Thursday, May 16, 2013

Kampung Anak Cucu Ahmad Dahlan di Bangkok

Menengok Masjid Jawa di Bangkok
REP | 20 April 2013 | 09:14  

Benny Rhamdani

Tidak berasa di Bangkok. Foto: benny rhamdani

Setiap kali berkunjung ke luar negeri, saya selalu mencari masjid. Begitu pula ketika bertandang ke Bangkok, Thailand. Setelah menelusuri di Internet, ternyata dari tempat saya tinggal di Lumphini, bisa mendatangi masjid Jawa hanya 10 menit dengan naik taksi. Maka Jumat dini hari, saya keluar hotel dan mencari taksi menuju Masjid Jawa. Warga Bangkok biasa menyebut masjid dengan nama hong lamat muslim atau surau.

Letak Masjid Jawa di distrik Sathorn Jalan Soi Rangnamkeang 707, Yanawa. Setelah turun dekat tangga stasiun BTS Surasak, saya berbelok ke jalan yang lebih kecil menuju kawasan perkampungan penduduk. Begitu mentok, saya belok ke kanan, masuk gang yang tak bisa dilalui mobil. Saat itulah saya mendengar syahdunya azan subuh. Pencarian mencari pun menjadi lebih mudah.

Rasanya lega ketika menemukan bangunan masjid dengan desain jawa klasik berukuran 12 x 12 meter. Seperti pada bangunan rumah jawa pada umumnya, masjid ini juga masih menggunakan saka guru (empat tiang penyangga) yang menopang atap .

Saya pun berwudlu di deretan keran yang disertai tempat duduk. Di serambi terdapat 4 pintu yang terbuat dari jeruji besi. Begitu masuk ke dalam masjid, hati saya terasa teduh. Senang rasanya berada di dalam masjid di kota yang mayoritas penduduknya bukan muslim.


Masjid Jawa di Bangkok. foto: benny rhamdani
Di bagian dalam terlihat 3 pintu kayu yang sejajar dan terapit ampat tiang kokoh kalau dipandang dari arah tempat pengimaman. Disamping pengimaman ada mimbar kayu yang dilengkapi tangga untuk jalan kotib. Sedang pada sisi kanan dan kiri terdapat dua buah jam lonceng unik yang terbuat dari kayu. Di bagian belakang terdapat sederet kopiah yang bisa dipinjam untuk shalat, juga tiga kotak amal untuk tujuan berbeda.

Setelah cukup lama menunggu jemaah, akhirnya suara qomat berkumandang. Jemaah hanya ada dua baris. Itu pun terdiri dari orang dewasa dan lima anak-anak. Tidak tampak remaja yang ikut shalat subuh. Karena saat itu adalah hari Jum’at, imam membaca surat dengan ayat sajadah, sehingga kami pun melakukan sujud tambahan di awal. Di itidal terakhir, imam pun membaca qunut.

Usai shalat, saya ditawari minum kopi oleh penjaga masjid. Tapi dengan berat hati saya menolak karena harus segera bergegas menuju ke tempat lainnya.

Kampung Jawa
Masjid jawa yang dijadikan tempat ibadah sekaligus belajar dan mengajar ilmu agama islam di bangkok,khususnya seperti bulan ramadhan seperti waktu ini selalu ramai dikunjungi, lokasinya berada di Kampung Jawa dengan ribuan penduduk dari etnik jawa yang masih punya ikatan darah atau leluhur di pulau jawa.

Menurut informasi yang saya dapatkan, setelah Raja Chulalongkorn (Rama V) mengunjungi Jawa sekitar tahun 1901 dan tertarik dengan sebuah taman di Jawa. Rama V membawa beberapa orang untuk dibuatkan taman di istananya. Dan kampung jawa yang sekarang dihuni oleh ribuan orang jawa itu adalah anak cucu generasi kesekian dari orang jawa pertama yang dibawa oleh Raja Chulalongkorn ke bangkok thailand. Dan sejarah ini dibuktikan dengan peninggalan gajah hitam Raja Rama v yang sekarang jadi nama museum gajah yang berada di Jakarta.

Versi lain menyebutkan, penduduk Jawa dibawa tentara jepang untuk bekerja di perkebunan Thailand. Entah mana yang benar, ketika saya konfirmasi ke warga setempat pun tidak tahu.

Penduduk Jawa itu kemudian mendirikan masjid yang tanahnya merupakan wakaf dari Almarhum Haji Muhammad Shaleh. Akad wakaf tercatat pada 16 Juni 2440 diberikan pada masyarakat muslim pada umumnya. Ameen Mudpongtua, imam Masjid Jawa menjelaskan, masjid itu terbuka bagi siapa saja meski berada di tengah-tengah kampung Jawa.

Saya sendiri sempat dihampiri seorang jemaah, bertanya kepada saya dalam bahasa Indonesia. Dia menyebutkan tanah leluhurnya berasal dari Klaten, jawa tengah. Tapi dia mengaku sudah tidak bisa berbahasa jawa. Jemaah lainnya bernama Billy, malah lancer berbahasa Sunda. Ternyata, dia warga kampong Jawa yang sempat kuliah di ITB, Bandung, dan tinggal di Bekasi. Sekejap saya benar-benar lupa sedang berada di Bangkok.

Fajar di Masjid Jawa, Bangkok. foto: benny rhamdani

Kegiatan di Masjid Jawa, tidak berbeda dengan masjid pada umumnya. Selain ibadah wajib, seperti salat lima waktu dan salat Jumat, juga ada pengajian dan pembagian zakat. Setiap hari selepas salat Magrib, giliran anak-anak yang belajar mengaji. Di depan masjid terdapat sebuah madrasah. Bangunannya berlantai dua dengan ruangan terbuka. Biasanya, waktu belajar dari jam 19.00 hingga 20.00. Pesertanya adalah anak-anak dan remaja.

Selain itu, di seberang jalan, terdapat area pemakaman muslim yang mampu menampung sekitar seribu makam. Masjid Jawa memang khas Jawa. Selain bangunan dan beberapa perangkatnya, rumah-rumah yang ada di sekitarnya juga mirip perkampungan Kauman yang biasanya terletak di sekitar masjid besar di Jawa.

Yang menarik, di perkampungan itu juga tinggal salah satu keluarga besar dari KH Ahmad Dahlan. Dia adalah tokoh pembaharu Islam asal Jogja yang mendirikan Muhammadiyah, salah satu ormas Islam terbesar di Indonesia. Dia adalah Walidah Dahlan yang merupakan anak dari almarhum Irfan Dahlan, anak kelima KH Ahmad Dahlan.

Rencananya saya ingin bertamu ke sana. Tapi karena masih terlalu pagi, saya urungkan niat saya. Semoga pada kunjungan berikutnya ke Masjid jawa ini, saya bisa bertandang ke rumah keturunan KH Ahmad Dahlan.

(Benny Rhamdani, penejalajah tinggal di Bandung)

http://wisata.kompasiana.com/jalan-jalan/2013/04/20/menengok-masjid-jawa-di-bangkok-548358.html

Berita Terkait:
Menengnok Masjid Jawa di Bangkok
http://melayuonline.com/eng/news/read/7800/menengok-masjid-jawa-di-bangkok


Fom: http://travel.okezone.com/read/2011/02/09/409/423101/menengok-komunitas-jawa-di-bangkok

No comments:

Post a Comment