Sunday, August 5, 2012

Indonesia a Failed State? Fate of The Ahmadis Shows It Could Be

'The protection of minority groups is part of the essence of democracy. Failure to do this is an indication that the democracy currently employed in this country is superficial at best.'
The Jakarta Globa,  August 04, 2012

Ahmad Najib Burhani
 
In June, the Fund for Peace issued a failed-states index. Of the 178 countries surveyed in this index, Indonesia was listed in the 63rd position, with a score of 80.6. What does that mean? Although Indonesia cannot technically be considered a failed state, its position in the index was in the “very high warning” category. That means that the country is relatively close to becoming a failed state.

One important factor that is used to determine Indonesia’s score in this index was what was called group grievance. Tension and violence in the state, as well as the failure of the country to provide adequate security for its people, played a significant role in ensuring Indonesia ended up where it did in the index.

The index talks more about the majority of populations in certain countries and sometimes hides the fact that a number of minority groups in certain countries experience constant persecution. The case of Indonesia can be used as an example. Although the majority of the population in this country is satisfied with the security they receive and feel, religious minorities like Ahmadi Muslims find themselves living in constant fear. Discrimination and persecution have been experienced at very high levels by this community throughout the last decade.

Actually, resistance and opposition to the Ahmadiyah has been occurring in Indonesia since the 1920s. Historically, the opposition was not only voiced by conservative organizations and persons, but also by moderate Muslim organizations including Muhammadiyah and Nahdlatul Ulama. In 1929, Muhammadiyah issued a fatwa declaring that whoever believes the existence of a prophet after the Prophet Muhammad is a kafir (infidel). In 1938, NU demanded that the Majlis Islam A’laa Indonesia (MIAI — Supreme Council of Muslims of Indonesia) expel the Ahmadiyah group from this institution, otherwise NU would not be admitted to the MIAI.

One thing must be noted, however. Though there has always been opposition to the Ahmadiyah’s presence in Indonesia, violent attacks and persecution against it did not always exist. It is true that in the 1950s Ahmadis were hunted and killed, but it wasn’t done by the Indonesian government or other Muslim groups. Attacks were carried out by the Tentara Islam Indonesia rebel group. Moreover, when Media Dakwah, the official magazine of the Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia, published a blasphemous picture of Mirza Ghulam Ahmad (the founder of the Ahmadiyah Muslim community) in its October 1988 edition, the Ahmadiyah filed and won a lawsuit against Media Dakwah.

There was a shift in the resistance and opposition to the Ahmadiyah after 1998. It became more intense and the level of violence climbed steadily.

At the discursive level, besides old “guards of orthodoxy” like the Persatuan Islam, DDII and MUI (Indonesian Council of Ulema), there are other groups, such as Hizbut Tahrir Indonesia and the Islamic People’s Forum (FUI), that vigorously oppose the Ahmadiyah.

Opposition by force has been committed mostly by a number of vigilante groups established with the main objective to attack Ahmadiyah. Among them are Garis (Muslim Reform Movement) in Cianjur, Gapas (Anti-Apostasy and Deviant Sects Movement) in Cirebon, Geram (Anti-Ahmadiyah Peoples Movement) in Garut and Gerah (Anti-Ahmadiyah Movement) in Kuningan. These groups, all based in West Java, are added to older, established vigilante groups that fiercely oppose Ahmadiyah such as the Islamic Defenders Front (FPI).

Other shifts in the opposition to Ahmadiyah that appear after 1998 is the attitude of the government, particularly the current regime under Susilo Bambang Yudhoyono. It seems that the government does not have the power to give security to its people and prevent violent attacks against the Ahmadiyah community. There are a number of cases related to Ahmadiyah that can be used to underscore the absence of the state in protecting its people, but two of the most serious ones took place in Mataram on Lombok, the capital of West Nusa Tenggara, and the Cikeusik subdistrict of Pandeglang, in Banten province.

Over a hundred Ahmadis have been living in the Transito building in Mataram since 2006, after vigilante groups destroyed their homes, looted their property and then displaced them from their villages. Some of them have been deprived access to education and health care. Most of the time, they have been treated like refugees. Almost none of the attackers who destroyed their houses have been brought to justice.

What is more surprising is the solution proposed by the local government. Rather than taking some sort of action, the local government asked Ahmadis to seek asylum in other countries. There was also the suggestion that they move to an isolated island about 40 kilometers from Lombok.

In the Umbulan village of Cikeusik, three Ahmadis were killed during the attack on an Ahmadiyah mission house on Feb. 6, 2011. The killers were sentenced to between three and six months. One of the injured victims, Deden Sudjana, was given a six-month jail sentence for provoking the attack.

So is Indonesia a failed state? In the most general terms, Indonesia cannot be put in that category. However, in the context of protecting the rights of minority religious groups like the Ahmadiyah, it is a different story.

The protection of minority groups is part of the essence of democracy. Failure to do this is an indication that the democracy currently employed in this country is superficial at best.

Ahmad Najib Burhani is a PhD candidate at the University of California, Santa Barbara, and a researcher at the Indonesian Institute of Sciences (LIPI).

Retrieved from: http://www.thejakartaglobe.com/opinion/indonesia-a-failed-state-fate-of-the-ahmadis-shows-it-could-be/535215

Saturday, August 4, 2012

Berpuasa Bareng Ahmadiyah (4) Ceramah salawat nabi dalam masjid Ahmadiyah

Suasanan salat tarawih di Masjid Al-Hidayah milik komunitas Ahmadiyah di Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Senin (23/7). (merdeka.com/Islahuddin)
Merdeka, Rabu, 25 Juli 2012 08:32:00
 
Reporter: Islahudin


Makin mendekati waktu isya, makin banyak jamaah Ahmadiyah mendatangai Masjid Al-Hidayah. Pelataran dipenuhi parkir motor. Setelah bertegur sapa dengan plolisi jaga, mereka masuk menuju ruang salat utama di lantai dua.

Hampir setiap jamaah habis mengambil air wudu langsung melakukan salat rawatib dua rakaat. Seperempat jam selepas azan, salat dimulai. Imam salat berbegas menuju mihrab, kemudian meminta makmum merapatkan barisan. Jamaah salat isya kali ini sampai dua saf, sekitar 40 orang.

Usai salat, isya, makmum diberi waktu buat berdoa, wirid, dan salat rawatib. Ketika melihat sudah banyak hyang selesai, imam memberitahukan salat tarawih akan dimulai. Seperti tiga malam sebelumnya, mereka salat tarawih delapan rakkat dengan empat kali salam. Selepas itu ditambah witir tiga rakaat dengan dua kali salam.

Sekitar pukul delapan malam, dua ibadah sunnah itu selesai. Hampir semua jamaah salat malam itu keluar dari barisan mencari posisi duduk enak. Kebanyak menempel di dinding sambil berselonjoran kaki. Benar-benar santai.

Imam masjid bernama Ya'kub meminta seorang jamaah memberikan ceramah singkat. Seorang lelaki keturunan Pakistan bernama Mujib bangkit dari sandaran dan langsung naik ke atas mimbar. Sambutannya benar-benar singkat, hanya tujuh menit. Meski begitu, materi disampaikan dalam bahasa Indonesia terkesan kaku itu sangat penting dan bahkan bisa menjelaskan kedudukan Ahmadiyah di antara pelbagai kelompok atau aliran Islam.

Mujib menekankan pentingnya dan keutamaan bersalawat kepada Nabi Muhammad. Ia juga menjelaskan tiap muslim harus menjawab saban kali nama Nabi Muhammad disebut. "Muhammad salallahu alaihi wassalam," kata Mujib lantang waalau tanpa pengeras suara. Ia mengutip sejumlah hadits dan ayat Alquran tentang kemuliaan bagi orang-orang bersalawat. Hadirin tampak menganggukkan kepala seolah memahami isi ceramah singkat Mujib itu.

Setelah Mujib turun panggung, jamaah membentuk kelompok-kelompok kecil untuk sekadar ngobrol atau entah membahas pidato barusan.

Kandali Achmad Lubis, Ketua Pengurus Masjid Al-Hidayah, menemui merdeka.com akan berpamitan pulang. Ia mengiyakan ibadah kaum Ahmadiyah serupa dengan lelaku golongan Sunni. "Hanya mereka yang datang dan melihat langsung bisa bilang Ahmadiyah seperti itu," ujarnya.
[fas]

Retrieved from: http://www.merdeka.com/khas/ceramah-salawat-nabi-dalam-masjid-ahmadiyah-berpuasa-bareng-ahmadiyah-4.html

Friday, August 3, 2012

Berpuasa Bareng Ahmadiyah (3) Berbuka puasa dengan komunitas Ahmadiyah

Ruang salat utama di Masjid Al-Hidayah milik komunitas Ahmadiyah di Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Senin (23/7). (merdeka.com/Islahuddin)
Merdeka, Rabu, 25 Juli 2012 08:00:00
 
Reporter: Islahudin


Usai salat asar, suasana Masjid Al-Hidayah sepi. Baru sejam menjelang magrib, beberapa muda mudi jamaah Ahmadiyah datang. Menurut Rachmat Ali, 36 tahun, salah satu pengurus masjid, tidak hanya remaja Ahmadiyah di lingkungan itu yang muncul, kadang anggota dari daerah lain kebetulan lewat Kebayoran Lama akan masuk untuk sekadar salat atau mampir.

Seperempat jam sebelum azan  berkumandang, takmir masjid, Muhammad Idrus (61 tahun), meminta jamaah di ruang utama turun ke lantai satu untuk berbuka puasa. Acara buka bersama itu digelar di sebuah ruangan terhubung dengan dapur dan lorong menuju raung-ruang lainnya.

Di depan pintu dapur tersedia es dawet, teh hangat, dan beberapa jajanan pasar, seperti pisang goreng. Keakraban terlihat antara jamaah muda dan orang-orang tua. Semua berkumpul menunggu waktu membatalkan puasa di hari ketiga itu. Yang datang terlambat dipersilakan mengambil sendiri es dawet.

Sebelum berbuka, makanan yang sama telah diantarkan ke polisi jaga di depan masjid. Hanisiah, istri Idrus, 40 tahun, sudah akrab dengan petugas keamanan itu. Bahkan, menurut Hanisiah, beberapa polisi kadang datang bukan dalam keadaan tugas, hanya ingin main dan kumpul dengan teman-temannya berjaga di sana.

Idrus mengungkapkan lantai satu masjid pernah dipakai buat menampung beberapa anggota Ahmadiyah belum mempunyai tempat tinggal di Jakarta. “Dulu masak makanan hingga hitungan karung tiap bulan, dulu pengurus masjid membiayai,” ujarnya.

Para pengungsi Ahmadiyah itu merupakan korban penyerangan dan pengusiran di beberapa daerah di Indonesia. Mau tidak mau, mereka harus menampung saudara mereka itu, termasuk komunitas Ahmadiyah di kebayoran Lama, Jakarta Selatan.

Lambat laun, kondisi mental dan ekonomi mereka membaik. Pengurus masjid meminta pengunsi sudah bisa mencari kerja dan memiliki penghasilan mencari kontrakan sendiri. Hal itu untuk meringankan beban pengurus masjid menangani anggota kurang mampu dan masih sekolah atau kuliah. “Kemandirian selalu didorong oleh pengurus,” kata Idrus.

Waktu berbuka tiba. Semua orang di lantai satu langsung mengambil makanan dan minuman di atas meja dekat pintu dapur. Idrus tak mau ketinggalan. Ia segera menyeruput teh manis hangat sebelum beranjak ke lantai dua buat mengumandangkan azan magrib.

Selepas berbuka puasa, jamaah dengan tertib menuju lantai dua untuk mengambil air wudu. Sebagian menuju serambi masjid untuk sekadar obrolan singkat. Idrus segera melantunkan iqamah saat jamaah lebih dari 30 orang.

Lama-lama orang datang kian banyak. Ada yang sekeluarga, banyak juga datang sendiri. Jeda antara magrib dan Isya banyak digunakan jamaah untuk berbincang-bincang di dalam atau beranda masjid.
[fas]

Retrieved from: http://www.merdeka.com/khas/berbuka-puasa-dengan-komunitas-ahmadiyah-berpuasa-bareng-ahmadiyah-3.html

Thursday, August 2, 2012

Berpuasa Bareng Ahmadiyah (2) Dari salat zuhur hingga membaca Alquran

Imam masjid Ahmadiyah sedang salat rawatib sebelum melaksanakan salat zuhur di Masjid Al-Hidayah, Kebayoran Lama, Jakarta Selatanb, Senin (23/7). (merdeka.com/Islahuddin)
Merdeka, Rabu, 25 Juli 2012 07:29:00

Reporter: Islahudin


Dari luar pelataran Masjid Al-Hidayah, suara azan itu terdengar sayup-sayup. Namun, sekitar enam pemuda datang satu-satu dengan motor. Mereka berpakaian rapi - mengenakan kemeja dan celana kain atau denim - seraya membawa tas punggung.

Masjid itu terdiri dari dua ruang utama. Lantai dasar berisi tempat tinggal takmir,  dapur, dan beberapa ruang untuk menjamu tamu. Naik ke atas, ruang salat seluas 60 meter persegi dan berbentuk persegi panjang buat laki-laki, dilengkapi tempat wudu dan toilet. Lantai tiga untuk jamaah perempuan.

Jamaah datang langsung naik ke lantai dua. Setelah berwudu, sebagian salat rawatib. Sisanya ngobrol dan bertegur sapa di beranda masjid. Yang lain duduk menunggu iqamah.

Gambaran dalam masjid milik komunitas Ahmadiyah ini sama dengan masjid-majid Sunni lainnya. Di bagian mihrab, tergelar sajadah buat imam. Di sebelah kirinya berdiri mimbar dari kayu dan berhiaskan ukiran kaligrafi kalimat syahadat. Tulisan Allah terpatri di dinding sebelah kanan dan lafaz Muhammad di sisi kiri.   

Seperempat jam selepas azan, muazin melantunkan iqamah, tanda salat segera dimulai. Jamaah salat zuhur Senin lalu itu 15 orang, sekitar setengah dari isi satu barisan.

Salatnya kaum Ahmadiyah tidak ganjil. Mereka salat zuhur empat rakaat lengkap dengan rukun versi kalangan Sunni. Mulai dari takbir, iktidal, rukuk, sujud, duduk di antara dua sujud, tahiyat, hingga salam. Seusai salat dan berdoa, beberapa jamaah melaksanakan salat rawatib dua rakaat. Sebagian lagi langsung pulang. sekitar enam orang memilih bertahan dan tidur-tiduran di atas karpet tebal berwarna coklat kalem.

Menurut imam masjid bernama Ya'kub, 34 tahun, saat Ramadan masjid Ahmadiyah bisa menampung 750 jamaah ini tidak seramai seperti Jumat. Menurut dia, penganut Ahmadiyah di Kebayoran Lama dan sekitarnya berjumlah 500. “Masjid ini terbuka untuk umum, bukan masjid tertutup seperti dituduhkan selama ini,” katanya kepada merdeka.com.

Ya’kub menyayangkan berita-berita soal Ahmadiyah selama ini. Mereka dituding tidak mempercayai Muhammad sebagai nabi akhir zaman dan tidak mengimani Alquran sebagai kitab suci. Padahal, Ya’kub menegaskan, tuduhan itu tidak berdasar fakta. Ironisnya, tuduhan itu keluar dari mulut pimpinan Majelis Ulama Indonesia.

Dia menyayangkan  kebanyakan umat muslim di Indonesia menelan mentah-mentah omongan orang dianggap ulama. Padahal, belum tentu perkataannya benar. “Jangan lihat siapa yang mengatakan, tapi dengar apa yang ia katakan,” kata Ya’kub mengutip kata-kata Ali bin Abi Thalib dengan bahasa Arab.

Ia juga membantah syahadat versi Ahmadiyah mengganti kata Muhammad dengan nama Mirza Ghulam Ahmad, pendiri kelompok itu. “Asyhadu alla ilaaha illallah, waasyhadu anna Muhammadar rasulullah,” kata Ya’kub mengulangi kalimat tauhid itu.

Ustad Masjid Al-Hidayah ini balik menuding kalimat syahadat berbunyi "Wa asyhadu anna Mirza Ghulam Ahmad rasulullah" itu hanya buatan orang-orang ingin Ahmadiyah dianggap sesat. “Kami itu Islam, bukan berarti butuh pengakuan ketika berbicara di media,” ia menegaskan.

Menurut Ya'kub, perbedaan Ahmadiyah dengan Sunni adalah Ahmadiyah meyakini Mirza Ghulam Ahmad, lelaki asal India, sebagai Imam Mahdi, seperti kepercayaan kaum Syiah soal imam ke-12. Sunni pun mengajarkan Imam Mahdi bakal turun memerangi dajjal. Hanya saja, sampai saat ini, identitas Imam Mahdi itu belum diketahui.  

Setelah menjelaskan semuanya, Ya’kub minta izin meninggalkan masjid. Belum sempat dia keluar, dua jamaah masuk masjid. Mereka duduk terpisah dan masing-masing membaca Alquran tersedia di dalam masjid. Lamat-lamat terdengar lantunan ayat di awal-awal surat Al-Baqarah.

Masjid Ahmadiyah ini menyediakan banyak Alquran buat jamaahnya. Kitab suci itu diletakkan di pelbagai sudut dalam tempat khusus. Dua orang mengaji itu berhenti setelah mendengar azan asar.
[fas]

Retrieved from: http://www.merdeka.com/khas/dari-salat-zuhur-hingga-membaca-alquran-berpuasa-bareng-ahmadiyah-2.html

Wednesday, August 1, 2012

Berpuasa Bareng Ahmadiyah (1): Kumandang azan zuhur dari masjid Ahmadiyah


Masjid Ahmadiyah. merdeka.com/Islahuddin
Merdeka, Rabu, 25 Juli 2012 07:00:00
Reporter: Islahudin

Selama ini Ahmadiyah dianggap aliran sesat karena tidak mengakui Nabi Muhammad dan mengingkari Alquran. Sebagai gambaran buat pembaca seperti apa kegiatan jamaah Ahmadiyah selama Ramadan, Islahuddin dari merdeka.com selama seharian pada Senin lalu berkumpul dengan komunitas Ahmadiyah di Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Berikut laporannya. 
Senin pagi lalu, suasana di masjid tiga lantai itu tampak sepi. Pintu pagar dari teralis setinggi 1,5 meter terbuka lebar. Di samping pintu ada papan nama masjid terpasang manghadap timur. Ukurannya sekitar 1,3 x 1 meter bertulisan kalimat syahadat dalam huruf Arab. Di bawahnya tertera nama dan alamat lokasi masjid dengan huruf latin.

Meski tidak terlihat kegiatan dari luar, sekitar sepuluh sepeda motor terparkir di halaman. Salah satunya RX King berwarna coklat bertulisan POLISI di badan motor. Itulah suasana Masjid Al-Hidayah milik komunitas Ahmadiyah di Jalan Ciputat Raya, Gang Sekolah nomor 18 RT 1/RW 1, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.

Di pojok pelataran, terdapat meja dan kursi untuk polisi jaga. Dari undakan masjid muncul seorang polisi berpakaian bebas menemui merdeka.com. Ia mengaku bernama Widi, anggota Kepolisian Sektor Kebayoran Lama Selatan. Dia mengatakan sudah setahun lebih masjid itu dijaga. “Polisi tidak ingin kecolongan lagi atas penyerangan masjid Ahmadiyah,” katanya.

Widi menjelaskan saban hari ada empat polisi bergiliran jaga, dua orang kebagian siang dan sisanya malam. Pagi itu, dia menunggu rekannya akan menggantikan tugasnya. Sambil menanti, ia menghidupkan motor dinasnya untuk memanaskan mesin.

Dedi rekan jaga Widi mengaku tidak tahu sampai kapan penjagaan berlangsung. "Mungkin hingga tahun depan," ujar Dedi ikut nimbrung selepas bangun tidur.

Selang setengah jam, datang Firdaus Mubarik, 28 tahun, pengurus masjid bidang hubungan masyarakat. Dia mengaku rumahnya tidak jauh dari masjid. Firdaus menjelaskan sejak penyerangan jamaah Ahmadiyah di Cikeusik, Pandegelang, Banten, Jawa Barat pada 6 Februari 2011, polisi siaga 24 jam di masjid. “Banyak yang bilang Ahmadiyah hebat bisa membayar polisi menjaga masjid berbulan-bulan,” kata Firdaus.

Firdaus mengungkapkan biasanya masjid ramai saat akhir pekan. Remaja Ahmadiyah dari Kebayoran Lama berkumpul meski hanya untuk obrolan singkat atau berolah raga bersama, misalnya main futsal di Blok M.

Berbeda dengan Muhammadiyah yang mempunyai hitungan sendiri, jamaah Ahmadiyah selalu mengikuti keputusan pemerintah soal awal Ramadan. Kebijakan ini berlaku bagi cabang Ahmadiyah di seantero Indonesia. “Pusat Ahmadiyah di London, Inggris, juga memerintahkan mengikuti pemerintah lokasi keberadaan masing-masing,” ujar Firdaus.

Ritual puasa orang Ahmadiyah tidak berbeda dengan penganut mazhab Sunni, yakni menahan makan, minum, dan hal-hal dianggap membatalkan. Salat tarawih pun juga sama, delapan rakaat ditambah tiga rakaat witir. Sebab itu, Firdaus menolak tuduhan Ahmadiyah dianggap menyimpang dari Islam. Dia menegaskan isu itu untuk memecah belah Islam.

Surat Keputusan Bersama (SKB) menteri agama, menteri dalam negeri, dan jaksa agung  pada 9 Juni 2008 memerintah Jamaah Ahmadiyah Indonesia menghentikan penyebaran penafsiran dan kegiatan dianggap menyimpang dari pokok-pokok ajaran Islam. Pelanggar SKB ini diancam hukuman penjara paling lama lima tahun. 

Karena dianggap sesat, jamaah Ahmadiyah di sejumlah daerah, seperti Parung (Bogor), Cikeusik, dan Lombok (Nusa Tenggara Barat) menjadi korban penganiyaan, perusakan dan pembakaran harta benda, serta bahkan pembunuhan.

Sekitar pukul 12 lebih, suara azan zuhur berkumandang dari dalam masjid. Lafaznya sama seperti azan di masjid-masjid kaum Sunni di pelbagai belahan dunia.
[fas]

Retrieved from:  http://www.merdeka.com/khas/kumandang-azan-zuhur-dari-masjid-ahmadiyah-berpuasa-bareng-ahmadiyah-1.html

Tuesday, July 31, 2012

Mencari Sosok Calon Pemimpin Alternatif



Oleh Ahmad Najib Burhani*

Pemilihan gubernur DKI putaran kedua akan berlangsung beberapa waktu lagi. Dua tahun lagi kita juga akan memilih pemimpin nasional yang baru. Ada satu kriteria pemimpin yang baik yang sering terabaikan selama ini, yaitu kepedulian dan pembelaannya terhadap kelompok minoritas. Tentu saja kelompok ini tak terlalu berpengaruh dalam pemenangan calon gubernur atau presiden. Tapi esensi dari demokrasi sesungguhnya terletak, diantaranya, pada bagaimana seorang pemimpin yang terpilih dengan suara terbanyak itu melindungi kelompok minoritas. Demokrasi diciptakan antara lain agar tak terjadi apa yang disebut dengan tirani mayoritas.

Selama ini sering terjadi, seorang walikota, bupati, gubernur, atau presiden merasa ketakutan untuk memberikan pembelaan terhadap hak-hak minoritas hanya karena takut akan kehilangan suara dari kelompok yang mengklaim sebagai representasi mayoritas. Pada pemilihan lurah di desa Umbulan, Cikeusik, misalnya, ada calon yang berjanji akan mengusir Ahmadiyah dari desa itu jika ia terpilih menjadi kepada desa. Begitu terpilih, dengan beragam upaya ia mencoba mewujudkan janji itu.

Peristiwa seperti itu terjadi juga di tempat-tempat lain seperti di Kuningan, Jawa Barat. Bahkan pada tingkat nasional pun hal yang serupa juga terjadi. Untuk menjaga agar tak kehilangan dukungan dari kelompok yang seakan-akan mewakili suara mayoritas, seorang pemimpin pemerintahan tunduk pada tuntutan kelompok ini meski ia harus melanggar hak-hak beragama dari kelompok minoritas.

Negara dan Agama
Mengenai peran negara dalam kaitannya dengan kelompok agama minoritas, John Locke pernah berkata bahwa setiap keyakinan keagamaan itu ortodok (benar) untuk dirinya sendiri meski mereka mengklaim bahwa hanya kelompoknya saja yang benar (2003, 215). Karena itu, dalam konteks ini, negara tidak memiliki otoritas untuk menghakimi mana paham keagamaan yang benar dan salah. Inilah posisi yang semestinya diambil oleh negara sekuler seperti Indonesia.

Tentu saja sudah menjadi hak institusi keagamaan seperti MUI, Muhammadiyah, dan NU untuk mengelaurkan fatwa yang memberikan rambu-rambu tentang keyakinan keagamaan yang bisa diterima atau harus ditolak. Namun pemerintah tak memiliki kewajiban untuk mentaati satu fatwa tertentu atau berpihak pada paham keagamaan tertentu. Tugas dari negara sesuai konstitusi adalah memberikan ketenteraman kepada rakyat dan melindungi warganya untuk secara aman menjalankan kegiatan keagamaan yang mereka anut.

Jika pemimpin atau pemerintah berpihak pada paham teologi tertentu, maka lembaran hitam sejarah akan terulang. Pada masa kekhilafahan Al-Makmun dalam dinasti Abbasiyah di Baghdad, pemerintah mengadopsi Mu’tazilah sebagai paham resmi negara. Akibatnya, kelompok Sunni mengalami persekusi. Salah satu tokoh Sunni yang menderita penyiksaan adalah Ahmad bin Hanbal.

Dalam dunia kontemporer, Saudi Arabia adalah contoh lain. Hanya Wahhabi yang boleh hidup di sana, sementara paham Islam lain tak boleh ada. Jika Indonesia meniru Saudi Arabia atau Pakistan dalam memperlakukan Ahmadiyah, maka inkuisisi (mihnah) terhadap kelompok ini dan kelompok kecil lain tak akan pernah ada habisnya. Maka, satu-satunya solusi adalah bahwa pemimpin atau negara tak boleh berpihak pada teologi tertentu.

Demokrasi Angka-angka
Dalam sebuah sabdanya, Nabi Muhammad berkata, “Bukanlah bagian dari umatku jika ada kelompok mayoritas atau kuat tapi tak menyayangi minoritas atau lemah. Dan juga bukan bagian dari umatku jika ada kelompok minoritas tapi tak hormat kepada mayoritas.” Sabda ini sangat relevan dengan prinsip demokrasi yang menghindari tirani mayoritas.

Kemenangan dalam pemilu itu memang ditentukan oleh jumlah angka pemilih. Namun itu semua pada hakikatnya hanyalah permulaan. Pada ujungnya, nilai demokrasi itu dihitung pada bagaimana pemenang pemilu itu bisa melindungi minoritas. Jika tidak, maka demokrasi kita barulah pada tahap demokrasi angka-angka.
--oo0oo--

Wednesday, July 25, 2012

Suatu Hari di Markas Ahmadiyah

Saturday, June 14, 2008


Oleh: Muhammad Iqbal (Wartawan biasa, tinggal di Pulau Batam. Pernah menang Mochtar Lubis Award 2010 dan Anugerah Adiwarta Sampoerna 2010).


CAHAYA matahari menyusup ke dalam sebuah ruko warna biru di kawasan Nagoya, Jumat (13/6) menjelang siang. Tapi kesan gelap masih saja terasa di ruang seluas lapangan bulu tangkis itu. Dari celah pintu yang dibuka tak sampai setengah, tiga bocah melongokkan kepala.

''Cari siapa ya?'' tanya mereka. ''Pak Muslim Barus. Ada?'' jawab saya. ''Ada di atas. Naik saja,'' kata seorang bocah perempuan yang terlihat lebih tua dari dua lainnya. Di pojok depan sebelah kanan pintu masuk ruko, tempat para bocah itu bermain, sepatu dan sandal berserakan, meski rak tiga tingkat warna putih yang ada di sana terlihat kosong.

Menginjakkan kaki di lantai dua, langkah dihadang sebuah ruang tamu sederhana. Satu set sofa sudut warna merah tua mengapit televisi layar datar 21 inchi. Kipas angin mini yang ditaruh di atas tv berputar mendinginkan suhu ruangan yang terasa agak gerah.

Inilah markas organisasi Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) Cabang Batam. "Yah, beginilah. Seperti inilah tempat kami,'' kata Muslim Barus, pembina JAI Batam. Barus lalu duduk di sofa merah tua. Di atas kepalanya terpajang potret Mirza Gulam Ahmad, pendiri Ahmadiyah. Di bawah gambar Mirza, ikut pula dipasang lima potret tokoh lainnya. "Mereka ini para kalifahnya,'' kata Barus sembari menunjuk satu per satu foto itu.

Saat turun dari kamar tinggalnya di lantai tiga, Barus membawa sebuah handycam, yang lalu ditaruh di meja depan sofa. Seorang anggotanya bernama Sultan, yang lebih dulu menemui saya, kemudian menyalakan alat perekam itu di atas tripod warna hitam. Lensanya mengarah ke wajah saya. "Maaf ya, semua pembicaraan ini harus saya rekam. Untuk dokumentasi kami,'' ujar Sultan. Barus meminta alamat lengkap markas JAI Batam tidak dikorankan. ''Demi keamanan,'' ujarnya. Inilah kali pertama aktivitas mereka diliput media.

Ruko tiga lantai ini, selain berfungsi sebagai tempat tinggal Barus dan keluarga, kantor organisasi, juga sebagai tempat ibadah. Musala yang diberi nama Baitul Dzikir terletak berdampingan dengan ruang tamu.

Menurut Barus, kecuali warga sekitar dan polisi, tak banyak yang tahu bahwa di sanalah anggota JAI melaksakan ibadah berjamaah, minimal saban Jumat. Padahal, menurut Harlin, salah satu anggota Ahmadiyah terlama di Batam, aktivitas Ahmadiyah di ruko itu sudah berjalan sejak 1995. ''Ruko ini dipinjamkan salah satu anggota kita,'' kata Harlin.

Barus sendiri baru sepuluh bulan jadi pembina sekaligus mubaligh Ahmadiyah di Batam. Meski usianya baru 35 tahun, Barus sudah punya jam terbang tinggi. Pria asal Tanah Karo, Sumatera Utara itu sebelumnya bertugas di Tanjungpinang. ''Sebelum di Pinang, saya ditugaskan di daerah eks transmigrasi di Indragiri Hilir,'' katanya.

Ia juga sudah mengunjungi beberapa daerah lain di Indonesia yang ada pengikut Ahmadiyah-nya. Ayah dua anak ini mengaku bergabung dengan Ahmadiyah tahun 1994. Ia kemudian menempuh pendidikan khusus Ahmadiyah di Parung, Jawa Barat. ''Itu lho, tempat yang dulu dihancurkan massa,'' katanya. Saat penyerangan terjadi 15 Juli 2005, Barus sudah tak di sana. ''Saya sudah tamat,'' ungkapnya.

Pukul 12.09 WIB adzan berkumandang dari musala. Berbeda dengan musala-musala lainnya, suara Muchtar, sang muadzin, hanya terdengar di ruang itu saja. Tidak ada pengeras suara di luar ruko. Satu per satu jamaah masuk ke dalam musala. Beberapa di antaranya menyempatkan diri mandi terlebih dahulu "Maklumlah mereka rata-rata dari jauh,'' kata Barus. Ruang musala disekat jadi dua bagian dengan menggunakan tripleks yang diberi cat warna cokelat. ''Bagian yang satunya untuk jamaah wanita,'' kata Barus.

Beberapa menit berselang, Barus naik ke mimbar mengucapkan salam. Adzan kedua berkumandang. Barus tampil sebagai khatib dengan tema kotbah: "Persaudaraan dalam Islam". Hanya sekitar 15 menit saja ia di atas mimbar. Salat berjamaah kemudian digelar. Kali ini Barus maju sebagai imam. Setelah lantunan al fatihah rakaat pertama ia membaca surat al baqarah, dan di rakaat kedua Barus melafalkan surat al isra. Hanya 20 orang jamaah saja, termasuk empat anak-anak, yang dipimpin Barus dalam salat Jumat itu. "Tidak semua anggota datang,'' ucapnya.

Baitul Dzikir merupakan satu-satunya sarana ibadah Ahmadiyah di Batam. Karena itulah, para pengikut dari seluruh pelosok, seperti Batuaji dan Tanjunguncang harus menempuh perjalanan berpuluh kilometer untuk bisa menunaikan salat Jumat berjamaah. Sebagian tak bisa datang karena terbentur sempitnya waktu. Selain salat Jumat, berkumpul sesama pengikut Ahmadiyah biasa dilakukan saat pengajian bulanan yang waktunya jatuh pada Sabtu malam, pekan pertama awal bulan. ''Tapi sejak SKB terbit kita vacum dulu,'' ungkap Barus.


***
KAPAN Ahmadiyah pertama kali ada di Batam? Ketua Pengurus Ahmadiyah Batam Ahmad Agung Nugroho, tidak punya jawaban pasti. "Kalau itu agak sulit menjawabnya. Sebelum ada kepengurusan beberapa anggota sudah ada yang tinggal di sini,'' kata Agung yang memimpin Ahmadiyah untuk periode 2007-2010.

Menurut Harlin, pengikut Ahmadiyah yang lama tinggal di Batam, sejak awal 1990-an beberapa anggota Ahmadiyah sudah mukim di pulau ini. ''Tapi masih tersiar (tersebar, red). Belum ada struktur,'' katanya. ''Keberadaan kita waktu itu masih di bawah pantauan pengurus Sumatera Bagian Utara,'' katanya.

Struktur resmi terbentuk pada tahun 1995. Agus Yusuf terpilih sebagai ketua pertama. ''Itu dia orangnya,'' kata Harlin menunjuk seorang pria 50-an tahun berkaca mata dengan postur agak kurus. Agus tersenyum dan menganggukkan kepala. Ia duduk dekat tiang di dalam musala. ''Waktu itu hanya ada tiga keluarga saja,'' kata Agus mengenang.

Sejak itu, roda organisasi bergulir sebagaimana organisasi lainnya. Pemilihan pengurus dilakukan secara periodik tiga tahun sekali. Kini jumlah pengikut di Batam, kata Barus, sekitar 70 orang. ''Tidak lebih dari itu. Dari yang baru lahir sampai yang sudah uzur,'' katanya.

Barus mengatakan, jumlah anggota sangat fluktuatif. Tidak menentu. Sebab tidak seluruh anggota menetap selamanya di Batam. "Ada yang bekerja di instansi pemerintah kadang tugas di Batam hanya setahun saja,'' ujarnya.

Di organisasi Ahmadiyah, ada semacam hukum tak tertulis yang dijalankan para pengikut. Setiap kali ada anggota yang akan mengunjungi atau pindah ke daerah lain, ia akan mengontak kantor pusat untuk menanyakan, apakah daerah yang dituju ada pengikut dan kantor cabang Ahmadiyah. Jika ada, maka kantor pusat akan memberikan alamatnya. ''Dari situlah kita biasanya tahu ada anggota yang baru datang atau pergi,'' kata Barus.

Para anggota yang datang silih berganti inilah yang menghidupi organisasi. Barus menjelaskan, dalam anggaran dasar Ahmadiyah, setiap anggota wajib menginfakkan seper enambelas pendapatan mereka tiap bulan. Infak dalam organisasi Ahmadiyah disebut "candah".

Candah adalah bahasa Urdu, bahasa ibu Mirza Gulam Ahmad. Candah yang terkumpul dari para anggota itu kemudian dikirimkan ke Pengurus Pusat Ahmadiyah. ''Dana itu pusat yang kelola. Nanti pusat kirim lagi ke kita untuk operasional,'' kata Barus yang mengaku digaji Ahmadiyah sebagai mubaligh sebesar Rp160 ribu sebulan.

Apa bedanya situasi dulu, saat pengurus baru terbentuk dengan sekarang? "Sama saja. Datar-datar saja. Ibarat air, tak ada riaknya,'' kata Agus Yusuf. Sejauh ini, para pengurus dan pengikut mengaku tidak ada masalah dengan lingkungan tempat tinggal dan kerja mereka.

Edi Darsono, pengikut yang tinggal di Tiban misalnya, mengaku seluruh tetangga dekatnya tahu kalau ia anggota Ahmadiyah. ''Biasa-biasa saja. Hubungan kami seperti hubungan dengan warga lainnya,'' katanya. Begitu juga dengan Sultan. ''Kalau ada kegiatan di lingkungan, gotong royong misalnya, kita biasa ikut,'' kata pria asal Bandung ini.

Pengakuan yang sama juga disampaikan Ardi. Bahkan, kata dia, dulu mereka juga sering mengelar aksi sosial seperti donor darah dan bagi sembako. ''Tapi tidak atas nama Ahmadiyah, dan tidak ada atribut Ahmadiyah. Para penerima malah nggak tahu kalau itu dari Ahmadiyah,'' kata Ardi, yang kerap didapuk sebagai ketua panitia kegiatan sosial.

Para pengikut Ahmadiyah, kata Ardi, juga sudah membuat semacam janji akan mendonorkan kornea mata mereka ke Bank Mata, kelak bila mereka wafat. ''Anggota di Batam sudah sepuluh orang yang bersedia. Semuanya wanita,'' kata Ardi.

Barus mengungkapkan, meski semua bejalan biasa saja, sejumlah petugas polisi rutin memantau dan melakukan kontak dengan mereka. Komunikasi makin intensif sejak kontroversi soal keberadaan organisasi Ahmadiyah menguat di masyarakat. ''Kadang polisi tanya, bagaimana keadaan kami,'' ujarnya. ***

Retrieved from: http://iqbalfile.blogspot.com/2008/06/suatu-hari-di-markas-ahmadiyah.html