Sunday, December 9, 2012

Peran Muslimat GAI

oleh Variny Mansyur Basuki

 Latar belakang berdirinya Badan Urusan Muslimat GAI
Jauh sebelum Badan Urusan Muslimat berdiri sebagai bagian dari organisasi Gerakan Ahmadiyah Indonesia, sebenarnya secara orang perorang Muslimat yang merasa dirinnya telah berbai’at, sudah terlihat peranannya dalam sepak terjang gerakan ini. Bahkan lahirnya Gerakan Ahmadiyah Indonesia adalah berkat dorongan dari seorang Muslimat yaitu Ibu Soemariati Djoyosugito. Beliau ikut menyumbangkan pikiran dan membesarkan GAI, dari tahun 1928-1935.

Selanjutnya bermunculan nama-nama Murdiyah Basir yang ketika itu masih remaja, ada Ibu Hardjo Subroto, ada Ibu Kaelan, ada Ibu Kusban Prodjosiswoyo, ada Ibu Rochmani, Ibu Fatimah Adi dan lain-lain. Kelahiran PIRI sebagai bagian dari GAI pun dibidani pula oleh Muslimat yaitu Ibu Koestirin Djoyosugito.
Pertama kali saya mengenal beliau-beliau tersebut yaitu sekitar tahun 1979 ketika saya masih menjadi pemerhati. Saya melihat beliau-beliau itu memang sebagai aktivis yang penuh enerjik, penuh dedikasi serta optimisme yang tinggi walaupun mereka sudah menjadi “kasepuhan”. Bukan tak mungkin bila aktifitas mereka tersebut memberikan inspirasi pada Bapak H.M Bahrun yang ketika itu menjadi Ketua Umum GAI, dengan memanfaatkan potensi dan dedikasi mereka bagi kemajuan GAI. Potensi dan dedikasi seperti ini diharapkan dapat ditularkan pada Muslimat lain melalui suatu wadah yang disebut urusan Muslimat yang jangkauannya lebih luas dan mendasar yaitu sampai kerumah.

Kehidupan dimulai dari rumah; dirumah, seorang Muslimat menjalankan perannya sebagai Ibu dan sebagai Istri dimana anggota keluarga lainnya bertumpu pada Ibu. Dari seorang Ibu dapat ditegakkan nilai-nilai Islami, karena pengaruh seorang Ibu mengalir secara alami pada diri seorang anak. Kelembutan dan kasih sayang Ibu lebih menonjol dibandingkan dengan cara seorang Bapak dalam cara mendidik anak.
Dengan muatan pemahaman yang mendalam, dan benar mengenai Islam dari seorang Ibu yang mengenal Mujadid, bobot kualitas pengaruh ini sangat tinggi, sehingga Al Jannatu Tahta Aqadamil Ummahat lebih mudah terwujud. Begitu pula bila pengaruh ini dibantu atau ditopang oleh seorang Bapak yang juga mengenal Mujadid, maka terciptalah Al Jannati Baiti, “Rumahku Surgaku “.

Di luar, di zaman yang selalu berubah dan berkembang, anak-anak akan menghadapi dunia yang penuh kontradiksi. Dampak negatif dari Era globalisasi ditunjang oleh sistim elektronik yang canggih tak dapat dibendung dengan tangan dan pikiran yang kosong. Filter atau saringan masuknya informasi yang dikuasai oleh Dajjal harus canggih pula. Janganlah senjata buatan Dajjal dipakai untuk membunuh diri atau membunuh sesama muslim.

Keimanan dengan pemahaman Islam yang benar mutlak perlu sehingga keyakinan yang menjadi dasar dari keimanan itu harus benar. Contoh mutakhir adalah mengenai pemahaman dan penafsiran jihad yang bila tidak dipahami dengan benar, akan menghasilkan kerusakan di bumi. Para teroris atau pelaku pemboman yang mengaku sebagai seorang muslim itu yakin bahwa perbuatan bunuh dirinya dengan pengeboman itu adalah perbuatan jihad melawan kekafiran.

Di atas adalah contoh yang aktual yang kita saksikan, kejadian-kejadian yang merupakan bagian dari sejarah Muslim terkini yang sangat menyedihkan. Mereka, teroris-teroris itu mungkin tak mengenal mujadid yang diutus Allah.

Hazrat Mirza Ghulam Ahmad mujadid ke 14 H, pendiri Gerakan Ahmadiyah sebenarnya telah memperkenalkan konsep jihad yang benar, tetapi ulama-ulama khususnya di Pakistan manentangnya. Konsep mereka tentang jihad adalah perang atau bersenjata untuk menumpas kekafiran sementara jihad menurut HMGA tidak perlu memakai pedang. Islam disebarkan tidak dengan pedang, tetapi keindahan dan kedamaian Islamlah yang menundukkan orang-orang kafir. Itulah salah satu misi yang diemban Mujadid yang diamanahkan kepada para Ahmadi baik itu Musliminnya maupun Muslimatnya seperti juga Islam diperuntukkan bagi Muslimin dan Muslimat, a.l. lihat surat 16:97;
Barang siapa berbuat baik, baik laki-laki maupun perempuan dan ia itu mukmin, kami pasti akan menghidupi dia dengan kehidupn yang baik, dan kami akan memberikan ganjaran mereka atas sebaik-baiknya apa yang mereka lakukan ”.
Dengan Quran dan hadis sebagai pegangan dan arahan Mujadid, sejauh ini jender tidak menjadi masalah bagi GAI, malah justru lebih memanfaatkan kelebihan Muslimat seperti uraian diatas.

Perkembangan aktifitas Urusan Muslimat
Tahun 1979-1984: Bapak H. M Bachrun mencantumkan Muslimat dalam kepengurusannya dan menunjuk Ibu Hardjosoebroto sebagai Ketuanya. Di awal berdirinya Urusan Muslimat ini, kegiatannya masih bersifat umum mengikuti kegiatan bapak-bapak Ahmadi. Hasilnya yang sangat menonjol ialah munculnya Mubalighah-mubalighah seperti Ibu Hardjosoebroto, Ibu Koestirin Djojosoegito dan Ibu Moerdiyah Basir.
Tahun 1984 – 1989:   Pada Mukhtamar GAI tahun1984 pimpinan Muslimat diketuai oleh Ibu Murdiyah Basir dengan wakilnya Ibu Supariah. Sebagai kader Ahmadi sejak remaja, beliau mulai lebih memfokuskan kegiatan Muslimat secara khusus dan menerbitkan pula majalah Muslimat pertama  dengan nama “Jiwa Khadijah” yang berisi tulisan-tulisan Muslimat sementara cabang-cabang Muslimat mulai diaktifkan.
Tahun 1989 – 1994:  Pada Muktamar ditahun 1989, Ibu Nani Perwoto menggantikan Ibu Basir sebagai ketua Muslimat.

Dengan semakin dikenalnya bidang Muslimat aktifitas Muslimatpun meningkat;  Jalsah khusus Muslimat mulai diadakan.

Tahun 1994 – 1999:  Pada Muktamar GAI tahun 1994, Ibu Nani digantikan oleh Ibu Dra. Hartati Sudiono. Dibawah kepemimpinan Ibu Hartati Sudiono, potensi-potensi yang ada pada anggota Muslimat mulai dimunculkan dengan kegiatan – kegiatan seperti pendidikan anak, diperkenalkannya lagu ciptaan Ibu Sudiono dan lain-lain.

Tahun 1999-2004:  Muktamar pada tahun ini terpilih Ibu Dra. Rochmani Prayogo menggantikan Dra Ibu Hartati Sudiono. Dibawah kepemimpinan Ibu Rochmani Prayogo organisasi Muslimat GAI dibuatkan Visi & Misinya.

Tahun 2004-2009 :  Pada tahun 2004 Mukhtamar GAI menunjuk Ibu Variny Mansyur Basuki sebagai pimpinan yang baru.

Pengurus yang baru ini mencoba untuk melanjutkan apa yang telah dirintis pendahulunya. Visi Muslimat GAI yang telah dibuat akan lebih disosialisasikan, begitu juga dengan misinya. Visi yang berlandaskan pada surat 3:18 :

“ Inna dinna ‘indalahi’l islam’ dan hadis ‘Aljannatu tahta aqdamil ummahat’ diharapkan dapat diwujudkan dan pemahaman Ahmadiyah lebih ditingkatkan. Serta Fathi Islam akan  direalisasikan.
Kita harus berpacu dengan pemahaman Islam yang benar menghadapi mereka diluar GAI terlebih – lebih karena mereka menyadur bebas buku – buku yang telah kita terbitkan.
Oleh karena itu kita sendiri harus menguasai apa yang diwariskan_HMGA kepada kita, supaya itu tidak menjadi bumerang.

Visi dan Misi sebagai konsep yang ideal bagi Muslimat
Saat ini bidang urusan Muslimat PBGAI sudah memformulasikan visi dan misi Muslimat yang menjadi landasan kerjanya.

Karenanya peningkatan kualitas SDM mutlak diperlukan baik itu dalam  pemahaman maupun pengurusan tehnik material yang menunjang pelaksanaan program Fathi Islam.

Bagi Muslimat pemahaman Islam yang benar khususnya mengenai kedudukan peran perempuan dalam Islam yang ditonjolkan oleh Rasulullah s.a.w harus diaktualisasikan seperti yang diharapkan bapak–bapak Ahmadi dahulu yang memandang perlu adanya bidang urusan Muslimat dalam Gerakan Ahmadiah Indonesia. Dimulai dari mewujudkan ‘Al Jannati Tahta Aqdamil Ummahat’ di keluarga kemudian mengekspansikannya dalam gerakan.

Di dalam GAI Muslimat memang selayaknya membantu para bapak–bapak Ahmadi dengan melakukan kegiatannya dari akar rumput yaitu dari habitat mereka sendiri kemudian ke atas yaitu ke masyarakat Ahmadi dan masyarakat non Ahmadi.

Mudah-mudahan cita harap kita didengar Allah.[]

Retrieved from: http://ahmadiyah.org/peran-muslimat-gai/

No comments:

Post a Comment