Saturday, September 7, 2019

Rekayasa Ahmadiyah Cari Dukungan Musuh Islam

Oleh Hartono Ahmad Jaiz dan Hamzah Tede*
Ujian bagi Ummat, mau jadi munafiq (musuh Islam), mengaku Islam namun membela Ahmadiyah pemalsu Islam, atau pilih tetap mu’min dengan setia membela Islam
***
Pucuk pimpinan dan para petinggi Ahmadiyah jelas bukan orang yang innocence atau lugu. Perhatikan saja elite-elite Ahmadiyah saat tampil di depan publik, terkesan cerdas. Namun demikian, kecerdasan belum tentu sejalan dengan keimanan dan belum tentu memperoleh hidayah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kecerdasan itu bila berada di jalan kesesatan, cenderung menjadi licik. Salah satu wujud licik adalah berbohong. Nah, dalam hal ini orang-orang Ahmadiyah memang jagonya, sebagaimana elite-elite aliran dan paham sesat lainnya seperti LDII, Syi’ah dan sebagainya.
Kebohongan yang dipublikasikan petinggi Ahmadiyah sangat tinggi kedustaannya, yaitu berkenaan dengan syahadat. Di depan publik mereka mengaku dan mengucapkan dua kalimat syahadat persis sama dengan dua kalimat syahadat yang biasa diucapkan umat Islam: Asyhadu An laa ilaaha ilallah wa asyhadu anna Muhammadarasulullah.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ
Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan (yang disembah dengan haq) kecuali Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.
Namun, sesungguhnya Muhammad yang mereka maksud dalam dua kalimat syahadat tadi, adalah Mirza Ghulam Ahmad. Dalam sebuah buku berjudul Memperbaiki Kesalahan yang ditulis oleh H.S. Yahya Pontoh dan diterbitkan oleh Jemaah Ahmadiyah Bandung (1993), dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan Muhammad pada syahadat mereka bukanlah Muhammad bin Abdullah yang lahir di Makkah Al-Mukarramah, tetapi “Ahmad” alias Mirza Ghulam Ahmad yang lahir di India, yang merupakan nabi para penganut Ahmadiyah Qadiyan.
Sekali lagi, Nama MUHAMMAD dalam syahadat tersebut menurut para pengikut/tokoh Ahmadiyah adalah Nabi/Rasul mereka, yaitu Mirza Ghulam Ahmad yang lahir di India, sebagaimana tercantum dalam bukuMemperbaiki Kesalahan,karya Mirza Ghulam Ahmad, yang dialih bahasakan oleh H.S. Yahya Pontoh, dan diterbitkan oleh Jemaah Ahmadiyah cabang Bandung, tahun 1993, pada halaman 5 tertulis:
مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ
“Dalam wahyu ini Allah SWT menyebutku Muhammad dan Rasul_”(KitabTadzkirahhalaman 97).
Itulah dusta dan liciknya Ahmadiyah: ayat yang jelas-jelas mengenai Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun diputar balikkan menjadiAllah SWT menyebutku(maksudnya Mirza Ghulam Ahmad sebagai)Muhammad dan Rasul.
Apa yang disebut wahyu dalam kitab Ahmadiyah yakni Tafzkirah lalu lafal Muhammad diselewengkan maksudnya menjadi Mirza Ghulam Ahmad itu sejatinya adalah ayat Al-Qur’an. Inilah ayat yang dibajak Ahmadiyah, kemudian dipalsukan maknanya, lalu digunakan untuk menjelaskan bahwa syahadat Ahmadiyah sama dengan syahadat Islam namun maknanya beda:
مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ [الفتح/29]
Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. (QS Al-Fath/ 48: 29).
Lafal Muhammad di situ tidak dapat dibajak-bajak apalagi dipalsu menjadi Mirza Ghulam Ahmad, karena berkaitan pula dengan pujian terhadap sahabat-sahabat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, di antaranya ditunjukkan dengan pujian Allah terhadap mereka:
لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا [الفتح/18]
Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon[1399], maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya)[1400]. (QS Al-Fath/48: 18)[1399]. Lihat no. [1396]. [1396].
Pada bulan Zulkaidah tahun keenam Hijriyyah Nabi Muhammad s.a.w. beserta pengikut-pengikutnya hendak mengunjungi Mekkah untuk melakukan ‘umrah dan melihat keluarga-keluarga mereka yang telah lama ditinggalkan.
Sesampai di Hudaibiyah beliau berhenti dan mengutus Utsman bin Affan lebih dahulu ke Mekah untuk menyampaikan maksud kedatangan beliau dan kamu muslimin. Mereka menanti-nanti kembalinya Utsman, tetapi tidak juga datang karena Utsman ditahan oleh kaum musyrikin kemudian tersiar lagi kabar bahwa Utsman telah dibunuh. Karena itu Nabi menganjurkan agar kamu muslimin melakukan bai’ah (janji setia) kepada beliau.
Merekapun mengadakan janji setia kepada Nabi dan mereka akan memerangi kamu Quraisy bersama Nabi sampai kemenangan tercapai. Perjanjian setia ini telah diridhai Allah sebagaimana tersebut dalam ayat 18 surat ini, karena itu disebut Bai’atur Ridwan.
Bai’atur Ridwan ini menggetarkan kaum musyrikin, sehingga mereka melepaskan Utsman dan mengirim utusan untuk mengadakan perjanjian damai dengan kaum muslimin. Perjanjian ini terkenal dengan Shulhul Hudaibiyah.
[1400]. Yang dimaksud dengan kemenangan yang dekat ialah kemenangan kaum muslimin pada perang Khaibar.
Jelaslah dari dua ayat (QS Al-Fath 29 dan Al-Fath: 18) itu lafal Muhammad hanyalah khusus untuk Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yakni bin Abdullah lahir di Makkah yang kemudian para sahabatnya berbai’at di bawah pohon, lalu mengadakan perjanjian Hudaibiyah dengan kafirin Quraisy.
Ketika ada yang disebut wahyu dari Allah mengklaim ayat itu lalu makna Muhammad adalah Mirza Ghulam Ahmad itu jelas dusta. Namun dusta itu justru untuk mendustai pula, yakni bunyi syahadatnya sama dengan syahadat Islam namun maknanya beda. Ini dusta atas nama Allah membuahkan dusta atas nama syahadat. Betapa beraninya mereka dalam berdusta.
Demikian di antara bukti tingginya sikap licik dan dusta Ahmadiyah.
***
Pasca penyerangan markas Ahmadiyah di Parung, Bogor, Juni 2005, Abdul Basith (Amir Nasional Pengurus Besar Jamaah Ahmadiyah Indonesia), ketika diwawancarai Metro TV selalu menyebut nama Mirza Ghulam Ahmad dengan tambahan Shallallahu Alaihi wa Sallam sebagaimana umat Islam menyebut Nabi Muhammad Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Ini menjadi salah satu bukti, bahwa pengikut Ahmadiyah menjadikan Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi sebagaimana Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam.
Namun, mereka menyembunyikan akidah sesatnya melalui mekanisme pertahanan diri taqiyyah sebagaimana juga berlaku di kalangan LDII, Syi’ah (termasuk Ahlul Bait) dan sebagainya.
Meski menyebut Mirza Ghulam Ahmad lengkap dengan sebutan Shallallahu Alaihi wa Sallam, namun Abdul Basith dalam rangka taqiyyah kala itu menyebut Mirza Ghulam Ahmad “hanya” sebagai mursyid. Menurut salah seorang aktivis Ahmadiyah Lahore, gara-gara ucapannya itu Abdul Basith sempat dimarahi oleh pimpinan pusatnya di London: “Mirza Ghulam Ahmad itu nabi!” Begitu mereka memarahi Abdul Basith Amir Nasional Pengurus Besar Jamaah Ahmadiyah Indonesia.
Di TVONE (edisi 18 Februari 2011), ketika berada dalam satu forum dengan Amin Djamaluddin dari LPPI dan Ali Mustafa Ya’qub (mantan Wakil Ketua Komisi Fatwa MUI), salah satu jurubicara Ahmadiyah berusaha meyakinkan khalayak bahwa Ghulam pada nama tengah Mirza Ghulam Ahmad berarti budak. Maksudnya, Mirza Ghulam Ahmad itu budaknya si Ahmad, dan Ahmad yang dimaksud adalah Muhammad Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Ini juga sesat.
Dengan kekuatan akal liciknya, mereka berusaha meyakinkan bahwa Mirza Ghulam Ahmad “hanya” budak Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bukan Muhammad itu sendiri, dengan cara-cara yang berlebihan, “bahasa pasaran” sekarang lebay (berlebihan, dilebih-lebihkan), bahkan sesat menyesatkan. Karena, tidak ada bukti sejarah bahwa Mirza Ghulam Ahmad itu budak Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Budak adalah orang kafir yang berperang melawan Muslimin lalu tertawan, maka jadi budak, dan boleh memerdekakan diri dengan cara menebus.
Merekayasa Simpati
Upaya-upaya bohong di atas adalah bagian dari cara kelompok Ahmadiyah merekayasa simpati, tentunya dalam rangka memperoleh dukungan. Begitu juga ketika berhadapan dengan para wakil rakyat (anggota DPR RI) yang terhormat, mereka berusaha menarik simpati khalayak dengan mengklaim bahwa WR Supratman (1903-1938) pencipta lagu kebangsaan Indonesia Raya adalah pengikut Ahmadiyah. Rasanya, pengakuan sepihak kalangan Ahmadiyah itu masih perlu dikonfirmasi kepada pihak keluarga besar WR Supratman. Benarkah demikian?
Lagi pula, tidak disebutkan secara jelas, apakah WR Supratman pernah menjadi bagian dari komunitas Ahmadiyah Qadian atau Ahmadiyah Lahore? Yang jelas, bagi Ahmadiyah Qadian (JAI, Jemaat Ahmadiyah Indonesia), siapa saja yang tidak mengakui kenabian Mirza Ghulam Ahmad adalah kafir. Termasuk Ahmadiyah Lahore (GAI, Gerakan Ahmadiyah Indonesia), yang “hanya” menjadikan Mirza Ghulam Ahmad sebagai mujaddid (pembaharu) juga dinyatakan kafir. Padahal sama-sama memalsu Islam pula. (Lihat artikel Hartono Ahmad Jaiz, Ahmadiyah Qodyan dan Ahmadiyah Lahore sama-sama Pemalsu Islam). Kalau toh benar WR Supratman pengikut Ahmadiyah, tidak ada pengaruhnya dengan fakta kesesatan Ahmadiyah (Qadian maupun Lahore).
Pada tahun 1926, Haji Rasul yang merupakan ayahanda Buya HAMKA dari Sumatera Barat berangkat ke Yogyakarta, mendatangi tokoh-tokoh Muhammadiyah saat itu untuk memberi pencerahan soal kesesatan Ahmadiyah Qadiyan dan Lahore. Karena, saat itu salah satu aktivis Muhammadiyah, Raden Ngabehi Hadji Minhadjurrahman Djojosoegito, terinfeksi Ahmadiyah Lahore. Upaya Haji Rasul ternyata mampu menyadarkan tokoh-tokoh Muhammadiyah. Kemudian di tahun 1929, pada Muktamar Muhammadiyah 18 di Solo, dikeluarkan pernyataan: orang yang percaya akan Nabi sesudah Muhammad adalah kafir. Maka, Raden Ngabehi Hadji Minhadjurrahman Djojosoegito pun tercerabut dari Muhamadiyah. Sebagai catatan tambahan, Raden Ngabehi Hadji Minhadjurrahman Djojosoegito merupakan saudara sepupu Hasyim Asy’ari (1871-1947) salah seorang pendiri NU (Nahdlatul Ulama).
Jadi, sudah sejak awal kehadirannya di Indonesia, Ahmadiyah (Qadian dan Lahore) sudah ditolak umat Islam, bukan baru kemaren sore, ketika Fatwa MUI tentang kesesatan Ahmadiyah dirilis ke hadapan publik pada Juni 1980 (Rajab 1400 H), dalam Musyawarah Nasional II MUI di Jakarta.
Menurut catatan Setara Institute, aksi kekerasan terhadap Jemaat Ahmadiyah terjadi hampir setiap tahun. Misalnya pada tahun 2007 terjadi 15 kasus, pada tahun 2008 sebanyak 238 kasus, pada 2009 ada 33 kasus. Kalau data itu benar, penyebabnya bukan Fatwa MUI yang sudah dirilis sejak 1980. Abdul Basith sendiri mengakui, sejak Fatwa 1980 itu diterbitkan, tidak ada aksi kekerasan terhadap Ahmadiyah. Begitu juga di masa pra kemerdekaan, 1933, ketika Ahmadiyah “berdialog” dengan kalangan Persis, tidak menghasilkan kekerasan.
Abdul Basith dan laron-laron AKKBB menuding Fatwa MUI 2005 menjadi pemicu tindak kekerasan terhadap Ahmadiyah, setidaknya sejak 2007 sebagaimana disebutkan di atas. Data tersebut jelas tidak akurat. Karena, kekerasan terhadap Ahmadiyah sudah berlangsung sejak tahun 2000 di masa Presiden Abdurrahman Wahid, dan Ketua MPR dijabat Amien Rais. Pemicunya, ucapan Tahir Ahmad yang sesumbar akan menjadikan Indonesia sebagai negara dengan pengikut Ahmadiyah terbesar di dunia.
Sesumbar itu diucapkan Tahir Ahmad (Khalifah Ke-4 Ahmadiyah) ketika ia dihadirkan ke Jakarta oleh Dawam Rahardjo. Pantas saja Tahir Ahmad mangkak (berbangga) karena ia diperlakukan bagai tamu negara oleh Dawam Rahardjo: dibawa menghadap Presiden Abdurahman Wahid dan Ketua MPR RI Amien Rais yang hingga kini masih belum bertobat dari membela Ahmadiyah yang sesat dan menyesatkan itu.
Dalam bilangan hari, kekerasan terhadap pemukiman Ahmadiyah terjadi. Namun tidak diberitakan secara intensif oleh media massa, dan tidak banyak menuai komentar dari para pendukungnya, karena laron-laron itu belum mengorganisasikan diri ke dalam wadah cair bernama AKKBB. Mungkin karena dananya belum turun dari London. Jangan juga heran bila AKKBB dirilis ke publik sekitar Juni 2008, mungkin untuk mengenang satu windu kehadiran Tahir Ahmad.
Kenapa dikaitkan dengan dana?
Ya, karena penulis pernah bertanya langsung di kompleks Ahmadiyah di Parung Bogor kepada petugas waktu Tahir Ahmad datang ke kompleks itu. Pertanyaan yang kami ajukan: Dari mana dananya, Dawam Rahardjo kok datang ke London untuk mengundang Tahir Ahmad ke Indonesia?
Dijawab, dari Ahmadiyah.
Ahmadiyah dananya dari mana?
Dari jemaat Ahmadiyah. Tiap anggota ditarik dana seperenambelas (dari penghasilannya) perbulan.
Pembaca yang kami hormati, dalam kasus semacam ini, kadang orang non Islam pun kurang mampu untuk memahami tingkah polah di antara tokoh-tokoh yang mengaku Islam namun membela yang memalsu Islam dan yang sesat-sesat. Sampai-sampai ketika Dawam Rahardjo jadi pembicara di depan para aktivis gereja di Balai Sarbini di Semanggi Jakarta beberapa tahun lalu, ada yang bertanya setelah selesainya pemaparan Dawam.
Pertanyaannya: Lantas, kalau begitu, apa yang telah Pak Dawam lakukan?
Dawam Rahardjo kurang lebihnya menjawab, bahwa dirinya dalam keadaan sakit-sakit panas-panas mendemo Menteri Agama untuk membela Lia Eden dan Ahmadiyah.
Jadi, membela kesesatan yang amat sangat sesat itu justru dibangga-banggakan… Sementara itu orang yang dipameri pun belum tentu senang dengan apa yang dipamerkan itu. Murka Allah Ta’ala sudah jelas, sedang kecintaan manusia yang mau dikais-kaisnya belum tentu didapat. Betapa ruginya.
***
Kasus Cikeusik
Dalam konteks ini, kasus Cikeusik, Pandeglang, pada 6 Februari 2011 lalu, diduga merupakan rekayasa Ahmadiyah untuk menarik simpati masyarakat luas, bahkan dunia internasional. Suparman tokoh Ahmadiyah Cikeusik tidak menolak ketika aparat keamanan mengevakuasi dirinya sekeluarga untuk menghindari kemungkinan terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan.
Namun Deden Sujana, yang mengaku sebagai kepala kemananan nasional Ahmadiyah, dengan dalih menjaga aset Ahmadiyah di Cikeusik, pasca dievakuasinya Suparman, justru menolak tawaran aparat untuk meninggalkan lokasi meski sudah disampaikan adanya kemungkinan penyerbuan dari warga masyarakat yang jumlahnya tidak sedikit. Deden ketika itu seperti menantang mengatakan: “Lepasin saja. Biar saja kita bentrok, biar seru. Kan asyik Pak. Masa kita diginiin diem saja Pak. Biar banjir darah di sini.”
Akhirnya bentrokan terjadi. Pemicunya, karena pihak Ahmadiyah memulainya. Deden meninju bagian muka salah seorang pentolan penyerang berpita biru. Kemudian diiringi dengan lemparan batu dan benda-benda lainnya. Sebelumnya, ajakan Suparta untuk berdialog dibalas dengan sabetan clurit, sehingga Suparta harus dirawat di rumah sakit dengan sejumlah jahitan.
Kekerasan yang dilakukan pihak Ahmadiyah terhadap Suparta membuahkan kekerasan yang lebih keras lagi. Ujang, adik Suparta tidak tinggal diam kakaknya jadi korban kekerasan Ahmadiyah. Ia dan sejumlah temannya melakukan aksi balasan. Maka, terjadilah kasus 6 Februari 2011, dengan menghasilkan tiga korban nyawa melayang dari pihak Ahmadiyah.
Boleh jadi, bagi Ahmadiyah, pengorbanan tiga nyawa anggota mereka sangat sebanding dengan hasil yang diraihnya yaitu simpati masyarakat luas hingga manca negara. Apalagi, pihak Ahmadiyah sudah mempersiapkan diri dengan sistem pendokumentasian video yang cukup terlatih. Apalagi ada dukungan dari Andreas Harsono dari HRW (Human Right Watch) yang mengunggah (upload) file digital kasus kekerasan itu ke media publik You Tube, terutama bagian-bagian yang menguntungkan Ahmadiyah.
Dalam tempo singkat, umat Islam jadi tertuduh. Sementara itu, Ahmadiyah yang sesat dan menyesatkan ini –atas rekayasa licik tersebut– berada dalam posisi yang patut dikasihani, karena telah menjadi korban kekerasan Islam garis keras. Maka, laron-laron AKKBB pun beterbangan menyampaikan opini yang ngawur dan tendensius.
Bila boleh berandai-andai, seandainya Suparta tidak dibacok oleh pihak Ahmadiyah, boleh jadi kekerasan tidak timbul sebegitu. Tapi, kemungkinan pengorbanan itu sudah diperkirakan pihak Ahmadiyah. Bagi mereka, itu merupakan bentuk kongkrit “jihad” membela agamanya, keyakinannya terhadap nabi palsu Mirza Ghulam Ahmad sang pendusta. Mereka merasa mati syahid. Padahal, tidak ada mati syahid dalam membela kesesatan, dalam membela nabi palsu.
Kasus Cikeusik rupanya telah dijadikan semacam inspiring moment bagi sebagian kalangan. Misalnya, kalangan syi’ah. Kasus penyerangan Pesantren Yapi, Pasuruan, Jawa Timur salah satu wujud kongkritnya. Menurut Munir Shohih Sekretaris Ahlussunah wal Jama’ah (Aswaja), ketika sekitar seratus jamaah Aswaja usai menghadiri undangan maulud Nabi di Singosari, mereka melintas di depan Pesantren Yapi. Tiba-tiba iring-iringan jama’ah Aswaja ini dilempari batu yang berasal dari dalam Pesantren Yapi. Maka terjadilah aksi balasan.
Aksi balasan ini menjadi kian berwujud anarkis ketika satpam pada Pesantren Yapi justru membuka pintu gerbang sambil menantang: “Ayo masuk kalau berani.” Maka, para jamaah Aswaja ini pun terprovokasi, dan masuk menyerbu kawasan pesantren Yapi yang selama ini dikenal sebagai lembaga pendidikan berpaham syi’ah. (Baca artikel Syi’ah memusuhi Islam di nahimunkar.com. ternyata syi’ah itu lebih kejam terhadap Islam dibanding orang kafir sekalipun).
Sikap satpam pesantren Yapi yang membuka pintu gerbang dan “mempersilakan” jamaah Aswaja masuk, seolah-olah membuka peluang selebar-lebarnya untuk terjadinya aksi balasan yang tidak sekedar adu mulut. Dan kenyatannya, itulah yang terjadi. Maka, simpati pun mengalir, meski tidak sederas simpati yang mengalir kepada pihak Ahmadiyah pasca kasus Cikeusik. Yang jelas, umat Islam kembali jadi tertuduh. Sekelompok organisasi dikambinghitamkan bahkan diancam untuk dibubarkan.
Pola serupa juga terjadi pada kasus 1 Juni 2008, ketika iring-iringan massa AKKBB merubah rute yang telah disepakati dengan aparat kepolisian. Karena merubah rute, maka iring-iringan massa AKKBB ini berpapasan dengan iring-iringan massa Laskar Islam yang salah satu pimpinannya Munarman. Ketika itu massa AKKBB juga ingin menempati kawasan Monas yang sejak awal sudah disepakati digunakan oleh massa Laskar Islam. Terjadilah bentrokan, Ketika bentrokan terjadi, Saidiman (korlap AKKBB) mengeluarkan sumpah serapah berupa: “Dasar binatang-binatang. Islam anjing, orang Islam anjing…”
Kekerasan verbal yang diproduksi Saidiman menghasilkan balasan berupa kekerasan fisik. Dan tentu saja yang menarik perhatian media massa adalah meliput dan memblow-up kekerasan fisik yang dilakukan massa Laskar Islam. Penyebab utamanya sama sekali tidak menarik untuk diungkap atau sekedar disinggung. Begitulah watak media nasional kita yang minus pertimbangan moral di dalam menentukan angle berita.
Dalam tempo singkat, umat Islam jadi tertuduh. Pendukung kesesatan berada dalam posisi yang teraniaya dan patut didukung. Manipulasi opini seperti ini ibarat api dalam sekam yang sewaktu-waktu bisa menghasilkan kebakaran.
Merekayasa simpati dalam rangka meraih dukungan yang luas, juga menjadi semacam modus operandi bagi seseorang yang berhajat menduduki kursi number one di Indonesia. Ketika musim pemilu sudah kian dekat, ia memposisikan diri sebagai sosok yang teraniaya, terdzalimi secara politis. Pancingannya berhasil ketika salah seorang tokoh partai membalas sikapnya dengan ejekan “seperti anak kecil”. Maka, simpati pun mengalir. Hasilnya, ia mendapat dukungan suara terbanyak di antara kandidat pemimpin nasional kala itu. Hingga kini.
Rupa-rupanya, begitulah cara Ahmadiyah, Syi’ah dan para pendukung kesesatan (AKKBB) meraih dukungan. Yaitu, dengan cara merekayasa simpati, menjadikan diri sendiri sebagai korban kedzaliman yang teraniaya sembari menempatkan orang lain pada posisi yang beringas dan tidak toleran, sehingga layak dibubarkan atau dienyahkan. Namun, AllahTa’ala ora sare (tidak tidur). Becik ketitik, olo ketoro. (Perbuatan baik akan tampak, dan perbuatan jelek akan tampak pula).
Kalau di dunia ini mereka masih bisa tertawa-tawa dengan rekayasa yang mereka lakukan untuk mengusung dan membela kesesatan, maka rekayasa itu siksanya kelak tidak akan menimpa kecuali pada pembuat dan pelakunya.
وَلَا يَحِيقُ الْمَكْرُ السَّيِّئُ إِلَّا بِأَهْلِهِ [فاطر/43]
Rencana yang jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri. (QS Fathir/ 35: 43).
فَمَنْ نَكَثَ فَإِنَّمَا يَنْكُثُ عَلَى نَفْسِهِ وَمَنْ أَوْفَى بِمَا عَاهَدَ عَلَيْهُ اللَّهَ فَسَيُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا [الفتح/10]
“…maka barangsiapa yang melanggar janjinya niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri dan barangsiapa menepati janjinya kepada Allah maka Allah akan memberinya pahala yang besar.” (QS Al-Fath/ 48: 10).
Dalam hal mengingkari janji, syahadat saja oleh Ahmadiyah diingkari dan dipalsu, maka balasan siksa tentu akan menimpa mereka di akherat kelak. Demikian pula para pendukungnya, dan siapa saja yang dhalim, tentu kejahatannya itu akan menimpa mereka sendiri siksanya.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّمَا بَغْيُكُمْ عَلَى أَنْفُسِكُمْ مَتَاعَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ثُمَّ إِلَيْنَا مَرْجِعُكُمْ فَنُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ [يونس/23]
Hai manusia, sesungguhnya (bencana) kezalimanmu akan menimpa dirimu sendiri; (hasil kezalimanmu) itu hanyalah kenikmatan hidup duniawi, kemudian kepada Kami-lah kembalimu, lalu Kami kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (QS Yunus/ 10: 23).
Kalau toh mereka mendapatkan sedikit kesenangan duniawi dengan tipuan-tipuan ataupun dukungan terhadp kesesatan-kesesatan, maka itu hanyalah keni’matan duniawi yang sedikit. Sedang di akherat kelak akan menerima balasan apa yang mereka perbuat yang menyakitkan Ummat Islam, memalsu, menyesatkan, mengusungnya ataupun mendukungnya.
Jabatan ataupun harta yang diperoleh di dunia ini tidak seberapa dibanding siksa yang akan mereka derita kelak. Demikian pula simpati semu yang mereka raih dengan aneka rekayasa sekarang ini tidak seberapa dibanding siksa yang amat kerasnya di akherat kelak. Maka hendaknya mereka sadar, bertaubat, dan meninggalkan semua dusta dan kepalsuan yang memusuhi dan menghalangi Islam itu, sebelum waktu untuk bartaubat habis ketika sakaratul maut nyawa telah di tenggorokan, dan siksa yang sangat dahsyat pun sudah di depan mata.
Kerugian besar
Rekayasa Ahmadiyah mencari simpati itu hanyalah menambah kerugian besar.
1. Mengukuhkan dan melestarikan penyembahan terhadap Mirza Ghulam Ahmad. Karena syahadat yang mereka palsu maknanya itu diambil dari kitab Ahmadiyah, Tadzkirah. Sedang Tadzkirah itu memuat apa yang mereka sebut wahyu dari Allah namun isinya menuhankan Mirza Ghulam Ahmad. Yaitu Mirza Ghulam Ahmad mengaku bahwa Allah itu berasal dari Mirza Ghulam Ahmad
اَنْتَ مِنِّىْ وَاَناَ مِنْكَ
Kamu berasal dari-Ku dan Aku darimu.(Tadzkirah, halaman 436).
2. Pengakuan bahwa Tuhan itu dari diri Mirza Ghulam Ahmad adalah seperti pengakuan Fir’aun yang mengaku dirinya Tuhan yang Maha Tinggi. Dan itu mengakibatkan adzab di dunia maupun di akherat:
هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ مُوسَى (15)
إِذْ نَادَاهُ رَبُّهُ بِالْوَادِ الْمُقَدَّسِ طُوًى (16) اذْهَبْ إِلَى فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَى (17) فَقُلْ هَلْ لَكَ إِلَى أَنْ تَزَكَّى (18) وَأَهْدِيَكَ إِلَى رَبِّكَ فَتَخْشَى (19) فَأَرَاهُ الْآَيَةَ الْكُبْرَى (20) فَكَذَّبَ وَعَصَى (21) ثُمَّ أَدْبَرَ يَسْعَى (22) فَحَشَرَ فَنَادَى (23) فَقَالَ أَنَا رَبُّكُمُ الْأَعْلَى (24) فَأَخَذَهُ اللَّهُ نَكَالَ الْآَخِرَةِ وَالْأُولَى (25) إِنَّ فِي ذَلِكَ لَعِبْرَةً لِمَنْ يَخْشَى [النازعات/15-26]
15. Sudah sampaikah kepadamu (ya Muhammad) kisah Musa.
16. Tatkala Tuhannya memanggilnya di lembah suci ialah Lembah Thuwa;
17. “Pergilah kamu kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas,
18. dan katakanlah (kepada Fir’aun): “Adakah keinginan bagimu untuk membersihkan diri (dari kesesatan).”
19. Dan kamu akan kupimpin ke jalan Tuhanmu agar supaya kamu takut kepada-Nya?”
20. Lalu Musa memperlihatkan kepadanya mukjizat yang besar.
21. Tetapi Fir´aun mendustakan dan mendurhakai.
22. Kemudian dia berpaling seraya berusaha menantang (Musa).
23. Maka dia mengumpulkan (pembesar-pembesarnya) lalu berseru memanggil kaumnya
24. (Seraya) berkata:”Akulah tuhanmu yang paling tinggi.”
25. Maka Allah mengazabnya dengan azab di akhirat dan azab di dunia.
26. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang yang takut (kepada Tuhannya). 
(QS An-Nazi’at/79: 15-26).
3. Adzab di akherat mengepung pemimpin yang mengaku dirinya Tuhan dan pengikutnya.
3. وَحَاقَ بِآَلِ فِرْعَوْنَ سُوءُ الْعَذَابِ (45) النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ أَدْخِلُوا آَلَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ (46) وَإِذْ يَتَحَاجُّونَ فِي النَّارِ فَيَقُولُ الضُّعَفَاءُ لِلَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا إِنَّا كُنَّا لَكُمْ تَبَعًا فَهَلْ أَنْتُمْ مُغْنُونَ عَنَّا نَصِيبًا مِنَ النَّارِ (47) قَالَ الَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا إِنَّا كُلٌّ فِيهَا إِنَّ اللَّهَ قَدْ حَكَمَ بَيْنَ الْعِبَادِ [غافر/45-48]
“…dan Fir’aun beserta kaumnya dikepung oleh azab yang amat buruk.
46. Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang[1324], dan pada hari terjadinya Kiamat. (Dikatakan kepada malaikat): “Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras.”
[1324]. Maksudnya: dinampakkan kepada mereka neraka pagi dan petang sebelum hari berbangkit.
47. Dan (ingatlah), ketika mereka berbantah-bantah dalam neraka, maka orang-orang yang lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri: “Sesungguhnya kami adalah pengikut-pengikutmu, maka dapatkah kamu menghindarkan dari kami sebahagian azab api neraka?”
48. Orang-orang yang menyombongkan diri menjawab: “Sesungguhnya kita semua sama-sama dalam neraka karena sesungguhnya Allah telah menetapkan keputusan antara hamba-hamba-(Nya).” 
(QS Mu’min/ Ghafir/ 40:45-48).
Kerugian besar bagi pendukung dan pembela Ahmadiyah
1. Para pendukung dan pembela Ahmadiyah sangat rugi besar, karena berarti mereka sadar atau tidak sejatinya sama dengan mengiklankan diri bahwa diri mereka adalah sangat sesat sebagaimana Ahmadiyah yang mereka dukung.
Ketika mereka (pentolan-pentolan NU, LSM, Liberal, sepilis –sekuleris, pluralis agama dan liberalis, sebagian pejabat-pejabat, AKKBB dan kaum munafiqin) tadinya saat belum mendukung Ahmadiyah, mereka masih belum tampak secara jelas kesesatannya. Namun begitu mereka membela Ahmadiyah, maka jelaslah kesesatan mereka. Hingga orang awam pun (bila teguh Islamnya) maka faham betul bahwa ternyata mereka sesat.
2. Upah yang mereka terima di dunia ini, atau kedudukan yang mereka pertahankan, sama sekali tidak sebanding dengan dahsyatnya ancaman neraka kelak di Akherat. Karena sebagai pendukung kesesatan apalagi nabi palsu seperti Ahmadiyah itu, pendukungnya sangat diancam keras.
Mengenai pembela nabi palsu (terkena juga bagi orang yang membela pengikut nabi palsu, seperti membela Ahmadiyah hakekatnya membela nabi palsu pula), dalam Musnad Al-Humaidi diriwayatkan:
3. – حَدَّثَنَا الْحُمَيْدِىُّ قَالَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ قَالَ حَدَّثَنَا عِمْرَانُ بْنُ ظَبْيَانَ عَنْ رَجُلٍ مِنْ بَنِى حَنِيفَةَ أَنَّهُ سَمِعَهُ يَقُولُ قَالَ لِى أَبُو هُرَيْرَةَ : أَتَعْرِفُ رَجَّالاً؟ قُلْتُ : نَعَمْ. قَالَ : فَإِنِّى سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ :« ضِرْسُهُ فِى النَّارِ أَعْظَمُ مِنْ أُحُدٍ ». فَكَانَ أَسْلَمَ ثُمَّ ارْتَدَّ وَلَحِقَ بِمُسَيْلِمَةَ.)مسند الحميدي – مكنز – (3 / 409)(
Dari Imran bin Dhabyan dari seorang dari Bani Hanifah (suku yang ada nabi palsunya, Musailimah Al-Kadzdzab) bahwa ia mendengarnya, dia berkata, Abu Hurairah berkata kepadaku: Kenalkah kamu (seorang bernama) Rajjal? Aku jawab: ya. Dia (Abu Hurairah) berkata: Sesungguhnya aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Gigi gerahamnya (Ar-Rajjal) di dalam neraka lebih besar daripada Gunung Uhud”. Dia dulunya masuk Islam kemudian murtad dan bergabung dengan Musailimah (Nabi palsu). (Musnad Al-Humaidi).
Para pembela nabi palsu diancam siksa neraka sangat dahsyat. Termasuk para pembela Ahmadiyah pada hakekatnya adalah pembela nabi palsu, karena Ahmadiyah adalah pengikut nabi palsu Mirza Ghulam Ahmad.
Saef bin Umar meriwayatkan dari Thulaihah dari Ikrimah dari Abu Hurairah dia berkata, “Suatu hari aku duduk di sisi Rasulullah bersama sekelompok orang, di tengah kami hadir Ar-Rajjal bin Anfawah. Nabi bersabda,
4. إنفيكم لرجلا ضِرْسُهُ فِى النَّارِ أَعْظَمُ مِنْ أُحُدٍ
“Sesungguhnya di antara kalian ada seseorang yang gigi gerahamnya di neraka lebih besar dari Gunung Uhud.”
Kemudian aku (Abu Hurairah) perhatikan bahwa seluruh yang dulu hadir telah wafat, dan yang tinggal hanya aku dan Ar-Rajjal. Aku sangat takut menjadi orang yang disebutkan oleh Nabi tersebut hingga akhirnya Ar-Rajjal keluar mengikuti Musailimah dan membenarkan kenabiannya. Sesungguhnya fitnah Ar-Rajjal lebih besar daripada fitnah yang ditimbulkan oleh Musailimah.” Hal ini diriwayatkan oleh Ibnu Is-haq dari gurunya, dari Abu Hurairah ra. (Lihat Ibnu Katsir,Al-Bidayah wan-Nihayah, dalam bahasan nabi palsu Musailimah Al-Kadzdzab, atau lihat buku Hartono Ahmad Jaiz,Nabi-nabi Palsu dan Para Penyesat Umat,Pustaka Al-Kautsar, Jakrta, 2007, bab Nabi Palsu Musailimah Al-Kadzdzab).
Bagi yang bukan Ahmadiyah, kasus ini adalah ujian bagi Ummat, mau jadi munafiq alias kufur yang membela Ahmadiyah pemalsu Islam atau tetap mu’min dengan membela Islam. Juga pelajaran bagi Ummat Islam yang teguh bahwa mereka yang mengaku sebagai Muslim, baik jembel maupun tokoh bahkan bersorban atau berjulukan ulama atau kyai atau duduk di ormas yang ada lafal ulama-nya namun belum tentu pengakuannya itu benar sesuai dengan Islam. Bahkan ada yang lebih cinta kepada pemalsu Islam daripada Islam yang dipeluknya. Hingga terhadap pemalsu Islam, mereka keberatan kalau disebut sesat atau dilarang, namun terhadap yang memurnikan Islam sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan pemahaman salafus shalih justru dianggap berbahaya dan bahkan sesat.
Sikap seperti itu (kepada Ahmadiyah mereka membela dengan aneka cara, termasuk tak rela Ahmadiyah dibubarkan; namun kepada yang menegakkan sunnah atau syari’ah maka mereka memusuhi) pada dasarnya mereka hampir sama dengan Ahmadiyah pemalsu Islam itu sendiri, makanya mereka lebih nyaman bersama pendusta-pendusta agama itu. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun. Itulah pada dasarnya musuh-musuh Islam namun mengaku Muslim.
Pantas saja, Ahmadiyah yang memalsu Islam itu banyak pembelanya di sini. Lha wong jeroan mereka –hinga lego lilo / tulus ikhlas membela pengikut nabi palsu– kurang lebihnya seperti itu. Laa haula walaa quwwata illaa billaah. Tiada daya (untuk melaksanakan perintah-perintah Allah) dan tiada kekuatan (untuk menjauhi larangan-Nya) kecuali karena Allah.
*Hartono Ahmad Jaiz dan Hamzah Tede, penulis buku Kuburan-Kuburan Keramat di Nusantara, insya Allah dibedah di IBF Senayan Jakarta, Ruang Anggrek, Kamis 10 Maret 2011 jam 13.00. 

Tak Nyaman Selama di Ahmadiyah

Sabtu 26 Mar 2011 22:50 WIB
Rep: Riga Nurul Iman/ Red: Johar Arif
Anggota Jemaat Ahmadiyah Indonesia (kedua dari kanan) berpelukan dengan warga usai mengucapkan dua syahadat di Ciaruteun, Cibungbulang, Bogor, Selasa (15/3).

REPUBLIKA.CO.ID-Langkah sejumlah warga penganut Ahmadiyah untuk kembali ke ajaran Islam marak di sejumlah wilayah di Jawa Barat termasuk di Kabupaten Sukabumi. Ada yang dilakukan secara terang-terangan dan sisanya digelar tanpa ada publikasi.
Aksi tersebut berlangsung beberapa hari setelah keluarnya Peraturan Gubernur (Pergub) Jawa Barat Nomor 12 Tahun 2011. Turunnya Pergub langsung ditindaklanjuti dengan keluarnya Peraturan Bupati (Perbup) Sukabumi Nomor 300 tahun 2011 tentang Larangan Kegiatan Ahmadiyah yang dikeluarkan 17 Maret lalu.
Mereka yang mengikrarkan diri kembali ke Islam, rata-rata sudah tidak nyaman lagi menganut ajaran Ahmadiyah. Para penganut Ahmadiyah yang tobat bervariasi. Ada yang sudah puluhan tahun menjadi pengikut Ahmadiyah, sampai yang baru taraf mempelajari ajaran yang dibawa oleh Mirza Ghulam Ahmad lebih dari seratus tahun lampau di anak benua India.
Misalnya Hasanudin (45 tahun), warga Kampung Baeud, Kecamatan Warungkiara, Kabupaten Sukabumi. Ia bersama dengan 17 warga lainnya dari empat kecamatan di Sukabumi menggelar ikrar kembali ke Islam di Gedung Dakwah dan Islamic Center Kabupaten Sukabumi, pada Rabu (16/3) pekan lalu. Mereka datang ke sana karena ingin mendapatkan pembinaan dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan pihak terkait lainnya.
Warga Ahmadiyah yang tobat berasal dari Kecamatan Warungkiara, Kecamatan Cibadak, Kecamatan Parakansalak, dan Kecamatan Jampang Tengah. Hasanudin mengungkapkan, sudah selama 20 tahun berada di Ahmadiyah. Selama puluhan tahun tersebut dia tidak merasakan kenyamanan. Ia berharap bisa menemukan ketenangan setelah kembali ke Islam. ''Saya secara sadar dan tanpa paksaan kembali ke Islam,'' kata Hasanudin dengan penuh keyakinan.
Pernyataan serupa disampaikan oleh tetangganya di Kampung Baeud, Wawan Irwansyah (47). Wawan yang sudah selama 19 tahun menganut Ahmadiyah, awalnya hanya diajak oleh temannya. Kini, Wawan telah berikrar kembali ke Islam karena merasakan tidak tentram di aliran tersebut. Selain mereka, ada warga Ahmadiyah lainnya yang baru menganut selama satu tahun.
''Setelah satu tahun baru merasakan ada yang tidak sesuai,'' cetus Suparman (40), warga Warungkiara. Diakuinya, dia hanya ingin mengetahui dan mempelajari ajaran Ahmadiyah saja.
Sementara itu, Sekretaris Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Sukabumi UK Anwarudin menyatakan, MUI siap melakukan pembinaan warga Ahmadiyah yang tobat. Diantaranya berupa program komprehensif seperti pengajian dan pertemuan rutin dengan mantan Ahmadiyah.
Bupati Sukabumi, Sukmawijaya mengatakan, penerbitan Perbup sebagai upaya untuk mengantisipasi terjadinya kekerasan karena kegiatan Ahmadiyah di daerah seringkali memicu konflik dengan masyarakat sekitar. Ketentuan Perbup, kata Sukmawijaya memperkuat isi ketentuan dalam Pergub Jawa Barat dan Surat Keputusan Bersama tiga menteri yaitu melarang penganut Ahmadiyah melakukan kegiatan penyebaran ajaran Ahmadiyah secara tulisan, lisan, ataupun melalui media elektronik.
Selain di Sukabumi, aksi kembali ke ajaran Islam juga berlangsung di Cianjur .Jumlah warga Ahmadiyah yang tobat jumlahnya mencapai sekitar 26 orang. Ketua Umum DPP Gerakan Reformis Islam (Garis) Chep Hernawan menuturkan, langkah kembali ke Islam dilakukan setelah mereka mendapatkan pembinaan dari semua pihak yang terkait.
Terlebih upaya pembinaan telah dilakukan secara terus menerus oleh Badan Koordinasi Pengawas Aliran Kepercayaan Masyarakat (Bakor Pakem) Kabupaten Cianjur. Di antaranya dengan melakukan shalat Jumat bersama di Masjid Ahmadiyah. Meskipun pelaksanaanya belum disambut dengan baik oleh warga Ahmadiyah. Seperti juga yang terjadi di Kabupaten Majalengka. Warga Ahmadiyah mendirikan shalat Jumat sendiri usai warga lain merampungkannya.
Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan mengakui Pergub itu memang tak sempurna. Namun, sejak peraturan itu dikeluarkan 3 Maret lalu, Heryawan mengklaim sudah ada sekitar 500 penganut Ahmadiyah yang kembali ke Islam.
''Efek dari pergub itu saya akui ada satu-dua yang negatif tapi kalau jamaah Ahmadiyah yang kembali ke Islam sudah ada sekitar 500 orang. Meski jumlah ini perlu didata lebih lanjut,'' kata Heryawan, Kamis (24/3).
Total jumlah penganut Ahmadiyah di Jawa Barat sendiri diperkirakan mencapai 18 ribu orang, terbesar di seluruh Indonesia dari segi provinsi. Kelompok Ahmadiyah terbesar berada di wilayah Kabupaten Kuningan dengan jumlah lebih dari tiga ribu orang. Meskipun Pergub itu berisi larangan kegiatan Ahmadiyah, Heryawahn tetap menjamin keamanan jemaat Ahmadiyah yang belum kembali ke Islam. ''Keamanan mereka harus dijamin sebagai warga negara,'' ujarnya

https://republika.co.id/berita/nasional/umum/11/03/26/lio9br-tak-nyaman-selama-di-ahmadiyah

Nur Wahid Imbau Warga Ahmadiyah Kembali ke Islam

Jumat 04 Mar 2011 17:06 WIB Red: taufik rachman
REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA--Mantan Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Hidayat Nur Wahid mengimbau jamaah Ahmadiyah untuk kembali ke jalur agama Islam yang benar agar tidak ada lagi penolakan dari umat Islam.

"Kalau memang masih mau beragama Islam, kembali lah pada agama Islam yang merupakan "mainstream" di Indonesia, dengan kitab suci Al Quran dan nabinya Muhammad. Tidak ada nabi setelah itu. Mirza Ghulam Ahmad barangkali hanya seorang pemimpin ormas, seperti pemimpin ormas yang lain," kata Hidayat usai menjadi Khotib dan Imam Shalat Jumat di Masjid Darut-Taqwa Wisma ANTARA Jakarta.
Namun, lanjut dia, bila jamaah Ahmadiyah menyatakan Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabinya, maka mereka bebas menyatakan bahwa mereka tidak lagi beragama Islam. Seperti, di Pakistan mereka tidak lagi menyebut dirinya Islam.
Penolakan tentang keberadaan Ahmadiyah di Indonesia sudah jelas, di mana MUI telah menyatakan bahwa Ahmadiyah sesat. Bahkan, Kementerian Agama, Kejaksaan Agung juga mengatakan hal yang sama dengan dikeluarkannya SKB tiga menteri. "Permasalahan ini, saya rasa harus ada eksekusinya. Eksekusinya bukan dengan membakar, memburu dan lainnya tapi melalui penegakan hukum," katanya.
Menurut Hidayat, aturan hukum di Indonesia sudah sangat jelas, bila dirujuk pada UU tentang hak azasi manusia (HAM), yakni memberikan kebebasan warganya untuk beragama dan berkeyakinan sesuai dengan ajaran agamanya itu.
"Tapi, bukan berarti kebebasan tersebut untuk merusak ajaran agama Islam. Islam agamanya sudah jelas, nabinya Muhammad, kitabnya adalah Al Quran. Jadi kalau ada yang mengaku punya nabi yang lain, selain Muhammad dan memiliki kitab suci selain AlQuran. Itu merusak agama Islam," paparnya.
Menurut dia, jemaah Ahmadiyah tidak bisa melakukan hal itu karena bertentangan dengan HAM. Kalau pun kita dilogikakan menghormati hak azasi minoritas, apakah artinya kita boleh melukai, mencederai dan menggusur hak-hak mayoritas? HAM mayoritas juga harus dilindungi," ujar Hidayat.
Dengan dasar itu, maka eksekusinya adalah jamaah Ahmadiyah harus memilih salah satu alternatif yang diberikannya.
"Alternatif pertama, mereka kembali kepada Islam. Alternatif kedua, mereka menyatakan bahwa mereka tidak beragama Islam," katanya seraya menegaskan terserah mereka pilih yang mana.
Hidayat mengatakan, bila jamaah Ahmadiyah selalu mengaku beragama Islam, namun memiliki akidah yang berbeda, maka bertentangan dengan UUD 1945.
"UUD 1945 tidak memberikan kebebasan untuk merusak agama orang lain dan mencederai agama orang lain. Kalau mereka punya agama lain, maka jangan kait-kaitkan dengan Islam. Mereka akan terkena UU tentang penistaan agama," katanya.
sumber : antara

https://republika.co.id/berita/regional/nusantara/167502/breaking-news/nasional/11/03/04/167457-nur-wahid-imbau-warga-ahmadiyah-kembali-ke-islam

Mantan Dai Ahmadiyah: Mirza Ghulam Ahmad Bukan Nabi

Rabu 12 Mar 2014 17:48 WIB
Rep: Riga Nurul Iman/ Red: A.Syalaby Ichsan
REPUBLIKA.CO.ID, SUKABUMI -- M Rusli Salim, mantan dai Ahmadiyah, tampak tersenyum lepas setelah melakukan syahadat kembali ke Islam, pada Rabu (12/3) siang.
Ia melakukan ikrar kembali ke Islam di Gedung Pendopo Negara Kabupaten Sukabumi di hadapan para ulama dan pejabat Pemkab Sukabumi. "Mirza Ghulam Ahmad bukan nabi,’’ ujar Salim mantap. Menurut dia, selepas Nabi Muhammad Saw tidak ada lagi nabi.
Hal ini kata Salim, menyebabkan dia memilih keluar dari Ahmadiyah. Padahal, dia sudah menjadi pengikut Ahmadiyah selama 13 tahun. Bahkan, dia menjadi dai yang mengajak orang untuk masuk Ahmadiyah.
Salim mengatakan, saat ini istrinya tengah menjalankan umroh. "Sebelum berangkat istri saya menyatakan tidak percaya Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi,’’ ujar dia. Setelah pulang dari umrah, Salim akan mengajak istrinya untuk keluar dari Ahmadiyah.
Selama menjadi dai Ahmadiyah, ujar Salim, dia berhasil mengajak sejumlah orang untuk masuk Ahmadiyah. Dari pengakuannya ada yang berpangkat cukup tinggi di instansi tertentu dan ada yang ustaz. Kini, ia berkeinginan mencari mereka untuk dibawa kembali ke ajaran Islam yang benar.

https://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/14/03/12/n2bkob-mantan-dai-ahmadiyah-mirza-ghulam-ahmad-bukan-nabi?PageSpeed=noscript

Mengenali Kesesatan Ahmadiyah

Kamis 03 Apr 2014 18:02 WIB
Rep: Ahmad Islamy Jamil/ Red: Chairul Akhmad
Khazanah Republika
Oleh: KH Athian Ali Dai

Semua ulama di dunia sepakat, Ahmadiyah adalah suatu kelompok di luar Islam. Keputusan ini semakin diperkuat dengan fatwa Rabithah Alam al-Islami (Liga Dunia Muslim).
Setidaknya, ada dua hal yang membuat ajaran Ahmadiyah menyimpang dari akidah Islam. Pertama, kelompok ini meyakini adanya nabi setelah Muhammad SAW, yakni Mirza Ghulam Ahmad.
Padahal, Allah telah menjelaskan bahwa Rasulullah SAW adalah nabi terakhir. Ada banyak dalil yang menegaskan hal ini. Salah satunya adalah Alquran surah al-Ahzab ayat 40. “Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, melainkan dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”
Selanjutnya, Ahmadiyah juga mempunyai kitab suci selain Alquran yang disebut Tadzkirah. Padahal, Allah juga telah menyatakan, Islam adalah agama yang sempurna, sehingga tidak ada lagi kitab suci sesudah Alquran.
“Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS al-Maidah: 3)
Berdasarkan dua catatan di atas, maka Ahmadiyah telah menyalahi hal-hal yang sangat prinsip dalam akidah Islam. Mereka sebenarnya telah memiliki agama baru, yakni agama Ahmadiyah.
Namun, yang membuat umat Muslim keberatan, termasuk di Indonesia, kelompok ini masih saja menggunakan atau membawa-bawa nama Islam dalam berbagai pergerakannya. Ini jelas sesat dan menyesatkan.
Bila ditelusuri dari fakta sejarahnya, kita bisa memahami bahwa agama Ahmadiyah memang sengaja diciptakan oleh imperialis Inggris untuk dijadikan sebagai alat pemecah belah umat Islam di India. Kepentingan kaum penjajah tersebut kala itu sudah jelas, yakni untuk meredam perlawanan pejuang Muslim dan melanggengkan kekuasaan mereka di anak benua Asia tersebut.
Sampai sekarang, kekuatan politik imperialis Inggris terus menjaga kelangsungan Ahmadiyah, sehingga ajaran sesat ini menyebar sampai ke Indonesia. 
Beberapa tahun lalu, sempat ada desakan yang luar biasa dari Majelis Ulama Indonesia (MUI), juga umat Islam di Tanah Air, agar pemerintah segera membubarkan Ahmadiyah.
Namun, saat itu pemerintah kita sepertinya kesulitan untuk mengambil sikap tegas. Belakangan, terungkap bahwa  ternyata ada kekuatan asing yang menginginkan Ahmadiyah tetap eksis di Indonesia.
Salah seorang pejabat tinggi di Kementerian Agama yang kini menjabat sebagai Wakil Menag mengatakan, ada empat negara yang saat itu sengaja mengintervensi pemerintah RI terkait masalah ini. Mereka tidak ingin Ahmadiyah di Indonesia dibubarkan. Di antara negara-negara itu adalah Inggris, AS, dan Kanada. Sementara, negara yang satunya lagi dia tidak ingat namanya.
Jadi, semakin jelas bahwa berbagai kelompok atau aliran sesat yang sampai hari ini masih eksis di Indonesia, bisa bertahan karena memang ada kekuatan politik yang mendukung mereka. Baik itu kekuatan politik yang berasal dari dalam maupun luar negeri.
Apalagi jika penyokong kelompok-kelompok tersebut juga punya pengaruh besar di pentas dunia, maka itu akan semakin mempersulit pemerintah kita untuk mengambil sikap.
Melihat kondisi riil di atas, maka apa yang bisa dilakukan umat Islam agar tidak disesatkan oleh paham Ahmadiyah? Hal pertama tentu kita harus memperdalam ilmu-ilmu Islam untuk mempertebal akidah. Kedua, para ulama dan dai juga punya kewajiban untuk menjelaskan kepada umat tentang prinsip-prinsip ajaran Ahmadiyah yang menyimpang.
Ahmadiyah awalnya memang didirikan di India pada abad ke-19. Namun, keyakinan tersebut kini sudah merambah hingga ke berbagai penjuru dunia. Beberapa kalangan ada yang membagi kelompok menjadi dua aliran, yakni Ahmadiyah Qadian dan Lahore.
Apa pun nama mereka, keduanya tetap sama-sama menganggap Mirza Ghulam Ahmad sebagai Imam Mahdi dan Isa yang turun di akhir zaman.

https://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/benteng-akidah/14/04/04/n3gc01-mengenali-kesesatan-ahmadiyah

Kisah Jemaah Ahmadiyah yang Kembali ke Pangkuan Islam

Menteri Agama Suryadharma Ali (tengah), berbincang dengan para ulama usai acara mantan jemaah Ahmadiyah mengucapkan kalimat syahadat untuk bertaubat dan masuk ajaran Agama Islam, di Mesjid Agung Baiturrohman, Singaparna, Tasikmalaya Jabar, Senin (20/5).
Selasa 21 May 2013 09:11 WIB
Red: Heri Ruslan
REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Nashih Nashrullah
Khazanah

Rani Rahmawati, kini merasa lega pascakeputusannya keluar dari Ahmadiyah. Ibu dari satu anak ini, sejak kecil telah mengikuti ajaran yang didakwahkan oleh Mirza Ghulam Ahmad itu.
Di wilayah tempat tinggalnya, Cetenggek, Kutawaringin, Salawu Tasikmalaya, Jawa Barat, nyaris sebagian besar penduduknya adalah Ahmadi, sebutan bagi pengikut Ahmadiyah. 
Keluarga besar Rani pun mulai kakek hingga buyutnya, termasuk panganut tulen aliran yang 'menabikan' Ghulam Ahmad tersebut. "Lebih plong sekarang," tutur perempuan berusia 26 tahun ini kepada Republika di Masjid Agung Baiturrahman, Senin (20/5).
Dengan bahasa Indonesianya yang terbata-bata, Rani, mengisahkan pengalamannya selama 26 tahun bergabung di Ahmadiyah. Dirinya mengaku hanya ikut-ikutan. Tanpa menyadari sejauhmana penyimpangan aliran yang bermarkas di London, Inggris itu. Jamaah mesti diwajibkan membaca bacaan, layaknya shalawat, dalam bahasa Urdu. Soal arti, sama sekali ia tak mengerti. 
"Pokoknya teh suruh baca saja," papar Rani dengan dialek Sundanya yang kental. Ia mesti pula menelaah Tadzkirah, kompilasi wasiat Mirza Ghulam yang maknanya sama sekali tak ia pahami. 

Soal ibadah, ujarnya, memang tak ada beda. Mereka juga shalat lima waktu, seperti non-Ahmadi. Hanya, perempuan diwajibkan menunaikah Shalat Jumat di Masjid Ahmadiyah. Jemaah Ahmadi dilarang shalat di masjid yang bukan sealiran dengan Ahmadiyah.  Para Ahmadi tidak boleh bermakmum shalat di belakang imam non-Ahmadi. 
Jika sebaliknya, menjadi imam bagi mereka yang di luar Ahmadiyah, maka tak jadi masalah. Terkait ibadah, memang kesan ekslusif begitu kentara. Tetapi, menyangkut interaksi dan muamalat, tak ada aturan ketat. Pergaulan antarsesama warga Ahmadi dan non-Ahmadi, mengalir seperti biasa. Tak tersekat akidah.
Sampai detik ini pula, ia belum tahu persis, peruntukkan sumbangan wajib rutin bisa pekanan dan bulanan yang diberlakukan untuk jemaah Ahmadi. Besaran infak, sesuai kemampuan. Ada istilah infak takrik jadid dan candah 'aam. 
Rani, memang terbilang 'kader' tulen. Sosok yang sekarang mengajar di Paud Bahrussalam, Kotawaringin ini, pernah bersekolah di SMA Al-Wahid, sekolah menengah Ahmadiyah terbesar di Tanah Air yang terletak di Tenjowaringin, Selawu. Konon, di lokasi yang sama, ratusan Ahmadi dari dalam dan luar negeri sering menggelar hajatan skala internasional. Ia pun mengaku kurang paham, perhetalan jenis apa yang berlangsung. 
Doktrin demi doktrin ideologi yang menancap sedari kecil, tak bisa mengikis hati kecil Rani, lambat laun ia merasa kurang cocok. Dorongan untuk keluar dari lilitan dan jerat Ahmadiyah perlahan kian memuncak, hingga pada 2006, ia memutuskan berikrar syahadat kembali. Rasa tenang pun kini bisa ia nikmati, tanpa ada beban dan harus bersitegang ideologi dengan kebanyakan Muslim. "Dulu rasanya seperti diperbudak," ketusnya.
Tak banyak kisah yang diutarkan Taryan. Ayah kandung Rani ini mengaku, keluarga besar Taryan dan kesembilan saudara kandungnya, semenjak kecil, mengikuti jejak buyut menganut Ahmadiyah. Sebagian besar penduduk yang berprofesi sebagai buruh dan tani, maklum kurang tersentuh pendidikan dan dakwah Islam yang integral. Ini pula yang menjadi sebab mudahnya keterpengaruhan mereka pada Ahmadiyah.
Belakangan, Taryan sadar, ada yang janggal dari aliran yang ia dan keluarganya yakini selama ini. Sebut saja soal infak dan donasi. Sedikit sekali pemanfaatannya untuk dhuafa, ada tetapi hanya sekian persen. Sebagian besar entah kemana. Tampaknya, untuk membiayai operasional Ahmadiyah. Mulai dari gaji mubalig hingga biaya kelangsungan lembaga. Dirinya tak habis pikir, semestinya infak itu, diprioritaskan untuk kalangan tak mampu. Seperti tuntunan Islam, bahwa zakat dan infak itu untuk delapan asnaf (mustahik zakat).
"Ibu saya yang dhuafa saja tidak pernah dikasih,"ujarnya.
Taryan yang berprofesi sebagai pegawai negeri sipil ini mengaku, awalnya ragu bahkan enggan undur diri dari Ahmadiyah. Apalagi kedua orangtunya, kala itu penganut konservatif Ahmadiyah. Bila ia beranjak, lantas bagaimana nasib ikatannya sebagai anak kepada orang tuanya?
Sangat dilematis. Hingga akhirnya, ia mengetahui bahwa akidah tak ada daya tawar dan sangkut paut, dan bukan soal  enak atau tidak enak dengan orang tua. Ramadhan 1999, ia mantap meninggalkan Ahmadiyah, sekalipun tanpa restu orang tua.
"Saya semakin yakin Ahmadiyah itu sesat,"ujarnya. Kini, bersama ratusan warga Selawu, mereka hidup terisolir, di kecamatan itu masih terdapat 4700 pengikut Ahmadiyah. Mereka yang keluar, mengalami kesulitan ekonomi. Tersingkir dari komunitas Ahmadiyah, dan mesti beradaptasi dengan lingkungan yang baru. Mereka ingin segera bangkit, mandiri ekonomi dan pendidikan. 
Dalam wadah Ikamasa (Ikatan Masyarakat Mantan Aliran Sesat Ahmadiyah), mengharapkan rangkulan segenap pihak. "Kita butuh bimbingan spiritual, ekonomi, dan pendidikan,"papar pria paruh baya ini.

https://www.republika.co.id/berita/mn4m38/kisah-jemaah-ahmadiyah-yang-kembali-ke-pangkuan-islam (accessed 7 Aug 2019)

Friday, September 6, 2019

Yunus Anis dan Ahmadiyah

Muhammad Kholid Asyadulloh

Sumber: Jawa Pos, 24 Mei 2008



Lucu dan menggemaskan! Dua kalimat ini tampaknya cukup mewakili pemerhati Muhammadiyah ketika membaca tulisan Ahmad Khoirul Fata (AKF) tentang Muhammadiyah dan Ahmadiyah (Jawa Pos, 28/4). Lucu, karena tulisan itu menunjukkan betapa minimnya pengetahuan sang penulis tentang ke-Muhammadiyah-an. Menggemaskan, karena AKF telah mendistorsi ketokohan salah satu besar Muhammadiyah KH. M. Yunus Anis, sebagai penganut Ahmadiyah.
Namun, di situlah mungkin terletak kelebihan sekaligus kekurangan AKF dalam melihat dan membaca (tokoh) Muhammadiyah. Saat menanggapi tulisan Asvi Warman Adam Belajar dari Sejarah Ahmadiyah (Jawa Pos, 24/04/08), dia menyimpulkan kalau Asvi hanya menyampaikan fakta sejarah yang sepenggal. Untuk memperkuat argumentasinya, Koordinator Jaringan KB Muda PII Jawa Timur itu menulis "beberapa literatur justru menunjukkan" berbagai kesalahan Asvi.
Sayangnya, pembaca harus terbohongi oleh kata "beberapa literatur" sebagaimana yang dijanjikan AKF. Sebab, dari awal hingga tulisan berakhir ternyata tidak ada literatur lain yang disebutkan, kecuali hanya Peladjaran Agama Islam karya Buya HAMKA. Yang lebih hebat lagi, tulisan AKF adalah rangkuman dari 11 halaman salah satu bab yang membahas Ahmadiyah-Bahai. Luar biasa bukan?
Fatalnya lagi, AKF membuat rumor yang menyatakan KH. M. Yunus Anis sebagai pengikut Ahmadiyah. Gosip ini semakin konyol ketika ulama itu merupakan salah satu korban yang dikeluarkan dari Muhammadiyah pada tahun 1927. "Dagelan" itu menunjukkan bahwa sang penulis tidak pernah melakukan konfirmasi dan konfrontasi dengan buku lain untuk melacak lebih lanjut siapakah sebenarnya Yunus Anis?
Bagi pembaca yang paham tentang kesejarahan Muhammadiyah, mereka tentu akan tertawa saat membaca tuduhan Yunus Anis sebagai penganut Ahmadiyah, apalagi dipecat dari Muhammadiyah. Sebab, siswa SD Muhammadiyah pun minimal sudah membaca riwayat hidup putra abdi dalem Kraton Yogyakarta H. M. Anis itu. Namun, bagi kalangan grass root, tuduhan itu tentu sangat mengganggu, bahkan mungkin sudah memasuki tahap meresahkan. Di manakah letak ke-Ahmadiyah-an Yunus Anis, sehingga status ke-Muhammadiyah-annya diragukan?
Dengan kata lain, lontaran AKF terhadap Yunus Anis sebagai tindakan yang sangat-sangat ceroboh. Pertama, jika mengikuti logika AKF, seharusnya nama Yunus Anis juga sudah tidak beredar di Muhammadiyah sejak dipecat pada 1927. Namun, sejarah mencatat, dan ini bisa dilihat di banyak buku ke-Muhammadiyah-an, Yunus Anis adalah Ketua (Umum) Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode 1959-1962 yang terpilih dalam muktamar ke-34 di Yogyakarta.
Lebih jauh lagi, selain dikenal sebagai muballigh, Yunus Anis lebih dikenal sebagai organisator dan administrator yang ulung. Tidak heran jika sebelum terpilih sebagai Ketua Umum PP Muhammadiyah, dia menjabat sebagai Sekretaris Umum PP dalam dua periode, yaitu 1942-1953 dan 1953-1959. Adalah sangat aneh jika sudah dikeluarkan sejak 1927, tetapi mendapatkan banyak amanah dan kepercayaan dari keluarga besar Muhammadiyah. Yang benar saja?!
Kedua, AKF menulis bahwa syariat Ahmadiyah adalah mengekalkan kolonialisme dengan melemahkan perlawanan umat Islam (jihad). Jika "kelembekan" dijadikan alasan Yunus Anis sebagai penganut Ahmadiyah, maka fakta yang paradoks akan tersuguhkan. Sebab, dialah satu-satunya Ketua Umum PP Muhammadiyah yang berlatar belakang militer, tepatnya Kepala Pusroh Angkatan Darat Republik Indonesia (Imam Tentara) sejak 1954, dengan pangkat terakhir Letnan Kolonel.
Dalam buku HM Yunus Anis, Amal, Pengabdian dan Perjuangannya, terungkap pengakuan Jendral Nasution memilih Yunus Anis masuk Angkatan Darat. Nasution ingin agama menjadi bagian hidup keseharian para prajurit, sehingga diperlukan pembinaan mental prajurit seperti yang pernah diinginkan jendral Sudirman. Yunus Anis dinilai sebagai orang yang cakap karena kedalaman ilmu agama, pengalamannya berorganisasi dan kemampuannya berkomunikasi.
Ketiga, yang perlu diketahui oleh AKF, Yunus Anis adalah orang yang berperan besar dalam membentuk karakter Muhammadiyah. Rumusan Keperibadian Muhammadiyah sebagai salah satu identitas pokok organisasi yang didirikan KH. Ahmad Dahlan itu tidak lepas dari campur tangannya saat berada di puncak Muhammadiyah. Dalam periode itu dibentuk tim perumus yang diketuai oleh KH. Faqih Usman, dan diputuskan pada pada Muktamar ke-35 tahun 1962.
Singkatnya, sejak muncul di dunia ini pada 30 Mei 1903, Yunus Anis adalah orang yang “lurus-lurus” saja. Sejak kecil dia dididik agama oleh kedua orang tuanya dan datuknya sendiri, dan melanjutkan pendidikan formalnya di Sekolah Rakyat Muhammadiyah Yogyakarta , Sekolah Al-Atas, dan Sekolah Al-Irsyad Jakarta. Semasa hidup dia banyak terjun ke masyarakat untuk mengembangkan misi dakwah dan Muhammadiyah di berbagai daerah di Indonesia .
Tidak ada yang kontroversial dalam perjalanan hidup Yunus Anis sebagai warga Muhammadiyah, terkecuali dalam dunia politik praktis. Dia mengabulkan permintaan Jenderal AH. Nasution, agar bersedia menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong (DPRGR) yang sedang disusun oleh Presiden Soekarno pada 1959. Kesediaannya menjadi anggota DPRGR mengundang banyak kritikan dari para tokoh Muhammadiyah, karena Muhammadiyah saat itu tidak mendukung kebijakan Soekarno yang membubarkan Masyumi dan menyusun anggota parlemen secara otoriter.
Namun, kritik itu dijawab bahwa keterlibatannya dalam DPRGR bukanlah untuk kepentingan politik jangka pendek, tetapi untuk kepentingan jangka panjang, yaitu mewakili ummat Islam yang nyaris tidak terwakili dalam parlemen saat itu. Sebab, Dekrit Presiden 5 Juli 1959 telah menimbulkan berbagai macam peristiwa politik yang tidak sehat, terutama dilakukan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI).
Dengan kata lain, orang Muhammadiyah 24 karat kok dituduh Ahmadiyah. Apa kata dunia?! Allah A'lam bi al-Shawab.

Diambil dari: http://muhkholidas.blogspot.com/2015/07/yunus-anis-dan-ahmadiyah.html