Monday, December 16, 2019

Khilafah dan Pancasila

Diskusi Pancasila dan Khilafah, Sabtu, 14 Desember 2019, Hotel Sumber Alam Garut, Jawa Barat.







Pancasila dan Khilafah Jangan Dipertentangkan, Ini Alasannya
https://gentrapriangan.com/pancasila-dan-khilafah-jangan-dipertentangkan-ini-alasannya/

Indonesia Plural, HTI dan ISIS Disebut Bisa Jadi Ancaman Bangsa https://www.liputan6.com/news/read/4134641/indonesia-plural-hti-dan-isis-disebut-bisa-jadi-ancaman-bangsa

Friday, November 8, 2019

Erfan Dahlan: Antara Muhammadiyah & Ahmadiyah


Erfan Dahlan, putra KH Ahmad Dahlan, adalah simbol dinamika keagamaan pada awal abad ke-20. Termotivasi oleh semangat revivalisme Islam, ia dikirim ke perguruan Ahmadiyah di Lahore, untuk belajar Islam. Ketika ia kembali ke Indonesia, hubungan Muhammadiyah-Ahmadiyah sangat buruk. Sebagai alumnus sekolah Ahmadiyah, di satu sisi, dan putra pendiri Muhammadiyah, di lain pihak, ia berada dalam suasana yang sulit.

Artikel ini mengungkap dinamika hubungan Muhammadiyah dengan Ahmadiyah pada 1920-an; membahas kesalahpahaman yang terus-menerus tentang afiliasi keagamaan Erfan Dahlan; dan menunjukkan kerumitan sosial akibat klaim ortodoksi-heterodoksi.

Ahmad Najib Burhani. 2019. “Torn between Muhammadiyah and Ahmadiyah in Indonesia: Discussing Erfan Dahlan’s religious affiliation and self-exile,” Indonesia and the Malay World. DOI: https://doi.org/10.1080/13639811.2019.1663678

Foto 1: Maulana Abdul Haque Vidyarthi yang adalah guru Erfan Dahlan di Lahore. Tanda tangan Erfan muncul di kanan bawah. Penggunaan foto atas izin Dr Zahid Aziz (cucu Maulana Abdul Haque Vidyarthi)



Foto 2: Erfan A. Dahlan di Ishaat Islam (Ahmadiyah) College, Lahore, British India bersama guru-guru dan kawan-kawannya.



Foto 3: Erfan Dahlan (berjas abu-abu berdiri di antara Djojosoegito dan Mirza Wali Ahmad Baig) dalam Kongres I GAI di Purwokerto tahun 1930.


Torn between Muhammadiyah and Ahmadiyah in Indonesia: Discussing Erfaan Dahlan’s religious affiliation and self-exile



The Ahmadiyah in Indonesian Islam has often been seen as a deviant Muslim group, but there was a time when it had a cordial relationship with major Muslim organisations, particularly Muhammadiyah. The Ahmadiyah was once perceived as a highly respected revivalist and modernist Muslim movement, and became a model to be emulated by other Muslims. Erfaan Dahlan is a symbol of the dynamics of this religious relationship in the first half of the 20th century. Motivated by the spirit of Islamic revivalism, he was sent to an Ahmadiyah college in Lahore, British India, during the period of friendly relationship between Muhammadiyah and Ahmadiyah. But when he returned to Indonesia that relationship had deteriorated. As an alumnus of an Ahmadiyah missionary college, on the one hand, and a son of the founder of Muhammadiyah, on the other, he was in the midst of that difficult relationship. His religious identity has been a subject of controversy among competing Muslim communities. The fact that he chose to leave his country to live in Thailand after he completed his study in Lahore further raises curiosity about his religious affiliation. This article, firstly, intends to reveal the dynamics of Muhammadiyah’s relationship with Ahmadiyah in the 1920s. Secondly, it will discuss Erfaan Dahlan’s religious relation with Muhammadiyah and Ahmadiyah, and particularly, the controversy around the alleged heresy of the Lahori Ahmadiyah and persistent misunderstanding of Erfaan Dahlan’s religious affiliation. Finally, the article shows that the case of Erfaan Dahlan reveals the discordancy in a society which categorises its people on the orthodox-heterodox spectrum.

Additional information

Acknowledgements

The author wishes to thank the family of Erfaan Dahlan in Thailand, particularly Dr Winai Dahlan, for their warm welcome and information. The Ahmadiyya community in Thailand was also helpful and generous during my fieldwork. Additional thanks to the two reviewers and to the IMW editorial team for their prompt and helpful feedback. Dr Kevin W. Fogg took time to read and suggest improvements to the draft of this article. The fieldwork in Thailand was partly supported by ISEAS-Yusof Ishak Institute, Singapore. A draft of this article was first presented at the symposium on ‘Religious Literature and Heritage - Cultivating Religious Culture for Nationalism’, in Bogor, Indonesia, 18–21 July 2017.

Disclosure statement

No potential conflict of interest was reported by the author(s).

Note on contributor

Ahmad Najib Burhani is a Researcher at the Indonesian Institute of Sciences (LIPI), Jakarta, and currently, visiting fellow at ISEAS-Yusof Ishak Institute, Singapore. His research focuses on religious minorities and Islamic movements in Indonesia. Email: najib27@yahoo.com

ORCID

https://www.tandfonline.com/doi/abs/10.1080/13639811.2019.1663678?journalCode=cimw20

Friday, October 4, 2019

Jalsah Salanah Qadian 2016, Satu Nubuatan Yang Tergenapi (Bagian 2-Habis)

 2017/01/23

Belum genap waktu satu tahun, perkataan yang terucap dari mulut berberkat Hudhur ini telah disempurnakan oleh Allah Ta’ala secara menakjubkan. Taufik untuk menggenapi nubuatan tersebut telah diraih oleh para Ahmadi Indonesia karena mereka telah datang untuk mengikuti Jalsah Salanah Qadian 2016 dengan menumpangi sebuah pesawat carteran khusus. 
Berdasarkan ruya tersebut, saya beranggapan bahwa akan tiba waktunya, seperti halnya orang-orang datang ke Qadian untuk mengikuti jalsah dengan mengendarai delman lalu menggunakan kendaraan bermotor yang meninggalkan jejak lubang di jalan-jalan. Saat ini kereta api mengangkut orang-orang ke Qadian. Demikian pula, akan tiba masanya nanti ketika jalsah salanah berlangsung, kita akan kerap mendengarkan pengumuman yang berbunyi “baru saja tiba sekian pesawat dari suatu negara”. Dalam pandangan dunia, hal tersebut akan sangat mengherankan, namun tidak demikian dalam pandangan Allah Ta’ala.
baca juga: 
  • No items.
Lalu beliau Hazrat Muslih Mau’ud (ra) bersabda, “saya meyakini bahwa tidak lama lagi akan tiba masanya ketika orang-orang dari berbagai penjuru dunia akan berdatangan ke Qadian dengan menumpangi pesawat terbang dan moda-moda transportasi lainnya yang sampai saat ini kitapun masih belum mengenalinya. Pada saat itu seluruh jemaat dari berbagai belahan dunia akan berkumpul di Qadian, karena Hazrat Masih Mau’ud (as) telah menerima seluruh ilham yang sama persis seperti yang didapatkan oleh Hazrat Ibrahim (as) ketika membangun Mekah. (Khutbah Jumah 10 Desember 1937).
Hazrat Khalifatul Masih Al-Khamis (atba) telah menyampaikan khutbah Jumah pada tanggal 25 Desember 2015 dari Masjid Baitul Futuh, London. Setelah menyampaikan sabda-sabda Hazrat Muslih Mau’ud (ra) seperti yang tertulis diatas, beliau ABA selanjutnya bersabda,
“Dengan karunia Allah Ta’ala kita sering sekali menyaksikan pemandangan tersebut. Seperti yang telah saya katakan, bahwa para ahmadi yang berasal dari 20 atau 25 negara, saat ini telah tiba di Qadian untuk mengikuti jalsah dengan menumpangi pesawat terbang. Sebagian dari antara mereka ada juga penduduk lokal suatu negeri yang sebelumnya tidak pernah terbayangkan akan dapat berkunjung ke Qadian. Tidak lama lagi akan tiba masanya, suatu hari nanti orang-orang akan datang ke Jalsah Qadian dengan menumpangi pesawat-pesawat carteran,” (Surat Kabar Badar edisi 21 Januari 2016 Hal. 4 Kolom 2).
Belum genap waktu satu tahun, perkataan yang terucap dari mulut berberkat Hudhur ini telah disempurnakan oleh Allah Ta’ala secara menakjubkan. Taufik untuk menggenapi nubuatan tersebut telah diraih oleh para Ahmadi Indonesia karena mereka telah datang untuk mengikuti Jalsah Salanah Qadian 2016 dengan menumpangi sebuah pesawat carteran khusus. Ketika ucapan tersebut keluar dari mulut berberkat Huzur, saat itu juga Allah Ta’ala memerintahkan “Kun” (Jadilah-Pen), lalu pada waktu itu juga para malaikat mulai bekerja untuk memenuhinya. Berlomba-lomba dalam kebaikan, dengan karunia Allah Ta’ala merupakan keistimewaan Jamaah Ahmadiyah. Kita dapat mengatakan bahwa di masa yang akan datang pesawat-pesawat carteran lainnya akan terus berdatangan dan mata rantai ini akan terus meningkat setiap tahunnya. Insya Allah.
Mln. Sayuti Aziz Ahmad Sahib, Principal Jamiah Ahmadiyah Indonesia termasuk dalam rombongan pesawat tersebut dan hadir pada kesempatan Jalsah Salanah Qadian 2016. Ketika menyampaikan kesan-kesan pada sesi kedua di hari pertama Jalsah Salanah, beliau pun menyampaikan perihal penggenapan nubuatan tersebut dengan penuh rasa haru.
Semoga kita menjadi saksi mata akan tibanya masa ketika para ahmadi yang berasal dari berbagai penjuru dunia berkumpul pada Jalsah Qadian 2016. Amin.
Diterjemahkan dari Surat Kabar Mingguan Badr, Qadian 5-12 Januari 2017
Alih Bahasa : Mln. Mahmud Ahmad Wardi
Editor : Talhah Lukman Ahmad
http://warta-ahmadiyah.org/jalsah-salanah-qadian-2016-satu-nubuatan-tergenapi-bagian-2.html

Jalsah Salanah Qadian 2016, Satu Nubuatan Yang Tergenapi (Bagian 1)

 2017/01/23
10 Desember 1937, Sayyidina Hazrat Muslih Mauud (ra) menyampaikan khutbah berkenaan dengan keutamaan dan keberkatan Jalsah Salanah. Dalam khutbah tersebut, selain menjelaskan berkenaan dengan keutamaan dan keberkatan mengikuti jalsah
INDIA – Alhamdulillah, Jalsah Salanah Qadian telah terselenggara dengan sukses, 26 sampai dengan 28 Desember 2016. Sebagaimana yang anda ketahui bahwa Hazrat Masih Mau’ud (as) telah meletakkan pondasi jalsah berdasarkan wahyu dan Ilham dari Allah Ta’ala. Beliau juga telah memberi kabar ghaib bahwa suatu saat nanti Jalsah akan mengalami puncak kesuksesan dan kemajuan yang luar biasa. Beliau (as) bersabda,
“Janganlah menganggap Jalsah ini sebagai perkumpulan biasa saja. Perkara ini adalah murni mendapatkan dukungan kebenaran dan merupakan pondasi untuk meninggikan kalimah Islam. Batu pondasi Jemaat ini telah diletakkan oleh tangan Allah Ta’ala sendiri dan untuk meraih tujuan tersebut, telah dipersiapkan bangsa-bangsa yang tidak lama lagi akan saling bertemu, karena ini adalah pekerjaan Sang Maha Kuasa yang dihadapan-Nya tidak ada perkara yang mustahil. Nubuatan-nubuatan yang berkaitan dengan jalsah Hazrat Masih Mauud (as) ini tengah tergenapi dengan luar biasa dan pada masa yang akan datang pun akan terus tergenapi lebih dahsyat dari sebelumnya. Nubuatan-nubuatan ini bersifat kontinuitas yang akan terus tergenapi di masa yang akan datang dengan keagungan dan manifestasi yang baru. Insya Allah,”
baca juga: 
  • No items.
Satu keistimewaan pada Jalsah Salanah Qadian 2016 adalah keikutsertaan 183 orang ahmadi Indonesia yang datang dengan menumpangi satu pesawat khusus carteran. Pada tanggal 23 desember, sebuah pesawat khusus Malaysia Indonesia Airline (Malindo Airline) yang mengangkut ke 183 Ahmadi yang beruntung tersebut, mengudara dari Bandara Jakarta (Soekarno-Hatta-red) dan tiba pada hari itu juga pukul 16.00 sore waktu setempat di bandara Amritsar setelah terlebih dahulu transit di bandara Kuala Lumpur, Malaysia. Penerbangan berlangsung selama 8 jam. Sesuai peraturan bandara, tidak diizinkan untuk merekam video di area bandara, namun untuk mengabadikan momen-momen bersejarah ini telah dimintakan izin khusus kepada pejabat tinggi bandara. Dengan karunia Allah Ta’ala semata, disebabkan oleh statusnya yang cinta damai, sehingga pihak jemaat mendapatkan izin untuk mengabadikan video di area bandara.
Pada hari terakhir Jalsah Salanah (28/12), sebelum penayangan pidato Huzur secara live di jalsah gah, terlebih dahulu ditayangkan video dokumentasi Jalsah Salanah Qadian 2016. Pada tayangan tersebut diperlihatkan juga video singkat momen tibanya pesawat carter khusus di Amritsar yang membawa penumpang Ahmadi asal Indonesia. Pemandangan tersebut betul-betul menggugah keimanan dan sangat mengharukan. Setelah menyaksikan kemajuan Jalsah yang luar biasa tersebut dan tergenapinya nubuatan-nubuatan agung Hazrat Masih Mauud As, hati diliputi rasa takjub dan bahagia yang tak terhingga, kebahagiaan yang meluluhkan hati dan meneteskan air mata keharuan.
10 Desember 1937, Sayyidina Hazrat Muslih Mauud (ra) menyampaikan khutbah berkenaan dengan keutamaan dan keberkatan Jalsah Salanah. Dalam khutbah tersebut, selain menjelaskan berkenaan dengan keutamaan dan keberkatan mengikuti jalsah, beliua juga bersabda,
“Para hartawan masih belum masuk ke dalam jemaat kita, sedangkan sarana transportasi yang digunakan untuk bepergian dari satu tempat ke tempat lainnya, menuntut biaya yang tidak sedikit sehingga pada saat ini para ahmadi masih kesulitan untuk datang ke Qadian dari negerinya. Namun jika pada suatu masa nanti para hartawan masuk kedalam Jemaat ini dengan karunia Allah Ta’ala atau jika biaya perjalanan menjadi sangat terjangkau dan orang-orang mendapatkan berbagai macam kemudahan, maka pada saat itu orang-orang akan berdatangan (ke Qadian) dari berbagai penjuru dunia. Jika pada saatnya nanti terlahir para hartawan ahmadi di Amerika yang memiliki kemampuan untuk membiayai perjalanan (ke Qadian), maka selain ibadah haji adalah penting baginya untuk datang ke Qadian sekurang-kurangnya satu atau dua kali untuk mengikuti jalsah salanah, sebab Qadian merupakan khazanah keberkatan ilmu dan limpahan keberkatan markaz akan tercurah kepada mereka. Saya yakin, akan tiba masanya nanti orang-orang akan berdatangan kemari dari negeri-negeri yang jauh, sebagaimana terdapat satu ru’ya Hazrat Masih Mau’ud (as), di dalam ru’ya tersebut beliau melihat bahwa beliau (as) sedang berenang di udara lalu bersabda. “Dahulu Hazrat Isa (as) berjalan di air sedangkan aku tengah berenang di udara dan karunia Tuhan yang turun kepadaku lebih besar dari pada karunia yang turun kepada beliau (as),”
Diterjemahkan dari Surat Kabar Mingguan Badr, Qadian 5-12 Januari 2017
http://warta-ahmadiyah.org/jalsah-salanah-qadian-2016-satu-nubuatan-tergenapi-bagian-1.html