Monday, May 6, 2013

Dialog Awam tentang Keyakinan Ahmadiyah

Membicarakan persoalan keagamaan sering terjebak dalam diskusi yang tak berujung pangkal, penyebabnya adalah adanya keinginan pihak-pihak yang terlibat dalam pembicaraan berusaha menguasai, mendominasi bahkan menjatuhkan lawan bicaranya. Upaya memenangkan perdebatan sebenarnya merupakan sebuah kewajaran ketika satu dengan lainnya merasa mempunyai kebenarannya sendiri-sendiri. Sejauh tidak berdampak pada rasa dendam dan perilaku anarkis, perdebatan sengit yang dikelola dengan baik merupakan katup pengaman yang baik dan berlatih menghargai orang lain. Dalam perbincangan satu dengan lainnya saling memberi kesempatan lawan bicaranya untuk menjelaskan argumentasi masing-masing. Sehingga satu dengan lainnya akan memahami alasan dan argumentasi yang melatar-belakangi pendapat mereka. Inilah sebuah deskripsi tentang dialog, didalamnya terdapat proses pembelajaran kedua belah pihak yang memperbincangkan suatu masalah.

Rumusan dialog di atas sulit untuk bisa dilaksanakan pada kelompok manusia yang mempunyai peradaban rendah. Mereka cenderung menggunakan bahasa komunikasi yang paling kuno, yakni melakukan tindakan kekerasan fisik dan jauh dari adu argumentasi pemikiran, apalagi menghargai pendapat orang lain. Situasi menjadi lebih parah ketika aparat pemerintah yang seharusnya menjadi penjaga dan pelindung warga masyarakat terlibat memihak sehingga menimbulkan korban kekerasan fisik diantara mereka. Dan bisa dipastikan kaum minoritas dalam posisi yang lemah menjadi korban persekusi tersebut. Kenyataan semacam ini secara terang benderang dapat disaksikan dalam berbagai media masa yang memberitakan tentang kekerasan berlatar-belakang agama. Dalam berbagai laporan dari para penggiat Hak Azasi Manusia (HAM) menunjukkan adanya kecenderungan yang meningkat dari waktu ke waktu, khususnya persekusi yang menimpa Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) di beberapa daerah.

Buku yang ada ditangan pembaca yang budiman, bukanlah buku tentang peristiwa-peristiwa tindak kekerasan terhadap kaum Ahmadiyah, melainkan sebuah buku yang menggambarkan adanya dialog orang-orang awam tentang keyakinan Ahmadiyah. Bertemunya orang awam Muslim dengan orang awam Ahmadi mencoba mendiskusikan tentang keyakinan Ahmadiyah dari sudut pandangnya sendiri-sendiri. Maka buku inipun diberi judul juga dengan cara yang awam yakni DIALOG awam tentang keyakinan AHMADIYAH. Buku ini diharapkan memberi informasi yang faktual tentang keyakinan kaum minoritas Muslim Ahmadiyah, rujukan sumber bacaan juga merupakan literatur asli dari lingkungan Ahmadiyah, bukan dari sumber-sumber yang anti-Ahmadiyah.

Semoga buku ini mencapai tujuan diterbitkannya sepanjang pembaca yang budiman terbuka untuk mengenal perbedaan-perbedaan pendapat, pemahaman, tafsir dan argumentasi mengenai keyakinan Ahmadiyah.

Download the book

Sunday, May 5, 2013

Ahmadi Juga Manusia

Kamis, 24 Februari 2011 | 13:51 WIB

TEMPO Interaktif,  Alinea terakhir tulisan tanggapan Saudara Qosim Nursheha Dzulhadi (www.hidayatullah.com, 21 Februari 2011) atas tulisan saya (“Dalam Bayang-bayang Kuasa Umat”, Koran Tempo, 9 Februari 2011) sebagian menggambarkan semangat di balik seluruh tulisan saya yang ditanggapinya tersebut. Qosim mengatakan: "Ketakutan Saipul Mujani-lah yang berlebihan melihat reaksi terhadap Ahmadiyah saat ini. Dia khawatir jika konsep HAM-Barat tak bisa lulus dan diterima dalam kehidupan beragama dan berbangsa di Indonesia yang mayoritas penduduknya Muslim. Padahal memang sudah terbukti bahwa HAM-Barat hanya merugikan 'umat Islam', tidak lebih."

Saya takut atas perkembangan terakhir yang menimpa orang Ahmadiyah yang nyawanya melayang karena keyakinan mereka yang sesat? Ya. Atau mungkin lebih tepatnya saya marah dan geram betul, bukan takut, atas melayangnya nyawa manusia seperti itu. Bukan karena mereka Ahmadiyah, melainkan karena mereka manusia. Saya pun akan sangat geram kalau orang yang membenci Ahmadiyah harus hilang nyawanya hanya karena benci terhadap Ahmadiyah. Saya juga akan sangat takut kalau ada orang harus mati hanya karena ia berkeyakinan bahwa Ahmadiyah sesat. Apakah saya berlebihan bersikap seperti itu? Sepanjang kita tetap manusia, saya kira tidak. Sebaliknya, bila ada orang yang merasa tidak sangat takut dan cemas akan kejadian itu, saya gagal memahami manusia jenis apa dia.

Poin-poin utama tulisan Qosim bahwa Ahmadiyah sesat, saya setuju. Ulama dunia sudah menghukum bahwa Ahmadiyah sesat juga saya tahu. Tapi apakah orang sesat harus dilarang hidup di sebuah negeri, dan apalagi dibunuh, karena kesesatannya itu, akan selalu saya tentang. Ini berlaku bukan hanya bagi Ahmadiyah, juga pemeluk agama atau paham agama lain. Bukan karena agama atau paham agamanya, melainkan karena ia manusia. Tidak ada kompromi tentang nyawa manusia apa pun agama dan paham agamanya.

Apakah sikap saya tersebut merupakan sikap dan pandangan HAM Barat? Saya tidak peduli. Mau dari Barat, mau dari Timur, mau dari Islam, mau dari agama lain, saya tidak peduli sepanjang itu menghargai nyawa manusia. Sebaliknya, paham agama apa pun, ideologi apa pun, kitab apa pun, tidak punya nilai di mata saya kalau dia tidak menghargai manusia, dan apalagi mau membenarkan penghilangan nyawa manusia karena perbedaan paham keagamaannya tersebut.

Cara pandang yang mengutamakan manusia seperti itu memang relatif baru dalam sejarah umat manusia, bukan hanya dalam sejarah umat Islam, tapi juga dalam sejarah umat lain. Bukan hanya dalam sejarah Timur dan Arab, tapi juga dalam sejarah Barat. Penghargaan terhadap manusia adalah temuan baru jika dibandingkan dengan sejarah manusia yang jauh lebih panjang. Pembunuhan terhadap manusia karena perbedaan paham keagamaan juga menjadi bagian dari sejarah Barat, seperti halnya sejarah Islam. Karena kita punya sejarah seperti itu, bukan berarti kita dibenarkan melakukan pemusnahan terhadap nyawa manusia hanya karena berbeda paham keagamaan tersebut. Ini sikap yang relatif baru, dan kita tidak boleh dibelenggu oleh sejarah masa lalu kita yang tidak menghargai manusia.

Dalam tulisan saya yang ditanggapi itu, sekilas saya mengungkapkan sejumlah perbedaan paham dalam wilayah akidah yang amat mendasar yang pernah terjadi dalam sejarah Islam. Tujuannya untuk mengatakan bahwa perbedaan paham keagamaan yang sangat mendasar pun ada dalam khazanah Islam dan mengapa kita sekarang tidak belajar dari sejarah itu. Saya memang kurang menegaskan bahwa perbedaan paham akidah dalam sejarah itu kemudian menjadi bencana, saling bunuh, muncul peperangan, ketika perbedaan paham itu melekat dengan kekuasaan. Dan kita tidak boleh mengulang persekutuan tidak suci antara agama dan politik itu. Sumber kekerasan atas nama agama itu terjadi ketika ulama dan penguasa berselingkuh.

Pada Abad Pertengahan, dalam Islam maupun Kristen, perselingkuhan yang memang tidak pernah suci itu terjadi, dan membawa bencana. Bukan hanya bagi manusia, tapi juga bagi agama itu sendiri yang sejatinya membawa pesan perdamaian dan toleransi, bukan peperangan dan bukan pula membunuh manusia. Perbedaan akidah itu ada, dan masing-masing mengklaim paling benar. Sampai di situ tidak menjadi persoalan. Tidak jadi persoalan bagi saya kalau Qosim berkeyakinan bahwa akidah atau paham Islamnya paling benar dan yang selain itu sesat, sejauh keyakinan itu tidak dipaksakan kepada orang lain lewat negara sedemikian rupa, sehingga paham yang selainnya harus dimusnahkan dari negeri ini seperti yang dialami Ahmadiyah yang tak boleh mendakwahkan keyakinannya. Seperti halnya paham Mu'tazilah tentang barunya Al-Quran, dan sebaliknya paham Asy'ariah tentang qadim-nya Al-Quran, tidak menjadi masalah kalau saja Mu'tazilah tidak memaksakan pahamnya lewat kekuasaan khalifah Al-Makmun--sehingga muncul kebijakan negara yang mengkafirkan dan melarang mereka yang menolak paham tersebut . Dan sebaliknya, ketika khalifah Mutawakil berkuasa dan menganut paham Asy'ariah, paham Mu'tazilah juga dilarang.

Saya, dari keluarga dengan paham akidah Ahlussunah, berpaham seperti Asy'ariah itu. Tapi, ketika ada orang Islam lain mengikuti paham Mu'tazlah, apa hak saya melarang dia? Misalnya, dia mengatakan kepada saya bahwa yang Mutlak, Yang Abadi, hanya Allah. Selainnya tidak mutlak, atau relatif. Kalau Al-Quran abadi dan mutlak, maka ada dua abadi dan dua mutlak, yakni Allah dan Al-Quran, dan ini bertentangan dengan prinsip dasar Islam, Tauhid, yang meyakini hanya ada satu yang mutlak ataupun yang abadi, yakni Allah SWT. Dia katakan, barang siapa menduakan Tuhan, meyakini ada yang abadi dan ada yang mutlak selain-Nya, maka ia seorang musyrik yang tidak bisa diampuni dosanya. Atas paham seperti ini, kita harus bilang apa? Apa kita harus memeranginya? Subhanallah!

Perbedaan akidah itu ada, dan sangat manusiawi, dan perbedaan itu melahirkan bencana ketika negara ikut campur menyensor akidah seseorang atau sekelompok orang. Pandangan bahwa perbedaan itu hanya pada hal-hal yang berkaitan dengan cabang (furu') atau fiqh, bukan ushul yang bersifat mendasar, itu adalah klaim umum ulama mainstream. Padahal klasifikasi yang mendasarnya hanya tafsiran, bukan atas dasar sebuah ayat yang dinilai qat'i (pasti). Jangankan melarang beda paham agama atas dasar tafsir, atas dasar nash (teks) yang qati' pun, kalau harus memusnahkan manusia, tidak boleh terjadi di negara kita yang bukan negara Islam ini.

Meskipun penghargaan terhadap manusia di negeri kita masih sangat lemah, saya merasa beruntung dan bangga lahir dan menjadi warga Indonesia sekarang ini, karena penghargaan terhadap manusia di negeri ini relatif lebih baik dibanding di negara-negara yang mayoritas penduduknya muslim, seperti di Timur Tengah ataupun Asia Selatan seperti Pakistan. Di negara-negara itu, jangankan berbeda paham akidah, berbeda sikap politik pun tidak dibenarkan, dan dimusnahkan kalau menjelma dalam bentuk tindakan seperti yang kita saksikan dalam hari-hari belakangan ini. Kita tahu bagaimana persekongkolan ulama dan penguasa di negara-negara itu. Tak terbayangkan ada Wahabisme tanpa kekuasaan keluarga kerajaan Ibn Sa'ud, dan demikian juga sebaliknya, dan kita tahu bagaimana manusia, terutama perempuan, diperlakukan di kerajaan itu sampai hari ini.

Kita punya Konstitusi yang melindungi kebebasan paham beragama dan mempraktekkannya sesuai dengan keyakinannya tersebut. Konstitusi inilah yang harus jadi dasar untuk menilai apakah paham dan perilaku kita, termasuk dalam hubungan antar-paham agama, menyimpang atau tidak menyimpang, bukan sebuah paham keagamaan tertentu. Barangsiapa yang menyebarkan paham dan apalagi melakukan tindakan yang bertentangan dengan Konstitusi tersebut, ia harus diluruskan, dibina, atau paling banter dibui. Tapi tidak boleh dibunuh, siapa pun dia, termasuk orang Ahmadiyah (Ahmadi). Wallahualam.

*Saiful Mujani, Dosen FISIP UIN Jakarta

http://www.tempo.co/read/kolom/2011/02/24/330/Ahmadi-Juga-Manusia

Saturday, May 4, 2013

Dalam Bayang-bayang Kuasa Umat

(Koran TEMPO, 9/2/2011)

Anggota jemaah Ahmadiyah diburu, dikepung ruang geraknya, seperti binatang. Bukan hanya oleh orang-orang di lapisan bawah, tapi juga oleh elite negara dan ulama. Wujudnya adalah kebijakan jahat yang dibuat elite tersebut dalam bentuk surat keputusan bersama (SKB) tiga menteri, dan dikaitkan dengan undang-undang penistaan agama. Dalam SKB itu, Ahmadiyah jelas kehilangan hak-hak asasinya yang paling fundamental sebagai warga negara, yakni kebebasan berkeyakinan dan menjalankannya.

Sejumlah aktivis mengajukan review kebijakan dan undang-undang yang digunakan untuk mendiskriminasi dan membantai warga Ahmadiyah itu. Dasar pengajuan review tersebut adalah kebijakan yang diskriminatif itu dinilai bertentangan dengan konstitusi, yang menjamin kebebasan berkeyakinan serta beragama dan, karena itu, wajib hukumnya dibatalkan. Kita tahu semua, Mahkamah Konstitusi tidak mengabulkan permohonan tersebut.

Kalau bicara secara pribadi dengan para pejabat negara tersebut, mereka mengakui bahwa kebijakan negara itu diskriminatif dan melanggar konstitusi. Tapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Bahkan bicara secara jernih pun bahwa setiap warga, apa pun keyakinannya, dijamin di negeri hukum ini mereka tidak berani. Saya melihat mereka takut. Takut terhadap siapa? Saya tidak tahu, tapi kesan saya, mereka takut terhadap "umat Islam".

Umat Islam adalah kolektivitas yang dibayangkan hidup, punya logika, dan punya jalan pikiran sendiri. Ia punya sikap tentang apa itu Islam dan apa itu bukan Islam. Barang siapa yang memahami Islam di luar pemahamannya dianggap mengancam Islam dan umat Islam dan, karena itu, harus dikeluarkan. Bila tidak mau keluar, tetap bernaung dalam nama Islam, ia dinilai pantas dimusnahkan.

Sikap umat seperti ini sebenarnya diciptakan dalam sejarah oleh sebuah otoritas agama atau ulama dan negara atas dasar penafsiran yang dinilai berlaku umum dalam tradisi otoritas tersebut. Peran ulama adalah membentuk paham-paham Islam mana yang benar dan mana yang tidak benar, mana yang boleh dan mana yang tidak boleh. Sampai di situ tidak apa-apa. Tapi, ketika otoritas agama ini punya kekuasaan atau bisa menggunakan kekuasaan negara, paham tersebut bisa punya daya paksa dan bahkan daya musnah seperti yang kita saksikan di Pandeglang itu.

Negara bisa dipaksa atau mungkin dipersuasi oleh ulama, terutama Majelis Ulama dan para ulama di Kementerian Agama karena petinggi negara terkait takut dinilai membela hak-hak beragama jemaah Ahmadiyah. Mereka takut dinilai memusuhi umat Islam kalau menolak permintaan para ulama untuk mengkerangkeng jemaah Ahmadiyah.

Saya tahu para ulama itu sungguh-sungguh melihat Ahmadiyah sebagai ancaman terhadap umat Islam. Tapi para pejabat negara terkait sebenarnya tidak merasa seperti itu. Sebenarnya banyak di antara mereka yang memandang bahwa paham seperti yang dipegang oleh Ahmadiyah merupakan hak jemaah Ahmadiyah sendiri dan negara tidak boleh memaksa mereka berislam selain cara mereka sendiri. Mereka juga percaya bahwa negara wajib melindungi setiap keyakinan apa pun, termasuk keyakinan yang dikaitkan dengan Islam, seperti Ahmadiyah. Tapi elite negara itu takut terhadap umat kalau harus mengatakan demikian secara terbuka kepada publik. Mereka takut dinilai merusak Islam, dan takut dimusuhi umat Islam.

Ketakutan elite negara, yang umumnya awam dengan tafsir Islam, itu semakin menjadi-jadi karena hampir tidak ada ulama tandingan dari umat Islam yang berpengaruh untuk menyampaikan paham alternatif terhadap pandangan tentang Islam yang dinilai umum tersebut. Kita tahu ada sejumlah ulama atau intelektual yang menoleransi adanya perbedaan paham dalam Islam, termasuk yang berkaitan dengan akidah, karena mereka tahu bahwa perbedaan semacam itu punya sejarah yang panjang dalam tradisi Islam. Dan sah adanya.

Kita ingat bagaimana para pendukung Sayidina Ali dan para pendukung Sayidina Usman saling mengkafirkan, saling mengeluarkan mereka dari Islam. Padahal mereka semua para pengikut setia Nabi. Mereka berebut pengaruh. Bukan soal paham agama betul.

Kita tahu banyak ulama besar pada masa keemasan Islam yang lebih mengutamakan akal daripada wahyu, yang menganggap akal lebih penting daripada wahyu. Juga kita ingat perdebatan besar para ulama Asyariah dan Mu'tazilah tentang hakikat wahyu atau Al-Quran, apakah ia kekal (qadim) atau baru (hadis). Kita juga tahu ada ulama besar tasawuf, seperti Yazid Albustami atau Al-Hallaj, yang punya ungkapan ganjil bagi awam umat Islam ketika mengatakan, misalnya, "tidak ada Tuhan selain Aku"; "Aku adalah Tuhan", dan seterusnya.

Itu semua wilayah akidah dan, karena itu, beda paham dalam soal akidah juga biasa saja. Kalau Mirza Ghulam Ahmad mengaku dirinya seorang nabi, ya, tidak ada apa-apanya kalau kita melihat perbedaan paham para ulama pada zaman keemasan Islam tersebut. Jangankan yang mengaku sebagai nabi, yang mengaku dirinya sebagai Allah saja ada. Jangankan perbedaan paham dalam menafsirkan sumber doktrin Islam, yakni Al-Quran, yang menganggap Al-Quran kurang penting pun ada. Dan semuanya berdasarkan atas otoritas keulaman mereka.

Celakanya, para ulama yang berdiri di belakang SKB itu cukup tahu sejarah Islam, tapi mereka memilih secara selektif. Seleksi itu bukan karena mereka sudah bertemu dengan Allah dan mengatakan bahwa Allah membenarkan substansi SKB itu, tapi lebih karena perasaan dan sejarah sosial mereka sendiri dalam lingkungan ulama Indonesia yang jumud, yang mata hatinya tertutup terhadap kenyataan bahwa ini adalah Indonesia, negara Pancasila, bukan negara Islam.

Sejauh ini para ulama yang bernafsu mengeluarkan Ahmadiyah dari Islam cukup berhasil memonopoli arti dan makna Islam itu, sehingga paham yang lain harus dimusnahkan. Lebih dari itu, mereka kemudian berhasil juga menciptakan ketakutan di seantero negeri, termasuk kepada para jenderal yang paham keislamannya dari tradisi abangan itu.

Para elite negara begitu takut kepada umat Islam yang maknanya ciptaan para ulama itu. Mereka begitu percaya, kalau melawan paham ulama itu, mereka akan ditinggalkan umat Islam, yang membentuk hampir seluruh penduduk negeri ini. Kalau ditinggalkan, apalagi dimusuhi umat yang buatan ulama itu, habislah riwayat petinggi negara yang nasibnya bergantung pada pilihan umat itu, apakah itu presiden, anggota DPR, gubernur, maupun bupati. Pejabat-pejabat negara lainnya yang tak dipilih umat, seperti yang duduk di Mahkamah Konstitusi, kejaksaan, kepolisian, dan kementerian, juga takut karena bergantung pada para pejabat yang dipilih umat tersebut. Umat berkuasa, dan membuat takut seantero negeri.

Tuesday, April 30, 2013

Djohan Effendi dan Ahmadiyah

Murid Masih Mau’ud Menembus Istana Negara
Suaranya lirih, sikapnya teramat santun, pria berkacamata yang akrab dipanggil Pak Johan itu, lebih dikenal sementara orang - sebagai aktivis Lahore. Apapun keadaannya, Dr.Johan Efendy, tetap menjaga hubungan indahnya dengan Amir Rais ut Tabligh- H.MA Cheema Sy, semasa kantor PB JAI masih di Jakarta. Secara berkala Pak Johan mengunjungi Pak Cheema di Jl.Balikpapan- Jakarta, untuk membahas sejumlah isu Nasional maupun International.

Ketika reformasi bergulir di negeri ini, dan Gus Dur menjadi Presiden- Pak Johan sempat diminta duduk sebagai Menteri Sekretaris Negara. Saat suasana panas , akibat berbagai konflik SARA di Jakarta, pak Johan dan sejumlah aktivis Lintas Agama, secara routin menggelar diskusi diberbagai tempat. Ujungnya , tentu saja, untuk mencari solusi bagi Perdamaian Bangsa. 

Pandangan tentang pentingnya menjaga KeBhinekaan NKRI, membuat Pak Johan sering diundang oleh para aktivis Kebangsaan untuk menjadi Narasumber. Foto terlampir diabadikan Redaksi, saat Pak Johan tengah terlibat diskusi dengan sejumlah Tokoh Lintas Agama , yang juga dihadiri para Ahmadi.(jkt. nkhaes,08/10/11)

http://suaraansharullah.blogspot.com/p/profil.html
-----------

Kisah Djohan Effendi, Ahmadiyah dan A. Hassan 
Saif Al Battar 
Ahad, 26 Jumadil Akhir 1434 H / 24 Februari 2013 11:28 - See more at: http://www.arrahmah.com/news/2013/02/24/kisah-djohan-effendi-ahmadiyah-dan-a-hassan.html#sthash.beLqTeiw.dpuf

(Arrahmah.com) - Kisah perjalanan hidup Djohan Effendi sungguh unik. Sejak muda ia menjadi pengagum berat pemikiran Islam Ustadz A. Hassan, tokoh Persatuan Islam (Persis), yang dikenal sebagai penentang keras Ahmadiyah. Namun di usia senja, Djohan Effendi justru menjadi pembela Ahmadiyah. Sungguh ironis!  

Djohan Effendi. Namanya cukup dikenal sebagai pembela kelompok sempalan Ahmadiyah dan senior di kalangan aktivis liberal. Namanya masuk dalam buku “50 Tokoh Liberal di Indonesia” untuk kategori pionir atau pelopor gerakan liberal bersama dengan Ahmad Wahib, Munawir Sadzali, Harun Nasution, Nurcholis Madjid, Mukti Ali, dan Abdurrahman Wahid.  Peneliti asal Australia, Greg Barton juga menyejajarkan pria berkacamata tebal ini dengan tokoh-tokoh pelopor liberalisme di atas.  

Saat umat Islam ramai menolak keberadaan Ahmadiyah dan meminta Presiden SBY agar mengeluarkan Keppres pembubaran organisasi yang didirikan oleh nabi palsu Mirza Ghulam Ahmad tersebut, Djohan Effendi yang lahir di Kandangan Hulu, Kalimantan Selatan, 1 Oktober 1939, justru pasang badan membela Ahmadiyah.  

Pria yang dikenal akrab dengan Gus Dur ini bahkan mengusulkan kepada pemerintah agar membuat pulau khusus bagi warga Ahmadiyah. Ia juga menyerukan agar pengikut Ahmadiyah mencari suaka politik ketimbang harus hidup di Indonesia.  Ketika menjabat di lingkungan Departemen Agama dan menjadi Menteri Sekretaris Negara pada era Presiden Gus Dur, Djohan juga menjadi bumper bagi kelompok Ahmadiyah.  Belakangan Djohan tak sekadar membela hak-hak warga Ahmadiyah, ia bahkan diduga kuat telah menganut ajaran kelompok tersebut. Bagi Djohan, Ahmadiyah mempunyai hak yang sama dalam menjalankan keyakinannya di Indonesia.  

Namun siapa sangka, Djohan yang dikenal vokal membela Ahmadiyah, dahulu adalah sosok yang begitu mengagumi Ustadz A. Hassan, tokoh Persatuan Islam (Persis) yang justru dikenal sebagai penentang keras dan lawan hebat dalam perdebatan melawan Ahmadiyah.  A. Hassan pernah melakukan debat secara terbuka selama tiga hari dengan Ahmadiyah di Bandung dan Batavia pada tahun 1933. Dalam perdebatan yang dihadiri ribuan orang itu, A. Hassan yang mewakili kelompok Pembela Islam, berhadapan dengan para pemuka Ahmadiyah.  

Debat fenomenal yang dikenang sepanjang sejarah itu menghadirkan tokoh-tokoh Ahmadiyah seperti Maulana Rahmad Ali dan Abu Bakar Ayyub. Sementara dari pihak Pembela Islam diwakili oleh A. Hassan.  Pihak Ahmadiyah kewalahan meladeni argumentasi yang disampaikan oleh A. Hassan. Ajaran sesat Ahmadiyah pun dikuliti habis-habisan.  Pada masa remaja, Djohan Effendi begitu terpengaruh dan mengagumi pola pikir dan pemahaman Islam A. Hassan dan organisasi Persatuan Islam. 

Karya-karya A. Hassan, seperti Soal Jawab tentang Masalah-masalah Hukum (Islam), dan tulisan-tulisan ulama tersebut di Majalah Pembela Islam dan Al-Lisan, begitu menarik perhatian Djohan saat itu.  Djohan pun berlangganan Majalah Al-Muslimun, sebuah majalah yang dikenal dengan tulisan-tulisan fiqihnya, yang diterbitkan oleh Persatuan Islam di Bangil. Majalah Pembela Islam dan Al-Muslimun sudah ia baca sejak duduk di Sekolah Rendah.  Ia tertarik dengan kemampuan A. Hassan dalam memaparkan argumen dan dalil-dalil ketika melakukan polemik ataupun debat terbuka. Ia mengkhatamkan risalah perdebatan antara A. Hassan dengan Hussein Al-Habsyi, tokoh Syiah di Bangil, Pasuruan, Jawa Timur, tentang madzhab.  A. Hassan berpendapat, umat Islam tidak wajib bermadzhab, tapi wajib berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Sunnah. Sementara Hussein Al-Habsyi yang juga pengelola Yayasan Pendidikan Islam (YAPI) Bangil, berpandangan wajib bermadzhab. 

Sayang, apakah Djohan Effendi juga sudah membaca risalah perdebatan antara A. Hassan dengan para mubaligh Ahmadiyah?  Selain A. Hassan, Djohan Effendi juga mengagumi sosok KH Moenawar Cholil, tokoh Persis yang dikenal sebagai penulis buku terkenal berjudul “Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad”.  Begitu juga dengan tokoh Persis lainnya, seperti KH Isa Anshari, yang begitu menginspirasi Djohan Effendi. Ia kagum dengan “Manifesto Perjuangan Persis” yang digagas oleh KH Isa Anshari, sebagaimana pengakuannya dalam buku “Sang Pelintas Batas: Biografi Djohan Effendi” yang diterbitkan oleh Kompas, tahun 2009. Karena kekagumannya terhadap manifesto itu, Djohan bahkan pernah melamar menjadi anggota Persis. (hal. 27-28).  

Setelah menamatkan sekolah di kampung halamannya, Djohan Effendi merantau ke Jogjakarta untuk menempuh studi pada Pendidikan Hakim Islam Negeri (PHIN). Sebelum berangkat ke Jogja, Djohan berkirim surat ke kantor Pimpinan Pusat Persatuan Islam (Persis) di Bandung.  Dalam suratnya, ia meminta bantuan dari pimpinan Persis untuk bisa memperkenalkan anggota Persis yang tinggal di Jogja sebagai teman di sana sekaligus bisa mencarikan tempat kos di Kota Gudek itu.  

Dari pimpinan Persis di Bandung, Djohan diminta menghubungi tokoh Persis di Jogjakarta bernama KH Ma’shum, yang juga dikenal sebagai ahli fiqih.  Setelah berkirim surat kepada KH Ma’shum, Djohan mendapatkan balasan dari kiai tersebut. Kepada Djohan, Kiai Ma’shum menyarankan agar ia indekos di rumah tokoh Aisiyah, Hj. Damiri, yang terletak di wilayah Kauman, basis santri di Jogjakarta.  Dalam suratnya, Kiai Ma’shum juga berpesan kepada Djohan, “Kalau mau mencari pangkat silakan ke Jogja. Tapi kalau ingin mencari ilmu Islam, datanglah ke Bangil (Pesantren Persis Bangil).” (hal. 42)  

Sayang, menurut cerita, surat balasan Kiai Ma’shum datang terlambat. Djohan sudah lebih dulu datang ke Jogja dan studi di sana. Andaikan tidak, bisa saja Djohan Effendi mengikuti saran Kiai Ma’shum untuk menimba ilmu di Pesantren Persis Bangil, yang pada masa itu diasuh langsung oleh A. Hassan. Dan bisa saja, Djohan Effendi akan menjadi penentang hebat Ahmadiyah, sebagaimana A. Hassan, bukan malah menjadi pembela Ahmadiyah yang dilakoninya kini. 

A-hassan-pendiri-Persis  A. Hassan (duduk, kiri) bersama pengurus Persis  Dari Jogjakarta inilah, Djohan dikabarkan mulai berkenalan dengan para aktivis Ahmadiyah dan berinteraksi dengan mereka…  Jalan hidup seseorang memang rahasia Ilahi. Begitupun dengan hidayah. Seseorang bisa saja, pagi hari beriman, senja hari menjadi kafir. Sekarang istiqamah, besok bisa menjadi munafik.  

Karenanya, agar pasang surut kehidupan ini tetap berada dalam jalur yang benar, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallammengajarkan kepada umatnya untuk selalu berdoa dan meminta perlindungan Allah, “Wahai Dzat Yang Maha membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku dalam ketaatan kepada-Mu.”  (Artawijaya/salam-online/arrahmah.com) - See more at: http://www.arrahmah.com/news/2013/02/24/kisah-djohan-effendi-ahmadiyah-dan-a-hassan.html#sthash.beLqTeiw.dpuf

Monday, April 29, 2013

Djohan Effendi: Kosmopolitanisme Se-“Urang Banjar”

Oleh
Hairus Salim HS


Catatan: Tulisan ini merupakan pengantar untuk buku biografi Dr. Djohan Effendy: Sang Pelintas Batas. Djohan adalah mantan Menteri Sekretaris Kabinet era Gus Dur, penulis pidato Presiden Soeharto, dan salah seorang tokoh pembaruharuan Islam Indonesia. 2009 yang lalu, beliau berusia 70 tahun. Rekan-rekannya merayakannya dengan di antaranya menerbitkan biografi beliau dan sebuah persembahan dari sejumlah aktivis dan intelektual, Merayakan Kebebasan Beragama: Persembahan 70 tahun Djohan Effendy. Kedua buku tersebut diterbitkan oleh ICRP dan Kompas, Jakarta (HS).

 Di Yogyakarta, atau tepatnya di jalan Mataram, berseberangan dengan Hotel Melia Purosani, persis di pojok jalan, ada sebuah masjid mungil. Quwwatul Islam namanya. Masjid ini didirikan oleh para saudagar asal Banjar, Kalimantan Selatan, beberapa warsa yang lalu, dan awalnya dimaksudkan sebagai ‘transito’ bagi para pendatang Banjar di Yogyakarta, baik mereka yang hendak mengadu nasib maupun yang ingin menuntut ilmu di Yogyakarta. Pendirinya konon berwasiat agar pengurus takmir masjid ini selalu orang Banjar, supaya ia selalu bisa menjadi ‘pusat’ pertemuan dan komunikasi orang-orang Banjar di Yogyakarta. Memang pada tahun-tahun pendiriannya, belum ada asrama daerah milik warga Kalimantan Selatan yang bisa menjadi pusat pertemuan dan kegiatan, serta komunikasi pasti masih sulit. Karena itu, fungsi masjid itu –di luar untuk kepentingan ibadah— sangat penting bagi warga Banjar di Yogyakarta. Dan sesuai dengan wasiat, hingga sekarang pengurus takmirnya selalu orang asal atau keturunan Banjar yang bermukim di Yogyakarta. Meski peranan masa lalunya telah merosot, hingga kini masjid itu tetap menjadi pusat pertemuan warga Banjar di Yogyakarta.


Suatu kali, di awal di pertengahan 1990-an, tak ada mendung tak ada petir, saya diundang rapat pemilihan pengurus baru masjid tersebut. Saya tidak aktif dan tidak terlalu suka dengan perhimpunan yang bersifat etnis, jadi saya tidak tahu mengapa saya diundang. Tapi dengan berbagai pertimbangan, saya memutuskan tetap datang.

Ada satu pembicaraan dalam pertemuan itu yang terus saya ingat sampai sekarang. “Tahu kada. Sabujurannya kita tu baisi orang panting. Panulis pidato presiden (baca: Soeharto) tu orang Banjar. Pajabat jua di depag pusat. Banyak kalo nang kada tahu. Cuma sidin ni urang Ahmadiyah. Jadi kada tapi cucuk lawan kita,” demikian kira-kira ungkap orang tersebut.

Meski nama ‘orang panting’ itu tidak disebut dengan jelas, saya yakin orang yang dimaksud adalah Djohan Effendi (DE) atau Pak Djohan sebagai biasa saya menyebut.  Bagi orang itu, DE dianggap sebagai orang yang sukses dan sepatutnya menjadi contoh bagi para orang Banjar lainnya. Bagi etnis kecil seperti ‘Banjar,’ kehadiran warga mereka sebagai tokoh di level nasional, sangatlah membanggakan. Tapi pada saat yang sama, rupanya orang itu menyayangkan banyak orang Banjar yang tak kenal bahwa penulis pidato presiden dan pejabat tinggi di depag itu adalah DE, yang orang Banjar. Selain itu, ia agak menyesal juga karena, menurutnya, DE mengikuti paham Ahmadiyah.
Anggapan DE sebagai penganut Ahmadiyah ini juga pernah saya dengar dari seorang dosen asal Banjar di IAIN Sunan Kalijaga, yang masa kuliahnya sezaman dengan DE. Pertanyaan-pertanyaan dan pernyataan-pernyataan serupa tentang Pak Djohan pada masa-masa berikutnya sering juga muncul.

Tak Menonjolkan Diri Sebagai ‘Banjar’
Bukan hanya warga (asal) Banjar, orang kebanyakan pun, menurutku, sering tidak tahu kalau DE adalah orang Banjar. Ia sudah barang tentu dikenal sebagai seorang ‘tokoh’, salah seorang pejuang demokrasi, penganjur perdamaian, dan penggiat dialog antaragama, serta atribut-atribut lain seperti peneliti utama Departemen Agama, penulis naskah pidato presiden, pendukung Forum Demokrasi (FD), Kepala Balitbang Depag, dan puncaknya, menteri sekretaris kabinet era Presiden Abdurrahman Wahid. Tapi saya yakin sedikit orang –termasuk orang Banjar sendiri— yang tahu kalau dia orang Banjar. Ini beda misalnya dengan tokoh-tokoh nasional kelahiran atau berdarah Banjar lain seperti K. H. Idham Chalid (Mantan Ketua PBNU dan Wakil Perdana Menteri), K. H. Hasan Basri alm. (Mantan Ketua MUI), atau yang lebih belakangan Sa’adillah Mursjid (alm.), menteri sekretaris kabinet era Soeharto  atau Sjamsul Mu’arif, Menteri Komunikasi & Informasi era Megawati. Mereka semua dikenal sebagai orang Banjar, lebih-lebih di daerah Banjar sendiri. Nama DE tidak demikian, meski dia sebenarnya menduduki posisi prestise, menjadi penulis naskah pidato Presiden Soeharto dan Menteri Sekretaris Kabinet. Mungkin karena kebanyakan mereka itu bergerak di wilayah politik, yang memang membutuhkan dukungan, termasuk sebagai ‘representasi’ daerah, sedangkan DE bergerak di ranah pendidikan dan pemikiran. Namun, menurut saya, ada satu sebab lagi: DE memang sangat jarang, untuk tidak mengatakan sama sekali tidak pernah, menampilkan atau menonjolkan dirinya sebagai orang Banjar.

Menurutnya, sepanjang ia belajar di akhir 1950-an dan awal 1960-an, ia hanya pernah sebentar bermukim di asrama daerah (tepatnya di asrama Kalimantan Selatan Jalan Jetis, sekarang Asrama Lambung Mangkurat), itu pun ketika dia sedang sakit keras menjelang masa akhir studinya di Yogyakarta. Secara umum ia tak pernah tinggal di asrama mahasiswa daerah atau ikut aktif di organisasi-organisasi kedaerahan, seperti Persatuan Mahasiswa Kalimantan Selatan (PMKS) atau Kerukunan Tatuha Banjar (Katabayo). Bergabung dengan teman-teman sedaerah, dalam pandangannya, bisa membuat orang berpikiran sempit dan kerdil.

Sepanjang puluhan pertemuan saya dengan DE, hanya sekali seingat saya, “kami” sebagai sama-sama berasal dari Banjar membincangkan topik yang berkaitan dengan Banjar, yaitu pentingnya riset dan penelitian sejarah secara khusus terhadap peristiwa pemberontakan Darul Islam (DI) di Kalimantan Selatan dengan tokohnya Ibnu Hajar. Kebetulan peristiwa itu berlangsung di sekitar Kandangan, kawasan kampung halaman DE sendiri. Kalau sejarah DI/TII di daerah-daerah lain, Aceh, Sulawesi Selatan dan di Jawa Barat telah ditulis secara mendalam, seperti karya Anhar Gonggong, Abdul Qahhar Mudzhakar, Dari Patriot Hingga Pemberontak (edisi revisi, Ombak, 2004) untuk peristiwa di Sulawesi Selatan, pemberontakan Ibnu Hajar, menurut kami waktu itu, belum memperoleh perhatian sejarah yang memadai. Karya Cees Van Dick, Rebellion Under Banner Islam, yang edisi Indonesianya diterbitkan oleh Penerbit Grafiti beberapa tahun lampau, terlalu bersifat umum, dipandu oleh perspektif nasional, dan bersandar pada dokumen-dokumen yang dibuat pemerintah atau berita-berita resmi saja.

Bagi kami waktu itu, riset ini penting untuk mengetahui apa sesungguhnya yang terjadi? Mengapa mereka disersi? Benarkah mereka menginginkan ‘negara Islam’? Ataukah ini reaksi spontan saja terhadap kebijakan “rasionalisasi” Hatta waktu itu, dan lain-lain? Menurut DE, beberapa tokoh pemberontakan itu masih hidup —seraya menyebut beberapa nama— dan perlu segera diwawancarai secara mendalam sebagai basis untuk menulis sejarah dengan perspektif lokal. Sayang, pembicaraan kami sekitar lima belas tahunan yang lalu ini, hanya tinggal pembicaraan. Gagasan itu tidak pernah terealisir dan menguap begitu saja.

Saya lupa mengapa kala itu tidak mengusulkan agar Litbang Depag saja yang mengerjakan proyek riset itu. Bukankah Pak Djohan sendiri peneliti utama di Depag? Tapi seandainya pun diusulkan, saya tidak yakin juga apakah DE sudi menerima, karena itu sudah sebentuk ‘kolusi’ yang cukup menggejala juga di dunia penelitian kita.

Yang jelas, sebagai peneliti di Departemen Agama yang sempat memegang posisi decision maker –sejauh penelusuran saya— DE tak pernah melakukan penelitian di Kalimantan Selatan. Ini agak mengherankan dan menarik, karena biasanya peneliti di Indonesia, entah yang berbasis di perguruan tinggi maupun di departemen pemerintah, kerap kali meneliti masyarakat di kampung halamannya sendiri dengan motif yang kebanyakan bersifat praktis-pragmatis: mulai kemudahan memperoleh akses informasi hingga sekaligus pulang kampung halaman secara gratis. Saya yakin DE ingin bersifat profesional dan menjaga obyektivitas sebagai peneliti, suatu sikap yang patut dipuji.

Orang Banjar yang Tak Biasa
Sebagai orang Banjar, menurut saya, DE bukanlah orang Banjar yang lazim. Tentu saja, ini dengan pengandaian kita percaya pada pandangan ‘esensialis(me)’ dalam kebudayaan yang meyakini ada suatu karakter budaya yang melekat dalam diri seseorang sesuai dengan identitas etnis, agama, ras atau warna kulitnya. Esensialisme ini dalam praktik sehari-harinya secara kasar  kita kenali berupa ‘stereotipe’ yang biasa ditempelkan pada seseorang yang memiliki identitas tertentu. Setiap suku karena itu memiliki stereotipenya sendiri. Orang Banjar, sebagai bagian dari subetnik Melayu misalnya, dianggap memiliki sikap yang ‘keras’, konsumtif, dan memiliki gengsi yang tinggi, serta agak malas. Kalau berbicara, nada suaranya biasanya tinggi dan lantang. Tapi sebagaimana rumus stereotipe, ia memiliki kebenaran dan sekaligus kekeliruannya sendiri. Ia bisa tepat juga bisa salah. Kenyataannya memang banyak orang Banjar yang memiliki karakter demikian. Tapi ketika ditempelkan ke sosok DE, hampir seluruh stereotipe orang Banjar itu meleset.

DE dalam banyak hal adalah sosok yang pendiam dan lembut. Siapapun yang mengenalnya selalu punya kesan ini. Ia tidak banyak omong dan lebih senang mendengarkan. Kalau berbicara seperlunya saja. Dan kalau berbicara, suaranya pelan dan cenderung lambat. Ini pembawaan yang tak umum pada orang Banjar. Apalagi kalau hal ini dikaitkan dengan daerah asal DE di Kalimantan Selatan, yaitu Kandangan, sebuah daerah di Kalimantan (Selatan) yang dikenal (lagi-lagi stereotipe) sebagai orang-orang yang pemberani, memiliki karakter keras, gampang panas, dan tak segan berkelahi. Kandangan juga dikenal sebagai daerah pencetak para jagoan lokal di Kalimantan, bahkan konon para jagoan asal daerah ini telah berkiprah di terminal-terminal dan pelabuhan-pelabuhan di kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya. Betapa jauhnya sosok Pak Djohan dari citra seperti itu.

Saya juga tak pernah melihat Pak Djohan tertawa terbahak-bahak dengan mulut terbuka lebar, yang biasa muncul ketika seorang Banjar terlibat dalam aksi spontan bapapakalahan. Ini adalah tradisi –yang tak menyenangkan terutama bagi mereka yang kalah dan jadi korban, dan ‘menyehatkan’ otot-otot tegang mereka yang mendengarkan— di kalangan orang Banjar, suatu kegiatan saling mengejek dan menyerang, yang biasanya berlangsung di warung teh, acara pertemuan, atau di pinggir sungai. Tak jarang tradisi ini membuahkan permusuhan dan perkelahian. Jauh dari tradisi seperti itu, pada kebiasaannya, Pak Djohan hanya tersenyum kecil jika mendengar sesuatu yang oleh rekan-rekan ngobrol-nya dianggap lucu. Penampilan seperti ini lalu mengesankannya sebagai orang yang selalu serius.

Demikian juga dalam pandangan dan gaya hidup. DE jauh sekali dari kesan orang Banjar, –lebih-lebih sebagai orang Banjar yang sukses dan terkenal—, yang biasanya senang mengenakan pakaian yang mahal, kendaraan yang bagus, dan penampilan yang hebat, serta atribut-atribut yang gebyar lainnya. Dalam praktik hidup sehari-hari, DE sangat sederhana dan asketik, cenderung menghindar dari kegiatan-kegiatan yang berbau hura-hura dan pesta.

Stereotipe orang Banjar lainnya adalah suka kawin dan penggemar poligami. Bukan hanya orang kaya atau ulama, lelaki yang ekonominya pas-pasan pun tak sedikit yang berpoligami. Sedemikian stereotipnya sampai ada lelucon di sana: istri satu itu wajar, istri dua itu baru belajar, istri tiga kurang ajar, dan istri empat? Nah, itu baru orang Banjar. Pak Djohan sudah barang tentu bukan orang Banjar jenis ini. Dalam banyak hal, bahkan Pak Djohan punya perhatian dan pembelaan serius terhadap kedudukan kaum perempuan.  Periode dia bekerja di Kantor Kerapatan Qadhi di Amuntai pada awal dasawarsa 1960, di mana dia banyak bersentuhan dengan masalah-masalah pengadilan agama, memberikannya banyak pengalaman betapa lemahnya posisi perempuan sebagai isteri dan membuatnya kritis terhadap fikih perempuan yang berlaku selama ini.

Pribadi yang Selalu ‘Mencari’
Banjar, mengikuti pendapat antropolog Judith Nagata beberapa tahun lampau, boleh jadi merupakan salah satu suku di Indonesia ini mana identitas kesukuan bertumpang tindih dengan identitas keagamaan. Agama ya suku, suku ya agama. Kebanjaran sejajar dengan keislaman. Hampir-hampir tak ada orang Banjar yang agamanya non-Islam, kecuali dia konversi, yang secara sosial pasti akan menuai masalah, atau ia pendatang dari luar (Jawa atau Manado misalnya) yang setelah bertahun-tahun tinggal di wilayah Banjar, dan terutama karena faktor bahasa, mengaku ‘orang Banjar.’

Dengan identitas yang tumpang tindih demikian, orientasi keagamaan orang Banjar boleh dibilang cenderung eksklusif. Identitas keislaman mereka sangatlah kuat  dan memiliki gaya ‘truth claim’-nya sendiri. Dengan latar itu, jika dineracakan, kecenderungan orang Banjar untuk menjadi ‘radikal’ jauh lebih besar daripada  untuk menjadi ‘pluralis.’ Masyarakat Banjar adalah mayarakat yang monolitik sehingga tak ada lingkungan plural dalam pengalaman sosial dan kehidupan mereka. Memang ada Dayak (Meratus) yang menjadi tetangga mereka, yang dianggap sebagai ‘saudara tuha,’ yang kebanyakan menganut Agama Kaharingan atau sebagian konversi ke Kristen. Tapi batas-batas kehidupan sosial orang Banjar dan Dayak (Meratus) ini sangat terpisah. Dalam praktik sehari-hari, kebanyakan orang Banjar merasa lebih superior secara budaya dan memandang Dayak sebagai  ‘orang yang tak beragama’ dan ‘bukit,’ keduanya bernada nyinyir dan pejoratif. Dengan pandangan ini, orang Banjar merasa perlu ‘mengislamkan’ orang Dayak.

Seperti keluarga Banjar lainnya, keluarga DE –sebagaimana pernah ditulisnya beberapa tahun lampau dalam esai “Arti Hamka Bagi keluarga Kami” (1977) untuk menyambut 70 tahun Hamka— adalah keluarga “kaum tuha,” ini sebutan untuk kalangan Islam tradisional di kawasan Banjar sebagai lawan terhadap ‘kaum muda’ atau biasa disebut juga Kaum Wahabi. Sampai sekarang pun, Kalimantan Selatan tetap menjadi basis penting ‘Islam kaum tuha’ di luar Jawa, yang dekat dengan NU atau al-Washliyah. Kakeknya adalah orang yang keras terhadap mereka yang ‘nyebal’ dan menjadi pengikut ‘kaum muda.’ Orang tua dan guru-guru agamanya semuanya adalah pengikut ‘kaum tuha.’ Dan tentu saja, pendidikan keagamaan masa kecilnya pun dilalui dalam pola pendidikan agama ‘kaum tuha’ ini. Saya bisa membayangkan bagaimana sengitnya pertentangan ‘kaum tuha’ dan ‘kaum muda’ ini pada masa kecil DE, karena pada masa saya kecil di tahun 1970-an pun, pertentangan itu masih terus berlangsung.

Beruntung DE mempunyai orang tua yang agak moderat dan senang membaca. Ayahnya adalah pembaca Pembela Islam dan Al-Lisan yang diterbitkan Persatuan Islam (Persis), juga Pedoman Masyarakat dan Panji Islam yang diterbitkan kalangan muda di Medan. Menurut DE, karena pengaruh orang tuanya dan bacaan masa kecil itulah, ia pada masa sekolah menengah lalu secara kultural menempatkan dirinya sebagai pengikut ‘kaum muda’ dengan mendaftarkan diri sebagai anggota Persis.

Di tengah masyarakat dan keluarga yang sebagian besar para pemeluk teguh ajaran ‘kaum tuha,’ pilihannya bergabung ke Persis (yang baginya waktu itu jauh lebih serius memberantas ‘TBC’ (takhayul, bid’ah, khurafat) daripada Muhammadiyah) sungguh bukan suatu pilihan yang gampang dan mudah. Ia tentu menghadapi dilema-dilema intelektual dan sosial yang mendalam. Ia pastilah harus ‘berkelahi’ dengan lingkungan keluarga dan masyarakat sekitarnya. Tapi sebagai respon terhadap kehidupan agama masyarakat yang dianggapnya ‘beku,’ pilihan itu harus diambil dengan semangat memeluk yang tak kalah teguhnya pula.

Tapi ternyata ini adalah bagian saja dari pencarian intelektual dan spiritualnya. Persis bukanlah terminal akhir pengembaraan keagamaannnya. Didasari pada pertanyaan-pertanyaan mengenai ‘hakikat’ agama dan kemanusiaan, pengembaraannya terus berlanjut. Ketika ia merasa bosan dan tak banyak menemukan jawaban di dalam pemikiran keagamaan salafi, ia memasuki pikiran-pikiran keagamaan Ahmadiyah dan dekat dengan tokoh-tokohnya. Bahkan, diakuinya bahwa bacaan-bacaan terhadap literatur keagamaan Ahmadiyah banyak menyumbang pada pemikiran keagamaannya.
Momen ini perlu saya sebut secara khusus karena hal ini –seperti saya sebut dalam  pembuka tulisan— sering menjadi sumber salah paham terhadap dirinya. Padahal, itu sekali lagi hanya bagian dari fase pengembaraan intelektual dan spiritualnya. Sembari mengakui kontribusi besar Ahmadiyah, dia berbeda paham dalam hal kenabian, al-masih dan imam mahdi, tiga ajaran yang prinsipil di dalam Ahmadiyah.

Penjelasan ini perlu saya tekankan, karena DE selama ini diam dan tidak terlalu menggubris terhadap anggapan-anggapan ini. Saya kira, sebagai seorang ‘pluralis sejati,’ ia memang merasa tak perlu risau dan menanggapi anggapan-anggapan ini. Baginya –dan mestinya bagi ‘kita’ semua— apakah ia Ahmadiyah atau bukan, itu bukan urusan siapapun.

Konsistensinya membela kedudukan dan hak Ahmadiyah –sebagaimana kelompok-kelompok minoritas keagamaan lainnya— untuk hidup di bumi Pancasila ini, membuat anggapan ini, bertahan dan direproduksi terus-menerus. Barangkali ini sebagian kecil dari resiko yang harus diterima seorang pejuang dan pemikir sejati: disalahpahami. Saya ingat cerita Pak Djohan ketika membela hak sekte Seksi Jehovah. Lepas dari cara-caranya yang agresif dan sangat ‘mengganggu’ dalam menyiarkan dan mengkabarkan kebenaran agamanya, Seksi Yehovah bagi Pak Djohan tetap berhak hidup di bumi pertiwi dan pelarangan terhadapnya secara hukum tidak bisa dibenarkan. Besoknya, kata Pak Djohan, ia didatangi oleh pemeluk Seksi Yehovah, dianggap sebagai orang yang telah menerima ‘petunjuk’-Nya dan diajak segera bergabung ke dalam kelompok keagamaan tersebut.
Sejak bergabung ke dalam HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) pada tahun 1962, hubungan emosional dan organisasionalnya dengan Ahmadiyah terputus. Namun, hubungan silaturrahminya dengan mereka tetaplah berlangsung, sebagaimana juga dengan kalangan anggota HMI yang –sebagai bagian dari pengembaraan intelektual dan keagamaannya— juga ia tinggalkan pada 1969.

Sejak itu, saya kira, DE terbang dan mengembara ke mana-mana. Ia tak bisa lagi dikurung dan dihentikan dalam satu pemahaman keagamaan saja. Apalagi kini baginya, “…semua pendapat tidaklah mutlak. Kebenarannya bersifat relatif. Organisasi keagamaan bukanlah bagian dari agama dan karena itu menjadi anggota organisasi keagamaan bukanlah bagian dari keberagamaan melainkan sekedar kegiatan sosial. … semua faham atau mazhab tidak seluruhnya benar dan tidak seluruhnya salah. Ia merasa bebas untuk mengambil mana yang kuanggap benar dari faham atau mazhab apapun…” Demikian tulisnya tentang perjalanan hidupnya yang mirip sebuah manifesto. Ia menjadi pluralis sejati.
***

Itulah sedikit catatan saya tentang DE, yang dengan caranya sendiri terus ingin melampaui primordialisme, baik primordialisme kesukuan, keagamaan maupun ras. Sebagai sama-sama berasal dari Banjar, kami memiliki latar belakang masyarakat yang serupa. Hanya semangat zaman yang berbeda. Jika dulu pada zaman mudanya, DE dipengaruhi bacaan-bacaan yang ditulis mereka yang disebut sebagai ‘kaum muda,’ dan dengan itu semua ‘meloncat’ dari tempurung primordialnya, maka dalam periode saya, justru ‘dipengaruhi’ oleh DE dan intelektual-intelektual segenerasinya, Abdurahman Wahid, Th. Sumartana (alm.), Goenawan Mohamad, dan lain-lainnya, yang tidak bisa lagi dikotakkan dalam bingkai ‘kaum tua’ atau pun ‘kaum muda.’ Saya ingat betul, betapa kami sejumlah santri Al-Falah Banjar Baru, Kalimantan-Selatan, termangu-mangu dan heran tapi sekaligus tertantang ketika secara diam-diam membaca sebuah ‘kitab putih’ berjudul Pergolakan Pemikiran Islam, yang disunting oleh DE (dan Ismet Natsir).

Saya tidak pernah menduga bahwa beberapa tahun kemudian saya bisa bertemu dan berkenalan dengan DE, penyunting catatan kontroversial itu. Saya juga tidak tahu sebelumnya, kalau DE ternyata orang Banjar. Persahabatan kami makin karib setelah saya bergabung dengan Dian/Interfidei di awal 1990-an, di mana DE menjadi salah seorang pengurus yayasannya. Dan tentu saja, dalam kerja-kerja kampanye pluralisme dan perdamaian. Dalam suatu diskusi di ICRP, saya pernah mengatakan bahwa DIAN/Interfidei, dengan motornya Th. Sumartana dan DE, adalah pioner ‘swastanisasi dialog antaragama,’ setelah sebelumnya dialog antaragama hanya diselenggarakan dan dikonstruksi oleh pemerintah saja.

Melihat latar keluarga dan riwayat pendidikannya, Pak Djohan mungkin pernah diproyeksikan menjadi ulama. Tapi harapan menjadi ulama –dalam arti yang telah mapan selama ini—mungkin telah dianggap ‘sirna’, karena Pak Djohan telah menjelma menjadi seorang ‘ulama’ dalam arti yang lain, seorang pemikir Islam yang bebas dan pluralis. Kehilangan DE sebagai ulama dalam arti yang pertama itu di masyarakat Banjar yang dari dulu hingga kini terkenal dengan produksi ulamanya, mungkin bukan sebuah ‘kehilangan.’ Karena di daerah ini, regenerasi ulama tak pernah berhenti dan seolah berjalan secara alamiah. Tapi seorang ‘ulama’ seperti Pak Djohan, belum tentu lahir dalam satu generasi. Mengingat latar keislaman di daerahnya yang cenderung monolitik dan eksklusif, betapa besar arti Pak Djohan sebagai ‘ulama’ tersebut.

Bagi saya, sumbangan besar DE pada Banjar justru terketak pada ketiadaan sumbangannya yang bernilai ekonomis-pragmatis sebagaimana biasa tokoh-tokoh daerah yang menjadi tokoh nasional selama ini. Sumbangan DE, adalah dirinya sendiri, dengan segala pengalaman, pengembaraan, pengetahuan, dan perjuangannya sebagai seorang pejuang demokrasi dan pluralisme. Pak Djohan adalah sebuah preseden, sebuah uswah bagi generasi ‘santri’ Banjar berikutnya, bahwa sangat bisa dan terbuka kemungkinan melampaui gaya keislaman dan kebanjaran yang telah mapan, monolitik, dan eksklusif selama ini. Inilah alasan saya mengungkit-ungkit ‘aspek primordial’-nya itu, demi melampaui ‘primordialisme’ itu sendiri.

Retrieved from: http://haisa.wordpress.com/2010/01/19/djohan-effendi-kosmopolitanisme-se-%E2%80%9Curang-banjar%E2%80%9D/

Sunday, April 28, 2013

MAULANA RACHMAT ALI HAOT - MUBALIGH AHMADIYAH PERTAMA

Saya ingin menyampaikan beberapa cerita mengenai berbagai kejadian yang diceritakan oleh orang tua-tua dan pengalaman pribadi dengan Mubaligh Jemaat Ahmadiyah. Mudah-mudahan cerita ini dapat menambah keimanan dan bermaat bagi kita semua. Dalam tulisan saya ini mungkin ada yang kurang tepat sehingga saya terbuka untuk mendapatkan koreksi.

Mlv Rachmat Ali adalah mubaligh Ahmadiyah Qadian yang pertama datang ke Indonesia. Banyak sekali cerita dan pengalaman para sesepuh di jemaat dan  para sahabat Mlv Rachmat Ali juga sudah wafat. Sebagian besar menyampaikan cerita pengalaman mereka dengan rasa terharu dan kecintaan yang besar terhadap Sang Guru Mlv Rachmat Ali HAOT.  Mlv Rachmat Ali adalah seorang mubaligh yang mengorbankan dirinya untuk menyampaikan pembaharuan Islam dan penyebaran paham Ahmadiyah di Indonesia. Sebagai murid  dari Hazrat Mirza Ghulam Ahmad beliau berpisah dengan keluarga tercinta selama 25 tahun untuk menyebarkan kebenaran Imam Mahdi.

Kisah-kisah mengenai Mlv Rachmat Ali adalah sebagai berikut.
  
1. Hujan dihentikan

Hampir semua Ahmadi pernah mendengar cerita mukjizat doa yang dilakukan oleh Mlv Rahmat Ali HAOT. Pada suatu masa terjada pelaksanaan diskusi antara Mlv. Rahmat Ali HAOT dengan seorang pendeta kristen Bandung. Perdebatan berlangksung sangat sengit dan seperti biasa semua argumentasi sang pendeta dapat dipatahkan oleh Mlv Rachmat Ali.

Pada saat perdebatan berlangsung tiba-tiba terjadi turun hujan yang sangat lebat. Sang pendeta yang sudah terdesak dalam perdebatan tiba-tiba mengatakan kapada Mlv. Rahmat Ali HAOT :” jika anda memang seorang yang benar maka coba tuan hentikan hujan ini.” Mlv Rahmat Ali HAOT langsung menyambut dan berkata :” baik.” Dan beliau langsung berdoa dihadapan hadirin. Setelah doa beliau lakukan tiba-tiba hujan berhenti.

Apa yang terjadi dengan sang pendeta? Pendeta tersebut tidak mengakui mukjizat doa yang diperlihatkan oleh Mlv. Rahmat Ali HAOT. Dia menganggap kejadian hujan berhenti hanyalah suatu kebetulan. Memang seseorang untuk dapat menerima kebenaran diperlukan karunia dari Allah SWT.

2. Kedatangan Rizki.

Bapak saya R. Boenjamin adalah murid dari Mlv Rahmat Ali HAOT. Bapak bercerita bahwa beliau selalu rajin ke petojo untuk sholat dan bertemu dengan sang Guru Mlv Rahmat Ali HAOT yang dicintainya. Suatu saat Mlv. Rahmat Ali mengatakan kepada bapak bahwa beliau sudah lama tidak makan enak. Spontan bapak mengajak Mlv Rahmat Ali untuk jalan mencari makan di luar. Mlv. Rahmat Ali kemudian bersabda kepada bapak:” tidak, tuan duduk saja disini nanti insya Allah akan datang rizki.” Karena itu bapak kemudian duduk saja dan tidak mengerti apa yang akan terjadi. Tidak berapa lama terdengar suara seorang ibu lajnah datang dan mengucapkan salam :” Assalamualaikum.” Apa yang diucapkan oleh Mlv Rahmat Ali HAOT menjadi kenyataan. Ibu lajnah itu membawa makanan berupa masakan ayam yang lezat untuk disampaikan kepada sang guru yang dicintainya Mlv Rahmat Ali HAOT. Masya Allah.

3. Mimpi Mlv Rahmat Ali HAOT

Bapak saya pernah menceritakan suatu kejadian dimana Mlv Rahmat Ali menyatakan penyesalannya. Salah seorang murid Mlv Rahmat Ali HOAT adalah Embun Abdullah. Beliau adalah orang yang sholeh dan saya selalu sering bertemu beliau di Mesjid Balikpapan. Bapak saya menceritakan bahwa pada waktu Embun Abdullah menikah Mlv Rahmat Ali HAOT nampak kurang setuju tapi beliau tidak melarangnya. Namun demikian Mlv Rahmat Ali merasa beliau telah memperlihatkan rasa ketidak senangannya kepada isteri Embun Abdullah. Suatu saat Embun Abudullah sakit dan Mlv Rahmat Ali HOAT memperhatikan bagaimana bakti dan kesetiaan isteri Embun Abdullah. Pagi, siang dan sore isteri Embun Abdullah selalu dengan setia datang ke rumah sakit membawa masakan untuk suaminya tercinta. Hal ini tidak pernah luput dari perhatian sang Guru. Pada suatu siang isteri Embun Abdullah mengalami musibah kecelakaan yaitu dilindas Trem pada saat membawa makanan untuk suami tercinta. Kejadian ini sangat memukul Mlv. Rahmat Ali HAOT. Beliau menyampaikan kepada bapak saya bahwa beliau sangat menyesal. Mlv Rahmat Ali menyatakan bahwa beliau pernah bermimpi dan melihat isteri Embun Abdullah meninggalkan suaminya. Mlv. Rahmat Ali HOAT sangat yakin bahwa mimpinya akan menjadi kenyataan bahwa isteri Embun Abdullah akan meninggalkan suaminya. Tetapi beliau telah salah menafsirkan mimpinya bahwa isteri Embun Abdullah akan meninggalkan suaminya karena tidak setia. Hal ini telah menyebabkan Mlv Rahmat Ali HAOT menyesal dan menyatakan bahwa isteri Embun Abdullah adalah wanita yang baik dan setia serta beliau selama ini telah keliru menafsirkan.

4. Neraca Trading Company

Bapak saya R. Boenjamin pernah menceritakan mengenai Neraca Trading Company. Kisah ini tidak sebenarnya tidak begitu enak untuk diceritakan. Tetapi kisah ini merupakan kisah untuk Jemaat Indonesia yang perlu dicatat. Neraca Trading Company dibentuk oleh Mlv. Rahmat Ali dengan tujuan untuk membiayai penerbitan buku-buku Jemaat. Perusahaan ini telah berhasil menerbitkan beberapa buku karya Mlv Rahmat Ali HAOT. Dari cerita bapak saya menangkap perusahaan ini baru pada perkembangan awal sehingga belum dikelola dengan baik. Keberadaan persahaan ini menimbulkan polemic antara Mlv. Rahmat Ali HAOT dengan mubaligh-mubaligh markazi lainnya. Hampir semua mubaligh markazi menentang keberadaan Neraca Trading Company. Polemik ini berkisar pada masalah manajemen dan transparansi keuangan Neraca Trading Company. Akibat polemic ini kemudian para mubaligh markazi melakukan komunikasi kepada Hazrat Khalifah II. Kemudian diputuskan oleh Huzur ke II Mlv. Rahmat Ali HAOT ditarik kembali ke pusat. Bapak bercerita bahwa Mlv. Rahmat Ali pernah berkata:” Mereka akan menyesal.” Saya pernah bertanya siapa saja yang menentang Neraca Trading Company. Bapak menjelaskan: “ banyak” Beberapa murid Mlv. Rahmat Ali yang sering diungkapkan membantu beliau dalam penulisan buku yang diterbitkan oleh Neraca Trading Coy antara lain Raden joesoef Ahmadi, A. Bachtiar Martapoera, Raden Boenjamin, Ahmad Satiri, Moh. Yaqin Munier, dan kadang-kadang Abdoerahman, Moertolo, dan Ahmad Soepardja. Untuk dukungan upaya mencari pembiayaannya disebutkan oleh Mlv. Rahmat Ali adalah Soepardja, Joesoef, Djakaria, dan Soedarma. Beberapa nama disebutkan memberi sokongan keuangan dalam penerbitan adalah R. Goemiwa Partakoesoema, Lurah Ata dan Rasyid. Pekerjaan Pencetakan dilakukan oleh Soepardja, Djakaria dan Moh. Jaqin Munier. Nama lain yang disebutkan juga memberikan bantuan adalah Raden Kartaatmadja, Emboen Doellah, Bachroem Rangkuti, M Saleh bin Charis, Soelaiman Hasan Bisri.

5. Kecintaan Murid-murid Mlv. Rahmat Ali HAOT kepada Gurunya.

Dari Rahim Panturu saya mendengar kisah bagaimana kecintaan murid-murid beliau kepada Mlv Rahmat Ali HAOT. Rahim rekan saya itu mendengar cerita ini yang dikisahkan oleh alm Dji An Sulaiman yaitu ayah dari Saleh Dji An dan Siddik Dji An. Menurut Rahim profesi Dji An Sulaiman adalah pemangkas rambut dan Mlv Rahmat Ali senatiasa dipotong rambunya oleh Dji An Sulaeman. Dikisahkan bahwa menjelang kepulangan Mlv Rahmat Ali HAOT ke Rabwah berita itu telah menjadi pembicaraan dikalangan Jemaat. Namun kepastian kepulangan beliau baru diperoleh setelah ada telegram dari Hazrat Khalifatul Masih ke II dari rabwah Pakistan. Dengan adanya kepastian ini salah satu dari murid beliau diataranya Satiri rekan-rekan murid beliau lainnya seperti Djia An, Abdul Rachman, Sulaeman membuat goresan di dinding untuk mengitung hari keberangkatan sang guru yang dicintai.

Pada hari keberangkatan semua murid-murid beliau mengantar guru yang dicintai ke pelabuhan Tg Priok. Mereka mengantar hingga keatas kapal dan semua merasakan sangat berat dan gelisah melepas Mlv Rahmat Ali HAOT yang sangat dicintai para murid-muridnya. Saat pluit tanda keberangkatan berbunyi pun mereka masih belum mau berpisah dengan beliau. Hingga akhirnya pada pluit tanda keberangkatan ketiga dengan perasaan sedih dan haru tak terhingga para murid-murid ini harus turun dari kapal. Mereka terus berdiri memandang kapal yang mulai bergerak menjauh ke tepi ufuk horizon hingga akhirnya mulai hilang dari pandangan mata. Dji An almarhum bercerita pada Rahim Panturu bahwa para murid ini masih belum dapat melepas dan mereka terus berusaha untuk memandang kapal yang membawa sang guru ke tanah airnya. Mereka naik keatas gedung pelabuhan sehingga mereka masih dapat kembali melihat kapal yang ditumpangi guru. Ramai mereka memandang kapal itu sehingga kapal itu kembali menjauh dan menghilang. Setelah itu mereka kembali naik keatas atap gedung yang lebih tinggi sehingga mereka dapat kembali menatap kapal yang menajuh itu sehingga akhirnya hanya dapat terlihat kepulan asap kapal. Pada waktu kapal itu sudah tidak dapat terlihat lagi baru mereka ingin pulang dan tanpa disadari waktu telah menjadi malam.

Dari cerita ini kita dapat mengetahui bagaimana kecintaan para murid beliau kepadanya. Bagi saya cerita ini bukan mengherankan karena Bapak saya R. Boenjamin almarhum sudah terlalu sering menceritakan kecintaannya kepada gurunya yang mulia itu. Saya hingga sekarang masih dapat mengingat rasa duka dan cinta di wajah Bapak apabila bercerita mengenai Mlv Rahmat Ali HAOT.

6. Kemuliaan Jiwa Mlv. Rachmat Ali HAOT

Rahim Panturu menyampaikan kepada saya cerita mengenai pengalaman R. Moertolo SH alm., yang semasa akhir hidupnya menjabat Ketua PB Jemaat Ahmadiyah Indonesia dan pernah menjabat Jaksa Tinggi dan Jaksa Agung Muda. Cerita ini diceritakan langsung oleh R. Moertolo SH. kepada Rahim Panturu dengan penuh linangan air mata.

R. Moertolo SH bercerita bahwa pada waktu beliau akan mengambil ujian untuk mendapat gelar sarjana hukum Mister in de Rechten, beliau memerlukan biaya yang cukup besar. Dalam keadaan yang mendesak itu beliau datang kepada sang guru Mlv Rachmat Ali HAOT di Mesjid Jl. Balikpapan untuk meminjam uang yang diperlukannya itu. Sang Guru setelah mendengar permintaan muridnya ini meminta untuk menunggu dan beliau masuk kedalam. Setelah lama menunggu akhir Mlv Rachmat Ali HAOT keluar dan menyerahkan uang yang akan dipinjam itu kepada R Moertolo SH.

Setelah menerima uang itu, kemudian R. Moertolo diberitahu bahwa Mlv Rahmat Ali HAOT tadi keluar dari pintu belakang dan pergi ke kawannya seorang bangsa Sheik di Pasar Baru untuk meminjam uang. R. Moertolo SH baru menyadari mengapa beliau menunggu sangat lama sekali dan rupanya Sang Guru telah berusaha menolongnya dan tidak mau memperlihatkan situasinya yang juga tidak memiliki uang kepada muridnya sehingga keluar dari jalan belakang. Pada saat yang sama R. Moertolo juga diberitahu bahwa Sang Guru sebelum bertemu dengan R. Moertolo baru saja mendapat berita dari Pakistan bahwa anak yang dicintainya meninggal dunia. Mlv. Rachmat Ali sangatlah mulia hatinya dan penuh dengan pengorbanan. Dalam keadaan duka hati yang sedih karena kehilangan putra tetapi beliau tetap berupaya untuk menolong orang lain yang membutuhkan pertolongannya.

Menurut Rahim R. Moertolo berkali-kali bercerita hal ini kepadanya dan selalu beliau menyampaikannya dengan penuh linangan air mata. Kita doakan kepada Allah SWT untuk membalas seluruh kebaikan dan amalan Mlv Rachmat Ali HAOT kepada jemaat dan bangsa Indonesia. Amin.
(Sumber : http://redseahawk.blogspot.com/2009_07_01_archive.htmlDiposkan oleh Boenjamin) 

http://suaraansharullah.blogspot.com/p/nostalgia.html
http://redseahawk.blogspot.com/2009/07/saya-ingin-menyampaikan-beberapa-cerita.html

Thursday, April 4, 2013

Sejarah Singkat GAI Cabang Kediri

Oleh : Mutohir Alabas


Ahmadiyah adalah gerakan penyiaran Islam yang tersebar di berbagai negara. Di dunia internasional, terdapat dua organisasi Ahmadiyah, yang lazim dikenal dengan Ahmadiyah Lahore dan Ahmadiyah Qadian. Antara keduanya tidak ada hubungan struktural organisasi dan masing-masing berjalan sendiri.
Di tingkat internasional, organisasi Ahmadiyah Lahore bernama “Ahmadiyya Anjuman Isha’ati Islam Lahore” (AAIIL). Gerakan ini didirikan pada tahun 1914 oleh Maulana Muhamad Ali, murid sekaligus sekretaris pribadi Hazrat Mirza Ghulam Ahmad. Kata “Lahore” sendiri diambil dari salah satu nama kota di negara Pakistan dimana Gerakan ini didirikan. Perlu diketahui bahwa Ahmadiyah Lahore berfaham Ahli sunah wal jama’ah. Ahmadiyah Lahore berkeyakinan setelah kadatangan nabi Muhammad SAW sampai nanti kiamat tidak akan datang nabi lagi, baik nabi lama maupun nabi baru.

Di Indonesia, organisasi dari faksi Ahmadiyah Lahore secara resmi bernama Gerakan Ahmadiyah Indonesia (GAI), berpusat di Daerah Istimewa Yogyakarta. Sementara dari faksi Ahmadiyah Qadiyan bernama Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI), berpusat di Parung, Bogor.
Di Kediri sendiri, masing-masing organisasi ini memiliki kantor cabang. Gerakan Ahmadiyah Indonesia (GAI) Cabang Kediri berkantor di Jl. Raya Kediri-Pare KM 8 Desa Adan-adan Kecamatan Gurah, Kediri. Sementara JAI berkantor di Kelurahan Ngadisimo, kota Kediri.
Berdirinya GAI Cabang Kediri tak terlepas dari peran seorang pejuang penyiaran Islam yang tinggal di dusun Templek, Desa Gadungan, Kecamatan Puncu, Kediri bernama Raden Mas Sunandar Wiryo Burhanul Arifin, atau lebih dikenal dengan panggilan SWB Arifin. Beliau lahir di Kediri, 31 Desember 1913. Beliau adalah putra R.M. Sunandar Wiryo Dirdjo, seorang Sinder perkebunan se-Karisidenan Kediri pada zaman Belanda.

Meski berpendidikan terkakhir MULO (setingkat SMA), namun SWB Arifin fasih berbahasa Belanda dan Inggris. Di masa muda, beliau mendapat pemahaman tentang Ahmadiyah Lahore langsung dari HOS Tjokroaminoto, yang kelak dikenal sebagai Pahlawan Nasional. Kemudian beliau melanjutkan berguru kepada seorang mubaligh Ahmadiyah dari Pakistan yang bermukim di Purwokerto, bernama Mirza Wali Ahmad Baig.
Dalam aktivitas dakwahnya, SWB Arifin dibantu sang istri, Shofi Retnaningsih, perempuan keturunan Jepang yang berprofesi sebagai ahli hukum. Nyai Shofi dikenal karena selalu membantu rakyat kecil yang mendapat kesulitan di bidang hukum.
Di masa penjajahan Jepang, SWB Arifin diangkat menjadi vuku daitaico untuk Karisidenan Kediri. Karena kedekatannya dengan Residen Kediri, beliau diizinkan membagikan tanah perkebunan bekas peninggalan belanda yang berada di wilayah kecamatan Kepung dan Puncu kepada rakyat. Meskipun, pembagian tanah perkebunan itu disertai syarat agar rakyat berkewajiban menyetor hasil bumi berupa iles-iles, tanaman sejenis tales berkulit lembut  yang disukai bangsa jepang.
Tanah perkebunan pun dibagikan secara adil dan merata. Tetapi SWB Arifin pribadi tidak mengambil sejengkal pun tanah pembagian itu. Beliau sendiri tetap hidup dalam kesederhanaan. Hal inilah yang menyebabkan SWB Arifin sangat disukai rakyat banyak, dan menjadi modal penyiaran Islam melalui Gerakan Ahmadiyah.
Pada tahun 1963, Gerakan ahmadiyah Indonesia Cabang Kediri didirikan. SWB Arifin diangkat sebagai ketua, dan wakil ketuanya adalah Musni Nur Ahmad. Bertindak sebagai sekretaris adalah sang istri, Shofi Retnaningsih, sementara posisi Bendahara dijabat Syafi’udin.
Pada masa awal kepengurusan SWB Arifin, terbentuklah desa-desa binaan sebagai basis GAI di daerah sekitar Sungai Konto, di antaranya Desa Sekuning, Wangkalan, Jaban dan desa Pusuh. Kegiatan yang rutin diselenggarakan adalah Pengajian Tafsir Qur’an, bertempat di rumah SWB Arifin, pada setiap Minggu pagi. Kegiatan ini diikuti oleh tokoh-tokoh ormas dan para pemuda Islam. Kegiatan GAI yang lain adalah mengisi ceramah umum serta mengadakan dialog dengan tokoh-tokoh agama, baik kepada sesama muslim maupun kepada non muslim, terutama dengan Kristen Advent.
Murid-murid SWB Arifin generasi awal yang masih hidup antara lain Kyai SA Yazid Burhany L., Kyai Musni Nur Ahmad, Kyai Djazuli Ali Zein, Sahrudji, Imam Taukhit, Sutedjo, Wakidi, H. Kutadji, Jumarno, H. Mat Susin, Imam Bakri, Abdullah Busyro, Munasrip, Ibu Zahroh, dan Ibu Nafsiyah. Sampai saat ini mereka masih aktif mengembangkan GAI di wilayah Pare, Kediri.
Murid-Murid Kyai SBW Arifin, Generasi Awal GAI Cabang Kediri
Hingga saat ini terbentuk anak Cabang di wilayah Kecamatan Pare, Badas, Plosoklaten, Gurah, Puncu, Kepung, Plemahan, Pagu, Kayen Kidul, dan di Ngampel Mojoroto Kota Kediri yang diketuai Suradi. Bahkan GAI tersebar hingga sampai ke Desa Bacem, Ponggok Kabupaten Blitar yang diketuai Mut’im Sudiono dan Juga di wilayah Gudo Jombang dibawa oleh Drs. Kardji, seorang pensiunan guru.
Sampai dengan saat ini, GAI Cabang Kediri sudah pernah  enam kali ganti kepengurusan, yakni masa kepengurusan SWB Arifin, kemudian dilanjutkan berturut-turut dengan masa kepengurusan K.H. Musni Nur Ahmad, Dimhari Utsman, K.H. Djazuli Ali Zein, Drs Nurudin M.Pd, Usman Gumanti, dan terakhir Drs As’adi Al Fatah.[]

 http://ahmadiyah.org/sejarah-singkat-gai-cabang-kediri/