Monday, August 8, 2011

Mesjid ‘Gang Gerobak’ Hidayat dan Jakarta Fair

[Ahmadiyah Tempo Doeloe] Mesjid ‘Gang Gerobak’ Hidayat dan Jakarta Fair

Jejak Langit, 17 Juni 2008

SABAN kali Pekan Raya Jakarta (PRJ) berlangsung tiap tahun di Jakarta pada awal Juni hingga awal Juli seperti sekarang ini, saat itu pula saya teringat penuturan Orang-orang Tua Jemaat Awwalin kita. Apa pasal? Jakarta Fair sekarang ini, doeloe-nya bernama Pasar Malam Gambir, sudah ada sejak zaman kolonial. Dan itu berlangsung di Gambir, Merdeka Timur sekarang. Tempatnya kurang lebih berada di Monas Kelabu ketika Peringatan Hari Pancasila 1 Juni 2008 baru-baru ini. Atau gampangannya, bertempat di sekitar Stasiun KA Gambir yang terkenal bila arus mudik lebaran tiba.

Lantas, hubungannya dengan Mesjid “Petodjo Gang Gerobak” Hidayat itu apa?

Ceritanya bermula di Kota Batavia pada penghujung tahun 1935, ketika sang penabur benih Ahmadiyah Nusantara Maulana Rahmat Ali H.A.O.T. bersama Raden Moertolo dan Raden Ahmad Bermawi bermusyawarah tentang pentingnya mesjid sebagai pusat Jemaat, baik untuk ibadah, pertemuan jemaah, sekretariat organisasi dan lain-lain. Apalagi Batavia merupakan ibukota Kerajaan Hindia Belanda. Yaa, multi fungsi-lah!

Demikian agaknya pemikiran para tokoh Awalin ini. Maka, ditugaskanlah Bapak Ahmad Bermawi yang bekerja pada Tata Kota Batavia guna mencari tanah pemerintah yang bisa dibeli. Maka, jatuhlah pilihan pada Petodjo Oedik, tempatnya masih di Kecamatan Gambir, di sebuah Gang yang terkenal dengan sebutan Gang Gerobak, karena di sana bermukim aneka macam gerobak. Mulai dari gerobak sayur, gerobak air, gerobak pasir hingga gerobak pengantar bambu gelondongan dan bilik bambu. Gerobak merupakan alat angkut penopang ekonomi penghuninya yang memenuhi bedeng-bedeng kawasan itu, berjejer memadati pinggiran Kali Cideng.

Singkat cerita, tanah sudah dibeli Jemaat atas nama Bapak Ahmad Bermawi yang kemudian hari dibaliknamakan atas nama Jemaat Ahmadiyah pada tahun 1954, setahun setelah Jemaat berbadan hukum pada 1953.

Bagaimana membangun mesjid? “Seadanya. Sesuai dengan kemampuan Jemaat.” Demikian kurang lebih arahan sang Maulana kepada jemaah yang memang sudah lama dan beberapa kali menumpang di beberapa kediaman warga Jemaat di Batavia, termasuk di Gang Klejkamp, sekitar Pasar Baru sekarang.

Ahmadiyah masuk Batavia kira-kira pertengahan 1930. Seorang anak muda bernama Sanaman, yang kemudian hari menjadi menantu Dji An, adalah sebagai pelaksana pembangunan mesjid. Sanaman merupakan pegawai teknik tak resmi Pak Bermawi yang kemudian belakangan hari bergabung pula Mas Kardjo (Ahmad Soekardjo).

Bahan-bahan sudah terkumpul, kecuali kayu. Diperlukan balok-balok dan papan, itu pun agak mahal. Keputusannya, panitia membeli bahan-bahan bangunan bekas saja. Ternyata, setelah ke sana-sini mencari kayu-kayu bekas yang sesuai dengan kemampuan Jemaat, itu semua tak kunjung mereka temukan. Sedangkan, sang Maulana menanyai terus kapan mesjid mau dibangun.

Jemaat, dalam tradisinya, selalu berpikiran bahwa sekecil apa pun karunia, itu adalah pertolongan Tuhan. Begitu pun, pada suatu hari, setelah Bapak A. Bermawi berputar-putar Batavia, (Anda jangan membayangkan betapa luasnya Jakarta sekarang, daerah Batavia waktu itu adalah Sunda Kelapa, Gambir dan Menteng yang bangunannya masih sedikit), beliau mampir ke Pasar Gambir yang baru saja usai. Di sana masih terdapat material los-los pasar sementara dibongkar, termasuk papan-papan, balok-balok tiang dan bambu-bambunya.

Dengan hati gembira Bapak Bermawi menanyakan kepada mandor pasar, apakah bekas-bekas material ini mau dijual. Serta-merta sang mandor mengiyakan, bahwa material itu akan dijual.

Tak berlangsung lama, kayu-kayu itu beralih ke tangan Jemaat dan kemudian diboyong ke Petodjo Oedik dan diangkut dengan gerobak sapi. Hanya selang beberapa beberapa hari, para jemaah membangun mesjidnya yang pertama di Batavia. Dan itulah mesjid Gang Gerobak, yang material kayunya berasal dari bekas-bekas material Pasar Gambir, Jakarta Fair (JF) sekarang ini.

Pasar Malam Gambir perlahan menjadi Jakarta Fair yang pada pertengahan tahun 90-an pindah ke Kemayoran dan berganti nama menjadi Pekan Raya Jakarta. Sedang Mesjid “Gang Gerobak” Hidayat pun berevolusi. Hingga sekarang, yang semakin sering kita lihat akhir-akhir ini di layar kaca semua stasiun televisi nasional, publikasinya pun mengalahkan PRJ. PRJ dan Mesjid Petojo Gang Gerobak itu, semoga keduanya panjang umur dan memberikan pengabdiannya kepada bangsa, khususnya di bidang kebendaan bangsa. Dan Mesjid Gang Gerobak, menelorkan terus insan-insan berahlak mulia guna memenuhi kebutuhan spritual anak bangsa pada zaman-zaman berikutnya. Amin.[] (AADP)


CATATAN: Raden Moertolo adalah murid Maulana Rahmat Ali H.A.O.T. dan mantan Ketua Pengurus Besar Jemaat Ahmadiyah Indonesia (PB JAI) hingga akhir hayat pada tahun 1981.

Raden Ahmad Bermawi adalah kakek dari pihak ibu dari Bapak Ir. Erwin Buditobias dan Ir. Jusuf Achmad (Anggota PPMKAI tahun 80-an).

Dji An adalah tukang cukur, sahabi dan khaddim sang Maulana. Hingga akhir hayat memelihara rambut sang Maulana, hasil bekas cukurannya yang berceceran. Menjelang akhir hayat, Dji An minta, rambut cukuran itu dikubur bersama jenazahnya kelak. Dan dikabulkan anak cucunya. “Jangan sampai menjadi bahan syirik,” katanya suatu ketika kepada penulis kisah ini. Dji An adalah ayah dari Saleh Dji An dan Sidiq Dji An yang pernah lama menjadi anggota PB JAI.

Sanaman adalah menantu pertama Dji An. Dia adalah ayah Basyiruddin Sanaman yang pernah menjabat salah satu kepengurusan di Majelis Ansharullah tingkat Pusat, dan keponakannya menikah dengan Muballigh Lokal JAI Kebayoran Maulana Muhammad Idris Sahib.

CERITA berikutnya, insya Allah, kesaksian dua orang tentang awal pembangunan Mesjid Hidayat pada dua zaman yang berbeda. Cerita ini masih akan berkembang.

Berikut hilight-nya:

“Saya masih sempat melihat tulisan-tulisan dan nama tentang stand-stand Pasar Gambir di dinding Mesjid Hidayat dalam waktu yang lama,” ujar Ibu Yuce (saksi hidup) salah seorang puteri Bapak Ahmad Bermawi beberapa waktu lalu di kediamannya di Karang Tengah, Jakarta Selatan.

“Gua yang bawa bambu itu dari Rumpin,” ungkap seorang Ahmadi Betawi awal yang mengaku Ahmadi tertua sekarang ini, umurnya hampir 100 tahun.

Mudah-mudahan kita bisa menemui kisah ini selanjutnya. Mohon Doa.[]

AADP—Kawasan Ujung Kulon, Cibaliung, Banten, 10 Juni 2008. Edit by Aa Ali.

Retrieved from: http://aadaengp.blogspot.com/2008/06/ahmadiyah-tempo-doeloe-mesjid-gang.html

No comments:

Post a Comment