuatan-tergenapi-bagian-1.html

Hari Pertama Pertemuan Internasional Ahmadiyah di Qadian dihadiri 12.000 orang

 2017/01/04
Ulama-ulama Ahmadiyah menyampaikan ceramahnya dalam acara tersebut, diantaranya Maulana Sultan Ahmad tentang “Eksistensi Tuhan”. 
GURDASPUR – Pertemuan Jamaah Muslim Ahmadiyah Internasional yang ke 122 dimulai di kota Qadian, 26 Desember 2016.
Sesi pertama acara dipimpin oleh Maulana Muhammad Inam Ghaori (Nazir A’la Muslim Ahmadiyah India), beliau menjelaskan bahwa pondasi pertemuan ini (Jalsah Salanah) awalnya telah diletakkan oleh Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad dari Qadian, pendiri Jemaat Muslim Ahmadiyah, pada tahun 1891 M.
baca juga: 
  • No items.
Imam Ghaori meminta pada para peserta untuk bergiat dalam meningkatkan rohani mereka dan berusaha meningkatkan peran mereka dalam pembangunan negara mereka.
Ulama-ulama Ahmadiyah menyampaikan ceramahnya dalam acara tersebut, diantaranya Maulana Sultan Ahmad tentang “Eksistensi Tuhan”.
Sesi pertama acara Jalsah ini dihadiri lebih dari 12.000 peserta dari seluruh dunia.
Sekh Mujahid Ahmad, Sekretaris Pers Jamaah Muslim Ahmadiyah mengatakan bahwa berbagai cendekiawan dan perwakilan dari berbagai agama akan ikut hadir dalam acara ini.
Sumber : India Today 
Alih bahasa : Lisnawati
Editor: Mln. Khaeruddin Ahmad Jusmansyah
http://warta-ahmadiyah.org/hari-pertama-pertemuan-internasional-ahmadiyah-qadian-dihadiri-12-000-orang.html

Thursday, September 19, 2019

Ulama dan Buku

Jumat, 6 Desember 2013

Bandung Mawardi

5 Desember 2013, teman-teman berkumpul di Bilik Literasi, mengikuti acara Tadarus Buku. Priyadi mengisahkan buku lawas, berjudul Keindahan Bahasa Kita karangan Pulungan. Ada kesadaran berbahasa dan bersastra. Buku lawas itu cenderung memuat pelbagai hal tentang sastra, dari pantun sampai puisi bercap modern. Sebelum Tadarus Buku, aku berbagi cerita ke mereka tentang 3 orang asal Minangkabau: Haji Abdul Karim Amrullah, Haji Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka), Abdul Wadud Karim Amrullah. Aku berjanji ke mereka untuk berbagi nukilan buku Haji Abdul Karim Amrullah, ulama moncer, pemimpin gerakan Kaum Muda di Minangkabau, menggerakkan pembaharuan.

Abdul Wadud Karim Amrullah dalam buku Dari Subuh Hingga Malam: Perjalanan Seorang Putra Minang Mencari Jalan Kebenaran mengisahkan sosok Haji Abdul Malik Amrullah meski secuil. Pengisahan panjang telah disampaikan oleh Hamka melalui buku berjudul Ayahku: Riwayat Hidup Dr. H. Abdul Karim Amrullah dan Perjuangan Kaum Agama di Sumatera. Dua orang telah mengisahkan Haji Abdul Karim Amrullah. Aku kagum membaca dua anak berkisah bapak.


Aku ingin turut berkisah tentang Haji Abdul Karim Amrullah, melalui buku lawas Al-Qauloeccahih (Marah Intan alias Dt. Nan Bareno, Jogjakarta). Buku ini semula terbit tahun 1926 di Bukittinggi oleh Drukkerij Samaratoel Ichwan. Edisi awal mencantumkan keinginan pengarang: “Tidak boleh ditjitak dengan tidak izin saja” dan “Pengarang! Kalau saja meninggal doenja pindah kekoeasaan kepada waris saja jang menoeroet agama soepaja ma’aloem.”


Buku ini dicetak ulang lagi. Penerbit di Jogjakarta menjelaskan: “Maka dari karena boekoe Al-Qawloes-Shahih ini, moela-moela ditjitak didalam bahasa Melajoe toelisan ‘Arab sadja, sedang kebanjakan orang koerang mengerti membatja toelisan ‘Arab bahasa Melajoe itoe, lebih-lebih lagi ditanah Djawa, maka terpaksalah kita mintak kepada Toean Dr. H. Abdulkarim Amrullah itoe, agar kita dapat menjalin ini boekoe kedalam bahasa Melajoe toelisan Latijn itoe, ialah agar ‘oemoem memfa’atnja, lebih-lebih lagi ditanah Djawa…”

Buku ini dikarang oleh Haji Abdul Karim Amrullah di Padang Panjang, diterbitkan di Bukittinggi dan Jogjakarta. Aku merasa ada pola sebaran literasi agama secara beruntun, melibatkan sekian pelaku dan pelbagai kepentingan. Buku ini tentu memiliki pengaruh besar di Sumatra dan Jawa saat ada reaksi atas keberadaan penganut Ahmadiyah. Apakah buku ini pernah dipakai sebagai rujukan saat para ahli menjelaskan tentang konflik berkaitan Ahmadiyah sekian tahun silam? Aku belum tahu. Apakah para pembaca buku-buku Hamka memerlukan juga membaca dan mengoleksi buku karangan Haji Abdul Karim Amrullah? Apakah pengarang juga memberi pengaruh ke Hamka dalam urusan kepenulisan dan pemikiran agama? Wah! Aku terlalu ingin mengerti, berharap bisa merekonstruksi situasi literasi dan keberagamaan di masa 1920-an.

Haji Abdul Karim Amrullah menulis tentang pengakuan Goelam Ahmad sebagai nabi: “Sedang Goelam Ahmad sendiri sementara hidoepnja soedah djoega mengirim soerat seroeannja kepada ‘oelama-‘oelama di Mesir jang mana mereka menoelak soeratnja itoe, seperti sajjidinan Moehammad Rasjid Ridha pengarang Al-Manar dan Moestafa Kamil almarhoem dan lain-lain oelama, akan tetapi adakah dia mengakoe dirinja nabi atau rasoel atau tidak maka tidaklah dapat kita keterangannja jang sahih.”


Perdebatan tentang Ahmadiyah masih berlangsung sampai sekarang. Aku tak terlalu mendalami sumber-sumber perdebatan atau permusuhan, berkaitan kehadiran dan perkembangan Ahmadiyah di Indonesia. Aku cuma tahu bahwa Ahmadiyah pernah membuat sekolah-sekolah di Jawa. H.O.S. Tjokroaminoto dan sekian tokoh agama memiliki hubungan dengan orang-orang Ahmadiyah bersemangat toleransi. Aku tak ingin terlibat urusan pelik. Inginku, beragama tak perlu saling bermusuhan dan adu kekerasan.

Penilaian Haji Abdul Karim Amrullah memang tegas dan lugas. Aku menduga ada ekspresi tegang saat penulisan buku. Bagaimana para pembaca menanggapai keterangan dan argumentasi dari Haji Abdul Karim Amrullah? Aku tentu tak bisa kembali ke masa 1920-an. Aku berharap kelak ada orang mau menerangkan, memberikan pemahaman sejarah Islam di Indonesia. Aku jadi ingat buku terbaru Ricklef, Mengislamkan Jawa, 2013. Aku harus belajar sejarah Islam di Sumatra dan Jawa agar tak bodoh selama seratus tahun. Memalukan!


Haji Abdul Karim Amrullah menulis: “Maka sekarang soedah njata benar bertemoe tanda itoe pada Goelam Ahmad dan kaoem Ahmadi jaitoe mendatangkan wahi-wahi palsoe akan penambah-nambah Qoeran dan hadis-Hadis penghoeloe kita, jang mana wahi-wahi itoe semata-mata dari pada sjetan hantoe jang diperdapatnja didalam pertapaannja diatas goenoeng didalam goea-goea batoe setjara ‘adatnja Hindoe…” Aku tak boleh membaca-menerima konklusi ini tanpa lacak keterangan berkaitan konteks model dakwah dan anutan paham dari umat Islam di Indonesia.

Buku-buku agama dari masa lalu sering menimbulkan penasaran. Para ulama rajin menulis buku, berdakwah dengan huruf-huruf tertulis. Halaman-halaman buku adalah perantaraan untuk menjumpai umat. Dakwah berkaitan melek-aksara, pembesaran selebrasi literasi. Sekarang, ulama masih rajin menulis? Aku enggan menjawab ketimbang mendapat tuduhan-tuduhan aneh. Aku selalu berharapan, para ulama rajin menulis buku tapi “bermutu”. Aku sering melihat buku-buku agama di pelbagai toko buku kurang memberi gairah untuk mengajak publik mempelajari agama. Begitu.

https://bandungmawardi.wordpress.com//?s=ahmadi&search=Lanjut

Buku dan Harmoni

Kamis, 24 Oktober 2013

Bandung Mawardi

Hidup di kamar, ruang seminar, hotel mirip jeda aneh. 17-20 Oktober, aku mengikuti Borobudur Writers & Cultural Festival 2013, bertema Arus Balik: Memori Rempah dan Bahari Nusantara. Aku mengikuti seminar demi seminar, berbekal ingatan dan jaket untuk menahan dingin. Para pembicara mengajukan penjelasan-penjelasan apik, menggugah imajinasi untuk mengerti sejarah Nusantara.

Dua lelaki bercerita tentang laut. Mereka mengisahkan kehidupan di darat dan laut, menjalani pelbagai peristiwa dengan ritual-ritual. Iwan mengisahkan Mandar. Bona mengisahkan Lamalera. Aku duduk gelisah, mendapati kerinduan beragama secara luwes dan harmoni. Di Mandar, Islam merasuk tanpa klaim-klaim kemurnian agama. Di Lamalera, Katolik bisa meresap dalam kehidupan, mengajak orang menjalani hidup sebagai peribadatan. Aku pun menginginkan penjelasan ke mereka, mengenai kehadiran agama di Mandar dan Lamalera. Agama langit bisa dialami sebagai agama bahari.

Imajinasiku mengarah ke peristiwa kehadiran pendeta, ulama tentu menggunakan kapal. Mereka datang membawa kitab suci, mendakwahkan agama. Kapal jadi alat transportasi penting untuk melintasi samudra, selat, sungai. Aku mendapat penjelasan apik dan gamblang. Mereka hidup dalam harmoni, berbeda dengan lakon-lakon mutakhir: agama dijadikan dalih berkonflik.


Pulang dari Borobudur, aku membaca kembali buku Da’watoel ‘Amal karangan Maulana Muhammad Ali. Buku ini tentu bisa sampai ke Nusantara menggunakan kapal. Oemar Said Tjokroaminoto berperan sebagai penerjemah buku, dari bahasa Inggris ke bahasa Melayu. Tokoh kondang dari Sarikat Islam menerjemahkan buku dari pimpinan Ahmadiyah. Buku terjemahan diterbitkan oleh Mirza Wali Ahmad Baig, mubaligh Ahmadiyah di Jogjakarta.

Aku tak pernah menduga jika Oemar Said Tjokroaminoto adalah penerjemah buku. Informasi tentang Oemar Said Tjokroaminoto sering berurusan dengan orasi dan penulisan buku-buku agama. Buku paling terkenal berjudul Islam dan Sosialisme, 1924. Aku harus rajin belajar agar terhindar dari kebodohan. Amin. Buku Da’watoel ‘Amal membuktikan ada harmoni di masa silam. Aku kagum dan terkejut. Oh!

Penjelasan tentang kehadiran buku terjemahan ini memerlukan pengakuan terbuka, dari urusan isi buku sampai misi penerbitan di Indonesia. Oemar Said Tjokroaminoto menjelaskan: “Dengen senang hati kita mengaboelkan permintaannja saudara Mirza Wali Ahmad Baig, oetoesan Pergerakan Ahmadijah di Djokdjakarta, akan menjalin karangan terseboet di atas ini dalam bahasa Melajoe. Kesoekaan kita dengan ichlas mengaboelkan permintaan itoe teroetama sekali ialah kita pandang sebagai satoe tanda silatoerrahmi antara saudara-saudara kaoem Ahmadi dengan saudara-saudara kaoem Moeslimin di negeri toempah-darah kita, jang tentang Islam dan keislaman ada bertoenggal azas, bertoenggal faham, bertoenggal fikiran dan bertoenggal haloean dengan jang bertanda di bawah ini.” Aku mengerti saat membaca kalimat-kalimat dari Oemar Said Tjokroaminoto. Ada pesan penting: buku menjadi ejawantah harmoni dan persaudaraan.

Aku terlambat membaca buku ini jika mengingat adegan-adegan konflik dan kekerasan berdalih agama. Orang-orang membawa pentungan dan berteriak melafalkan nama Tuhan. Adegan pemukulan, pengusiran, pembakaran rumah, pembunuhan terjadi akibat klaim paling benar dalam beragama. Buku ini bisa mengingatkan bahwa ada harmoni di masa lalu meski berbeda paham. Oemar Said Tjokroaminoto menjadi teladan, berada di barisan mencipta harmoni di kalangan Islam.

Buku Da’watoel ‘Amal harus aku perlihatkan ke para ulama, intelektual, politisi…. Buku ini bakal membuat mereka insaf, menghindari konflik dan mengadakan harmoni. Perbedaan paham atau tafsir tak perlu melukai atau menghinakan. Aku jadi ingin mengutip sepenggal penjelasan tentang Islam: “Di kelak kemoedian hari mata-hari terbit dari Barat, begitoelah disabdakan oleh Nabi kita jang soetji. Ternjatalah jang dimaksoedkan dengan mata-hari jaitoe ‘mata-hari Islam’ jang moela-moela pertama terbit di Timoer, dan telah memenoehi negeri-negeri Timoer dengan tjhajanja jang gilang-gemilang. Negeri Barat poen lebih doeloe telah menerima tjahaja batin, sebagai djoega kelak kemoedian hari menerima tjahaja lahir, dan tjahaja batin itoe telah memenoehi negeri Barat ialah kebetoelan pada kalanja Islam soedah kehilangan sebanjak-banjaknja dari kekoeasannja perkara doenia.” Penjelasan puitis, kompetensi dan selera bahasa dari Oemar Said Tjokroaminoto pasti memberi pengaruh dari kehadiran kata-kata. Aku kagum, kagum, kagum.

Di masa lalu, bacaan-bacaan mengajak orang beragama secara indah. Sekarang, buku-buku berlabel agama justru bisa merangsang permusuhan, perang, konflik, diskriminasi. Buku itu simbol harmoni, mengisahkan sejarah persaudaraan dengan keinsafan. Agenda literasi bergerak bersama semaian harmoni. Wah!


Aku perlu menghadirkan kutipan iklan di sampul belakang: “Apakah Toean soedah berlangganan pada soerat kabar bahasa Inggris bernama THE LIGHT? Kalau beloem, soenggoeh Toean kehilangan perdjamoean jang sedap rasanja pada tiap-tiap empat belas hari sekali. sebagaimana namanja ada menoendjoekkan, maka soerat kabar jang terseboet itoe menjiar-njiari dan menerang-nerangi dengan tjahaja Islam jang dejrnih.” THE LIGHT diterbitkan oleh Mirza Wali Ahmad Baig. Aku belum mengenal dan bercakap dengan Mirza Wali Ahmad Baig, manusia cerdas dan beriman, memiliki misi literasi dalam dakwah. Ampuh!

Buku ini pantas dibaca bersama saat lakon perbukuan agama di Indonesia jarang mengurusi harmoni. Begitu.

https://bandungmawardi.wordpress.com/tag/dawatul-amal/

Wednesday, September 18, 2019

TOKOH Oemar Said Tjokroaminoto (1882-1934)

H.O.S. Tjokroaminoto, dianggap sebagai orang pertama yang mengenalkan ahmadiyah di Indonesia
Setinggi-tinggi ilmu, semurni-murni tauhid, sepintar-pintar siasat. (Trilogi Tjokroaminoto)
Lahir di Bukur, Madiun pada tanggal 6 Agustus 1882, dan wafat di Yogyakarta pada tanggal 17 Desember 1934. Diangkat sebagai Pahlawan Nasional karena kepeloporannya dalam pergerakan dan sebagai guru para pemimpin-pemimpin besar di Indonesia.
Tjokroaminoto adalah anak kedua dari 12 bersaudara dari ayah bernama R.M. Tjokroamiseno, salah seorang pejabat pemerintahan pada saat itu. Kakeknya, R.M. Adipati Tjokronegoro, pernah juga menjabat sebagai Bupati Ponorogo.
Beliau tamat OSVIA (Sekolah Paugrek Praja) Magelang tahun 1902. Lalu bermukim di Surabaya. Di kota buaya inilah beliau masuk Syarekat Dagang Islam (SDI) yang didirikan oleh H. Samanhudi (1878-1956) pada tanggal 5 Oktober1905 di Solo. Pada tahun 1911 SDI konggres di Surabaya, atas usul SDI cabang Surabaya di bawah pimpinan beliau, SDI dirubah nama dan anggaran dasarnya menjadi Sarekat Islam (SI), dan Tjokroaminoto menjadi Ketua Central Sarekat Islam yang pertama. SI mengadakan kongres pertamanya pada tanggal 26 Januari 1913 di Surabaya, yang mendapat kunjungan puluhan ribu orang. Kristalisasi SDI menjadi SI dan perkembangannya yang pesat ini menakutkan pemerintah kolonial Belanda. Untuk menghemat laju perkembangan SI pemerintah kolonial menugaskan “Sayid Utsman bin Agil bin Yahya” untuk berfatwa. Fatwanya antara lain melarang Quran diterjemahkan dan ditafsirkan, dan khotbah harus dalam bahasa Arab.
Tjokroaminoto mengenal betul Ahmadiyah Lahore. Beliau diperkirakan telah berbai’at kepada Maulana Muhammad Ali, Presiden Ahmadiyya Anjuman Isaha’ati Islam Lahore (AAIIL) melalui surat, jauh sebelum GAI didirikan pada tahun 1928. Bahkan, sebelum dua orang muballigh Ahmadiyah, Mirza Wali Ahmad Baig dan Maulana Ahmad datang di Yogyakarta pada tahun 1924.
Pada tahun 1921, Cokroaminoto selaku President Central Syarekat Islam mengundang mubaligh Ahmadiyya Anjuman Isha’ati Islam, Lahore, yaitu Khawaja Kamaluddin untuk ceramah agama Islam di Surabaya. Ceramah Khawaja Kamaluddin di kemudian hari ditulis dan diterbitkan dengan judul The Gospel of Action and The Secret of Existence. Ceramah ini kemudian diterjemahkan dalam bahasa Belanda dengan judul Het Evangelie van Den Daad. Buku ini  “berfaedah sekali bagi semua orang Islam,” kata Bung Karno dalam surat dari Endeh, 25 November 1936. (Tahun 1960-an H.M. Bachrun menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Rahasia Hidup).
Tjokroaminoto juga menerjemahkan dan menerbitkan buku Da’watole Amal yang berisi seruan dakwah untuk bergabung dalam Ahmadiyah. Gerakan Penyiaran Islam yang didirikan oleh Hazart Mirza Ghulam Ahmad Mujaddid abad ke 14 Hijriah (pada sampul buku disebutkan karangan Maulana Muhammad Ali, Presiden Ahmadiyya Anjuman Isha’ati Islam, dan diterjemahkan oleh Oemar Said Tjokroaminoto, President Central Sarekat Islam, dan dicetak di Percetakan Moehammadijah).
Karya terjemahan beliau lainnya yang menghebohkan ialah terjemahan The Holy Quran: Arabic Text, Translation and Commutary karya Maulana Muhammad Ali ke dalam bahasa Melayu. Beliau mulai menerjemahkan pada tahun 1926, setelah berulangkali bertemu Mirza Wali Ahmad Baig, muballigh Ahmadiyah di Yogyakarta. Tatkala beliau sebagai wakil SI bersama K.H. Mas Mansyur dari Muhammadiyah berangkat ke Mekah untuk menghadiri Mu’tamar ‘Alam Islami, di kapal beliau tetap melakukan tugas suci menerjemahkan Tafsir Qur’an yang kini telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dunia itu. Oleh karena itu tatkala Konggres SI di Yogyakarta pada bulan Januari 1928 Tafsir Quran Suci karya beliau itu telah siap cetak jilid I sampai dengan III yang berisi Juz ‘Amma.
Majalah TEMPO edisi 21 September 1974, Th. IV No. 29 dalam laporannya yang berjudul “Ahmadiyah, Sebuah Titik Yang Dilupa” menulis:
“Di forum ini juga dibicarakan Tafsir Quran yang sedang dikerjakan Tjokroaminoto. MR. A.K. Pringgodigdo, dalam bukunya Sejarah Pergerakan Rakyat Indonesia, ada menyatakan bahwa lantaran dari bagian-bagian pertama Tafsir itu ternyata hanya saduran dari kaum Lahore, timbullah di forum SI itu perlwanan yang keras. Maka tampillah Agoes Salim: beliau ini menerangkan bahwa dari segala jenis tafsir, tafisr Lahorelah yang paling baik untuk memberi kepuasan kepada pemuda-pemuda Indonesia yang terpelajar.
Tapi wibawa dua tokoh besar itu saja rupanya tak cukup; perlawanan baru mereka setelah diambil keputusan untuk menunda penerbitan selanjutntya sampai Majlis Ulama mengambil ketentuan. Dalam ketentuan itu diambil dalam rapat Majlis tahun itu juga di Kediri. Isinya; terjemahan boleh diteruskan asal dilakukan dengan pengawasan Majlis. Dalam forum ini Tjokro tampil bersama Mirza Wali Ahmad Baig, sang muballigh Lahore. Tetapi reaksi kaum ulama sudah tentu belum selesai.
Konggres Muhammadiyah diadakan tahun itu juga di tempat yang sama. Sidang, selain mencela keras disiplin parta SI yang dikenakan kepada anggota organisasi agama non-politik seperti Muhammadiyah, juga menyatakan tidak bisa membenarkan tafsir Quran karangan Maulana Muhammad Ali tersebut. Alasan; tidak cocok dengan ajaran Islam yang sesungguhnya.
Maka naik kudalah Tjokroaminoto. Tokoh ini dengan segera datang ke Yogya, bersedia menghadapi sebuah debat terbuka mengenai itu Tafsir yang heboh. Tokoh-tokoh lanjut usia yang berada di sana waktu itu, boleh menceritakan jalannya peristiwa begini: Pertemuan diadakan di Pakualam, sebagian besar dihadiri orang-orang Muhammadiyah. Alangkah ributnya hadirin waktu itu. Sangat ribut, sampai-sampai pidato tokoh tua ini tidak terdengar. Maka naiklah Tjokro –kalau tidak salah ke atas meja- sembari berseru dengan suaranya yang dahsyat: “Ini Tjokroaminoto, keturunan ksatria! Mau ribut, coba ribut!” maka hadirinpun heninglah … Namun tak ada percebatan. Dan tafsir itu akhirnya terbit pada tahun itu juga,1928. Orang bisa melihatnya sekarang di Musium-musium baru jilid I-III, berisi juz amma atau bagian ke 30. Di dalam kata pengantar bisa pula dibaca tulisan Agus Salim yang dengan semangat membela Tafsir itu” (hlm. 46-47).

Sumber: http://ahmadiyah.org/oemar-tjokroaminoto/ 

Kata Pengantar Agus Salim untuk penerbitan Qur’an Suci Bahasa Melayu karya H. Oemar Said Tjokroaminoto

Tatkala pertama kali saya diajak bermusyawarah oleh saudara Haji ‘Oemar Sa’id Tjokro Aminoto tentang maksudnya dengan beberapa saudara bangsa kita daripada kaum Muslimin, akan mengusahakan salinan kepada bahasa Melayu daripada salinan dan tafsir Qur’an, karangan “Maulwi Muhammad ‘Ali”, seorang kaum terpelajar bangsa Hindi, yang telah beroleh gelaran M.A. dan L.L.B. daripada sekolah-sekolah tinggi Inggris, pada waktu itu tidak sedap hati saya.
Tidak sedap! Tapi bukanlah karena isi salinan dan tafsir karangan pujangga Hindi itu. Pada waktu itu sudah lebih setahun saya kenal dan kerap-kerap mutala’ah (mempelajari) isi kitab itu, dan pada sebaik-baik pendapatan saya adalah karangan itu banyak keutamaannya, yang menjadi penerangan bagi pengertian Agama Islam, istimewa ajaran, pendidikan dan nasehat-­nasehat yang terkandung di dalam kitab Allah itu. Dan sekali-kali tidaklah saya mendapati barang sesuatu, yang akan menyesatkan paham dan Iman Keislaman kepada seseorang pembaca, yang membaca dengan memakai pikiran dan pengertian yang sederhana.
Itupun, seperti kata tadi, tak sedap hati saya pada mula-mula memusyawaratkan itu. Sebabnya ialah, karena saya mengetahui betul-betul, betapa sempitnya paham sebagian bangsa kita daripada kaum santri dan Kyai terhadap kepada cara-caranya orang mempelajari Agama Islam.
Dan saya pikirkan, betapa ramai, bahkan betapa riuhnya dan kacaunya perbincangan, perbantahan dan debat-debat dalam kalangan bangsa kita tentng Ijtihad dan Taqlid. Ijtihad yang dikatakan sudah “tertutup pintunya” semenjak tutupnya zaman kaum “Salaf”. Taqlid, yang dikatakan wajib, semenjak Ijma’ mengakui sahnya Madzhab yang Empat, dengan meluaskan segala haluan, yang tidak masuk kepada salah satu yang empat itu.
Saya pun mengakui pula, bahwa Ijtihad, yang sebenar-benarnya Ijtihad, yaitu penyelidikan ilmu daripada pangkalnya yang asli, pada “sumbernya” tiap-tiap kabar, pada “tempatnya” tiap-­tiap kejadian yang di dalam tarikh. Ijtihad semacam itu memang jauh daripada yang mungkin dalam masa ini.
Dan saya pun mengakui pula, bahwa memang “Taqlid”, yaitu menerima dan menurut keterangan-keterangan dan paham-paham daripada ahli-ahli ilmu, yang telah mendapat pengakuan amat luas di dalam kalangan ummat Islam itu, menjadi wajib atas tiap-tiap orang Islam. Bukan karena kehendak hati dan karena suka, melainkan karena sudah mestinya begitu, baik di jalan adat, maupun di jalan tabiat. Sudah memang mestinya orang yang terkemudian memakai pedoman orang-orang yang terdahulu.. Bukan saja dalam agama, melainkan dalam adat hidup dan ilmu pengetahuan begitu pula.
Akan tetapi, TIDAK TERTUTUP jalan pelajaran dan penyelidikan dengan seluas-luasnya yang berdasar dengan mempelajari kitab-kitab Ulama yang bermula-mula dalam agama dan dengan menyelidiki dan memperhatikan pengajaran-pengajaran yang terdapat di dalam perjalanan riwayat dan di dalam tabiat Alam, yang oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kita diperintahkan dalam beberapa banyak ayat Qur’an yang Hakim, dan dalam beberapa banyak sabda Rasulnya yang Karim (clm), akan memperhatikan segala itu dan mengambil ibarat dan pengajaran daripadanya.
Artinya, TIDAK TERTUTUP jalan “ijtihad”, yang bermakna mempelajari sebanyak­-banyaknya kitab-kitab ulama yang besar-besar dalam agama dan TIDAK TERTUTUP pembacaan Qur’an dan Hadith untuk mencari pendidikan Iman dan Budi-pekerti, asal jangan hendak berpandai-pandai, sekehendak hati memakna-maknakan hukum-hukum, yang di dalam Qur’an dan Hadith itu dengan tidak memperhatikan keterangan-keterangan dan pemandangan-­pemandangan ulama-ulama yang menjadi ikutan selama masa yang telah lalu, yang memberi keterangan-keterangan dan pemandangan-pemandangan itu dengan alasan yang kuat-­kuat.
Dan TIDAK TERTUTUP, malah diperintahkan kita menempuh jalan mencari ilmu pengetahuan dengan mempelajari pengajaran-pengajaran pujangga yang besar-besar, yang membentangkan riwayat dunia di dalam tarikh (babad) dan riwayat alam, di dalam ilmu alam, ilmu tabiat, ilmu hewan dan tumbuhan, dll yang semakin bertambah-tambah banyak hasil penyelidikannya.
Dan hasil penyelidikan itu senantiasa menambah banyaknya jumlah pengetahuan yang dikumpulkan oleh manusia. Maka bertambah-tambah pula perkakas isi otak dan hati manusia itu; untuk akalnya bagi memaham-mahamkan pengajaran-pengajaran agama, yang mencerdaskan budi pikirannya; untuk perasaannya bagi menajam-najamkan timbangannya yang mencerdaskan budi-pekertinya.
Syahdan “ijtihad”, yang ini (yang kita tuliskan dengan huruf pangkal kecil, akan membedakan daripada “ijtihad” yang bermula tadi, yang kita tuliskan dengan huruf pangkal besar), “Ijtihad” ini, bukanlah tertutup pintunya, melainkan malah bertambah-tambah luas dan lebar jalannya.
Sebaliknya (akan tetapi berhubung juga dengan itu), tidaklah wajib, malah KELIRU “taqlid”, yang bersifat menurut dan meniru dengan membuta-tuli. Menurut dan meniru, yang sengaja mendiamkan macam-macam pertanyaan yang terbit di dalam hati. Kelakuan yang semacam ini membutakan budi pikiran, menumpulkan budi-pekerti, sehingga akhirnya memisahkan aturan hidup dengan aturan agama. Maka jadilah manusia itu mengaku beragama, tapi tidak mengerjakan, tidak melakukan agamanya dengan keyakinan dan bersungguh-­sungguh.
Adapun dengan salinan dan tafsir Maulwi Muhammad Ali itu tidaklah disajikan pembaruan Qur’an, dan tidak diadakan Madzhab baru, yang diwajibkan “Taqlidnya”; melainkan yang disajikan itu semata-mata hasil pekerjaan seorang manusia Muslim terpelajar, yang menguraikan beberapa pendapatan yang dikumpulkannya dalam mempelajari beberapa banyak kitab tafsir dll kitab daripada ulama-ulama Islam, dan salinan-salinan Qur’an dan pemandangan-pemandangan tentang Qur’an itu daripada pujangga-pujangga di dalam dan di luar Islam. Maka adalah yang sebagai itu satu alat pelajaran, untuk meluaskan pengetahuan agama belaka, yang sekali-kali tidak mengenal perkara “Ijtihad” atau “Taqlid”.
Ada lagi satu pandangan. Di tanah air kita dan di tiap-tiap negeri Islam yang lainpun juga adalah tersiar salinan­-salinan Qur’an dengan bahasa asing: Belanda, Jerman, Inggris dll yang dapat diperbuat oleh pihak-pihak di luar Islam Dan tidak sedikit pula karangan tentang Agama Islam daripada pihak-pihak lain-lain itu, baik yang bangsa ahli ilmu pengetahuan, maupun bangsa penyebar lain-lain agama. istimewa Kristen dan Theosoof, yang karangan-karangan itu memakai salinan Qur’an.
Salinan-salinan Qur’an dan kitab-kitab yang sebagai itu biasanya tidak sampai ke tangan kaum santri (orang surau) umumnya, tapi untuk kaum terpelajar atau umumnya kaum sekolah, yang hendak mengetahui ajaran-ajaran Agama Islam, boleh kita katakan hanyalah kitab-kitab bangsa itu, yang menjadi penuntunnya. Dan terutama sekali Qur’an yang dipentingkannya; sebab agama Kristen, yaitu umumnya Eropa, yang di sini menjadi persaingan dan bandingan Agama Islam di mata orang, diajarkan dengan ‘kitab suci” agama itu yaitu Bebel, istimewa kitab Injil.
Padahal dalam kitab-kitab tadi itu banyak sekali terdapat pemalsuan ayat-ayat Qur’an, Yaitu yang berlainan daripada yang sebenarnya. Atau, sekalipun tidak boleh dikatakan menukar makna, akan tetapi seolah-olah dipilih perkataan-perkataan, yang dengan mudah menerbitkan pengertian yang keliru atau perasaan yang tak menyenangkan, oleh karena memang keliru pengertian atau tidak menyukai ajaran-ajaran yang disalinnya itu.
Sebaliknya, umumnya kitab-kitab tafsir Qur’an yang dari pihak Islam, tak dapat dibaca oleh kaum sekolah atau kaum terpelajar tadi. Kaum itu jarang yang mengerti bahasa Arab. Dan jikapun ada yang dapat bahasa Arab atau dapat tafsir yang dengan bahasa Melayu dsb., tidak juga boleh memuaskan kaum itu, sebab tafsir-tafsir itu tidak memakai ilmu pengetahuan zaman ini dan tidak memakai jalan pemberi keterangan yang bersetujuan dengan paham dan pengertian orang zaman kita ini.
Syahdan tafsir Maulwi Muhammad Ali itu adalah satu karangan, yang sepadan dengan pengetahuan dan pengertian kaum terpelajar zaman sekarang ini.
Macam-macam pemalsuan, macam-macam cacian, celaan dan gugatan daripada pihak luar Islam, istimewa Eropa, mendapat bantahan dan sangkalan dengan alasan-alasan dan bukti­-bukti, yang merubuhkan hujah-hujah dan membuktikan kekosongan falsafah pihak pencaci, pencela dan penggugat itu.
Sebaliknya tidak ada di dalam karangan itu sesuatu keterangan yang membatalkan tafsir-­tafsir lama yang mu’tabar di dalam kalangan umat Islam. Jika pun ada satu-satu perkara yang berbeda keterangan atau pemandangan dengan satu-satu tafsir dulu itu, tidaklah perbedaan itu baru semata-mata, melainkan sudah ada dari dulu di dalam kalangan ulama Islam.
Sebagai lagi, biar berapapun “modern” nya keterangan-keterangan dalam karangan Maulwi Muhammad Ali itu, berapapun takluknya kepada ilmu pengetahuan (wetenschappelijk), akan tetapi sepanjang pendapatan penyelidikan saya, selamat ia daripada paham kebendaan (materialisme) dan daripada paham “ke-aqlian” (rationalisme), paham keghaiban (mistik), yang menyimpang daripada iman dan taukhid Islam yang benar. Tegasnya terpelihara ia daripada kesesatan Dahriyah, Mu’tazilah dan Batiniyah.
Akhir-al-kalam penerbitan salinan Qur’an dan tafsir yang diusahakan itu tidak memakai asas kuno. Dari mula-mula terbit bagian pertama penyalin dan penerbit suka menerima “perbaikan” kalau ada salah satu pihak membuktikan salah atau keliru ataupun suatu yang amat berlainan di dalam salinan yang diterbitkan itu. Dan tiap-tiap “persalinan” yang kuat alasannya akan dicetak pula dan dilampirkan kepada bagian yang berikut.
Dengan jalan ini saya beroleh keyakinan, bahwa dengan usaha penerbitan salinan tafsir itu dapatlah segala faedah yang berguna dengan menyingkiri segala yang mudlarat dan keliru.
Maka oleh sebab itu  bukan saja hilang “tak sedap hati” saya yang pada permulaan itu, melainkan berganti suka dan setuju membantu dengan segala kesumngguhan hati akan menjadikan usaha itu. Adapun akan taufiq, kepada Allah kita pohonkan.[]

***
Haji Agoes Salim. Lahir pada 8 Oktober 1884 dengan nama Mashudul Haq (pembela kebenaran) di Koto Gadang, Agam, Sumatera Barat, Hindia Belanda. Wafat di Jakarta, Indonesia, pada 4 November 1954 dalam usia 70 tahun. Beliau dikenal sebagai seorang pejuang kemerdekaan Indonesia. Ditetapkan sebagai salah satu Pahlawan Nasional Indonesia pada tanggal 27 Desember 1961 melalui Keppres nomor 657 tahun 1961. Catatan di atas adalah Kata Pengantar beliau yang diperuntukkan bagi penerbitan Qur’an Suci Bahasa Melayu karya H. Oemar Said Tjokroaminoto, terjemah dari The Holy Qur’an karya Maulana Muhammad Ali.
Sumber: http://ahmadiyah.org/agoes-salim-dan-ahmadiyah/