Saturday, September 7, 2019

Tak Nyaman Selama di Ahmadiyah

Sabtu 26 Mar 2011 22:50 WIB
Rep: Riga Nurul Iman/ Red: Johar Arif
Anggota Jemaat Ahmadiyah Indonesia (kedua dari kanan) berpelukan dengan warga usai mengucapkan dua syahadat di Ciaruteun, Cibungbulang, Bogor, Selasa (15/3).

REPUBLIKA.CO.ID-Langkah sejumlah warga penganut Ahmadiyah untuk kembali ke ajaran Islam marak di sejumlah wilayah di Jawa Barat termasuk di Kabupaten Sukabumi. Ada yang dilakukan secara terang-terangan dan sisanya digelar tanpa ada publikasi.
Aksi tersebut berlangsung beberapa hari setelah keluarnya Peraturan Gubernur (Pergub) Jawa Barat Nomor 12 Tahun 2011. Turunnya Pergub langsung ditindaklanjuti dengan keluarnya Peraturan Bupati (Perbup) Sukabumi Nomor 300 tahun 2011 tentang Larangan Kegiatan Ahmadiyah yang dikeluarkan 17 Maret lalu.
Mereka yang mengikrarkan diri kembali ke Islam, rata-rata sudah tidak nyaman lagi menganut ajaran Ahmadiyah. Para penganut Ahmadiyah yang tobat bervariasi. Ada yang sudah puluhan tahun menjadi pengikut Ahmadiyah, sampai yang baru taraf mempelajari ajaran yang dibawa oleh Mirza Ghulam Ahmad lebih dari seratus tahun lampau di anak benua India.
Misalnya Hasanudin (45 tahun), warga Kampung Baeud, Kecamatan Warungkiara, Kabupaten Sukabumi. Ia bersama dengan 17 warga lainnya dari empat kecamatan di Sukabumi menggelar ikrar kembali ke Islam di Gedung Dakwah dan Islamic Center Kabupaten Sukabumi, pada Rabu (16/3) pekan lalu. Mereka datang ke sana karena ingin mendapatkan pembinaan dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan pihak terkait lainnya.
Warga Ahmadiyah yang tobat berasal dari Kecamatan Warungkiara, Kecamatan Cibadak, Kecamatan Parakansalak, dan Kecamatan Jampang Tengah. Hasanudin mengungkapkan, sudah selama 20 tahun berada di Ahmadiyah. Selama puluhan tahun tersebut dia tidak merasakan kenyamanan. Ia berharap bisa menemukan ketenangan setelah kembali ke Islam. ''Saya secara sadar dan tanpa paksaan kembali ke Islam,'' kata Hasanudin dengan penuh keyakinan.
Pernyataan serupa disampaikan oleh tetangganya di Kampung Baeud, Wawan Irwansyah (47). Wawan yang sudah selama 19 tahun menganut Ahmadiyah, awalnya hanya diajak oleh temannya. Kini, Wawan telah berikrar kembali ke Islam karena merasakan tidak tentram di aliran tersebut. Selain mereka, ada warga Ahmadiyah lainnya yang baru menganut selama satu tahun.
''Setelah satu tahun baru merasakan ada yang tidak sesuai,'' cetus Suparman (40), warga Warungkiara. Diakuinya, dia hanya ingin mengetahui dan mempelajari ajaran Ahmadiyah saja.
Sementara itu, Sekretaris Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Sukabumi UK Anwarudin menyatakan, MUI siap melakukan pembinaan warga Ahmadiyah yang tobat. Diantaranya berupa program komprehensif seperti pengajian dan pertemuan rutin dengan mantan Ahmadiyah.
Bupati Sukabumi, Sukmawijaya mengatakan, penerbitan Perbup sebagai upaya untuk mengantisipasi terjadinya kekerasan karena kegiatan Ahmadiyah di daerah seringkali memicu konflik dengan masyarakat sekitar. Ketentuan Perbup, kata Sukmawijaya memperkuat isi ketentuan dalam Pergub Jawa Barat dan Surat Keputusan Bersama tiga menteri yaitu melarang penganut Ahmadiyah melakukan kegiatan penyebaran ajaran Ahmadiyah secara tulisan, lisan, ataupun melalui media elektronik.
Selain di Sukabumi, aksi kembali ke ajaran Islam juga berlangsung di Cianjur .Jumlah warga Ahmadiyah yang tobat jumlahnya mencapai sekitar 26 orang. Ketua Umum DPP Gerakan Reformis Islam (Garis) Chep Hernawan menuturkan, langkah kembali ke Islam dilakukan setelah mereka mendapatkan pembinaan dari semua pihak yang terkait.
Terlebih upaya pembinaan telah dilakukan secara terus menerus oleh Badan Koordinasi Pengawas Aliran Kepercayaan Masyarakat (Bakor Pakem) Kabupaten Cianjur. Di antaranya dengan melakukan shalat Jumat bersama di Masjid Ahmadiyah. Meskipun pelaksanaanya belum disambut dengan baik oleh warga Ahmadiyah. Seperti juga yang terjadi di Kabupaten Majalengka. Warga Ahmadiyah mendirikan shalat Jumat sendiri usai warga lain merampungkannya.
Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan mengakui Pergub itu memang tak sempurna. Namun, sejak peraturan itu dikeluarkan 3 Maret lalu, Heryawan mengklaim sudah ada sekitar 500 penganut Ahmadiyah yang kembali ke Islam.
''Efek dari pergub itu saya akui ada satu-dua yang negatif tapi kalau jamaah Ahmadiyah yang kembali ke Islam sudah ada sekitar 500 orang. Meski jumlah ini perlu didata lebih lanjut,'' kata Heryawan, Kamis (24/3).
Total jumlah penganut Ahmadiyah di Jawa Barat sendiri diperkirakan mencapai 18 ribu orang, terbesar di seluruh Indonesia dari segi provinsi. Kelompok Ahmadiyah terbesar berada di wilayah Kabupaten Kuningan dengan jumlah lebih dari tiga ribu orang. Meskipun Pergub itu berisi larangan kegiatan Ahmadiyah, Heryawahn tetap menjamin keamanan jemaat Ahmadiyah yang belum kembali ke Islam. ''Keamanan mereka harus dijamin sebagai warga negara,'' ujarnya

https://republika.co.id/berita/nasional/umum/11/03/26/lio9br-tak-nyaman-selama-di-ahmadiyah

Nur Wahid Imbau Warga Ahmadiyah Kembali ke Islam

Jumat 04 Mar 2011 17:06 WIB Red: taufik rachman
REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA--Mantan Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Hidayat Nur Wahid mengimbau jamaah Ahmadiyah untuk kembali ke jalur agama Islam yang benar agar tidak ada lagi penolakan dari umat Islam.

"Kalau memang masih mau beragama Islam, kembali lah pada agama Islam yang merupakan "mainstream" di Indonesia, dengan kitab suci Al Quran dan nabinya Muhammad. Tidak ada nabi setelah itu. Mirza Ghulam Ahmad barangkali hanya seorang pemimpin ormas, seperti pemimpin ormas yang lain," kata Hidayat usai menjadi Khotib dan Imam Shalat Jumat di Masjid Darut-Taqwa Wisma ANTARA Jakarta.
Namun, lanjut dia, bila jamaah Ahmadiyah menyatakan Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabinya, maka mereka bebas menyatakan bahwa mereka tidak lagi beragama Islam. Seperti, di Pakistan mereka tidak lagi menyebut dirinya Islam.
Penolakan tentang keberadaan Ahmadiyah di Indonesia sudah jelas, di mana MUI telah menyatakan bahwa Ahmadiyah sesat. Bahkan, Kementerian Agama, Kejaksaan Agung juga mengatakan hal yang sama dengan dikeluarkannya SKB tiga menteri. "Permasalahan ini, saya rasa harus ada eksekusinya. Eksekusinya bukan dengan membakar, memburu dan lainnya tapi melalui penegakan hukum," katanya.
Menurut Hidayat, aturan hukum di Indonesia sudah sangat jelas, bila dirujuk pada UU tentang hak azasi manusia (HAM), yakni memberikan kebebasan warganya untuk beragama dan berkeyakinan sesuai dengan ajaran agamanya itu.
"Tapi, bukan berarti kebebasan tersebut untuk merusak ajaran agama Islam. Islam agamanya sudah jelas, nabinya Muhammad, kitabnya adalah Al Quran. Jadi kalau ada yang mengaku punya nabi yang lain, selain Muhammad dan memiliki kitab suci selain AlQuran. Itu merusak agama Islam," paparnya.
Menurut dia, jemaah Ahmadiyah tidak bisa melakukan hal itu karena bertentangan dengan HAM. Kalau pun kita dilogikakan menghormati hak azasi minoritas, apakah artinya kita boleh melukai, mencederai dan menggusur hak-hak mayoritas? HAM mayoritas juga harus dilindungi," ujar Hidayat.
Dengan dasar itu, maka eksekusinya adalah jamaah Ahmadiyah harus memilih salah satu alternatif yang diberikannya.
"Alternatif pertama, mereka kembali kepada Islam. Alternatif kedua, mereka menyatakan bahwa mereka tidak beragama Islam," katanya seraya menegaskan terserah mereka pilih yang mana.
Hidayat mengatakan, bila jamaah Ahmadiyah selalu mengaku beragama Islam, namun memiliki akidah yang berbeda, maka bertentangan dengan UUD 1945.
"UUD 1945 tidak memberikan kebebasan untuk merusak agama orang lain dan mencederai agama orang lain. Kalau mereka punya agama lain, maka jangan kait-kaitkan dengan Islam. Mereka akan terkena UU tentang penistaan agama," katanya.
sumber : antara

https://republika.co.id/berita/regional/nusantara/167502/breaking-news/nasional/11/03/04/167457-nur-wahid-imbau-warga-ahmadiyah-kembali-ke-islam

Mantan Dai Ahmadiyah: Mirza Ghulam Ahmad Bukan Nabi

Rabu 12 Mar 2014 17:48 WIB
Rep: Riga Nurul Iman/ Red: A.Syalaby Ichsan
REPUBLIKA.CO.ID, SUKABUMI -- M Rusli Salim, mantan dai Ahmadiyah, tampak tersenyum lepas setelah melakukan syahadat kembali ke Islam, pada Rabu (12/3) siang.
Ia melakukan ikrar kembali ke Islam di Gedung Pendopo Negara Kabupaten Sukabumi di hadapan para ulama dan pejabat Pemkab Sukabumi. "Mirza Ghulam Ahmad bukan nabi,’’ ujar Salim mantap. Menurut dia, selepas Nabi Muhammad Saw tidak ada lagi nabi.
Hal ini kata Salim, menyebabkan dia memilih keluar dari Ahmadiyah. Padahal, dia sudah menjadi pengikut Ahmadiyah selama 13 tahun. Bahkan, dia menjadi dai yang mengajak orang untuk masuk Ahmadiyah.
Salim mengatakan, saat ini istrinya tengah menjalankan umroh. "Sebelum berangkat istri saya menyatakan tidak percaya Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi,’’ ujar dia. Setelah pulang dari umrah, Salim akan mengajak istrinya untuk keluar dari Ahmadiyah.
Selama menjadi dai Ahmadiyah, ujar Salim, dia berhasil mengajak sejumlah orang untuk masuk Ahmadiyah. Dari pengakuannya ada yang berpangkat cukup tinggi di instansi tertentu dan ada yang ustaz. Kini, ia berkeinginan mencari mereka untuk dibawa kembali ke ajaran Islam yang benar.

https://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/14/03/12/n2bkob-mantan-dai-ahmadiyah-mirza-ghulam-ahmad-bukan-nabi?PageSpeed=noscript

Mengenali Kesesatan Ahmadiyah

Kamis 03 Apr 2014 18:02 WIB
Rep: Ahmad Islamy Jamil/ Red: Chairul Akhmad
Khazanah Republika
Oleh: KH Athian Ali Dai

Semua ulama di dunia sepakat, Ahmadiyah adalah suatu kelompok di luar Islam. Keputusan ini semakin diperkuat dengan fatwa Rabithah Alam al-Islami (Liga Dunia Muslim).
Setidaknya, ada dua hal yang membuat ajaran Ahmadiyah menyimpang dari akidah Islam. Pertama, kelompok ini meyakini adanya nabi setelah Muhammad SAW, yakni Mirza Ghulam Ahmad.
Padahal, Allah telah menjelaskan bahwa Rasulullah SAW adalah nabi terakhir. Ada banyak dalil yang menegaskan hal ini. Salah satunya adalah Alquran surah al-Ahzab ayat 40. “Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, melainkan dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”
Selanjutnya, Ahmadiyah juga mempunyai kitab suci selain Alquran yang disebut Tadzkirah. Padahal, Allah juga telah menyatakan, Islam adalah agama yang sempurna, sehingga tidak ada lagi kitab suci sesudah Alquran.
“Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS al-Maidah: 3)
Berdasarkan dua catatan di atas, maka Ahmadiyah telah menyalahi hal-hal yang sangat prinsip dalam akidah Islam. Mereka sebenarnya telah memiliki agama baru, yakni agama Ahmadiyah.
Namun, yang membuat umat Muslim keberatan, termasuk di Indonesia, kelompok ini masih saja menggunakan atau membawa-bawa nama Islam dalam berbagai pergerakannya. Ini jelas sesat dan menyesatkan.
Bila ditelusuri dari fakta sejarahnya, kita bisa memahami bahwa agama Ahmadiyah memang sengaja diciptakan oleh imperialis Inggris untuk dijadikan sebagai alat pemecah belah umat Islam di India. Kepentingan kaum penjajah tersebut kala itu sudah jelas, yakni untuk meredam perlawanan pejuang Muslim dan melanggengkan kekuasaan mereka di anak benua Asia tersebut.
Sampai sekarang, kekuatan politik imperialis Inggris terus menjaga kelangsungan Ahmadiyah, sehingga ajaran sesat ini menyebar sampai ke Indonesia. 
Beberapa tahun lalu, sempat ada desakan yang luar biasa dari Majelis Ulama Indonesia (MUI), juga umat Islam di Tanah Air, agar pemerintah segera membubarkan Ahmadiyah.
Namun, saat itu pemerintah kita sepertinya kesulitan untuk mengambil sikap tegas. Belakangan, terungkap bahwa  ternyata ada kekuatan asing yang menginginkan Ahmadiyah tetap eksis di Indonesia.
Salah seorang pejabat tinggi di Kementerian Agama yang kini menjabat sebagai Wakil Menag mengatakan, ada empat negara yang saat itu sengaja mengintervensi pemerintah RI terkait masalah ini. Mereka tidak ingin Ahmadiyah di Indonesia dibubarkan. Di antara negara-negara itu adalah Inggris, AS, dan Kanada. Sementara, negara yang satunya lagi dia tidak ingat namanya.
Jadi, semakin jelas bahwa berbagai kelompok atau aliran sesat yang sampai hari ini masih eksis di Indonesia, bisa bertahan karena memang ada kekuatan politik yang mendukung mereka. Baik itu kekuatan politik yang berasal dari dalam maupun luar negeri.
Apalagi jika penyokong kelompok-kelompok tersebut juga punya pengaruh besar di pentas dunia, maka itu akan semakin mempersulit pemerintah kita untuk mengambil sikap.
Melihat kondisi riil di atas, maka apa yang bisa dilakukan umat Islam agar tidak disesatkan oleh paham Ahmadiyah? Hal pertama tentu kita harus memperdalam ilmu-ilmu Islam untuk mempertebal akidah. Kedua, para ulama dan dai juga punya kewajiban untuk menjelaskan kepada umat tentang prinsip-prinsip ajaran Ahmadiyah yang menyimpang.
Ahmadiyah awalnya memang didirikan di India pada abad ke-19. Namun, keyakinan tersebut kini sudah merambah hingga ke berbagai penjuru dunia. Beberapa kalangan ada yang membagi kelompok menjadi dua aliran, yakni Ahmadiyah Qadian dan Lahore.
Apa pun nama mereka, keduanya tetap sama-sama menganggap Mirza Ghulam Ahmad sebagai Imam Mahdi dan Isa yang turun di akhir zaman.

https://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/benteng-akidah/14/04/04/n3gc01-mengenali-kesesatan-ahmadiyah

Kisah Jemaah Ahmadiyah yang Kembali ke Pangkuan Islam

Menteri Agama Suryadharma Ali (tengah), berbincang dengan para ulama usai acara mantan jemaah Ahmadiyah mengucapkan kalimat syahadat untuk bertaubat dan masuk ajaran Agama Islam, di Mesjid Agung Baiturrohman, Singaparna, Tasikmalaya Jabar, Senin (20/5).
Selasa 21 May 2013 09:11 WIB
Red: Heri Ruslan
REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Nashih Nashrullah
Khazanah

Rani Rahmawati, kini merasa lega pascakeputusannya keluar dari Ahmadiyah. Ibu dari satu anak ini, sejak kecil telah mengikuti ajaran yang didakwahkan oleh Mirza Ghulam Ahmad itu.
Di wilayah tempat tinggalnya, Cetenggek, Kutawaringin, Salawu Tasikmalaya, Jawa Barat, nyaris sebagian besar penduduknya adalah Ahmadi, sebutan bagi pengikut Ahmadiyah. 
Keluarga besar Rani pun mulai kakek hingga buyutnya, termasuk panganut tulen aliran yang 'menabikan' Ghulam Ahmad tersebut. "Lebih plong sekarang," tutur perempuan berusia 26 tahun ini kepada Republika di Masjid Agung Baiturrahman, Senin (20/5).
Dengan bahasa Indonesianya yang terbata-bata, Rani, mengisahkan pengalamannya selama 26 tahun bergabung di Ahmadiyah. Dirinya mengaku hanya ikut-ikutan. Tanpa menyadari sejauhmana penyimpangan aliran yang bermarkas di London, Inggris itu. Jamaah mesti diwajibkan membaca bacaan, layaknya shalawat, dalam bahasa Urdu. Soal arti, sama sekali ia tak mengerti. 
"Pokoknya teh suruh baca saja," papar Rani dengan dialek Sundanya yang kental. Ia mesti pula menelaah Tadzkirah, kompilasi wasiat Mirza Ghulam yang maknanya sama sekali tak ia pahami. 

Soal ibadah, ujarnya, memang tak ada beda. Mereka juga shalat lima waktu, seperti non-Ahmadi. Hanya, perempuan diwajibkan menunaikah Shalat Jumat di Masjid Ahmadiyah. Jemaah Ahmadi dilarang shalat di masjid yang bukan sealiran dengan Ahmadiyah.  Para Ahmadi tidak boleh bermakmum shalat di belakang imam non-Ahmadi. 
Jika sebaliknya, menjadi imam bagi mereka yang di luar Ahmadiyah, maka tak jadi masalah. Terkait ibadah, memang kesan ekslusif begitu kentara. Tetapi, menyangkut interaksi dan muamalat, tak ada aturan ketat. Pergaulan antarsesama warga Ahmadi dan non-Ahmadi, mengalir seperti biasa. Tak tersekat akidah.
Sampai detik ini pula, ia belum tahu persis, peruntukkan sumbangan wajib rutin bisa pekanan dan bulanan yang diberlakukan untuk jemaah Ahmadi. Besaran infak, sesuai kemampuan. Ada istilah infak takrik jadid dan candah 'aam. 
Rani, memang terbilang 'kader' tulen. Sosok yang sekarang mengajar di Paud Bahrussalam, Kotawaringin ini, pernah bersekolah di SMA Al-Wahid, sekolah menengah Ahmadiyah terbesar di Tanah Air yang terletak di Tenjowaringin, Selawu. Konon, di lokasi yang sama, ratusan Ahmadi dari dalam dan luar negeri sering menggelar hajatan skala internasional. Ia pun mengaku kurang paham, perhetalan jenis apa yang berlangsung. 
Doktrin demi doktrin ideologi yang menancap sedari kecil, tak bisa mengikis hati kecil Rani, lambat laun ia merasa kurang cocok. Dorongan untuk keluar dari lilitan dan jerat Ahmadiyah perlahan kian memuncak, hingga pada 2006, ia memutuskan berikrar syahadat kembali. Rasa tenang pun kini bisa ia nikmati, tanpa ada beban dan harus bersitegang ideologi dengan kebanyakan Muslim. "Dulu rasanya seperti diperbudak," ketusnya.
Tak banyak kisah yang diutarkan Taryan. Ayah kandung Rani ini mengaku, keluarga besar Taryan dan kesembilan saudara kandungnya, semenjak kecil, mengikuti jejak buyut menganut Ahmadiyah. Sebagian besar penduduk yang berprofesi sebagai buruh dan tani, maklum kurang tersentuh pendidikan dan dakwah Islam yang integral. Ini pula yang menjadi sebab mudahnya keterpengaruhan mereka pada Ahmadiyah.
Belakangan, Taryan sadar, ada yang janggal dari aliran yang ia dan keluarganya yakini selama ini. Sebut saja soal infak dan donasi. Sedikit sekali pemanfaatannya untuk dhuafa, ada tetapi hanya sekian persen. Sebagian besar entah kemana. Tampaknya, untuk membiayai operasional Ahmadiyah. Mulai dari gaji mubalig hingga biaya kelangsungan lembaga. Dirinya tak habis pikir, semestinya infak itu, diprioritaskan untuk kalangan tak mampu. Seperti tuntunan Islam, bahwa zakat dan infak itu untuk delapan asnaf (mustahik zakat).
"Ibu saya yang dhuafa saja tidak pernah dikasih,"ujarnya.
Taryan yang berprofesi sebagai pegawai negeri sipil ini mengaku, awalnya ragu bahkan enggan undur diri dari Ahmadiyah. Apalagi kedua orangtunya, kala itu penganut konservatif Ahmadiyah. Bila ia beranjak, lantas bagaimana nasib ikatannya sebagai anak kepada orang tuanya?
Sangat dilematis. Hingga akhirnya, ia mengetahui bahwa akidah tak ada daya tawar dan sangkut paut, dan bukan soal  enak atau tidak enak dengan orang tua. Ramadhan 1999, ia mantap meninggalkan Ahmadiyah, sekalipun tanpa restu orang tua.
"Saya semakin yakin Ahmadiyah itu sesat,"ujarnya. Kini, bersama ratusan warga Selawu, mereka hidup terisolir, di kecamatan itu masih terdapat 4700 pengikut Ahmadiyah. Mereka yang keluar, mengalami kesulitan ekonomi. Tersingkir dari komunitas Ahmadiyah, dan mesti beradaptasi dengan lingkungan yang baru. Mereka ingin segera bangkit, mandiri ekonomi dan pendidikan. 
Dalam wadah Ikamasa (Ikatan Masyarakat Mantan Aliran Sesat Ahmadiyah), mengharapkan rangkulan segenap pihak. "Kita butuh bimbingan spiritual, ekonomi, dan pendidikan,"papar pria paruh baya ini.

https://www.republika.co.id/berita/mn4m38/kisah-jemaah-ahmadiyah-yang-kembali-ke-pangkuan-islam (accessed 7 Aug 2019)

Friday, September 6, 2019

Yunus Anis dan Ahmadiyah

Muhammad Kholid Asyadulloh

Sumber: Jawa Pos, 24 Mei 2008



Lucu dan menggemaskan! Dua kalimat ini tampaknya cukup mewakili pemerhati Muhammadiyah ketika membaca tulisan Ahmad Khoirul Fata (AKF) tentang Muhammadiyah dan Ahmadiyah (Jawa Pos, 28/4). Lucu, karena tulisan itu menunjukkan betapa minimnya pengetahuan sang penulis tentang ke-Muhammadiyah-an. Menggemaskan, karena AKF telah mendistorsi ketokohan salah satu besar Muhammadiyah KH. M. Yunus Anis, sebagai penganut Ahmadiyah.
Namun, di situlah mungkin terletak kelebihan sekaligus kekurangan AKF dalam melihat dan membaca (tokoh) Muhammadiyah. Saat menanggapi tulisan Asvi Warman Adam Belajar dari Sejarah Ahmadiyah (Jawa Pos, 24/04/08), dia menyimpulkan kalau Asvi hanya menyampaikan fakta sejarah yang sepenggal. Untuk memperkuat argumentasinya, Koordinator Jaringan KB Muda PII Jawa Timur itu menulis "beberapa literatur justru menunjukkan" berbagai kesalahan Asvi.
Sayangnya, pembaca harus terbohongi oleh kata "beberapa literatur" sebagaimana yang dijanjikan AKF. Sebab, dari awal hingga tulisan berakhir ternyata tidak ada literatur lain yang disebutkan, kecuali hanya Peladjaran Agama Islam karya Buya HAMKA. Yang lebih hebat lagi, tulisan AKF adalah rangkuman dari 11 halaman salah satu bab yang membahas Ahmadiyah-Bahai. Luar biasa bukan?
Fatalnya lagi, AKF membuat rumor yang menyatakan KH. M. Yunus Anis sebagai pengikut Ahmadiyah. Gosip ini semakin konyol ketika ulama itu merupakan salah satu korban yang dikeluarkan dari Muhammadiyah pada tahun 1927. "Dagelan" itu menunjukkan bahwa sang penulis tidak pernah melakukan konfirmasi dan konfrontasi dengan buku lain untuk melacak lebih lanjut siapakah sebenarnya Yunus Anis?
Bagi pembaca yang paham tentang kesejarahan Muhammadiyah, mereka tentu akan tertawa saat membaca tuduhan Yunus Anis sebagai penganut Ahmadiyah, apalagi dipecat dari Muhammadiyah. Sebab, siswa SD Muhammadiyah pun minimal sudah membaca riwayat hidup putra abdi dalem Kraton Yogyakarta H. M. Anis itu. Namun, bagi kalangan grass root, tuduhan itu tentu sangat mengganggu, bahkan mungkin sudah memasuki tahap meresahkan. Di manakah letak ke-Ahmadiyah-an Yunus Anis, sehingga status ke-Muhammadiyah-annya diragukan?
Dengan kata lain, lontaran AKF terhadap Yunus Anis sebagai tindakan yang sangat-sangat ceroboh. Pertama, jika mengikuti logika AKF, seharusnya nama Yunus Anis juga sudah tidak beredar di Muhammadiyah sejak dipecat pada 1927. Namun, sejarah mencatat, dan ini bisa dilihat di banyak buku ke-Muhammadiyah-an, Yunus Anis adalah Ketua (Umum) Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode 1959-1962 yang terpilih dalam muktamar ke-34 di Yogyakarta.
Lebih jauh lagi, selain dikenal sebagai muballigh, Yunus Anis lebih dikenal sebagai organisator dan administrator yang ulung. Tidak heran jika sebelum terpilih sebagai Ketua Umum PP Muhammadiyah, dia menjabat sebagai Sekretaris Umum PP dalam dua periode, yaitu 1942-1953 dan 1953-1959. Adalah sangat aneh jika sudah dikeluarkan sejak 1927, tetapi mendapatkan banyak amanah dan kepercayaan dari keluarga besar Muhammadiyah. Yang benar saja?!
Kedua, AKF menulis bahwa syariat Ahmadiyah adalah mengekalkan kolonialisme dengan melemahkan perlawanan umat Islam (jihad). Jika "kelembekan" dijadikan alasan Yunus Anis sebagai penganut Ahmadiyah, maka fakta yang paradoks akan tersuguhkan. Sebab, dialah satu-satunya Ketua Umum PP Muhammadiyah yang berlatar belakang militer, tepatnya Kepala Pusroh Angkatan Darat Republik Indonesia (Imam Tentara) sejak 1954, dengan pangkat terakhir Letnan Kolonel.
Dalam buku HM Yunus Anis, Amal, Pengabdian dan Perjuangannya, terungkap pengakuan Jendral Nasution memilih Yunus Anis masuk Angkatan Darat. Nasution ingin agama menjadi bagian hidup keseharian para prajurit, sehingga diperlukan pembinaan mental prajurit seperti yang pernah diinginkan jendral Sudirman. Yunus Anis dinilai sebagai orang yang cakap karena kedalaman ilmu agama, pengalamannya berorganisasi dan kemampuannya berkomunikasi.
Ketiga, yang perlu diketahui oleh AKF, Yunus Anis adalah orang yang berperan besar dalam membentuk karakter Muhammadiyah. Rumusan Keperibadian Muhammadiyah sebagai salah satu identitas pokok organisasi yang didirikan KH. Ahmad Dahlan itu tidak lepas dari campur tangannya saat berada di puncak Muhammadiyah. Dalam periode itu dibentuk tim perumus yang diketuai oleh KH. Faqih Usman, dan diputuskan pada pada Muktamar ke-35 tahun 1962.
Singkatnya, sejak muncul di dunia ini pada 30 Mei 1903, Yunus Anis adalah orang yang “lurus-lurus” saja. Sejak kecil dia dididik agama oleh kedua orang tuanya dan datuknya sendiri, dan melanjutkan pendidikan formalnya di Sekolah Rakyat Muhammadiyah Yogyakarta , Sekolah Al-Atas, dan Sekolah Al-Irsyad Jakarta. Semasa hidup dia banyak terjun ke masyarakat untuk mengembangkan misi dakwah dan Muhammadiyah di berbagai daerah di Indonesia .
Tidak ada yang kontroversial dalam perjalanan hidup Yunus Anis sebagai warga Muhammadiyah, terkecuali dalam dunia politik praktis. Dia mengabulkan permintaan Jenderal AH. Nasution, agar bersedia menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong (DPRGR) yang sedang disusun oleh Presiden Soekarno pada 1959. Kesediaannya menjadi anggota DPRGR mengundang banyak kritikan dari para tokoh Muhammadiyah, karena Muhammadiyah saat itu tidak mendukung kebijakan Soekarno yang membubarkan Masyumi dan menyusun anggota parlemen secara otoriter.
Namun, kritik itu dijawab bahwa keterlibatannya dalam DPRGR bukanlah untuk kepentingan politik jangka pendek, tetapi untuk kepentingan jangka panjang, yaitu mewakili ummat Islam yang nyaris tidak terwakili dalam parlemen saat itu. Sebab, Dekrit Presiden 5 Juli 1959 telah menimbulkan berbagai macam peristiwa politik yang tidak sehat, terutama dilakukan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI).
Dengan kata lain, orang Muhammadiyah 24 karat kok dituduh Ahmadiyah. Apa kata dunia?! Allah A'lam bi al-Shawab.

Diambil dari: http://muhkholidas.blogspot.com/2015/07/yunus-anis-dan-ahmadiyah.html

Tuesday, September 3, 2019

Jesus di Quran

1 September 2019


Oleh Dahlan IskanJumat pagi lalu saya di Wimbledon. London Barat.
 
Nanggung sekali. 
 
Mau balik ke pusat kota London takut ketinggalan salat Jumat. Mau langsung cari masjid terdekat masih terlalu awal.
 
Akhirnya saya mampir ke stadion tenis Wimbledon. Yang terkenal itu. Kan sudah dekat. Saya pikir lapangan tenis itu di Wimbledon. 
 
Ternyata di Southfields.
 
Memang tidak jauh dari Wimbledon. Hanya perlu naik kereta bawah tanah dua kali stop. Seperti dari Manggarai ke Tanah Abang. Hanya berhenti di Dukuh Atas.
 
Dari Wimbledon ke Southfields hanya berhenti di stasiun Wimbledon Park. 
 
Keluar dari stasiun Southfields ternyata masih harus jalan kaki. Agak jauh. Bisa 20 menit. Saya putuskan naik bus kota. Toh saya sudah membeli kartu terusan. Yang kartunya bisa dipakai naik kendaraan umum apa saja.
 
Lapangan tenis Wimbledon ternyata satu kawasan besar olahraga. Di kiri jalan lapangan golf. Lalu lapangan kriket. Baru di kanan jalan lapangan tenis. Termasuk museum tenis Wimbledon.
 
Waktu salat Jumat pun tiba. Ternyata juga ada masjid dekat situ. Tidak jauh dari stasiun Southfields. Hanya perlu jalan kaki 10 menit. Melewati perumahan khas pinggiran kota London. 
 
Asyik juga jalan kaki. Toh udara London sejuk sekali. Biar pun tengah hari. Di akhir musim panas seperti ini. Tidak ada musim panas yang menyiksa di London. Begitulah orang London biasa membanggakan kotanya.
 
Saya pun tiba di masjid itu. 
 
Itulah masjid tertua di London. Yang dibangun tahun 1924. Awalnya saya ingin ke masjid Baitul Futuh. Yang di Wimbledon. Yang besar sekali. Bisa untuk 10.000 jemaah. Saya kenal masjid itu. Kenal dari jauh: ada stasiun TV-nya. Namanya MTA TV.
 
TV Muslim Internasional. 
 
Saya ingat waktu transplantasi hati di Tianjin dulu. Yang harus berbulan opname di rumah sakit. 
 
Sewaktu cari-cari acara TV ketemu MTA. Acaranya dakwah, salat jamaah lima waktu, tafsir Alquran dan ceramah agama. Sepanjang siang dan malam.
 
Saya berkata dalam hati: ini di rumah sakit negara komunis, kok ada channel tv Islam. Di sela-sela 80 channel bahasa Mandarin. 
 
Maka saya cari-cari dari mana acara itu disiarkan. Ternyata dari London. Dari masjid Baitul Futuh itu. 
 
Lalu saya pun tahu: oh ternyata itu masjidnya aliran Ahmadiyah di London.
 
Ya sudah. Kapan-kapan ingin ke sana. Kalau diberi kesembuhan kelak. 
 
Tapi saya sudah terlanjur di Southfields. Tidak nutut lagi kalau harus balik ke Wimbledon - -ke Baitul Futuh.
 
Maka saya Jumatan saja di masjid tertua tadi. 


Eh, ternyata milik aliran Ahmadiyah juga. 
 
Ya sudah. Masuk saja. 
 
Sudah jam 12.30. Sudah waktunya Jumatan. 
 
Saat saya tiba di masjid itu pagarnya masih terkunci. Kurang lima menit lagi baru dibuka.
 
Tapi saya lihat ada petugas pintu. Saya perkenalkan bahwa saya dari jauh. Dari Indonesia. Pintu pun dibuka. 
 
Belum ada orang yang datang. Saya pun bisa keliling kompleks masjid ini. 
 
Masjidnya sendiri kecil. Arsitekturnya seperti masjid Asia Tengah. Tapi lahannya luas. 
 
Di depan masjid ini terdapat bangunan rumah khas Inggris. Di belakang rumah besar itu ada halaman luas. Banyak kursi di situ. Pertanda sering dipakai acara besar.
 
Orang pun mulai berdatangan. Masjid itu penuh. Tidak muat. Sebagian masuk ke bangunan sebelah masjid. Yang ruangannya sebesar masjid. Penuh juga.
 
Ternyata banyak pula wanita yang datang. Mereka di ruangan besar yang lain lagi. Penuh pula. 
 
Total sekitar 500 orang.
 
Lahan masjid ini lebih satu hektar. Tidak sebesar Baitul Futuh. Tapi saya kagum: kok di London bisa mendapat tanah sebegitu luas untuk masjid.
 
Saya pun masuk masjid. Bersih sekali. Karpetnya polos. Dindingnya polos. Hanya di mihrob ada tulisan Arab: kalimat syahadat. Seperti yang kita kenal. Tidak ada tambahan apa-apa. 
 
Sambil menunggu Jumatan saya mengambil Alquran. Yang ada terjemahan Inggrisnya.
 
Saya ingin tahu apakah Alquran aliran Ahmadiyah ini sama. Kok kelompok ini sampai dianggap bukan Islam. Dikeluarkan dari Islam. Dianggap menyimpang dari Islam. 
 
Saya hanya sempat membaca dua surah: Al Fatihah dan Al Baqarah. Sama. Tidak ada bedanya.


Lalu saya perhatikan terjemahannya. Di sini baru terasa beda. Kata 'Isa ibna  Maryam' diterjemahkan menjadi 'Jesus, son of Mary'.
 
Tentu tidak salah. 
 
Orang yang berbahasa Inggris umumnya orang Kristen. Mereka tidak tahu Isa atau Maryam. Tahunya Jesus atau Mary.
 
Ada beberapa terjemahan lagi yang menurut saya lebih mudah dipahami oleh orang yang berbahasa Inggris. Misalnya perintah sujud kepada Adam. Sujud diterjemahkan menjadi 'submit'. Khalifah diterjemahkan menjadi 'vicegerent'. 
 
Lagi asyik-asyiknya membaca terjemahan Alquran itu pundak saya dijawil orang. Saya menoleh ke arahnya. Sesapuan saya lihat masjid sudah penuh. Saya terlalu asyik. Tidak memperhatikan kedatangan mereka. 
 
Yang menjawil pundak saya tadi memberi isyarat. Agar saya melihat ke dinding depan. Ternyata sudah ada live tv yang diproyeksikan ke dinding sebelah tempat imam. 
 
Isinya: ceramah dalam bahasa Urdu. Yang ceramah bukan orang sembarangan. Beliau adalah Mirza Masroor Ahmad. Khalifah Jemaah Ahmadiyah sedunia saat ini. Khalifah ke-5. Setelah pendiri Ahmadiyah, Mirza Ghulam Ahmad.


Saya tidak paham apa isi ceramahnya. Semua dalam bahasa Urdu. 
 
Beberapa saat kemudian seseorang mengantarkan ke saya alat penerjemah. Seperti yang dipakai di konferensi internasional.
 
Earphone-nya saya masukkan ke telinga. Reciever-nya saya pegang. Saya amati alat itu: Made in China. Saya pun menjadi paham isi ceramah itu.  
 
Tentang orang-orang hebat dalam perkembangan Islam. Siapa gubernur Mesir, Palestina, Baarah, Kufah dan banyak lagi. Di awal perkembangan Islam dulu. Saya menjadi ingat pelajaran di madrasah Aliyah dulu. 
 
Juga tentang seorang jendral polisi Pakistan yang ikut aliran Ahmadiyah.  
 
Ceramah itu sendiri terjadi di masjid Baitul Futuh. Yang disiarkan live lewat MTA --Muslim Televisi Ahmadiyah. Bisa diikuti di mana pun. Saya pernah melihatnya di Tianjin. Termasuk ditangkap di masjid ini. 
 
Ceramah itu lama sekali --1 jam penuh. Gaya pidatonya datar. Sang Khalifah terlihat sudah tua. Dengan jambang dan jenggotnya yang memutih. Dengan sorban putih khas Pakistan/India di kepalanya.
 
Setelah ceramah selesai barulah azan berkumandang. Para jemaah lantas salat dua rakaat. Seluruh gerakan salatnya nyaris tidak beda dengan di Indonesia.
 
Takbiratul ikramnya sama. Sedekapnya sama. Duduk takhiyatnya sama. Menudingkan jarinya sama.
 
Bacaannya sama. 
 
Kiblatnya juga sama. 
 
Rupanya masjid ini dulunya dibuat menghadap ke timur. Terlihat dari posisi ruang imamnya (mihrab). 
 
Lalu belakangan dianggap kurang tepat menghadap Kabah. Maka, sekarang, garis karpetnya dibuat mencong. Susunan barisan salat pun  menjadi seperti mencong. Persis seperti banyak masjid di Indonesia. Yang harus menyesuaikan arah kiblatnya.
 
Khotbahnya sendiri sangat pendek. Lebih pendek dari khotbah di masjid-masjid aliran Jamaah Tabligh. Yang hanya 7 menit.
 
Di masjid aliran Ahmadiyah ini khotbahnya hanya 4 menit. Khotbah pertama 3 menit. Khotbah kedua satu menit. Bahasanya campuran: awalnya Arab. Yang dilagukan. Seperti di desa saya dulu. Lalu Inggris. Lalu Urdu. Lalu Arab lagi. 
 
Selesai salat Jumat kami langsung salat jenazah. Seperti di masjid Al Haram di Mekah. 
 
Setelah wiridan sebentar mereka makan bersama. Di sebuah rumah dengan halaman luas. Lokasinya di seberang jalan. Yang ternyata milik Ahmadiyah juga. Menunya: nasi mandi, kare dan roti naan. 
 
Waktu ngobrol saya sering ditanya: apakah saya anggota Ahmadiyah. 
 
"Bukan," jawab saya. "Tapi saya banyak membaca apa itu Ahmadiyah," kata saya. 
 
Kehadiran saya di situ memang mencolok: saya satu-satunya yang tidak pakai kopiah. Juga satu-satunya yang tidak memakai kaus kaki. 
 
Saya mencopot kaus kaki saat berwudu tadi. Lalu tidak memasangnya kembali.
 
Baik juga semua pakai kaus kaki. Agar karpetnya tetap bersih. Tidak terkena keringat telapak kaki. 
 
Saya pun bertanya tentang kondisi Ahmadiyah di Pakistan. Yang saya tahu begitu menderitanya. Masjid Ahmadiyah sering diserbu: puluhan orang Ahmadiyah meninggal dunia. 
 
Nyawa orang Ahmadiyah dianggap halal untuk dibunuh. 
 
UU Pakistan juga melarang Ahmadiyah hidup di sana. Tempat ibadahnya ribuan. Tidak boleh disebut masjid. Untuk bisa menjalankan ibadah mereka harus menyatakan diri mereka bukan Islam. 
 
Begitulah. Kelompok ini menjalankan agamanya dengan tertutup. Di Pakistan. Begitu sulit mereka bergerak. 
 
Aliran ini didirikan di Desa Qadian. Di pelosok negara bagian Almitsar. Saat Pakistan pisah dengan India orang Islam pindah ke Pakistan. Demikian juga jamaah Ahmadiyah. Mereka pindah ke sebuah pegunungan kering dan gersang. Di Rabwah. Sekitar 200 km sebelah barat laut Lahore.
 
Pegunungan itu berkembang menjadi kota. Menjadi pusat Ahmadiyah dunia.
 
Pindah ke negara Islam justru dimusuhi. Masjid mereka diserbu. Dibakar. Banyak yang dibunuh. 
 
Mereka pun memindahkan pusat Ahmadiyah ke London. Khalifahnya pun kini tinggal di London.
 
Kalau tidak terusir dari India, lalu terusir lagi dari Pakistan, mungkin Ahmadiyah tidak berkembang seperti ini di London. Juga di dunia.(Dahlan Iskan)

https://www.disway.id/r/588/jesus-di-quran