Thursday, June 20, 2013

SESAT YANG MENYESATKAN

Oleh: Masdar Farid Mas’udi,
Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama
Kompas, 3 Maret 2012

Semua orang tahu, sesat artinya salah jalan. Mestinya belok kanan, malah belok kiri sehingga bukannya sampai ke tujuan, justru semakin menjauh.

Sesat atau ”tersesat” adalah kecelakaan yang tak dikehendaki siapa pun. Jika Anda orang budiman, melihat orang tersesat, tentu Anda akan menolongnya, dengan memberi tahu yang bersangkutan mana jalan yang benar, dengan kasih dan kepedulian. Namun, sungguh terjadi, bahkan semakin banyak terjadi, melihat orang lain tersesat malah memakinya, bahkan menyerangnya. Nalarnya: sudah diberi tahu jalan yang benar, kok, ngotot memilih jalan yang salah. Terhadap orang seperti ini, Anda memang layak kesal dan geleng-geleng kepala. Namun, kalau sampai memukul, apalagi membunuhnya, yang lebih bermasalah adalah Anda, bukan dia yang tersesat.

Main Hakim Sendiri

Dalam kamus umat beragama, sesat artinya salah jalan terkait tujuan akhir kehidupan, untuk kembali pada Tuhan. Pertaruhannya tuntas dan telak. Maunya ke surga, hidup abadi dalam kebahagiaan dan kemuliaan, tahunya malah ke neraka, alam gelap penuh hina dan nestapa.

Masalahnya, semua agama dengan klaim kebenaran absolut masing-masing menawarkan gambar dan peta jalan berbeda-beda perihal surga. Mana yang benar? Wallahu a’lam! Sebab, belum ada seorang pun di dunia ini, baik yang mengaku beriman maupun yang kafir, pernah membuktikan sendiri langsung, live, apa yang diklaimnya sebagai surga ataupun neraka. Bahkan, dari kalangan para pemuka agama yang mengaku paling tahu pun, belum ada yang pernah menyaksikan surga ataupun neraka itu.

Meski demikian, semua agama sepakat pada dua hal: pertama bahwa surga itu ada; apa pun konsep kebahagiaan yang ada di dalamnya. Bukan agama kalau tak menawarkan surga dan mengancam pembangkangnya dengan neraka. Kedua, semua agama sepakat, di balik konsep surga dan neraka, ada yang disebut Tuhan, Zat Yang Maha Kuasa, Maha Pencipta alam semesta. Yang menjadi masalah dan sekaligus titik konflik di antara agama-agama bahwa setiap mereka menawarkan jalan surga yang berbeda-beda, sekaligus mengklaim hanya jalan mereka yang bisa menjamin orang sampai ke sana; sementara jalan yang ditawarkan agama atau keyakinan lain dituding sebagai kebohongan belaka.

Tidak berhenti di situ; di kalangan penganut agama dan kitab suci yang sama, dengan mazhab atau aliran berbeda, pun bisa terjadi aksi saling tuding dan menistakan satu sama lain sebagai pembawa ajaran sesat dan menyesatkan (dlallun mudlillun).

Arkian, dilihat dari perspektif internal masing-masing, semua agama/keyakinan adalah benar dengan klaim kesanggupan mutlak mengantarkan penganutnya ke surga. Namun, pada saat yang sama, dilihat dari sudut pandang agama/keyakinan pihak lain, semuanya hanya dusta yang sesat dan menyesatkan pengikutnya ke dalam neraka. Dengan logika ini, harus dikatakan bahwa pada dasarnya tak ada penganut agama/keyakinan berhak menghakimi agama atau keyakinan lain.

Sebab, semua agama dan penganutnya, di mata pihak lain, sama posisinya sebagai tertuduh. Saling menghakimi di antara tertuduh itulah dan aksi ”main hakim sendiri” yang tidak bisa diterima oleh logika apa pun.

Allah Yang Menghakimi

Agama sebagai ”keyakinan” adalah sesuatu yang tersembunyi di relung hati; tidak seorang pun bisa mengetahui secara persis sosok dan anatomi keyakinan orang lain. Menghakimi keyakinan orang lain adalah absurd dan tak bisa diterima akal sehat. Khalifah Umar ra berkata, ”Nahnu nahkum bidzzhawahir, wallahu yatawallas saraair (Kita manusia hanya bisa menghakimi yang tampak, sementara perihal yang tersembunyi [keimanan] dalam hati Allah saja yang mengetahui).”

Demikian pula jalan keselamatan (syariat/mansak) antara satu umat dan umat lain bisa berbeda-beda dan demikian faktanya. Maka, nasihat Al Quran, ”Janganlah kalian saling bertengkar dan saling menghakimi perihal ini, berdoalah saja kepada Allah” (QS al-Hajj [22]: 67). Jika harus ada penghakiman, biarlah Allah yang jadi hakimnya. Itu pun bukan di dunia ini, melainkan di akhirat nanti, ”Allah yang akan menghakimi perselisihan di antara kalian, di hari kiamat nanti (QS al-Hajj [22]: 69).

Kebinekaan agama dan keimanan adalah kehendak Allah yang tak bisa kita tolak atau hindari. Setiap orang berhak dan sepantasnya berbangga dengan agama dan keyakinannya tanpa harus menuding keyakinan orang lain sebagai kepalsuan dan kesesatan. Tak pantas akhlak agamawan kalah dengan kaum kapitalis; mereka sanggup mempromosikan produknya setinggi langit tanpa melecehkan produk pihak lain. Cukup katakan: Keyakinan saya atau kami memang berbeda dengan keyakinan Anda. ”Kami tidak menyembah yang kalian sembah; sebagaimana Anda juga tidak perlu menyembah apa yang kami sembah. Bagiku agamaku dan bagimu agamamu” (QS al-Kafirun [109]: 6).

Beda agama atau keyakinan bukan suatu kejahatan, melainkan realitas kehidupan yang sepenuhnya terjadi atas kehendak-Nya. ”Sekiranya Allah menghendaki, niscaya semua manusia akan dihimpun dalam satu agama atau keyakinan yang sama. Akan tetapi, Allah ingin membuktikan mana di antara kalian yang lebih baik amalnya daripada yang lain. Maka, berlombalah dalam berbuat kebaikan untuk sesama (bukannya saling mencela, menistakan, dan memaksakan keyakinan atas sesama)” (QS al-Maidah [5]: 45)

Friday, May 24, 2013

Religious minorities unite for freedom

Prodita Sabarini, The Jakarta Post, Bekasi | Feature | Fri, May 24 2013, 2:48 PM

Iron: Pondok Gede sub-precinct head Comr. Dedy Tabrani speaks to an Ahmadi behind the locked gate of the Al Misbah Mosque in Bekasi on April 5. (Antara/Widodo S. Jusuf)
 Next to a sealed Ahmadi mosque in Bekasi is a plot of land with leafy trees and damp earth. To get in one has to squeeze through a gap between a tall iron gate and the wall of a residence on the other side.

From this bit of land, Ahmadiyah members send food over the gate to the 19 Ahmadis staying inside the mosque, which was sealed in early April by Bekasi public order officers.

When the officers put up the corrugated iron fence to seal the Al Misbah Mosque, about 40 people were inside, including women and children. The women and children have since been taken out.

The remaining 19 stayed behind, giving away their freedom for an indefinite time as a symbol, an
act of protest, toward the Bekasi municipality and the central government for meddling with their freedom to worship.

The lot became a gathering place on Saturday night for Sobat KBB, a solidarity group of victims of religious intolerance and violence, a collective of minority groups — Christians, Shia Muslims, Ahmadis and those of other beliefs — that have experienced discrimination and persecution. Sobat translates as friend in English.

The national coordinator of Sobat KBB is Palti Panjaitan, the Filadelfia Batak Christian Protestant Church pastor whose church in Bekasi was also sealed by the Bekasi city administration.

Palti said about 10 people came to the gathering. Liberal Islam activist Mohammad Guntur Romli, who in a pluralism rally that turned violent in 2008 had his nose and cheekbone fractured by blows from members of the Islam Defenders Front (FPI), and Nong Darol Mahmada were among the attendees.

Over grilled fish, the group shared their thoughts about the state of religious minorities in Indonesia.

Rahmat Rahmadijaya, an Ahmadiyah cleric who remains inside the shuttered mosque, joined the discussion through a small opening in the mosque’s black iron door.

Ahmadiyah spokesperson Firdaus Mubarik said they wanted to bring Palti into their campaign because they saw the creative ways the Filadelfia church had promoted their cause, such as holding mass in front of the presidential palace.

Firdaus said the Ahmadis collaborated with Filadelfia for the Saturday night gathering — aimed at becoming a regular meeting — to continue to voice their cause.

“We don’t want the people remaining in the mosque to be forgotten,” he said.

Palti, meanwhile, said they might make the gathering more regular, not only in the lot next to Al Misbah but in other places where religious minorities are persecuted.

The group was established in February after a workshop by the Setara Institute, a human rights organization that monitors religious freedom across the country, and is also open to agnostics and atheists, the priest said.

“Sobat KBB is open to any victims [of persecution] including atheists. We fight for all victims who have been victimized or discriminated against in the name of religion, either those who adhere to religion or those who do not. We will fight hand in hand, to support each other,” Palti said.

Local and international organizations have criticized Susilo Bambang Yudhoyono’s administration for the increasing religious intolerance and violence in the country, even as he recently received the World Statesman Award from the US-based Appeal of Conscience Foundation. The award has been deemed a publicity stunt by rights groups who say the president does not deserve the award because of his track record in dealing with religious minorities.

Setara has documented 264 cases of violent attacks against religious minorities, up from 244 cases in 211 and 216 cases in 2010. Meanwhile, non-believers are criminalized, as in the case of atheist Alexander Aa, who broadcast his thoughts about the non-existence of God and was put behind bars in 2012.

“We want to enlighten people that religion should not be used to judge other religions or beliefs,” Palti said of Sobat KBB.
 
Struggling: Nineteen Ahmadis are staying inside the Al Misbah Mosque in Bekasi, which was sealed by Bekasi public order officers in April. (JP/Prodita Sabarini)

In the case of Ahmadiyah, a 2008 joint ministerial decree banned the sect from proselytizing and the decree became the base for the regional government to ban Ahmadiyah outright. The West Java administration banned Ahmadiyah activities in 2011, the same year the Bekasi mayoralty announced its ban.

From across the corrugated iron fence, Rahmat, 33, who has been living on the grounds of the mosque for a decade, said Islamic hardliners from the FPI started to intimidate and harass Ahmadis at Friday prayers after Bekasi mayor Rahmat Effendi announced the ban.

“They threatened us, roaring their motorcycle engines, disturbing our prayers,” he said.

Except for Rahmat and a resident living next to the mosque, the neighbors of the mosque are not Ahmadis.

Ahmadis from other parts of Bekasi come and pray there on Fridays. But a resident living nearby said people were nonplussed with them. “For us here, to each their own”.

Rahmat said the Bekasi administration’s sealing of the mosque was the latter’s idea to protect the Ahmadis from religious hardliners. “But they did it without consulting us first, there was no dialogue,” he said.

The mosque is now guarded by three police officers, who take shelter from boredom in the house in front of the mosque where they can watch television when nothing is happening. The police presence ensures no-one enters the mosque, either Ahmadis or hardliners. A number of times after the mosque was sealed hardliners have arrived, but were cordoned off by the police.

“We feel shackled, it’s tough being here,” Rahmat said. The young cleric is living separately from his wife and two children. The youngest was born in February.

His days are used to pray, he said. They also entertain themselves with badminton and ping pong.

Rahmat said they have sent letters of protest to the president and the mayor. The Ahmadis are also taking their case against the Bekasi administration to the administrative court.

Even though the government is not keeping the Ahmadis inside the mosque, Rahmat said he would stay locked inside until the government reopened it.

“Forever, we will stay here forever,” he said.

But, he doesn’t wish for that. Rahmat is instead hoping for divine intervention to help the embattled Ahmadis win their case.

http://www.thejakartapost.com/news/2013/05/24/religious-minorities-unite-freedom.html

Friday, May 17, 2013

Erfan Dahlan (Putra KH Ahmad Dahlan) dan Ahmadiyah

Irfan Dahlan (1905 – 1967)


Irfan Dahlan adalah anak keempat dari K.H. Ahmad Dahlan (w. 1923), Pendiri Muhammadiyah, dengan Siti Walidah. Lahir tahun 1905 dengan nama asli Jumhan. Berganti nama menjadi Irfan Dahlan atas keinginannya sendiri saat bertinggal di Lahore, India.

Tahun 1924, bersama beberapa kawannya, Jumhan muda dikirim untuk belajar Islam di Ishaat Islam College yang didirkan oleh Ahmadiyya Anjuman Ishaati Islam Lahore (AAIIL) di Lahore, India. Hal ini terjadi sesudah kedatangan misionaris Ahmadiyah di Yogyakarta, yakni Mirza Wali Ahmad Baig dan Maulana Ahmad, yang memberikan Pidato Keagamaan pada Kongres Muhammadiyah ke-13 di Yogyakarta.

Setelah cukup lama belajar di Lahore, Irfan Dahlan kemudian dikirim sebagai mubaligh untuk berdakwah di Pattani, Thailand. Di sanalah ia bertinggal dan berumah tangga hingga wafatnya. (Lihat tulisan mengenai Keluarga Irfan Dahlan di Bangkok, Thailand).

Dalam booklet World-Wide Religious Revolution yang diterbitkan oleh AAIIL pada Desember 1932, dikisahkan bahwa Dr. A.W. Khan, pendiri gerakan dakwah Islam di Pattani, memberikan kabar kepada AAIIL di India sebagai berikut:
“…obtained from our Society the services of Mr. Erfan Dahlan, a young Javanese and a student of our Ishaat Islam College. Mr. Erfan Dahlan joined the Pattani Mission in October 1930. A little later he was sent to Bangkok, the capital of Siam, to learn the Siamese language where he was cordially received by Maulana A. Karim Masoodee, Imam of the Royal Mosque, who is helping him in every way.” (p. 18)


Gambar di atas adalah foto bersama antara Staf Pengajar dan Siswa Isha‘at Islam College, Lahore, pada tahun 1927. Perguruan ini didirikan oleh Ahmadiyya Anjuman Isha‘at Islam Lahore dan berlangsung hingga tahun 1928. Para guru yang duduk di kursi dari kiri ke kanan adalah Maulana Abdul Haq Vidyarthi, Maulana Sadr-ud-Din, and Maulana Abdus Sattar. Siswa berjas putih yang bersimpuh di tanah adalah Irfan Dahlan. (lihat juga di sini).

Pada tanggal 23 Juni 1958, Irfan Dahlan bertemu kembali dengan guru kesayangannya, Maulana Abdul Haq Vidyarthi, yang bersinggah  di Bangkok, saat melakukan perjalanan dari Lahore menuju Kepulauan Fiji. Hal ini tertulis dalam surat Abdul Haq Vidyarthi yang dimuat dalam Majalah Ruh-i Islam, Oktober-November 1958).

Tahun 1961, Irfan Dahlan melukis wajah sang guru, Maulana Abdul Haq Vidyarthi, dalam bayang-bayang Hazrat Mirza Ghulam Ahmad. Di bawah lukisan itu, beliau mencantumkan sebaris puisi karya Hazrat Mirza Ghulam Ahmad. Lihat Lukisan Sang Guru Karya Irfan Dahlan.

Tahun 1967, Irfan Dahlan wafat. Ia meninggalkan sepuluh orang anak dari hasil perkawinannya dengan Zahara. (lihat artikel terkait di sini) []

http://ahmadiyah.org/irfan-dahlan/

Thursday, May 16, 2013

Maulana Abdul Haq Vidyarthi (1888-1977)


Staff and students of the Isha‘at Islam College, Lahore, in 1927.
(This college was founded by the Ahmadiyya Anjuman Isha‘at Islam Lahore and run until 1928.)
Staff are seated on chairs, and are from left to right:
Maulana Abdul Haq Vidyarthi, Maulana Sadr-ud-Din, and Maulana Abdus Sattar.

The student seated on the ground, first left, is Erfan Dahlan (also spelt Irfan), from Java. We are able to identify him from a photo printed in the booklet World-Wide Religious Revolution, published in December 1932 in English and Urdu versions by the Ahmadiyya Anjuman Isha‘at Islam Lahore. That photo is as below, which is signed:


Visit this page to see Erfan Dahlan’s 1961 sketch portrait of Maulana Abdul Haq Vidyarthi and read more about Erfan Dahlan.

http://www.abdulhaq.info/photos/ishaat-islam-college.htm

Kampung Anak Cucu Ahmad Dahlan di Bangkok

Menengok Masjid Jawa di Bangkok
REP | 20 April 2013 | 09:14  

Benny Rhamdani

Tidak berasa di Bangkok. Foto: benny rhamdani

Setiap kali berkunjung ke luar negeri, saya selalu mencari masjid. Begitu pula ketika bertandang ke Bangkok, Thailand. Setelah menelusuri di Internet, ternyata dari tempat saya tinggal di Lumphini, bisa mendatangi masjid Jawa hanya 10 menit dengan naik taksi. Maka Jumat dini hari, saya keluar hotel dan mencari taksi menuju Masjid Jawa. Warga Bangkok biasa menyebut masjid dengan nama hong lamat muslim atau surau.

Letak Masjid Jawa di distrik Sathorn Jalan Soi Rangnamkeang 707, Yanawa. Setelah turun dekat tangga stasiun BTS Surasak, saya berbelok ke jalan yang lebih kecil menuju kawasan perkampungan penduduk. Begitu mentok, saya belok ke kanan, masuk gang yang tak bisa dilalui mobil. Saat itulah saya mendengar syahdunya azan subuh. Pencarian mencari pun menjadi lebih mudah.

Rasanya lega ketika menemukan bangunan masjid dengan desain jawa klasik berukuran 12 x 12 meter. Seperti pada bangunan rumah jawa pada umumnya, masjid ini juga masih menggunakan saka guru (empat tiang penyangga) yang menopang atap .

Saya pun berwudlu di deretan keran yang disertai tempat duduk. Di serambi terdapat 4 pintu yang terbuat dari jeruji besi. Begitu masuk ke dalam masjid, hati saya terasa teduh. Senang rasanya berada di dalam masjid di kota yang mayoritas penduduknya bukan muslim.


Masjid Jawa di Bangkok. foto: benny rhamdani
Di bagian dalam terlihat 3 pintu kayu yang sejajar dan terapit ampat tiang kokoh kalau dipandang dari arah tempat pengimaman. Disamping pengimaman ada mimbar kayu yang dilengkapi tangga untuk jalan kotib. Sedang pada sisi kanan dan kiri terdapat dua buah jam lonceng unik yang terbuat dari kayu. Di bagian belakang terdapat sederet kopiah yang bisa dipinjam untuk shalat, juga tiga kotak amal untuk tujuan berbeda.

Setelah cukup lama menunggu jemaah, akhirnya suara qomat berkumandang. Jemaah hanya ada dua baris. Itu pun terdiri dari orang dewasa dan lima anak-anak. Tidak tampak remaja yang ikut shalat subuh. Karena saat itu adalah hari Jum’at, imam membaca surat dengan ayat sajadah, sehingga kami pun melakukan sujud tambahan di awal. Di itidal terakhir, imam pun membaca qunut.

Usai shalat, saya ditawari minum kopi oleh penjaga masjid. Tapi dengan berat hati saya menolak karena harus segera bergegas menuju ke tempat lainnya.

Kampung Jawa
Masjid jawa yang dijadikan tempat ibadah sekaligus belajar dan mengajar ilmu agama islam di bangkok,khususnya seperti bulan ramadhan seperti waktu ini selalu ramai dikunjungi, lokasinya berada di Kampung Jawa dengan ribuan penduduk dari etnik jawa yang masih punya ikatan darah atau leluhur di pulau jawa.

Menurut informasi yang saya dapatkan, setelah Raja Chulalongkorn (Rama V) mengunjungi Jawa sekitar tahun 1901 dan tertarik dengan sebuah taman di Jawa. Rama V membawa beberapa orang untuk dibuatkan taman di istananya. Dan kampung jawa yang sekarang dihuni oleh ribuan orang jawa itu adalah anak cucu generasi kesekian dari orang jawa pertama yang dibawa oleh Raja Chulalongkorn ke bangkok thailand. Dan sejarah ini dibuktikan dengan peninggalan gajah hitam Raja Rama v yang sekarang jadi nama museum gajah yang berada di Jakarta.

Versi lain menyebutkan, penduduk Jawa dibawa tentara jepang untuk bekerja di perkebunan Thailand. Entah mana yang benar, ketika saya konfirmasi ke warga setempat pun tidak tahu.

Penduduk Jawa itu kemudian mendirikan masjid yang tanahnya merupakan wakaf dari Almarhum Haji Muhammad Shaleh. Akad wakaf tercatat pada 16 Juni 2440 diberikan pada masyarakat muslim pada umumnya. Ameen Mudpongtua, imam Masjid Jawa menjelaskan, masjid itu terbuka bagi siapa saja meski berada di tengah-tengah kampung Jawa.

Saya sendiri sempat dihampiri seorang jemaah, bertanya kepada saya dalam bahasa Indonesia. Dia menyebutkan tanah leluhurnya berasal dari Klaten, jawa tengah. Tapi dia mengaku sudah tidak bisa berbahasa jawa. Jemaah lainnya bernama Billy, malah lancer berbahasa Sunda. Ternyata, dia warga kampong Jawa yang sempat kuliah di ITB, Bandung, dan tinggal di Bekasi. Sekejap saya benar-benar lupa sedang berada di Bangkok.

Fajar di Masjid Jawa, Bangkok. foto: benny rhamdani

Kegiatan di Masjid Jawa, tidak berbeda dengan masjid pada umumnya. Selain ibadah wajib, seperti salat lima waktu dan salat Jumat, juga ada pengajian dan pembagian zakat. Setiap hari selepas salat Magrib, giliran anak-anak yang belajar mengaji. Di depan masjid terdapat sebuah madrasah. Bangunannya berlantai dua dengan ruangan terbuka. Biasanya, waktu belajar dari jam 19.00 hingga 20.00. Pesertanya adalah anak-anak dan remaja.

Selain itu, di seberang jalan, terdapat area pemakaman muslim yang mampu menampung sekitar seribu makam. Masjid Jawa memang khas Jawa. Selain bangunan dan beberapa perangkatnya, rumah-rumah yang ada di sekitarnya juga mirip perkampungan Kauman yang biasanya terletak di sekitar masjid besar di Jawa.

Yang menarik, di perkampungan itu juga tinggal salah satu keluarga besar dari KH Ahmad Dahlan. Dia adalah tokoh pembaharu Islam asal Jogja yang mendirikan Muhammadiyah, salah satu ormas Islam terbesar di Indonesia. Dia adalah Walidah Dahlan yang merupakan anak dari almarhum Irfan Dahlan, anak kelima KH Ahmad Dahlan.

Rencananya saya ingin bertamu ke sana. Tapi karena masih terlalu pagi, saya urungkan niat saya. Semoga pada kunjungan berikutnya ke Masjid jawa ini, saya bisa bertandang ke rumah keturunan KH Ahmad Dahlan.

(Benny Rhamdani, penejalajah tinggal di Bandung)

http://wisata.kompasiana.com/jalan-jalan/2013/04/20/menengok-masjid-jawa-di-bangkok-548358.html

Berita Terkait:
Menengnok Masjid Jawa di Bangkok
http://melayuonline.com/eng/news/read/7800/menengok-masjid-jawa-di-bangkok


Fom: http://travel.okezone.com/read/2011/02/09/409/423101/menengok-komunitas-jawa-di-bangkok

Winai Dahlan Kunjungi Kampung Halaman Kakeknya

Senin, 22 April 2013
Cakra Aminuddin

Yogyakarta - Dalam rangka mempelajari dan mengetahui lebih dalam mengenai akar dan sejarah keluarganya, cucu KH Ahmad Dahlan, Prof. Dr. Winai Dahlan, didampingi 23 orang dari Thailand — 10 orang di antaranya adalah cicit dan 2 oang canggah KH Ahmad Dahlan — berkunjung ke kampung halaman orang tua dan kakeknya di Kauman Yogyakarta.

Kakeknya merupakan seorang pendiri organisasi masyarakat terbesar di Indonesia, yaitu Muhammadiyah. Prof. Winai Dahlan mengawali kunjungannya dengan mendatangi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Senin (15/4). Kemudian menghadiri acara Soft Launching “Ensiklopedi Muhammadiyah” di  Asri Medical Center (AMC), Selasa (16/4).

Cucu KH Ahmad Dahlan yang juga Direktur Halal Science Center, Chulalongkorn University, Bangkok -Thailand ini, menceritakan bahwa dirinya adalah anak dari Irfan Dahlan yang merupakan anak KH Ahmad Dahlan dengan Siti Walidah — yang dikenal dengan sebutan Nyai Dahlan — seorang Pahlawan Nasional dan pendiri pergerakan Aisyiyah.

Winai Dahlan datang ke Yogyakarta untuk mengenali kembali keluarga yang hilang. Karena ada seorang ilmuwan di Thailand yang mengatakan bahwa dirinya adalah cucu seorang tokoh besar di Indonesia.

“Oleh karena itulah saya datang ke Yogyakarta,” ungkap Prof. Winai.

Ia juga masih ingat kata-kata yang diucapkan oleh ayahnya Irfan Dahlan, ketika masih hidup: sejauh-jauhnya orang Muhammadiyah itu pergi, pada akhirnya akan kembali pada Muhammadiyah juga.
Untuk mewujudkan apa yang dikatakan ayahnya, Prof. Winai kemudian mengadakan kerja sama dengan perguruan tinggi Muhammadiyah di Indonesia, seperti UMY dan UM Malang.

“Kami, keluarga Muhammadiyah di Thailand juga berharap bisa membantu warga Muhammadiyah di sini. Agar kami juga dapat berbagi ilmu pada sesama,” pungkasnya.

http://muhammadiyahdiy.or.id/opini/baca/228/winai_dahlan_kunjungi_kampung_halaman_kakeknya

Winai Dahlan, Direktur The Halal Science Center di Chulalongkorn University, Bangkok: Cucu K.H. Ahmad Dahlan (Pendiri Muhammadiyah)

November 2009 lalu, forum pengajian mahasiswa muslim Indonesia yang sedang belajar di Thailand (Ngaji-khun) berkolaborasi dengan Majelis Taklim KBRI Bangkok mengadakan semacam kuliah terbuka bertema Halal Food in Thailand. Yang menarik adalah bahwa pemberi materi kuliah terbuka ini adalah Assoc. Prof. Dr. Winai Dahlan yang adalah cucu pendiri Muhammadiyah K.H. Ahmad Dahlan. Saat ini Khun Winai Dahlan menjabat Direktur Halal Science Center, Chulalongkorn University di Bangkok. Posting ini bukan orisinil tulisan saya tapi merupakan kutipan berita dari media yang bercerita tentang profil Khun Winai Dahlan. Posting ini juga sebagai informasi bahwa ada keturunan tokoh besar Indonesia yang tinggal di Thailand dan mengambil peran kunci dalam urusan halal-nonhalal (tak cuma makanan) tak hanya di Thailand, tapi juga dunia.


Sumber:
http://arsip.pontianakpost.com/berita/index.asp?Berita=Metropolis&id=154818

Kakek Pendiri Muhammadiyah, Cucu Pendiri Riset Halal

Di tengah sulitnya mencari makanan yang tidak mengandung babi di Bangkok, ternyata di ibu kota
Thailand terdapat pusat riset makanan halal yang diklaim sebagai yang pertama dan terbesar di dunia. Yang menarik, pusat riset itu didirikan Winai Dahlan, cucu pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan.

SELAIN menyaksikan langsung dinamika konflik di Thailand Selatan dengan mengunjungi Pattani, Yala, dan Narathiwat, Jawa Pos berkesempatan mengenal tokoh-tokoh intelektual muslim di Negeri Gajah Putih itu. Salah satu yang mengundang penasaran adalah saat diperkenalkan takmir Masjid Akbar Yala dengan keluarga Ahmad Dahlan, tokoh pembaru Islam asal Jogjakarta yang mendirikan Muhammadiyah, salah satu ormas Islam terbesar di Indonesia.

Dalam acara silaturahmi yang diadakan takmir Masjid Yala pada Senin (24/3) sore itu, hadir puluhan undangan, mulai pengusaha, nelayan, dokter, hingga guru sekolah di sana. Namun, saat Ketua Takmir Masjid Yala Mokhtar Hadi menyebut nama Phaisal Dahlan, dosen Yala University, Jawa Pos langsung tertarik. Sebab, Mokhtar menyebut Phaisal berasal dari keluarga tokoh muslim terpandang di Indonesia, KH Ahmad Dahlan.

Usai acara, Jawa Pos langsung mendekat dan memperkenalkan diri kepada Phaisal yang murah senyum itu. Phaisal ternyata tidak bisa berbahasa Melayu. Dia hanya menguasai bahasa Siam dan Inggris. Karena itu, perbincangan sambil makan malam pun terjadi. Yang langsung ditanyakan Jawa Pos adalah bagaimana keturunan KH Ahmad Dahlan bisa bermukim di Thailand.

Menurut Phaisal, ayahnya, almarhum Irfan Dahlan -anak keempat KH Ahmad Dahlan- dikirim belajar ke luar negeri sejak muda. Sepulang dari belajar di Lahore, Pakistan, sekitar 1940-an, Irfan tidak dapat masuk ke Indonesia karena situasi politik yang tidak memungkinkan. Sebab, saat itu Lautan Hindia menjadi medan tempur Perang Dunia II antara sekutu dan Jepang.

“Maka, bapak kami (Irfan Dahlan, Red) memutuskan untuk tinggal di Thailand, membangun keluarga di sana, dan dikarunia sepuluh anak,” kata Phaisal.

Irfan adalah anak KH Ahmad Dahlan dengan Siti Walidah yang dikenal sebagai Nyai Ahmad Dahlan, seorang Pahlawanan Nasional dan pendiri pergerakan Aisyiyah. Dari perkawinannya dengan Siti Walidah, KH Ahmad Dahlan mempunyai enam orang anak. Yaitu, Djohanah, Siradj Dahlan, Siti Busyro, Irfan Dahlan, Siti Aisyah, dan Siti Zaharah.

Meski tidak bermukim di tanah air, Irfan Dahlan aktif mengembangkan dakwah dan selalu mendorong anak-anaknya tetap memberikan kontribusi positif bagi dunia Islam.

“Jadi, tidak masalah di Thailand atau Indonesia, kita bisa memberikan apa yang kita mampu bagi dunia muslim,” ujar Phaisal, mengutip pesan mendiang ayahnya. Kini seluruh keturunan keluarga Irfan Dahlan sudah menjadi warga negara Thailand.

Phaisal juga merekomendasikan agar Jawa Pos menjumpai kakaknya, Winai Dahlan, yang mengepalai The Halal Science Center di Chulalongkorn University, Bangkok. Perjanjian lewat telepon pun dibuat saat itu juga. Namun, sayang, saat dihubungi, Winai mengatakan akan berangkat ke Paris, Prancis. Dia mendapat tugas dari pemerintah menghadiri konferensi tentang makanan halal dan baru balik ke Bangkok awal April.

Dengan ramah, Winai meminta Jawa Pos tidak kecewa dan menyarankan agar mengirimkan daftar pertanyaan tentang Halal Center ke email-nya. “Saya akan menjawab pertanyaan Anda semampu saya dari Paris,” ujarnya.

Winai juga mempersilakan datang ke Laboratorium Halal Science Center di Chulalongkorn University, Bangkok. “Saya akan meminta kepala laboratorium di sana untuk mewakili saya mengantar Anda melihat fasilitas dan menjelaskan semua hal tentang Halal Center,” tambahnya.
Kunjungan itu pun akhirnya terjadi pada Kamis (27/3) siang lalu, sekitar pukul 11.30. Jawa Pos langsung disambut hangat oleh Sirichai Adisakwattana, kepala Laboratorium Halal Center. Seperti sudah diberi tahu oleh Winai, Sirichai langsung mengajak Jawa Pos meninjau fasilitas pusat riset halal.

Gedung dua lantai di samping pintu masuk kampus Chulalongkorn University itu sarat dengan peralatan yang modern dan canggih untuk mengidentifikasi status makanan apakah halal atau tidak. Sirichai dengan didampingi para staf berbahasa Melayu pun menjelaskan secara singkat latar belakang berdirinya pusat kajian halal tersebut. “Pusat kajian halal ini didirikan pada 2005 untuk menganalisis tentang halal dan najis dengan instrumen ilmiah,” jelas periset 35 tahun yang baru sebulan lalu menikah itu.

Selanjutnya, Jawa Pos diajak ke ruangan berukuran 4 x 6 meter, tempat alat berbentuk kotak dengan monitor dan panel yang menyatu seperti komputer ukuran jumbo zaman dahulu. Alat yang bernama Gas Chromatography Coupled with Mass Spectrometry (GC-MS) itu mampu mengetahui kandungan organik yang terdapat dalam makanan.

“Selain itu, alat ini mampu mengidentifikasi kandungan lemak yang ada dalam makanan sampai spesifik di ukuran milimikron,” jelasnya.

Dengan GC-MS, lemak dari binatang haram, seperti babi, bisa diketahui secara jelas. “Objek penelitian kami adalah molekul organik dalam makanan yang tidak dapat dianalisis oleh GC analisis konvensional,” kata Sirichai dengan bahasa Inggris fasih.

Lalu, Jawa Pos diajak mengunjungi ruangan yang berisi alat untuk menguji apakah suatu makanan atau minuman mengandung alkohol. Alat berupa tabung mirip rice cooker itu diberi nama Gas-Liquid Chromatography (GLC). “Alat ini mampu menganalisis kandungan kimia yang kompleks seperti alkohol,” terang Sirichai.

Satu lagi alat yang ditunjukkan Sirachai adalah Liquid Chromatography. Kotak yang di salah satu sudutnya berongga untuk tempat pipet sampel uji coba itu mampu menganalisis kandungan peptin, sakarin, atau pemanis buatan yang terdapat dalam makanan.

Di Halal Center bukan hanya potensi barang haram dan najis dalam makanan dan minuman yang diteliti. Alat untuk menganalisis kandungan merkuri yang terdapat dalam kosmetik atau sabun pun tersedia. Namanya, Inductively Coupled Plasma Spectrometry.

Sedangkan alat termahal dan tercanggih di Halal Center berada di ruangan lantai II yang hanya berukuran 3 x 3 meter. Harganya, menurut Sirichai, USD 8 juta atau sekitar Rp 73,6 miliar. Alat yang dinamakan Real Time Polymerase Chain Reaction itu mampu menganalisis DNA binatang dalam produk makanan, apakah berasal dari babi, sapi, atau bebek.

Alat termahal berikutnya adalah Fourier Transform Infra Red Spectroscopy (FTIR) yang digunakan untuk menganalisis produk. Terutama yang mengandung minyak, seperti minyak babi. “Alat yang menggunakan teknik inframerah ini merupakan cara yang murah dan cepat untuk mengidentifikasi material organik. Sebuah produk Anda bawa ke sini, sejam kemudian bisa kami sebutkan material organiknya secara rinci,” jelasnya. Dia menambahkan, harga FTIR saat diimpor dari Jerman tahun lalu USD 5 juta atau Rp 46 miliar.

Seluruh biaya pengadaan alat laboratorium dan fasilitas gedung itu, kata Surachai, bantuan dermawan dari negera-negara muslim di seluruh dunia, khususnya Timur Tengah. “Sebagian lagi berasal dari pemerintah Kerajaan Thailand. Bahkan, tahun depan kami akan mendapatkan gedung baru dua lantai yang lebih besar di depan kampus,” tuturnya.

The Halal Science Center menyediakan 15 periset muda yang berusia 21-35 tahun. Meskipun hasil penelitian sangat bermanfaat bagi masyarakat muslim, tidak semua peneliti beragama Islam. “Ada dua periset yang nonmuslim, termasuk saya yang beragama Buddha,” ungkap Surachai yang membuat kaget Jawa Pos.

Surachai termotivasi bergabung dengan Dr Winai Dahlan karena tertarik dengan manfaat riset halal yang dilakukan seniornya. “Saya menjadi tahu bahwa halal adalah inti dari sehat. Jika kita konsisten mengonsumsi produk halal, kita pasti juga sehat,” terangnya.

Selain periset tetap, Halal Science Center juga menjadi lokasi kerja praktik periset dari mancanegara. “Kami sedang memberikan training kepada mahasiswa dari Malaysia dan serta perwakilan enam provinsi di Thailand,” ungkapnya.

Dengan sumber daya tersebut, Halal Science Center Chulalongkorn University, Bangkok, telah mengkaji lebih dari dua ribu produk yang direkomendasikan untuk dimintakan fatwa Majelis Ulama setempat. “Selain itu, kerja sama dengan lembaga sejenis dan perusahaan telah dilakukan untuk memajukan pangsa pasar makanan halal di dunia,” tambah Surachai.

Sementara itu, Dr Winai Dahlan mengatakan, upayanya mendirikan Halal Center hanya sebagian di antara cara untuk memajukan dunia Islam “Saya berpikir, apa yang bisa saya buat untuk dunia Islam dengan ilmu yang dianugerahkan kepada saya,” tulis Winai dalam email-nya. Winai mengaku tidak menyangka bahwa dengan pemikiran sederhana itu, pusat kajian yang didirikannya menjadi pusat kajian pertama dan terbesar di dunia.

Winai yang juga menjabat dekan Fakultas Ilmu Kesehatan di Chulalongkorn University mengatakan mendapat dukungan penuh Kerajaan Thailand setelah berhasil menunjukkan besarnya potensi ekonomi produk halal di Thailand dan pasar global.

“Populasi muslim di Thailand terus tumbuh rata-rata 12,47 persen pada 2000-2007. Dari sini muncul potensi pasar hingga 11 miliar baht (Rp 3,3 triliun),” ujar Winai yang mengaku sudah tidak bisa berbahasa Melayu itu.

Tidak hanya di dalam negeri Thailand. Pasar produk halal juga terus meluas di mancanegara. “Selain pasar yang pasti (captive market) yang berjumlah 1,9 miliar populasi muslim dunia, produk halal merambah Eropa dan AS,” ujarnya.

Dia juga mengaku telah merintis kerja sama dengan beberapa universitas di Indonesia untuk mewujudkan Halal Science Center di tanah air kakeknya. “Kami aktif menjalin kontak dengan IPB dan Universitas Hasanuddin. Kami berharap, Halal Center juga berkembang di Indonesia dan negara-negara muslim lain di seluruh dunia,” katanya.

http://papayapokpok.wordpress.com/2010/02/24/winai-dahlan-direktur-the-halal-science-center-di-chulalongkorn-university-bangkok-cucu-k-h-ahmad-dahlan-pendiri-muhammadiyah/