Tuesday, May 17, 2011

Pesantren Mubarok, Parung, Bogor

Satu Tempat, Tiga Aktivitas
Dengan ditemani satu orang dari Parung, saya tadi malam sengaja datang ke lokasi kampus Ahmadiyah di Parung, yang oleh masyarakat setempat dikenal sebagai pesantren Mubarok. Sebetulnya, dari segi bangunan, dari Jalan Raya Parung, kampus ini tidak terlihat istimewa. Tulisan yang ada di papan nama kampus ini, di samping pintu gerbangnya, sudah tidak jelas huruf-hurufnya. Bangunannya juga terlihat biasa-biasa saja.
Hal yang mengejutkan adalah ketika mobil saya berhenti sekitar 10 meter sebelum kampus Mubarok, karena saya mendapat telepon cukup lama dari seorang teman, beberapa gadis ABG cantik mendatangi mobil saya dan mengajak ngobrol teman saya. Saya perhatikan, di sekitar tempat saya berhenti ini terdapat gadis-gadis cantik dengan pakaian sexy sedang duduk-duduk, berdiri, atau berjalan-jalan di pinggir jalan raya. Seusai menerima telepon, saya tanya kepada mereka, di mana lokasi kampus Mubarok? Mereka lantas menunjuk tempat di seberang kiri jalan (dari arah Ciputat) dan di depan (sekitar 10 meter) tempat saya parkir). Saya semakin terhenyak ketika melihat adanya kantor polisi tepat di samping kampus Mubarok atau di belakang tempat mangkalnya gadis-gadis ABG itu.
Seluruh gedung dari kampus Ahmadiyah kini sudah diberi garis polisi. Saya mencoba meminta izin untuk masuk kampus tersebut, tapi rupanya polisi-polisi yang menjaga tempat itu tak mengizinkan. Saya lantas berjalan-jalan dan mencari tempat makan di sekitar kampus itu. Cukup lama saya makan di sebuah warung samping kampus itu. Dari obrolan saya dengan orang-orang yang ada di warung, saya mendapat informasi bahwa beberapa tahun yang lalu, sekitar 5 tahunan, di desa itu berdiri pesantren yang berafiliasi dengan FPI. Kalau nggak salah Haji Husen nama kyainya. Tidak banyak santri yang ada di pesantren itu, tapi beberapa kali mereka, dengan ditemani anggota FPI dari tempat lain, seperti Bogor, mereka menggerebek gadis-gadis malam yang ada di depan kampus Mubarok. Penggerebekan inilah, diantaranya, yang memperkenalkan FPI dengan kampus Mubarok.
Dari obrolan di warung, saya tahu bahwa lokasi kampus Ahmadiyah itu cukup luas (konon hampir separuh desa Pondok Udik). Saya lantas ditunjukkan jalan untuk melihat-lihat kampus ini. Saya berputar-putar desa dan kampus yang ternyata cukup bagus dibandingkan dengan penampilannya di samping pintu gerbang (penampilan fisiknya tentu tak sebagus UIN Jakarta). Ada beberapa rumah dan kantor yang lumayan mewah di dalamnya. Sepanjang jalan mengitari kampus, lagi-lagi saya beberapa kali berjumpa dengan gadis-gadis malam yang muda dan cantik yang kebanyakan memang kos di sekitar kampus ini. Saya sempat bertanya ke orang-orang, apa santri-santri di kampus Mubarok tidak suka jalan-jalan di luar kampus atau berkenalan dengan gadis-gadis yang ada di depan kampus mereka? Mereka bilang bahwa setahu mereka, santri-santri di kampus ini tidak pernah terlihat bermain-main dengan gadis-gadis malam itu. “Nggak tahu kalau sembunyi-sembunyi,” katanya.
Konon, sebelum penyerangan terjadi, kelompok FPI ini sudah datang ke Mubarok dengan membawa kitab-kitab besar dengan maksud menantang berdebat tentang keyakinan agama. Anggota FPI dari desa setempat yang ikut penyerangan, katanya, juga banyak yang masih berumur muda, SD dan SMP. Konon, selama kampus ini ada di desa itu, tak pernah terjadi masalah antara penduduk desa dan orang-orang di kampus. Meski kampus ini dipandang mereka eksklusif, namun tidak pernah terjadi hal-hal yang mengganggu harmoni. Baru belakangan ini, dengan FPI sebagai penggeraknya, konflik terjadi. Pendudukpun tidak terlibat dalam konflik ini.
Satu hal lagi yang menarik, polisi yang ada di samping kantor itu, konon, tidak segera merespon adanya konflik antara FPI dan pihak Kampus. Saya tentu bisa dipahami ketika polisi sekitar tempat itu membiarkan saja puluhan gadis malam berada di depan kantornya.
Banyak hal tentunya yang bisa dipelajari dari fenomena kampus Mubarok. Mulai dari fenomena satu tempat tiga aktivitas (pesantren, polisi, dan gadis malam), hubungan mereka yang saling tutup mata, hubungan penduduk dengan pesantren dan dengan gadis-gadis malam (yang kebanyakan, konon, dari luar daerah), suasana dan bangunan kampus, dan tentu saja penyerangan itu sendiri.

No comments:

Post a Comment