Saturday, May 12, 2018

Djohan Effendi dan Ahmadiyah

Tulisan di bawah ini adalah kutipan sepenuhnya dari buku “Sang Pelintas Batas: Biografi Djohan Effendi” (hal. 45-49, 59-66, 80-82), yang ditulis oleh Ahmad Gaus AF, dan diterbitkan atas kerjasama ICRP dan Kompas, cetakan I September 2009.



Di Tepi Jurang Agnostik
Di Kelas II PHIN (Pendidikan Hakim Islam Negeri) Djohan menerima pelajaran filsafat. Gurunya adalah Hasbullah Bakry. Bagi Djohan, filsafat merupakan hal yang baru, namun juga membuatnya mengalami pergolakan iman yang cukup serius, terutama ketika ia merenungi perdebatan antara Ibn Rusyd dan al-Ghazali. Pikiran Djohan lebih cenderung memilih pendapat Ibn Rusyd terutama tentang keazalian alam dan kehidupan akhirat yang bersifat rohani. Filsafat bahkan nyaris menyeret imannya ke tepi jurang agnostik karena doktrin yang diterima oleh mayoritas umat Islam adalah pendapat al-Ghazali. Dalam suasana batin yang terombang-ambing Djohan menemukan bahan-bahan bacaan yang diterbitkan oleh Ahmadiyah yang –terlepas dari doktrin keahmadiyahannya– menawarkan pendekatan yang memadukan penafsiran rasional dan penghayatan spiritual dalam keberagamaan. Argumen Ahmadiyah tentang kehidupan akhirat secara rohaniah membuat Djohan lebih mantap dalam menerima pendapat Ibn Rusyd.
Di pihak lain ada guru-guru PHIN yang memberikan nuansa lain dengan memasukkan dan menanamkan aspek-aspek ideologis kepada murid-muridnya. Kebanyakan guru-guru PHIN, khususnya yang memberikan pelajaran kalam dan fikih adalah pendukung Masyumi. Karena itu, disamping memberikan pengetahuan agama mereka juga menanamkan kesadaran politik dan ideologis sebagai golongan Islam. Di tangan mereka, fikih, misalnya, menjadi alat untuk mengukur keabsahan suatu sistem, dari sistem politik hingga sistem keyakinan. Pada masa itu partai-partai Islam menempatkan Islam sebagai ideologi alternatif terhadap ideologi-ideologi negara, Pancasila, dan masyarakat Indonesia seolah-seolah sudah terpecah dalam dua kelompok, Islam dan Pancasila. Alam demokrasi yang tumbuh ketika itu memang memberikan tempat dan kesempatan seluas-luasnya kepada masyarakat untuk berpolemik tentang masalah-masalah politik dan ideologi.
Begitu juga fiqhul-akbar atau fikih besar, yang di dalamnya mencakup masalah-masalah akidah, menyediakan begitu banyak argumen untuk menyanggah keyakinan yang berbeda. Ini pun, bagi Djohan, sebenarnya tidak terlalu baru, sebab sejak menjadi pembaca literatur terbitan PERSIS, terutama karya A. Hassan, ia sudah mengikuti polemiknya mengenai berbagai hal dalam perkara-perkara agama. Polemik paling keras yang dilancarkan A. Hassan adalah terhadap keyakinan Ahmadiyah. Polemik ini yang plaing mengesankan Djohan ketika itu dan membuatnya makin mengagumi A. Hassan, selain pandangannya yang anti-mazhab dan anti-taqlid.
Literatur dan Tokoh Ahmadiyah
Belakangan, Djohan sadar bahwa selama ini ia hanya tahu tentang Ahmadiyah dari buku-buku polemis kalangan yang menentangnya. Pandangannya mengenai isu-isu yang menjadi materi polemik pun menjadi tidak seimbang; lebih berpihak secara buta kepada si pengritik. Di Yogyakarta, ia punya kesempatan untuk membaca sendiri literatur Ahmadiyah dari sumber primer. Lebih dari itu Djohan juga bergaul dengan pemuka-pemuka Ahmadiyah dan menyaksikan kehidupan mereka yang religius, tulus dan bersih. Yogyakarta waktu itu merupakan tempat tumbuh dan berkembangnya Ahmadiyah secara pesat. Tak pelak, Djohan pun berinteraksi dengan perkumpulan yang didirikan oleh Mirza Ghulam Ahmad itu.
Persentuhan pertama Djohan dengan Ahmadiyah terjadi secara “kebetulan”. Suatu kali ia diminta Hasbullah Bakry, guru filsafatnya, untuk mencari buku tentang Ahmadiyah, dan ia menyuruh Djohan menemui Muhammad Irshad, seorang tokoh Ahmadiyah Lahore. Djohan pun datang ke rumah Irshad yang menerimanya dengan sangat ramah. Irshad lalu memberi Djohan buku-buku dan majalah-majalah Ahmadiyah. Buku yang dipesan oleh Hasbullah Bakry segera ia berikan, sementara buku-buku dan majalah yang diberikan oleh Irshad untuk dirinya ia baca. Dari situlah Djohan pertama kali tahu tentang Ahmadiyah.
Bagi Djohan, buku-buku tentang Ahmadiyah yang dibacanya telah memberinya wawasan yang kaya tentang Islam, terutama karena pendekatannya yang lebih holistik dan komprehensif. Buku-buku dan artikel-artikel yang ditulis oleh tokoh-tokoh Ahmadiyah memang sangat berbeda dibanding literatur Islam yang berasal dari Timur Tengah, apalagi yang bersifat kepustakaan klasik. Tulisan-tulisan itu ditujukan terutama kepada masyarakat Barat dan karena itu mereka juga membaca banyak kepustakaan Barat. Semangat dan gaya tulisannya sangat berbeda, tidak romantis dengan mengetengahkan kemajuan dan keagungan masa lalu, akan tetapi apologis untuk menunjukkan kelebihan Islam dibanding agama-agama dan ideologi-ideologi modern. Hal ini terutama terlihat dalam kepustakaan Ahmadiyah Lahore yang lebih mementingkan penyebaran wawasan keagamaan daripada perkembangan dan kemajuan organisasi.
Beberapa persoalan agama yang ditemui Djohan dalam pelajaran filsafat, dipecahkan dengan “pendekatan” Ahmadiyah. Misalnya, ia merasa terganggu imannya akibat membaca polemik Ibn Rusyd dan al-Ghazali. Ada dua materi perdebatan dua filosof muslim itu. Pertama adalah soal keabadian alam. Bagi Ibn Rusyd alam mempunyai permulaan, tidak diciptakan dari tidak ada. Itu berarti bahwa antara permulaan alam dengan keazalian Tuhan terdapat jarak waktu. Jika demikian, waktu itu makhluk; tapi siapa yang menciptakan waktu? Yang kedua, soal kehidupan sesudah mati. Kehidupan itu bersifat materi ataukan spiritual? Dari literatur Ahmadiyah yang dibacanya Djohan menemukan penafsiran yang masuk akal. Dan itu menyelamatkan imannya yang sempat terguncang.
Tidak hanya dengan Ahmadiyah Lahore, perkenalan Djohan juga berlanjut ke kalangan Ahmadiyah Qadyan. Ia mulai berkenalan dengan tokoh-tokoh Ahmadiyah, salah satunya yang berpengaruh adalah Mian Abdul Hayye, seorang mubaligh Ahmadiyah di Yogyakarta. Ketika Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) menyelenggarakan kongres di Yogyakarta Djohan sempat mengikuti ceramah para mubaligh mereka. Di kongres itu ia melihat Kiai Ma’sum, tokoh ulama PERSIS, duduk di depan berdampingan dengan para mubaligh Jemaat Ahmadiyah. Ia sangat terkesan menyaksikan persahabatan akrab antara Kiai Ma’sum dengan Mian Abdul Hayye. Bahkan suatu hari ia bertemu dengan Kiai Ma’sum di rumah Abdul Hayye dan mereka berbicara dengan akrab penuh canda. “Apa dengan jihad damai seperti diajarkan ‘nabimu’ itu Islam bisa menang?” tanya Kiai Ma’sum ketika itu, meledek Mian Abdul Hayye.
Di rumah Abdul hayye juga Djohan bertemu dengan mubaligh JAI yang lain seperti Abdul Wahid, Abu Bakar Ayyub, dan Malik Abdul Aziz. Selain dengan mereka, ia juga berkenalan dengan tokoh-tokoh Ahmadiyah yang lain seperti Muhammad Shadiq, Saleh Nahdi, Hafidz Qudratullah, Ghulam Yassin. Keakraban Kia Ma’sum (ulama yang sangat menentang paham Ahmadiyah) dengan Abdul Hayye (muballigh Ahmadiyah), memberi kesan tersendiri pada Djohan bahwa pertentangan pendapat dan keyakinan tidak harus membuat orang saling bermusuhan. Melalui pergaulan dekat dan akrab, terlepas dari perbedaan pandangan, Djohan menyaksikan pribadi-pribadi yang secara total mewakafkan dirinya untuk dakwah sebagai perwujudan baiat mereka menjunjung agama melebihi dunia.
Djohan tidak sempat mendalami lebih jauh ajaran dan pikiran kalangan Ahmadiyah karena masa studinya di PHIN Yogyakarta sudah selesai (1960) dan ia harus kembali ke Kalimantan. Tugas barunya setelah lulus sebagai siswa ikatan dinas telah menantinya di sana. Djohan bekerja di Kerapatan Qadhi Amuntai selama 2 tahun. Pada tahun 1962, ia kembali lagi ke Yogyakarta untuk belajar di IAIN Sunan Kalijaga. Periode ini kembali menjadi momentum yang penuh pergolakan dan sangat menentukan masa depan Djohan Effendi.
Pergolakan Pemikiran
Djohan kembali ke Yogyakarta pada tahun 1962 untuk belajar di IAIN (Institut Agama Islam Negeri) Sunan Kalijaga sebagai mahasiswa tugas belajar dari Departemen Agama. Ia meninggalkan Kerapatan Qadhi Amuntai tempat ia berdinas pertama kali sebagai pegawai Departemen Agama. Ia diterima untuk mengikuti kuliah pada Fakultas Syariah. Bagi Djohan sendiri penugasan ini bukan hal yang sulit untuk diemban karena ia telah lama mendalami ilmu-ilmu Syariah, ditambah dengan pengalamannya sebagai panitera di kantor Kerapatan Qadhi Amuntai. Bukan hal yang sulit juga baginya untuk beradaptasi dengan lingkungan intelektual kota Yogyakarta karena sebelumnya ia pernah tinggal di sana selama tiga tahun.
Ujian pertama yang dialami Djohan adalah kematian ayahnya, H. Moelkani, yang terjadi satu minggu setelah ia berada di Yogyakarta. Namun, berita duka itu baru ia terima beberapa minggu setelah peristiwanya terjadi karena keluarganya tidak ingin mengagetkan dirinya. Mula-mula Djohan menerima surat dari pamannya di Banjarmasin, Amberan anak Nenek Aisyah, yang memberinya nasehat supaya belajar sabar dan tabah menghadapi cobaan. Ia merasa ada sesuatu yang terjadi tapi ia tidak bisa menduga-duga. Baru beberapa minggu kemudian ia mendapat surat dari pamannya, H. Kasim, memberi tahu Djohan bahwa ayahnya meninggal dunia. “Saya sempat menangis membaca berita itu”, kata Djohan, “bukan karena kematiannya tapi karena saya belum sempat membalas jasanya membesarkan saya.” Djohan menyurati ibunya, minta pendapatnya, sebab Djohan adalah anak tertua. Tapi ibunya mengatakan agar Djohan meneruskan kuliahnya. Untungnya Djohan segera terlibat dengan kesibukan kuliah yang hanya memberinya sedikit waktu untuk memikirkan hal-hal lain selain belajar. Pada tahun pertama Djohan sangat rajin mengikuti kuliah. Niatnya untuk segera menyelesaikan belajar dan pulang ke Kalimantan membuatnya memisahkan diri dari berbagai kegiatan ekstra kampus yang dulu, ketika duduk di bangku PHIN, begitu digandrunginya.
Tapi pada tahun kedua, segalanya dengan cepat berubah. Tanggal 10 Oktober 1963, kampus IAIN bergolak. Dewan Mahasiswa menggerakkan demonstrasi kepada Menteri Agama, Saifuddin Zuhri, yang datang ke IAIN Sunan Kalijaga dalam rangka pembukaan kuliah semester baru. Mereka menuntut Departemen Agama menghentikan upaya NU-isasi IAIN. Buntut dari gerakan yang dimotori oleh HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) itu adalah pemutasian sejumlah dosen dan penangkapan serta pemecatan beberapa mahasiswa penggerak demo. Di Jakarta, gerakan yang sama juga terjadi untuk mendukung tuntutan mahasiswa Yogyakarta. Tak kurang dari tokoh-tokoh seperti Mahmud Yunus (dekan IAIN Jakarta) dan Arifin Tamaeng terlibat dalam demonstrasi ini. Mahmud Yunus bahkan sempat diperiksa aparat keamanan dan mendekam di tahanan.
Menghadapi tuntutan mahasiswa itu, Depag justru balik melawan. Dosen-dosen yang terlibat dalam demonstrasi dipindahkan dari Yogyakarta, sehingga IAIN Sunan Kalijaga kehilangan banyak sekali dosen. Mereka digantikan oleh dosen-dosen yang baru lulus. Djohan mengaku sangat kecewa dengan cara mengajar dosen-dosen baru itu. Ia merasa kuliah dosen-dosen baru itu tidak menambah pengetahuan dan wawasannya. Semangatnya untuk mengikuti kuliah mengendur dan akhirnya sering membolos. Ia hanya menitip tanda tangan kepada teman-teman sekelasnya agar bisa mengikuti ujian kenaikan tingkat.
Ketika teman-temannya asyik mengikuti perkuliahan, Djohan memilih mengunjungi berbagai perpustakaan di Yogyakarta. Di Yogyakarta terdapat Perpustakaan Islam, Perpustakaan Negara, Perpustakaan Hatta, dan Perpustakaan Katolik yang cukup besar. Selain membaca buku-buku di perpustakaan Djohan jug amengikuti Pengajian Tafsir Alquran setiap minggu pagi yang diberikan oleh Muhammad Irshad, tokoh Ahmadiyah Lahore, yang diberi nama Sunday Morning Class. Yang dibaca dalam pengajian ini adalah The Holy Qur’an karya tokoh Ahmadiyah Lahore, Maulana Muhammad Ali. Yang menarik bagi Djohan, pengajian ini disampaikan dalam bahasa Inggris, sehingga tercipta suasana yang sangat modern. Selain Sunday Morning Class, Irshad juga membuka pengajian di sore hari dengan membaca The Religion of Islam satu kali dalam seminggu. Pada bulan puasa, setelah tarawih membaca A Manual of Hadits. Semuanya karya Maulana Muhammad Ali. Buku lain yang dibaca adalah Muhammad the Prophet yang pernah disadur oleh HOS Tjokroaminoto menjadi buku berjudul Tarikh Islam, dan juga buku Early Caliphate.
Djohan makin intensif berinteraksi dengan literatur Ahmadiyah. Ia menghabiskan waktunya untuk membaca artikel-artikel tentang Islam dalam majalah-majalah Islamic ReviewThe Light terbitan Ahmadiyah Lahore dan The Review of Religions terbitan Ahmadiyah Qadyan serta berbagai terbitan lain. Ia merasakan pendekatan yang berbeda dibanding kepustakaan Islam yang selama ini ia baca yang diterbitkan kalangan NU, Muhammadiyah, atau PERSIS. Bagi Djohan, literatur Ahmadiyah lebih membuka wawasan dan lebih mencerahkan. Para penulis Ahmadiyah umumnya menikmati pendidikan di Inggris sehingga mereka mengenal dengan baik kepustakaan Barat. Hal ini memberi nuansa lain dibanding kepustakaan Islam dari Timur Tengah, apalagi literatur klasik yang diajarkan di pesantren.
Penulis-penulis Ahmadiyah tidak bersikap romantis dengan membangga-banggakan masa lalu, tapi cenderung agak apologetik dengan mencoba menonjolkan kelebihan Islam dibanding agama-agama dan paham lain, dan lebih ditujukan pada masyarakat Barat, dan karenanya menawarkan penafsiran Islam yang lebih rasional tapi sekaligus juga lebih spiritual. Hal ini terutama terlihat pada Ahmadiyah Lahore yang lebih mementingkan penyebaran wawasan daripada paham sektarian organisasi. Ada dua buku yang sangat mempengaruhi Djohan, yaitu The Teaching of Islam (Falsafat Islamiyah) tulisan Mirza Ghulam Ahmad dan The Secret of Existence (Rahasia Hidup) karangan Khawaja Kamaluddin. Yang pertama membicarakan aspek kedalaman agama dengan tekanan pada perkembangan jiwa dan akhlak manusia, dan yang kedua membangun semangat untuk bertindak. Buku ini juga dikenal dengan nama The Gospel of Action (Kabar Baik tentang Tindakan) dan sama sekali tidak berbicara tentang teologi. Menurut Djohan, ia membaca kedua buku itu berkali-kali karena mengasyikkan dan inspiratif. Karya tulis Djohan yang terbit pada tahun 1970-an tentang perkembangan jiwa manusia dan takdir tidak terlepas dari pengaruh kedua buku itu.
Apologi Islam
Para jamaah pengajian Sunday Morning Class membentuk organisasi yang diberi nama Islamic Sunday Morning Class (ISMC). Didorong keinginan untuk lebih memperluas peminat, ISMC menyelenggarakan ceramah-ceramah umum. Hal itu juga didukung oleh situasi kota Yogyakarta yang kondusif bagi dakwah Ahmadiyah. Kecuali polemik-polemik dalam bentuk literatur yang cukup keras terhadap Ahmadiyah, saat itu nyaris tidak ada ancaman fisik terhadap para pengikut ajaran Mirza Ghulam Ahmad tersebut seperti yang sering terjadi belakangan ini. Tanpa perasaan takut ataupun bersalah, siapa pun bisa hadir mengikuti pengajian umum Ahmadiyah ini.
Sebagai peserta aktif, Djohan ikut ambil bagian dalam berbagai kegiatan ceramah ISMC. Dalam suatu ceramah umum di Masjid Syuhada, Djohan berbicara tentang pengarus paganisme dalam Gereja Kristen. Ia membuat sebuah paper panjang membahas topik ceramahnya yang terutama ia ambil dari sumber-sumber yang kritis terhadap agama dan gereja Kristen. Perkenalannya dengan buku-buku Ahmadiyah telah mendorong Djohan untuk bersikap apologetis, membela Islam sambil mencari kelemahan agama lain. Sebelumnya, Djohan juga telah membacara buku-buku yang beredar luas di kalangan Ahmadiyah tentang Islam dan Kristen, dan ia merasa ‘termakan’ oleh misi orang Ahmadiyah yang mengatakan akan membunuh babi dan mematahkan salib –babi merupakan materialisme dan salib sebagai simbol ajaran Kristen. Djohan juga terpengaruh oleh interpretasi kalangan Ahmadiyah tentang Gog, Magog, dan Dajjal, yang dikenakan kepada Kapitalisme, Komunisme, dan agama Kristen.
Argumen dari serangan Djohan terhadap paganisme Kristen didasarkan pada pengakuan agama Kristen sendiri bahwa, misalnya, penanggalan Hari Natal dipilih berdasarkan dewa-dewa yang dipercayai secara mitologis di daratan Eropa. Kelahiran Yesus Kristus dikaitkan dengan kepercayaan bahwa dewa-dewa itu lahir sekitar tanggal 25 Desember, saat terjadi peralihan dari musim dingin ke musim semi. Menurut Djohan, kritiknya terhadap Kristen tidak didasarkan pada kebencian, melainkan hanya untuk membuktikan kelemahan-kelemahan agama itu. Waktu itu, aku Djohan, ia masih berada di kubu kaum apologetik dengan cara berpikir yang sangat islamis. “Pada waktu menyerang Kristen itu saya belum terlibat di HMI, jadi belum ada pencerahan. HMI-lah yang membuka wawasan saya sehingga terjadi semacam reformasi pemikiran,” ungkap Djohan.
Sikap apologetis Djohan yang lain tampak dalam karya tulisnya, sebuah buku kecil, yang diberi judul Fakta Kemurnian Al-Qur’an, yang isinya membuktikan bahwa Alquran itu murni. Di sini Djohan berargumen bahwa yang dimaksud dengan “Perjanjian Baru” itu sebenarnya tidak lain adalah Alquran. Dalam pandangan Djohan, kisah tentang putra Nabi Ibrahim yang bernama Ishak didasarkan pada Perjanjian Lama, dan kitab-kitab Injil hanyalah lanjutan perjanjian klasik, jadi masih merupakan bagian Perjanjian Lama juga, karena ditujukan untuk Bani Israel. Kisah tentang putra Nabi Ibrahim yang lain, Ismail, didasarkan pada kitab suci Alquran yang ditujukan untuk Bani Ismail, karena itu Alquranlah yang sesungguhnya merupakan Perjanjian Baru. Tegasnya, Perjanjian Lama adalah Kitab Taurat, dan Nabi Isa mengatakan tidak mengubah Taurat sedikit pun, karena itu Injil masuk ke Perjanjian Lama. Kalau ada Perjanjian Baru, menurut Djohan, maka pasti ia akan berbeda dengan yang lama. Dan Perjanjian Baru itu tidak lain adalah Alquran. Argumen-argumen apologetis ini digunakan Djohan untuk menyerang agama Kristen di dalam ceramahnya di hadapan para jamaah pengajian yang dikoordinasi oleh ISMC.
Dalam perkembangannya, ISMC berubah menjadi AMAL (Angkatan Muda Ahmadiyah Lahore). Sejak itu Djohan terkait dengan organisasi Ahmadiyah. Peristiwa itu terjadi sebelum Djohan melibatkan diri dalam organisasi HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) pada tahun 1964/1965 di mana ia mengaku mulai menemukan suasana yang lebih bebas tanpa terikat pada paham keagamaan tertentu. Dicatat sebagai anggota Ahmadiyah tidak dipersoalkan oleh Djohan sebab ia tidak merasa ada yang salah dengan komitmen seorang Ahmadi yang berjanji untuk menghindari perbuatan maksiat, bersikap rendah hati, simpati pada orang lain, dan menjunjung agama melebihi dunia. Akan tetapi, Djohan tidak tertarik dan menganut teologi Ahmadiyah berkaitan dengan paham kedatangan Isa al-Masih dan Imam Mahdi yang menjadi akar tunjang dari keahmadiyahan baik Qadyan maupun Lahore. Buku Imam Mahdi karangan Ustadz Muhammad Arsyad Talib Lubis sangat jelas membahas masalah kepercayaan tentang kedatangan Imam Mahdi. Apalagi kemudian Djohan membaca tentang gerakan-gerakan ‘mesianis’ yang ada hampir di semua agama.
Masalah yang menjadi perdebatan serius berkenaan dengan Ahmadiyah Qadyan adalah konsep tentang khatamun-nabiyyin. Umat Islam umumnya percaya bahwa Nabi Muhammad adalah khatamun-nabiyyin, yakni nabi penutup, namun sebagian besar masih percaya Nabi Isa akan turun lagi karena dia masih hidup di langit. Perbedaan Ahmadiyah Qadyan dengan umat Islam yang percaya Nabi isa akan turun lagi adalah bahwa para penganut Ahmadiyah Qadyan percaya Nabi Isa sudah turun dalam wujud Mirza Ghulam Ahmad. Menurut mereka Nabi Isa yang datang itu bukan Nabi Isa yang dulu, sebab dia sudah wafat, tapi umat Nabi Muhammad sendiri yang berfungsi sebagai Nabi Isa terhadap Nabi Musa. Dalam hal ini sejalan dengan paham Ahmadiyah Lahore, namun mereka menolak anggapan bahwa pendiri Ahmadiyah berpangkat nabi, hanya sebagai al-masih dan al-mahdi.
Djohan sendiri dalam konsep khatamun-nabiyyin ini mengaku sebagai seorang Iqbalian, pengikut pandangan Muhammad Iqbal, bahwa setelah Nabi Muhammad, Tuhan tidak akan mengirim lagi utusan dari langit. Manusia tidak lagi memerlukan tokoh langit, apakah al-masih, al-mahdi apalagi nabi untuk membantu mereka menghadapi tantangan dunia. Manusia harus mampu memecahkan sendiri masalah-masalah kehidupan dunia ini tanpa mengundang kehadiran orang dari langit. Manusia sudah meninggalkan fase akal deduktif dan memasuki fase akal induktif. Dalam pemahaman Djohan, ini berarti manusia tidak memerlukan ‘cetak biru’ dari langit. Untuk menyelesaikan masalah-masalah kehidupan di dunia ini, manusia harus mengenali tantangan-tantangan yang mereka hadapi dan mencari serta menemukan jawabannya sendiri.
Sikap Pluralis
Walaupun Djohan merasa dan menganggap dirinya sudah tidak terkait lagi dengan organisasi Ahmadiyah, namun silaturahmi dengan orang-orang Ahmadiyah tetap ia jaga. Kontak dan persentuhannya dengan Ahmadiyah merupakan bagian dari perjalanan hidupnya sebagaimana persentuhannya dengan PERSIS, al-Washliyah, HMI, dan organisasi-organisasi lain. Lebih-lebih pengalaman keberagamaannya, ketika ia berada dalam krisis justru kepustakaan Ahmadiyah menyelamatkannya. Bagaimanapun, pergaulan dengan mereka telah memberi kontribusi bagi perjalanan keberagaman dan kemuslimannya. Djohan merasa persentuhannya dengan Ahmadiyah memperteguh komitmen keagamaannya untuk menjunjung agama melebihi dunia, dan juga mengembangkan keberagamaan yang seimbang antara penalaran dan penghayatan. Ia berusaha menghayati apa yang ia sering anjurkan dalam training-training bahwa kita harus komitmen kepada nilai dan bukan kepada lembaga.
Sebaliknya, Djohan juga tidak merasa perlu bereaksi terhadap pernyataan orang lain yang mengait-ngaitkannya dengan Ahmadiyah. Tak jarang Djohan menghadiri pertemuan-pertemuan Ahmadiyah, baik Lahore maupun Qadyan. Dalam perjalan ke luar negeri, kalau kebetulan ke Pakistan ia menyempatkan diri mengunjungi pusat Ahmadiyah Lahore di Lahore dan pusat Ahmadiyah Qadyan di Rabwah. Bukan saja dengan Ahmadiyah, ia juga mengunjungi pusat pertemuan Jamaah Tabligh di Delhi, Brahma Kumaris di Maduband, Jainisme di Rajastan, dan House of Justice, Pusat Bahai di Haiva dan Temple Bahai di Delhi dan Sydney. Ia memandang komunitas-komunitas keagamaan, apapun, mengandung nilai-nilai positif yang bisa dijadikan pelajaran. Bagi Djohan, semua agama dan keyakinan hidup adalah mata air kearifan untuk mencapai pencerahan kehidupan manusia.
Dalam silaturahminya ke berbagai tokoh Ahmadiyah, Djohan tidak pernah memperdebatkan masalah-masalah dasar dalam paham Ahmadiyah seperti tentang kenabian, al-masih, dan Imam Mahdi, karena hal itu baginya tak ada gunanya. Djohan memegang pendirian dan keyakinannya sendiri, tapi ia juga menghormati pendirian dan keyakinan orang lain. Mempersoalkan perbedaan paham keagamaan bisa merusak persahabatan. Sikap Djohan terhadap HMI juga tidak berubah. Meskipun ia sudah resmi mengundurkan diri melalui ‘Statemen Pamitan’ pada 1969, namun ia masih mendatangi training-training HMI dan tetap bersahabat dengan para alumni HMI.[]
http://ahmadiyah.org/djohan-effendi-dan-ahmadiyah/

Thursday, April 12, 2018

Informal networks and religious intolerance: how clientelism incentivizes the discrimination of the Ahmadiyah in Indonesia

Despite formal guarantees, minorities in new democracies often have difficulties securing their rights. Many scholars have focused on formal institutions to explain the quality and character of citizenship. In this paper, however, I argue that the ability of minorities to access the benefits and protections of citizenship is conditioned not only by formal guarantees, but through the clientelist networks through which political power is delivered. State actors will allow, or even actively participate in, the persecution of minority groups to win the support of brokers of key networks. I make this argument by looking at the restricted citizenship of Indonesia’s Ahmadiyah community, which has experienced high levels of discrimination in the democratic era. Through a paired comparison of two districts, Bandung city and Tasikmalaya district, I demonstrate that the ability of Ahmadis to access their rights and protections was shaped by the structure of clientelist networks. In districts where politicians relied on the brokerage of individuals with anti-Ahmadiyah preferences to win political office, Ahmadis had more difficulty accessing the rights and protections provided by formal citizenship.

https://www.tandfonline.com/doi/full/10.1080/13621025.2018.1445490?scroll=top&needAccess=true

Thursday, February 1, 2018

Ahmadis or Indonesians? The polarization of post-reform public debates on Islam and orthodoxy

Journal Critical Asian Studies  Volume 50, 2018 - Issue 1, pp. 16-36

Saskia Schafer


Since the fall of Suharto in 1998, Indonesian public discourse about “mainstream” Muslim identity and practice has polarized sharply into various factions. This article offers a detailed analysis of a subset of this discourse that focuses on the Ahmadiyya in order to grasp how the new normative contours of Islam are being shaped in Indonesia. I make three arguments: First, the discourse is homogenizing what was once a wide spectrum of identitarian positions, and that consequently, Islamic diversity in Indonesia is shrinking. Second, the various internally homogenized sets of arguments for and against the Ahmadiyya mis-engage with each other in a way that produces social fragmentation and further polarization. Third, these arguments produce exclusionary mechanisms that reinforce each other. Both the opponents of the Ahmadiyya and their defenders exclude Ahmadis from conceptions of an Indonesian “majority.” This dynamic in Indonesian public discourse has resulted in the acceleration of the marginalization of the Ahmadiyya within an increasingly fragmented Indonesian society.

https://www.tandfonline.com/eprint/mEhpPr5xRYvrXNHzXdvt/full

Monday, January 1, 2018

Melintasi Batas Identitas dan Kesarjanaan: Studi tentang Ahmadiyah di Indonesia

Jurnal Harmoni, 16 (2), 2017: 254-271

Abstract
Who is more authoritative in researching certain religious minorities, insider or outsider? How to apply the concept of ‘detachment’, ‘neutrality’, and ‘bracketing’ in studying religious groups officially declared by majority of ulama and mainstream religious organizations as deviant cults like Ahmadiyah? And how would the various concepts, methods, and scientific theories, such as ‘going native’ and ‘participant observation’ be applied in the field? How to negotiate between faith and science, our identity as part of religious mainstream and orthodox group in studying communities deemed ‘heretic’? How does researcher’s identity as a non-Ahmadi affect his research and judgment about Ahmadiyah? This paper intends to discuss the author’s experience in studying Ahmadiyah, in applying various theories and academic principles in the study of this community, and how to behave towards individual conflicts and controversies surrounding Ahmadiyah issues. This paper is based on seven-year experience of living with, studying, and participating in the activities of Ahmadiyah in Indonesia, Singapore, Japan, India, England, and the United States.

Keywords: Ahmadiyah, identity, insider vs. outsider, orthodoxy vs. heterodoxy, conversion, scholarship.


Abstrak
Siapa yang lebih otoritatif dalam melakukan penelitian tentang kelompok minoritas agama tertentu,Insider atau outsider? Bagaimana menerapkan konsep detachment, neutrality, dan bracketing dalam mengkaji kelompok yang oleh mayoritas ulama difatwakan and berbagai ormas keagamaan sebagai aliran sesat seperti Ahmadiyah? Dan bagaimana pula berbagai konsep tersebut dihadapkan dengan metode penelitian lapangan yang disebut dengan going native dan participant observation? Sejauhmana identitas peneliti sebagai non-Ahmadi mempengaruhi penelitian dan penilaian tentang Ahmadiyah? Tulisan ini merupakan refleksi akademik terkait pengalaman penulis dalam mengkaji Ahmadiyah, dalam menerapkan berbagai teori dan prinsip akademik dalam kajian tentang komunitas ini, dan bagaimana penulis bersikap terhadap berbagai konflik individu serta kontroversi seputar isu Ahmadiyah. Tulisan ini didasarkan pada tujuh tahun pengalaman hidup, bergaul, mengkaji, and berpartisipasi dengan beragam aktivitas Ahmadiyah di Indonesia, Singapura, Jepang, India, Inggris, dan Amerika Serikat.


Kata Kunci: Ahmadiyah, identitas, insider vs. outsider, going native, ortodoksi vs. heterodoksi pindah agama, kesarjanaan.

Makam Mirza Ghulam Ahmad (foto: Ahmad Najib Burhani)


http://jurnalharmoni.kemenag.go.id/index.php/harmoni/article/view/15

Thursday, November 23, 2017

Memahami Kontroversi Ahmadiyah

Geotimes, Jum'at, 24 November 2017

Jemaah Ahmadiyah Berkunjung & Berdoa di Depan Makam Mirza Ghulam Ahmad
[foto: Ahmad Najib Burhani]

Ahmad Najib Burhani*

Dalam beberapa sidang Judicial Review terhadap UU No. 1/PNPS/1965, persoalan yang berulang kali ditanyakan adalah terkait keyakinan Ahmadiyah. Demikian pula dalam sidang keenam, 7 November 2017 yang lalu. Persoalan ini muncul karena isu yang menjadi alasan diskriminasi terhadap komunitas ini dan juga menjadi alasan berbagai peraturan terkait Ahmadiyah adalah teologi. Intinya adalah pada kontroversi apakah keyakinan itu bisa dianggap sebagai penodaan agama atau tidak.

Bagi kelompok yang tak setuju dengan keberadaan Ahmadiyah, keyakinan dan keberadaan komunitas ini dianggap telah mengganggu “ketertiban umum”, yang sering diartikan sebagai “mengganggu hati” atau “merecoki keamanan keyakinan” atau “mengganggu keimanan kelompok mainstream”. Karena Ahmadiyah tak melakukan makar atau keonaran, “ketertiban umum” itu tak banyak berhubungan dengan gangguan fisik atau properti atau ketenteraman masyarakat dalam arti non-teologis. Keyakinan Ahmadiyah yang berbeda dianggap merusak kenyamanan dan ketertiban masyarakat Muslim di Indonesia secara batin dan karena itu mereka perlu dilarang.

Ahmadiyah memang gerakan yang sering disalahpahami dan kerap menjadi kontroversi. Karena itu, tulisan ini mencoba menjelaskan secara ringkas hal-hal kontroversial dalam Ahmadiyah yang muncul dalam persidangan beberapa hari lalu, terutama terkait kenabian, buku Tazkirah, persepsi kelompok ini terhadap umat Islam lain, dan sholat berjamaah dengan Muslim lain.

Ahmadiyah Mirip Gerakan Tarekat
Berbeda dari anggapan bahwa Ahmadiyah memiliki syahadat khusus, syahadat jemaat ini adalah dua kalimat syahadat, persis seperti yang diucapkan oleh umat Islam lain. Namun demikian, sebagai komunitas yang menekankan jalinan sesama anggota yang kuat, selain bersyahadat maka semua anggota Ahmadiyah wajib berbai’at. Tradisi bai’at ini bukanlah sesuatu yang hanya didapati di Ahmadiyah. Praktik ini umum terjadi dalam gerakan tarekat dalam dunia tasawuf. Karena itu, bisa dikatakan bahwa Ahmadiyah memiliki pola yang mirip dengan tarekat.

Selain bai’at, ciri lain dari tarekat adalah ketaatan mutlak kepada mursyid. Ini juga terjadi di Ahmadiyah. Bedanya, mursyid dalam gerakan ini adalah khalifah yang saat ini dipegang oleh Mirza Masroor Ahmad. Hubungan pengikut Ahmadiyah dengan khalifahnya adalah seperti hubungan mursyid dengan muridnya. Kadang, hubungan Ahmadi dengan khalifahnya bisa lebih dari sekadar mursyid-murid karena mereka bisa memiliki hubungan personal yang sangat kuat hingga biasa melaporkan berbagai hal terkait kehidupan kepada khalifah, termasuk urusan pribadi.

Bagi mereka yang di luar tarekat, dan juga non-Ahmadiyah, ketaatan kepada mursyid dan khalifah itu terlihat berlebihan. Ini adalah salah satu kritik yang sering dilontarkan baik kepada tarekat dan juga kapada Ahmadiyah. Bedanya, jika praktek yang terjadi di tarekat sering dipandang masih berada dalam koridor Islam, apa yang dilakukan oleh Ahmadiyah sering dinilai telah keluar dari Islam.

Dalam sidang Mahkamah Konstitusi yang lalu, ada satu pertanyaan yang terkait dengan persoalan kekhilafahan ini, yaitu pertanyaan tentang perbedaan produk dan metodologi penafsiran agama di Ahmadiyah. Untuk memudahkan jawaban terhadap pertanyaan ini, barangkali perbandingan antara yang dipraktikkan di NU, Muhammadiyah, dan Ahmadiyah akan sedikit membantu. Dalam menentukan pandangan hukumnya, NU menggunakan sumber: kitab kuning (terutama Syafiiyah), pandangan para kyai, Al-Qur’an dan hadits, dan tentu saja akal. Di Muhammadiyah, metode yang dipakai adalah: Teks Al-Qur’an dan hadits adalah yang pertama, lantas digunakan akal, dan referensi dari kitab-kitab terdahulu merupakan pelengkap.

Di Ahmadiyah, elemen dan urutannya agak berbeda. Khalifah dan pandangan pendiri gerakan ini adalah referensi pertama, kemudian Al-Qur’an dan hadits, dan lantas penggunaan akal. Inilah yang kemudian melahirkan pandangan bahwa ortodoksi di NU itu banyak ditentukan oleh “kitab kuning”, sementara di Muhammadiyah banyak didasarkan pada “kitab suci”. Di Ahmadiyah, ortodoksinya banyak ditentukan oleh “kitab yang hidup” atau khalifah.
 
Lingkungan Bahishti Maqbarah. Minaratul Masih Nampak dari Sini.
[foto: Ahmad Najib Burhani]
Kenabian dan Tazkirah
Persoalan yang tak disinggung dalam persidangan adalah tentang kenabian Mirza Ghulam Ahmad. Membaca beberapa buku Ahmadiyah secara mandiri memang kadang bisa bingung dan terkecoh. Kalau dasar hati kita memang sudah tidak suka, maka yang dicari-cari adalah pembenaran terhadap ketidaksukaan itu. Diantaranya dengan mencari kutipan-kutipan atau pernyataan yang menyudutkan Ahmadiyah.

Ada beberapa buku yang seakan menunjukkan bahwa posisi Mirza Ghulam Ahmad yang sangat tinggi, bahkan melakukan klaim-klaim seperti yang dilakukan oleh Syekh Siti Jenar. Namun, jika mencoba hidup bersama Ahmadi, akan lebih jelas pemahaman kita tentang persoalan ini. Tanpa melakukan proses itu, hasil yang diraih adalah sama dengan yang terjadi pada beberapa orang yang terjangkit Islamophobia ketika membaca teks Al-Qur’an. Bahwa ada cukup ayat yang menyuruh untuk membunuh dan menjadi teroris. Apakah memang seperti itu yang diajarkan Al-Qur’an? Tanyakanlah kepada umat Islam agar tahu konteksnya. Demikian pula dengan Ahmadiyah. Tanyakanlah beberapa hal yang kontroversial itu kepada mereka, agar tahu konteks dan pemahamannya.

Memang disebutkan dalam beberapa literatur dan juga disampaikan oleh pengikut Ahmadiyah bahwa Ghulam Ahmad adalah seorang nabi. Sering disebutkan bahwa ia hanyalah nabi pengganti, sebagaimana terefleksikan dari namanya, Ghulam Ahmad, yang berarti pelayan terhadap Ahmad (nama lain dari Nabi Muhammad). Posisinya mirip dengan Harun terhadap Musa. Ia adalah nabi tanpa syari’at. Agama dan syari’at yang dijalankannya adalah sama dengan yang dibawa oleh Nabi Muhammad.

Prejudice terhadap Ahmadiyah itu tampak terang dalam kaitannya dengan Tazkirah, buku yang selama ini dianggap oleh lawan-lawan Ahmadiyah sebagai kitab suci komunitas ini. Sejauh penelitian penulis, Tazkirah bukanlah kitab suci Ahmadiyah. Kitab suci mereka adalah Al-Qur’an. Lantas mengapa ada kata “suci” dalam halaman muka buku ini dan juga beberapa kutipan didalamnya? Seperti apa isi dari buku ini?

Para orentalis lama sering dikritik karena penilaian mereka terhadap Islam sering didasarkan pada teks tertentu dan tidak melihat Islam sebagai “living religion” atau agama yang hidup di tengah masyarakat. Kita juga sering terjebak melakukan hal yang sama, melihat Ahmadiyah dari cover buku dan beberapa kutipan dan kemudian menginterpretasikan sendiri. Kita tidak mau bertanya kepada subyek yang kita kaji dan ketika diberi tahu, malah dibantahnya. Seakan kita lebih tahu tentang Ahmadiyah daripada orang Ahmadiyah sendiri. Kita seperti beberapa pengkaji Islam atau pengkaji Indonesia yang dikritik karena arogan dan merasa lebih tahu tentang Islam dan Indonesia daripada pelakunya sendiri.

Tazkirah memang menjadi salah satu buku referensi utama dalam Ahmadiyah, namun itu bukan kitab suci dan tidak selevel dengan kitab suci. Buku yang ditulis tahun 1930-an ini isinya merupakan kumpulan wahyu, ilham, dan ketetapan dari Mirza Ghulam Ahmad. Buku ini ditulis secara kronologis. Kata “suci” dalam cover buku itu tidak menunjukkan bahwa ia adalah kitab suci. Tidak sepenuhnya sama, namun kita bisa melihat penggunaan kata “suci” pada nama seni bela diri yang ada di Muhammadiyah, Tapak Suci Putera Muhammadiyah. Kata “suci” dalam nama ini tak menunjukkan bahwa gerakan-gerakannya berasal dari wahyu Tuhan, tapi lebih menunjukkan bahwa aliran dan keilmuwan pencak silat ini “berlandaskan Al-Islam, bersih dari syirik dan menyesatkan, dengan sikap mental dan gerak langkah yang merupakan tindak tanduk kesucian dan mengutamakan Iman dan Akhlak” (Persilat 2017).

Tidak ada orang Ahmadiyah yang menyebut Tazkirah sebagai kitab sucinya. Mengapa kita terus memaksa mereka untuk mengakui itu? Demikian juga dengan haji. Qadian bukanlah tempat ibadah haji bagi Ahmadiyah dan mereka telah berulang kali menegaskan itu. Mengapa banyak orang yang ngotot menyebutkan bahwa mereka berhaji ke Qadian? Sikap demikian itu seakan menunjukkan bahwa kita, sebagai outsider, merasa lebih tahu tentang keyakinan seseorang dibanding pelaku keyakinan itu sendiri.
Minaratul Masih Terlihat dari Halaman Masjidil Aqsa
[foto: Ahmad Najib Burhani]

Klaim Sesat dan Kafir
Bagaimana dengan klaim sesat dari Ahmadiyah terhadap umat Islam lain dan anggapan bahwa non-Ahmadi adalah kafir? Dalam beberapa literatur dan video bisa ditemukan juga klaim bahwa Ahmadiyah adalah “the true Islam”. Anggapan seperti ini memang bisa ditemukan di Ahmadiyah. Ini adalah anggapan dan keyakinan yang sama yang terjadi pada Sunni Islam atau kelompok Ahlus Sunnah bahwa hanya kelompoknya saja yang masuk surga. Kelompok Islam yang lain akan masuk neraka, sesuai dengan hadits tentang 73 golongan umat Islam. Jika Sunni boleh membuat klaim seperti itu, mengapa Ahmadiyah tidak boleh? Klaim teologis seperti ini akan terus terjadi. Asal negara tidak mengadopsi salah satu keyakinan itu sebagai yang sah dan kita saling memahami, maka tak akan menjadi masalah.

Klaim kebenaran itulah diantaranya yang membuat Ahmadiyah tak bersedia sholat berjamaah dengan umat Islam lain. Memang, jika pikiran kita terobsesi dengan pan-Islamisme atau terus-menerus membayangkan tentang adanya umat Islam yang bersatu seluruh dunia, maka sikap Ahmadiyah yang tidak bersedia diimami oleh non-Ahmadi adalah persoalan serius. Psikologi masa lampau di Pakistan dan India, perlakuan masyarakat terhadap Ahmadiyah saat, keyakinan teologis, dan juga keinginan menjaga kesatuan Jemaah Ahmadiyah menjadi hambatan untuk ini. Bisa jadi hal yang satu ini tak bisa diselesaikan. Namun umat masih bisa berhubungan dengan baik tanpa harus berebut untuk menjadi imam terhadap golongan yang lain.

Terakhir, istilah sesat dan kafir memang bukan domain akademisi. Karena itulah, judul berita yang dibuat Kompas terkait kesaksian penulis yang berjudul “Di Sidang MK, Peneliti LIPI Nilai Ahmadiyah Tak Bisa Dianggap Sesat” (7/11) menimbulkan sensasi tertentu. Ini rasanya kurang konsisten dengan keseluruhan naskah persidangan. Saya merasa cocok dengan judul atau kesimpulan yang dibuat oleh Andreas Harsono  ketika me-retwit berita Kompas tersebut pada 8 November 2017. Ia menulis “Sebagian masyarakat Muslim salah memahami ajaran Ahmadiyah. Kesalahpahaman ini membuat Ahmadiyah dituding sesat.”

Istilah sesat dan kafir bukanlah bagian dari kapasitas saya sebagai peneliti. Saya kira, sesat dan kafir itu juga bukan masuk dalam jurisdiksi atau kewenangan negara dan karena itu perlu dihindari. Bahasa akademik yang biasa dipakai penulis adalah distinctive dan unique, bukan kata sesat. Sesat adalah terminologi fatwa atau istilah agama. Beberapa ajaran Ahmadiyah yang masuk kategori distinctive, diantaranya, adalah kenabian, keyakinan tentang al-Masih, candah, konsep jihad, dan khilafah. Sebagian sudah dijelaskan di atas dengan perspektif akademik, bukan teologis.

Kalau kita atau siapapun yakin bahwa keyakinannya benar, maka mestinya tidak perlu takut terhadap Ahmadiyah. Tidak perlu meminta bantuan pemerintah untuk melarang Ahmadiyah. Tidak perlu menggunakan kekerasan untuk menghadapi Ahmadiyah. Kalau kita atau siapa saja yakin pemahaman agamanya benar, kita mestinya berani berkompetisi secara fair dan terbuka dengan Ahmadiyah.
-oo0oo-

*Peneliti Senior LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia)

https://geotimes.co.id/kolom/agama/memahami-kontroversi-ahmadiyah/