Showing posts with label Cikeusik. Show all posts
Showing posts with label Cikeusik. Show all posts

Sunday, August 5, 2012

Indonesia a Failed State? Fate of The Ahmadis Shows It Could Be

'The protection of minority groups is part of the essence of democracy. Failure to do this is an indication that the democracy currently employed in this country is superficial at best.'
The Jakarta Globa,  August 04, 2012

Ahmad Najib Burhani
 
In June, the Fund for Peace issued a failed-states index. Of the 178 countries surveyed in this index, Indonesia was listed in the 63rd position, with a score of 80.6. What does that mean? Although Indonesia cannot technically be considered a failed state, its position in the index was in the “very high warning” category. That means that the country is relatively close to becoming a failed state.

One important factor that is used to determine Indonesia’s score in this index was what was called group grievance. Tension and violence in the state, as well as the failure of the country to provide adequate security for its people, played a significant role in ensuring Indonesia ended up where it did in the index.

The index talks more about the majority of populations in certain countries and sometimes hides the fact that a number of minority groups in certain countries experience constant persecution. The case of Indonesia can be used as an example. Although the majority of the population in this country is satisfied with the security they receive and feel, religious minorities like Ahmadi Muslims find themselves living in constant fear. Discrimination and persecution have been experienced at very high levels by this community throughout the last decade.

Actually, resistance and opposition to the Ahmadiyah has been occurring in Indonesia since the 1920s. Historically, the opposition was not only voiced by conservative organizations and persons, but also by moderate Muslim organizations including Muhammadiyah and Nahdlatul Ulama. In 1929, Muhammadiyah issued a fatwa declaring that whoever believes the existence of a prophet after the Prophet Muhammad is a kafir (infidel). In 1938, NU demanded that the Majlis Islam A’laa Indonesia (MIAI — Supreme Council of Muslims of Indonesia) expel the Ahmadiyah group from this institution, otherwise NU would not be admitted to the MIAI.

One thing must be noted, however. Though there has always been opposition to the Ahmadiyah’s presence in Indonesia, violent attacks and persecution against it did not always exist. It is true that in the 1950s Ahmadis were hunted and killed, but it wasn’t done by the Indonesian government or other Muslim groups. Attacks were carried out by the Tentara Islam Indonesia rebel group. Moreover, when Media Dakwah, the official magazine of the Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia, published a blasphemous picture of Mirza Ghulam Ahmad (the founder of the Ahmadiyah Muslim community) in its October 1988 edition, the Ahmadiyah filed and won a lawsuit against Media Dakwah.

There was a shift in the resistance and opposition to the Ahmadiyah after 1998. It became more intense and the level of violence climbed steadily.

At the discursive level, besides old “guards of orthodoxy” like the Persatuan Islam, DDII and MUI (Indonesian Council of Ulema), there are other groups, such as Hizbut Tahrir Indonesia and the Islamic People’s Forum (FUI), that vigorously oppose the Ahmadiyah.

Opposition by force has been committed mostly by a number of vigilante groups established with the main objective to attack Ahmadiyah. Among them are Garis (Muslim Reform Movement) in Cianjur, Gapas (Anti-Apostasy and Deviant Sects Movement) in Cirebon, Geram (Anti-Ahmadiyah Peoples Movement) in Garut and Gerah (Anti-Ahmadiyah Movement) in Kuningan. These groups, all based in West Java, are added to older, established vigilante groups that fiercely oppose Ahmadiyah such as the Islamic Defenders Front (FPI).

Other shifts in the opposition to Ahmadiyah that appear after 1998 is the attitude of the government, particularly the current regime under Susilo Bambang Yudhoyono. It seems that the government does not have the power to give security to its people and prevent violent attacks against the Ahmadiyah community. There are a number of cases related to Ahmadiyah that can be used to underscore the absence of the state in protecting its people, but two of the most serious ones took place in Mataram on Lombok, the capital of West Nusa Tenggara, and the Cikeusik subdistrict of Pandeglang, in Banten province.

Over a hundred Ahmadis have been living in the Transito building in Mataram since 2006, after vigilante groups destroyed their homes, looted their property and then displaced them from their villages. Some of them have been deprived access to education and health care. Most of the time, they have been treated like refugees. Almost none of the attackers who destroyed their houses have been brought to justice.

What is more surprising is the solution proposed by the local government. Rather than taking some sort of action, the local government asked Ahmadis to seek asylum in other countries. There was also the suggestion that they move to an isolated island about 40 kilometers from Lombok.

In the Umbulan village of Cikeusik, three Ahmadis were killed during the attack on an Ahmadiyah mission house on Feb. 6, 2011. The killers were sentenced to between three and six months. One of the injured victims, Deden Sudjana, was given a six-month jail sentence for provoking the attack.

So is Indonesia a failed state? In the most general terms, Indonesia cannot be put in that category. However, in the context of protecting the rights of minority religious groups like the Ahmadiyah, it is a different story.

The protection of minority groups is part of the essence of democracy. Failure to do this is an indication that the democracy currently employed in this country is superficial at best.

Ahmad Najib Burhani is a PhD candidate at the University of California, Santa Barbara, and a researcher at the Indonesian Institute of Sciences (LIPI).

Retrieved from: http://www.thejakartaglobe.com/opinion/indonesia-a-failed-state-fate-of-the-ahmadis-shows-it-could-be/535215

Sunday, June 3, 2012

Romi dan Yuli dari Cikeusik

By Denny J A
 
Posted on March 21, 2012

/1/
Juleha namanya, asli Betawi.
Sejak remaja Yuli panggilannya –
Dan ia suka.
Di atas sajadah
Masih juga tersedu si Yuli.
Jam 3.00 dini hari
Ia lantunkan doa pedih
Lirih.
Ya, Tuhan gerakkan hatiku1
Berikan aku isyarat menuju cahaya
Kebimbangan ini menyiksaku.
Foto Romi di tangannya,
Kekasihnya;
Diingatnya Ayah
Yang membesarkannya –
Mengapa aku tak bisa memiliki keduanya?
Ah, yang seorang umat Ahmadiyah
Seorang lagi Muslim garis keras.
Pedas, keras ucapan ibunya
Setiap kali perempuan itu memperingatkannya,
Kita di Indonesia, tidak di Amerika.
Di sini agama di atas segala
Tak terkecuali cinta remaja.


/2/
Ditatapnya sekali lagi foto Romi
Pria penuh kasih dan sayang.
Paduan jiwaku, soul-mate,
Calon suamiku.
Masa silam pun melintas adegan demi adegan:
Ketika itu Yuli lagi patah hati
Menderita penyakit sulit disembuhkan
Karena itulah kekasih lamanya pergi
Menikah dengan gadis lain.
Di masa segalanya terasa kosong,
Di masa semuanya tercecap hambar,
Muncullah seorang pemuda
Romi namanya – membawa aroma berbeda;
Ditemaninya gadis itu ke dokter,
Ditemaninya mencoba resep herbal,
Ditemaninya berdoa
Mengharapkan keajaiban.
Tasbih pemberian Romi di ulang tahunnya
Tak pernah lepas dari tangannya:
Keduanya senantiasa berzikir bersama.
Selembar puisi menempel di dinding kamarnya
Kata dirangkai dalam larik,
Larik ditata dalam bait,
Menyihirnya setiap kali menjelang tidur.
Tak terdengar isak tangis Yuli
Yang dalam, yang berkepanjangan.
Dibayangkannya Romi,
Dibayangkannya dirinya sendiri
Terombang-ambing dalam bayang-bayang kenyataan
Yang kelam: harus pupus cinta karena beda paham agama.

/3/
Rokhmat nama aslinya, Romi panggilannya
Nama yang pas untuk orang kota, katanya,
Berasal dari keluarga kurang berada
Tinggal di salah sebuah kantong permukiman
Satu dari banyak pemukiman Jemaah Ahmadiyah.
Ancaman serius bagi akidah,
Kata sebagian orang.
Ia tak mau lagi mewarisi kemiskinan
Tak mau begitu saja menyerah
Dan berkat kecerdasannya ia peroleh beasiswa
Belajar ilmu bisnis ke mancanegara.
Ayahnya pengurus Ahmadiyah
Itu ia tak minta
Sejak kecil dididik oleh lingkungannya
Juga itu ia tak minta,
Demikianlah, ia pun menjadi seorang Ahmadi.
Dipelajarinya filsafat dan pengetahuan Barat
Ajaran Ahmadiyah mengalir dalam darahnya.
Namun, tidak fanatik ia!
Semua agama warisan dunia
Bisa diikuti siapa saja
Bisa diambil inti sarinya
Untuk kebaikan semua,
Begitu selalu katanya.

/4/
Saat pertama berjumpa Romi
Di taman kampus itu
Dalam sebuah pagelaran seni antaruniversitas
Yuli terdengar melafalkan sajak Kahlil Gibran,
Bila cinta tlah memanggilmu, ikutlah jalannya walau mungkin berliku
Dan bilamana sayapnya mendekapmu…
Ia lupa kata selanjutnya
Diulanginya lagi potongan kalimat Kahlil Gibran itu,
Dan bilamana sayapnya mendekapmu…
Tetap saja tak diingatnya lanjutan larik itu;
Saat itulah terdengar suara dari belakang
Menyambungnya,
Dan bilamana sayapnya mendekapmu, pasrah dan menyerahlah,
Walau pedang yang bersembunyi di sayap itu menghunusmu…
Laki-laki yang menyahut itu memperkenalkan diri,
Saya Romi.
Itulah awal mula segala
Yuli mahasiswi
Romi pengusaha franchise
Yang juga dosen muda dari universitas lain.
Keduanya bertemu lagi
Bertemu dan bertemu lagi
Di kampus
Di toko buku
Di bioskop
Di rumah makan
Di rumah masing-masing.
Sampai pada suatu hari
Yuli dan Romi tersadar:
Bunga tampak lebih indah sore itu
Padahal bunga yang sama,
Burung lebih lincah dari sedia kala
Padahal burung yang itu juga.
Ya, ya, bunga dan burung boleh saja sama
Tetapi hati yang telah berubah
Mampu menyulap apa pun yang kasat mata
Tampak lebih indah.
Di mana pun mereka senantiasa bersama
Tertawa-tawa, berbisik-bisik,
Tukar-menukar kata tentang ini dan itu,
Tentang Yang Di Sana dan yang di sini:
Demikianlah maka mereka pun dikenal
Sebagai Romeo dan Juleha, pasangan pecinta puisi.
Sampai jugalah hari itu:
Rencana pernikahan pun dirundingkan.
Dua keluarga berjumpa
Dua keluarga bulat mufakat
Tanggal, bulan, dan tahun pernikahan
Semua sepakat –
Tanpa bicara paham agama:
Undangan pernikahan segera disiapkan.

/5/
Tak ada hujan tak ada badai
Tak ada petir tak ada kilat
Mendadak pernikahan batal
Langit pun terkejut.
Penyebabnya peristiwa itu!
Tanggal 6 bulan Februari tahun 2011
Kampung Romi di Cikeusik dilanda huru-hara.
Ketika Jemaah Ahmadiyah sedang mengadakan pertemuan
Massa menyerang –
Dan nyawa empat orang2
Melayang!
Kebetulan Romi menyaksikan peristiwa itu
Di layar kaca
Ketika ia dan Yuli makan siang
Di sebuah restoran Jepang.Wajahnya tampak tegang
Itu teman-temanku, ujar Romi;
Yuli tersentak.
Maksudmu? Kamu pengikut Ahmadiyah?
Romi mengangguk, pelan.
Mengapa kamu tidak pernah cerita?
Romi terdiam.Yang sedang ditayangkan itu
Bukan sebuah drama
Bukan pula sinema
Tapi rekaman peristiwa di kampung sana.
Orang-orang berbekal kayu dan senjata tajam
Meneriakkan Allahu Akbar!
Mereka garang
Mereka menyerang
Dan beberapa nyawa melayang.
Yuli ikut sedih, dan hanya bisa berkata lirih,
Pulang sajalah kau, Romi, sekarang.
Cari kabar keadaan orang tuamu
Cari tahu nasib teman-temanmu.
Romi menahan air matanya, lalu dikatakannya,
Maafkan aku Yuli,
Aku tak pernah cerita itu;
Bagiku perbedaan paham agama
Tak perlu menjadi sengketa.
Romi pun bercerita,
Ahmadiyah itu bla…bla…bla…
Ra…ra…ra…
Ra…ri…ru….
Mereka dituding sesat karena bla…bla…bla…
Padahal ra…ra…ra…
Romi diam sejenak, lalu dilanjutkannya,
Mereka tidak mendudukkan
al-Tazkirah sebagai Kitab Suci
dan menganggapnya sebagai karya Ghulam Ahmad
Tiada lebih.
Mereka berkeyakinan sama dengan umumnya akidah Islam
Menjalankan ibadah sesuai lima rukun Islam
karena bla…bla…bla…
Ra…ra…ra…
Romi mengambil nafas panjang
Kembali berkicau,
Polemik Ahmadiyah sering terjadi sejak 1925
Dulu semua damai saja
Tapi orang sekarang pendek sumbunya
Tidak lagi sanggup menenggang perbedaan
Padahal bla…bla…bla…
Ra…ra…ra…
Romi menuturkan semua pengetahuannya,
Yuli menyimaknya
Dengan airmata
Yang terus mengalir di kedua pipinya.
Setelah agak reda
Yuli masuk ke inti perkara,
Ya Romi
Itu kan Ahmadiyah versimu
Versi ayahku jauh berbeda.
Kamu tahu, ayahku pengurus masjid
Yang punya paham anti-Ahmadiyah.
Yuli melanjutkan, sambil menyeka air matanya,
Menurut ayahku, Ahmadiyah itu
Ta…ta…ta…
Bla…bla…bla…
Karena mereka
La…la…la…
Bla…bla…bla…
Mereka berdua larut dalam diam
Hati mereka berpelukan
Tapi pikiran mereka bersilangan.
Melihat wajah Yuli yang memucat
Romi kuatir penyakit lamanya kambuh.

/6/
Sejak huru-hara Cikeusik itu
Yuli mulai berubah
Ia tampak senantiasa gelisah
Kalau ayah dan ibunya tahu
Siapa sebenarnya si Romi itu
Cinta mereka harus tamat
Harus kiamat mat-mat-mat-mat.
Hampir tiap malam
Orang berkumpul di rumah Yuli
Dan huru-hara Cikeusik yang kelam
Jadi pusat gunjingan, jadi inti.
Allahu Akbar! Allahu Akbar!
Tak jarang teriakan itu terdengar
Di sela-sela kata-kata yang marah,
Di sela-sela sumpah-serapah.
Ayah Yuli aktivis Islam yang tegak
Di garis keras.
Yuli pun berusaha mencari jalan
Untuk melunakkan hati ayahnya,
Untuk mengendorkan kepalan tangannya;
Dicarinya pandangan lain
Dari kalangan pembela hak asasi,
Dari ulama moderat,
Dari tokoh agama yang bisa menjembatani.
Konon, sumber kekerasan adalah sebuah fatwa:
Ahmadiyah dinyatakan sesat tahun 2005.
Dan sejak itulah
Azab-sengsara menimpa para Ahmadi.
9 Juli 2005,
Perguruan al-Mubarok milik Ahmadiyah
di Parung, Bogor
Diserang massa.3
Sejak tahun 2006 hingga entah kapan
Di Mataram ratusan jemaah Ahmadiyah diserbu
Mereka dipaksa mengungsi.4
27 April 2008
Masjid Al-Furqon milik Ahmadiyah
Di Parakansalak, Sukabumi
Dibakar massa: para Ahmadi lari lintang-pukang
Tiga bangunan madrasah rata dengan tanah.5
Juni 2008
Terbit Surat Keputusan Bersama
Menteri Agama,
Menteri Dalam Negeri,
Dan Jaksa Agung.
Isinya:
Titah bagi jemaat Ahmadiyah
Untuk menghentikan semua kegiatan
Yang tidak sesuai
Dengan penafsiran Islam.
Tetapi para pembela hak-hak asasi manusia
Menilai Surat Keputusan Bersama tak adil,
Melanggar hak-hak asasi manusia,
Bertentangan dengan Undang-undang Dasar ‘45,
Dan tidak akan mengakhiri masalah.6
Yuli semakin bingung,
Semakin banyak yang ia dengar
Semakin beragam isinya
Semakin kabur semua baginya.
Satu-satunya hal yang pasti:
Ayah dan Ibu mengubah pikiran
Rencana pernikahan pasti dibatalkan.
Kecuali jika ada mukjizat.

/7/
Suatu malam
Yuli mengajak orang tuanya berbincang:
Disampaikannya cerita tentang Romi
Apa adanya: korban Cikeusik itu kerabatnya.
Orang tua Yuli bagai kena setrum
Bagai tersambar halilintar:
Dan dalam kegeraman mereka berkata,
Demi nama baik keluarga
Pernikahan harus dibatalkan!
Ayah Yuli berteriak mengatakan,
Ahmadiyah telah menyimpang dari Islam yang benar
Ajarannya sudah dinyatakan sesat
Dalam agama berlaku prinsip
Bla..bla..bla…
Ra…ra..ra…
Yuli mencoba menjawab,
Ahmadiyah itu Islam juga
Karena ta…ta…ta…
La…la…la…
Hari itu, Yuli dan ayahnya berdebat keras
Lirih Yuli berkata,
Ayah, aku hidup di zaman yang berbeda
Jangan paksakan pikiran Ayah padaku
Aku memang anak Ayah.
Tapi batinku dan pikiranku bukan punya Ayah.
Ini bukan pikiran Ayah, Yuli.
Ini perintah agama! sahut ayahnya.
Percakapan pun selesai, tak ada jalan lagi
Kecuali yang buntu.
Ayah dan Ibu sepakat bulat,
Agama Allah tak boleh kalah
Oleh cinta sesaat para remaja.

/8/
Di Cikeusik, Romi pun tertunduk
Di hadapan orang tua,
Berterus terang bahwa ayah Yuli
Adalah aktivis organisasi anti-Ahmadiyah.
Ayah Romi kaget, dikatakannya,
Kita semua sedang berduka, Nak,
Kita tahu sikap mereka
Kita merasakan horor yang mereka taburkan.
Mereka itu bla…bla…bla…
Sedangkan kita tra…la…la…tra…li…li…
Romi mencoba mencoba meluruskan,
Ayah, antara Ahmadiyah dan garis keras itu
Sebenarnya ra…ra…ra…
Ra…ri…ru…
Penjelasan Romi terbang terbawa angin;
Ayah memutuskan
Rencana pernikahan dibatalkan,
Stop! Hentikan semua hubungan!
Romi terus menentang
Ia merasa punya hak untuk berbeda
Ia tak ingin mewarisi permusuhan ayahnya,
Perselisihan Ahmadiyah dan garis keras tak menariknya.
Dikutipnya syair dari Kahlil Gibran,
Ayah, dengarkan ya Ayah,
‘Anak-anakmu bukanlah anakmu
Mereka anak-anak kehidupan.
Pada mereka engkau boleh berikan cintamu
Tapi jangan kau paksakan bentuk pikiranmu
Jangan membuat mereka menyerupaimu
Karena mereka tinggal di rumah esok.’
Ayah membentak Romi keras sekali,
Romi, sekarang kamu dengarkan Ayah.
Kedudukan agama itu di atas puisi!
Jangan kaubandingkan penyair dengan Nabi!

/9/
Walaupun orang tua tidak setuju
Romi dan Yuli tetap rajin bertemu
Tanpa orang tahu;
Romi tak letih-letihnya mencari jalan
Untuk menikahi Yuli.
Yuli, kita bukan anak durhaka
Kita tak hendak melawan orang tua
Tapi kita punya hak atas hidup kita sendiri.
Peradaban menjadi maju
Karena di semua zaman
Selalu ada anak-anak yang berani berbeda dengan orang tua,
Tegas Romi.
Yuli hanya menunduk diam.
Sebagai laki-laki
Romi tak harus dinikahkan orang tua,
Tetapi Yuli perempuan
Baginya izin orang tua diperlukan.
Itu adalah keharusan nikah yang sah menurut agama.
Romi, kau tahu pendirianku.
Aku pun tak suka dibatasi hanya karena aku perempuan.
Tapi tanpa izin orang tuaku, kita tak akan sah menikah.
Itu hukum agama, karena aku perempuan, jawab Yuli.
Kedua anak muda itu menatap kosong
Hanya jalan buntu yang terbayang.
Bagaimana jika kita kawin lari, ujar Romi
Mencoba meyakinkan Yuli.
Diceritakannya tabungan dan kesiapannya
Dan jika anak kita lahir nanti,
Agama apa pun sah ia ikuti.
Yuli, oh, Yuli, ujar Romi,
Tak usahlah kita menjadi korban,
Tak usahlah kita terbawa
Oleh huru-hara yang mereka cipta.
Mulut Yuli terkatup rapat
Tapi hatinya yang semakin pahit
Melengking, menjerit.
Tak pernah ada dalam pikirannya
Untuk melawan Ayah
Untuk melawan Ibu
Yang melahirkannya.
Oh Tuhan,
Tunjukkan keajaiban.
Romi, ikhlaskan saja aku –
Aku tak bisa menemui lagi.
Cinta tak harus bersatu
Mungkin ini pertanda kita harus berpisah.
Yuli berlari, menangis,
Menembus malam
Didera keputus-asaan.
Romi pun melompat bangkit,
Disambarnya tangan Yuli
Dan dengan keras dikatakannya,
Yuli, kita hanya akan pisah
Jika ada di antara kita berbuat salah.
Punya paham agama berbeda itu normal!
Itu bukan kriminal!
Teguhkan janjimu
Bajakan hatimu,
Cinta kita tak boleh lemah!
Yuli diam
Lalu pelan ia mengangguk
Tanda setuju.
Diyakinkannya lagi Yuli,
Ayo Yuli, sihir hatimu,
Katakan: ‘Cinta kalahkan segala.’
Ya Rom,’ balas Yuli pelan,
‘Cinta kalahkan segala!’
Ingat, Romi, jangan kira
Aku tak berupaya.
Air tumpah dari mata Yuli
Air menggenang di mata Romi –
Ya, sebagai lelaki, hampir tak pernah
Matanya basah.
Tekad sudah diikrarkan
Tetapi di lubuk hati paling dalam
Diam-diam Romi merasa
Saat berpisah akan datang jua.
Dan saat itu tak lama lagi
Pasti tiba.
Rasa itu begitu saja menyusup di hatinya.
Yuli berlari menerjang malam
Yang dirasanya semakin kelam,
Ia hujat dirinya sendiri,
Ya Allah, mengapa Kau sodorkan padaku
Pilihan ini,
Malapetaka ini?
Romi terpaku
Malam seperti batu
Menindihnya.

/10/
Di rumah, ayah dan ibu Yuli ikhtiar
Romi harus segera disingkirkan;
Yuli perlu jodoh yang baru
Pemuda Muslim dari keluarga baik-baik.
Mereka pun teringat akan Hartono,
Seorang pemuda santun, Pacar Yuli pertama,
Baru pulang sekolah dari Mesir tiga bulan lalu;
Kepada ibunya ia suka bertanya
Tentang kabar Yuli, pacarnya dulu.
Demikianlah maka kedua pasang orang tua
Merancang pertemuan anak-anak mereka:
Sekali
Dua kali
Dan ini kali ketiga.
Hati Yuli pernah merekah
Oleh kasih Hartono –
Tapi itu sudah lama lampau.
Hartono berniat menyambung kembali
Hubungan yang terputus
Semenjak ia pergi ke Mesir.
Tetapi hati Yuli sudah tertutup baginya
Tak kuasa lagi ia membukanya:
Romi tidak bersalah,
Dan janjinya, ‘Cinta kalahkan segala.’

/11/
Jam menunjukkan pukul 6.00 pagi
Yuli berzikir sejak dini hari,
Tubuhnya semakin letih, melemah;
Semua tenaga ia tumpahkan,
Semua daya ia curahkan.
Ia pun pingsan.
Ketika ibunya membuka pintu kamar
Dilihatnya Yuli terkapar,
Ia pun menjerit – dan pingsan.
Seisi rumah ribut: kalang kabut
Bawa ke rumah sakit, segera!
Bawa ke rumah sakit sekarang juga!
Penyakit lama Yuli kambuh.
Kanker getah bening stadium dua,
Kata dokter, ia masih bisa disembuhkan
Asalkan pikirannya lebih tenang.
Ayah dan ibunya terdiam
Dan menangis berangkulan.
Ketika gadis itu siuman
Dengan lembut dipanggilnya ayah-ibunya,
Dan ditanyakannya,
Apakah Ayah dan Ibu mencintai saya penuh seluruh?
Tampaknya ajal tak lagi jauh, ujar Yuli.
Ayah dan Ibu menangis lagi,
Umur di tangan Tuhan, anakku, sahut Ayah.
Hartono, pria yang akan dijodohkan itu
Hadir pula di sana;
Mendengar percakapan itu
Buru-buru ia minta pamit.
Tentu ada rahasia
Yang ingin disampaikan Yuli, pikirnya.
Bisakah Ayah dan Ibu mengabulkan permintaanku?
Yuli meneruskan bicaranya,
Inilah satu-satunya suara
Yang berdengung dalam ruang-ruang hatiku –selalu.
Suara ayahnya terbata-bata,
Pasti akan kami kabulkan jika mampu.
Dengan pandangan yang lembut
Yuli pun berkata,
Aku ingin segera dinikahkan dengan Romi
Dialah jodohku!
Halilintar kembali menyambar-nyambar,
Angin topan kembali berputar-putar
Di jantung sepasang laki-bini itu.
Apa yang akan kukatakan nanti
Kepada pengurus masjid
Jika anakku yang semata wayang
Menikah dengan seorang musuh?
Serunya kepada diri sendiri.
Namun, ia pikir, jika mereka bersikeras
Yuli akan tak lagi punya semangat hidup.
Oh Tuhan, ujar Ibu,
Mengapa Kau-sodorkan kepada kami
Pilihan yang pelik ini?

/12/
Meski Yuli belum juga pulih
Keluarga memutuskan
Untuk berobat jalan saja.
Rumah sakit semakin mahal, ujar ibunya.
Maklum, mereka keluarga sederhana.
Sudah tiga hari berlalu
Ayah dan Ibu seperti bisu,
Hati mereka bagai dibelah:
Paham agama dan cinta putrinya.
Jangan-jangan itu benar permintaan terakhir,
Pikir mereka.
Hari-hari pun dipenuhi shalat istikharah
Meminta petunjuk Allah,
Ya Allah,
Kami pasrah.
Bukakan hati kami
Tunjukan jalan bagi kami.
Dalam pikiran yang carut-marut
Ayah Yuli sempat berpikir
Bagaimana jika Yuli dan Romi kawin lari?
Ini solusi mujarab, pikirnya,
Agar mereka terhindar dari kemarahan tetangga
Agar bisa bebas dari cemooh kelompok masjid
Agar bisa lepas dari rasa malu
Terhadap keluarga Hartono.
Namun ibu Yuli malah menangis.
Yuli anak satu-satunya
Dan ingin dilepaskannya masa lajang Yuli
Dengan tangannya sendiri –
Apalagi kesehatan Yuli semakin buruk,
Katanya kepada suami.
Hari demi hari merayap
Terasa pelan sekali
Tercecap pahit sekali.
Ya Allah, tunjukanlah jalan bagi kami.
Seminggu kemudian
Keputusan diambil, walau tidak bulat:
Mereka merestui hubungan Yuli dengan Romi.
Di dalam hati Ayah dan Ibu masih tak yakin
Apakah mereka bisa dibenarkan Allah.
Mereka dahulukan cinta anaknya di atas paham agama
Mereka hanya ikuti suara hati.
Mereka menyesali diri
Karena tak kuasa meneladani Nabi Ibrahim
Yang rela menyembelih anaknya demi agama
Walau Tuhan akhirnya menyelamatkan anak Ibrahim.
Sedangkan mereka
Memilih mengorbankan keyakinan agama
Demi nasib putrinya, semata wayang.
Betapa berat pengorbanan!

/13/
Akan segera disampaikan
Kabar baik itu
Kepada Yuli.
Ayah dan ibunya membayangkan
Betapa bahagia akan menyapu derita,
Betapa mukjizat ini
Akan menyembuhkan anaknya.
Namun, tak terdengar sahutan apa pun
Ketika kamar Yuli diketuk.
Dan ketika pintu dibuka paksa
Mereka menyaksikan akhir sebuah cerita:
Yuli sudah tergeletak
Tanpa nyawa,
Yuli sudah menghadap
Yang Mahakuasa.
Kisah duka sudah dituntaskan
Bagi manusia,
Layar Agung sudah diturunkan
Dari atas Sana.
Yuli sudah tiada
Sebelum sempat mendengar berita bahagia.
Ayah Yuli terjatuh lunglai
Ibunya menjerit histeris,
Nama Tuhan disebut bercampur air mata
Luka yang mahaperkasa bertahta.
***
  1. Dan tatkala Musa menghadap ke negeri Madyan ia berdoa, semoga Tuhanku membimbingku ke jalan yang benar. (Al-Qashash: 22)
  2. Untuk detail kronologi penyerangan jemaah Ahmadiyah di Cikeusik, lihat http://www.ahmadiyya.or.id/index.php?option=com_content
    &view=article&id=95:pers-release-jemaat-ahmadiyah-ttg-peristiwa-cikeusik&catid=41:info&Itemid=61.
  3. Kampus Mubarak merupakan kantor Pengurus Besar Jamaah Ahmadiyah Indonesia yang beralamat di jalan Raya Parung No. 27 Kecamatan Kemang Kabupaten Bogor. Mereka diserang oleh sekelompok massa yang menamakan dirinya Gerakan Umat Islam yang dipimpin oleh di antaranya Habib Abdurahman Assegaf dan M. Amin Djamaludin. Aksi penyerangan tersebut mengakibatkan rusaknya aset-asetnya Jamaah Ahmadiyah dan jatuhnya korban luka-luka pada beberapa orang anggotanya dan aksi itu berujung pada penutupan secara paksa Kampus Jamaah Ahmadiyah Indonesia tersebut oleh Musyawarah Pimpinan Daerah Kabupaten Bogor melalui Surat Keputusan Bersama (SKB) atas desakan dari massa penyerang. Sumber: http://www.bantuanhukum.or.id/index.php/
    id/menukasuslbh/
    minoritas/penganut-agamakepercayaan/183-ahmadiah.
  4. Ketika para pengungsi Ahmadiyah ini hendak pulang kembali ke kampung mereka di Gegerung Lingsar pada 26 November 2010, mereka kembali diserang warga setempat. Warga merusak sedikitnya 22 rumah milik pengikut Ahmadiyah. Karena itu, para pengikut Ahmadiyah itu kembali mengungsi ke Asrama Transito. Ada lebih dari 180 pengikut Ahmadiyah di NTB. Sekitar 130 orang tinggal di Asrama Transito Mataram, dan sisanya di Lombok Tengah. Sumber: http://nasional.vivanews.com/news/read/
    220474-ntb-atasi-ahmadiyah-dengan-dakwah-lisan.
  5.  Untuk laporan yang lebih detail peristiwa penyerangan ini lihat, “Hangusnya Masjid di Lembah Sejuk”, http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/
    2008/05/05/LU/
    mbm.20080505.LU127087.id.html.
  6. SKB tiga menteri itu memang tidak berhasil menyelesaikan masalah. Konflik dan tindak kekerasan tetap terjadi. Penyerangan dan pembantaian anggota jemaat Ahmadiyah di Cikeusik pada 6 Februari 2011 merupakan puncak kekerasan menimpa jemaat Ahmadiyah Indonesia. Untuk data dan laporan lengkap kasus Cikeusik bisa dibaca dalam Laporan yang disusun oleh Tim Kontras (Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan) berjudul: Negara Tak Kunjung Terusik, www.kontras.org/data/laporan. Ironisnya, hakim yang mengadili kasus itu pada 28 Juli 2011 hanya menjatuhkan hukuman 3-6 bulan penjara saja kepada 12 terdakwa pelaku penyerangan (www.bbc.co.uk/indonesia/berita_indonesia/
    2011/07/110728_cikeusikverdict.shtml).
Retrieved from: http://puisi-esai.com/2012/03/21/romi-dan-yuli-dari-cikeusik/

Wednesday, May 23, 2012

Hidup Bersama Ahmadiyah

Dewi Nova Wahyuni
Voice of Human Rights, 22 Februari 2011



Jika negara berani mewujudkan kesetiaan  pada sejarah berbangsa 
dan konstitusi, ada banyak cara untuk hidup bersama

Tiga warga dibunuh dalam penyerangan atas nama agama di Kampung Pasir Peuteuy, Desa Umbulan, Kecamatan Cikeusik, Pandeglang, Minggu (6/2). Penyerangan brutal ini membuat publik menoleh pada Banten.

Secara geografis, Provinsi Banten, terutama Kabupaten Tangerang, merupakan wilayah penyangga ibu kota negara. Provinsi di ujung barat Pulau Jawa ini juga merupakan jalur penghubung antara Jawa dan Sumatera. Setiap hari pergerakan daya ekonomi antara dua pulau melintasi provinsi ini.

Jauh sebelum suku-suku bangsa dan berbagai cara pikir nusantara bersepakat mendirikan Republik Indonesia, Banten telah menjadi pelabuhan besar di Asia Tenggara di bawah Kesultanan Banten, setara dengan Malaka dan Makassar.

Dalam sejarah panjangnya, Banten pernah menjadi tempat pertemuan bangsa-bangsa, pertemuan ragam tata cara hidup. Hingga hari ini Provinsi Banten menjadi penghubung ragam budaya Sumatera - Jawa. Hal ini bisa dirasakan pada keunikan bahasa Sunda-Jawa di Banten, dengan kolaborasi bahasa suku-suku bangsa di Sumatera, yang berbeda dari bahasa Sunda di tatar Priangan dan bahasa Jawa suku Jawa di Jawa Tengah dan Jawa Timur. 


Lalu bagaimana pembunuhan atas nama perbedaan penafsiran berislam bisa terjadi di provinsi yang memiliki sejarah panjang belajar hidup beragam? 

Perusakan Hidup Bersama
Pada dunia yang mengglobal, Banten tak bisa membangun sendiri tata cara hidup bermasyarakat dan bernegaranya. Banten memberikan pengaruh terhadap ibu kota negara yang disangganya, dan Pulau Sumatera - Jawa yang distribusi ekonominya bergantung pada provinsi ini. Di sisi lain, Banten juga juga dipengaruhi kondisi sosial politik keindonesiaan. Surat keputusan bersama tiga menteri (Jaksa Agung, Menteri Dalam Negeri, dan Menteri Agama) tentang Ahmadiyah, puluhan peraturan daerah yang intoleran terhadap Ahmadiyah, dan lemahnya perlindungan negara terhadap warga negara adalah tiga dari banyak alasan yang mengakibatkan kemunduran adab bermasyarakat di Cikeusik. 

Apakah penyerangan di Cikeusik tetap akan terjadi, jika puluhan penyerangan di Lombok, Parung, Cianjur, dan tempat lain terhadap Jamaah Ahmadiyah dapat diantisipasi oleh intelijen negara? Dan, setelah insiden, pelaku ditindak tegas secara hukum? 

Komnas HAM mencatat, sepanjang tahun 2007 - 2008 terjadi 342 penyerangan dan intimidasi yang tidak diproses secara hukum oleh negara. Penyerangan di Cikeusik mendorong Komnas HAM mendesak Presiden memerintahkan segenap aparatnya menjamin keamanan dan ketenteraman warga negara, terutama kelompok minoritas beragama dalam memilih dan menjalankan agama dan keyakinannya.

Terkait lemahnya perlindungan keamanan, LBH Jakarta mencatat empat level keterlibatan polisi dalam penyerangan terhadap Ahmadiyah selama 10 tahun terakhir (2001-2011). Pertama, infliction, yaitu memaksa seseorang mengalami pengalaman pahit. Hal itu terjadi pada perusakan masjid dan rumah di Manis Lor, Kuningan, Jawa Barat,  2010. Kedua, instigation, yaitu mendorong atau menganjurkan. Hal ini terjadi pada penyerangan di Parung, yaitu massa penyerang menggunakan mobil polisi saat penyerangan. Ketiga, consent, persetujuan atau izin. Hal ini terjadi pada  penyerangan di Lombok tahun 2002. Aparat yang tergabung dalam Muspida dan Muspika memberikan persetujuan terhadap tekanan pihak yang merencanakan serangan. Keempat, acquiescence atau persetujuan diam-diam. Pada setiap peristiwa penyerangan dan pembakaran, anggota Polri berada di tempat kejadian dengan jumlah pasukan pengendali massa yang minim dan tanpa peralatan memadai.       

Publik tidak akan lupa, pada tahun 2005 Polres Mataram menyerah kepada massa sebanyak 9 truk yang meminta membebaskan 1 dari 5 tersangka perusakan. Pada 10 Februari lalu ratusan tokoh, ulama, dan Tim Pembela Muslim yang melakukan pertemuan di Rumah Makan Honje, Kabupaten Serang, meminta Polres Pandeglang membebaskan tersangka penyerangan Cikeusik yang ditahan di Polres Pandeglang. Sikap aparat hukum yang tidak mampu menegakkan hukum pada kasus sebelumnya menjadi preseden buruk bagi pencapaian keadilan di republik ini. Sekaligus menjadi bukti kelemahan negara, yang dipelajari kelompok pro-kekerasan untuk melestarikan cara kerja mereka.

Sebelum dan sesudah penyerangan-penyerangan tersebut, negara dan organisasi massa, yang celakanya tidak siap berbeda pandang dengan Ahmadiyah, telah merumuskan aturan dan kesepakatan yang mereka asumsikan sebagai aturan terbaik untuk menempuh hidup bersama. Surat Edaran Kejaksaan Agung terkait Ahmadiyah, SKB tiga menteri tentang Ahmadiyah, dan puluhan peraturan daerah di berbagai wilayah merumuskan aturan-aturan yang memposisikan Ahmadiyah sebagai pihak yang mesti mengalah pada keinginan arus utama.

Aturan-aturan tersebut lahir dengan semangat membatasi hak beragama Jamaah Ahmadiyah dan menutup pintu dialog kajian beragama antara Ahmadiyah dan Islam, arus utama. Majelis Ulama Indonesia berteguh pada semangat mempertobatkan Jamaah Ahmadiyah dengan opsi menempuh cara berislam sesuai MUI atau keluar dari apa yang mereka yakini sebagai lingkup agama Islam.

Apakah aturan-aturan negara tersebut dan fatwa ormas MUI menjadi sokongan yang baik bagi hidup berbangsa? Sebaliknya, aturan yang diskriminatif dan antidialog menjadi sumber idiologi bagi praktik kekerasan yang terus menyerang Jamaah Ahmadiyah. Bahkan, setelah penyerangan, aturan yang diskriminatif itu menjadi legitimasi untuk mencari-cari kekeliruan Jamaah Ahmadiyah. Bukti terakhir, ketika darah masih basah dan air mata belum kering, MUI bergegas melakukan penyelidikan. Bukan untuk menghasilkan kajian yang dialogis, saling menghormati, dan mendukung suasana damai, melainkan untuk menemukan apa kesalahan Ahmadiyah sehingga penyerangan Cikeusik terjadi!

Sebelum SKB tiga menteri disahkan, Komnas Perempuan pada 18 April 2008 meminta Presiden Yudhoyono menggunakan hak prerogratifnya untuk menghentikan penyusunan SKB tentang Ahmadiyah dan menegakkan kembali jaminan kebebasan beragama bagi semua warga negara, termasuk komunitas Ahmadiyah.

Suara Perempuan Ahmadiyah
Negara juga mesti mendengarkan suara perempuan Cikeusik yang harus berhadapan dengan situasi ini. Nayati, 35 tahun, menuturkan, “Waktu kejadian saya melihat dari jauh suami saya dipukuli, disabet celurit hingga kena pipi dan mukanya. Masya-Allah.” Dan sejak itu Nayati tidak pernah lagi melihat suaminya. Saat ini Nayati tinggal bersama anaknya yang masih kecil, dengan persediaan uang yang mulai habis. “Saya pernah berjualan obat-obat kecantikan, tapi nggak laku karena dimusuhi warga,” ujarnya. Bahkan, Nayati takut jika seminggu ke depan aparat Polri dan TNI tidak lagi berjaga-jaga di lokasi, dia bakal dibunuh warga (Radar Banten, 9/2/2011). 

Nayati adalah potret dari ratusan perempuan Ahmadiyah yang terus-menerus menjadi penopang dan pertahanan keluarga ketika penyerangan terjadi. Ada warga perempuan yang mengalami dikskriminasi berlapis karena peran gender dan keyakinan beragamanya. Warga perempuan kehilangan hak atas rasa aman, hak untuk penghidupan yang layak, hak untuk mengkases layanan publik. Apa yang sudah dilakukan negara kepada perempuan dan anak yang dikorbankan pada setiap peristiwa penyerangan? 

Pembentukan Hidup Bersama
Mengikuti talk show di statsiun televisi swasta antara Ahmadiyah, MUI, dan negara akhir-akhir ini, publik disuguhi dialog yang sesungguhnya tidak terjadi dialog. Ahmadiyah menghayati penafsirannya sebagai cara berislam, ormas MUI menghakiminya sebagai penodaan berislam, negara kehilangan arah di bagian mana mesti bersikap.

Bukankah penafsiran beragama adalah bagian dari privasi warga yang tidak boleh diatur oleh hukum negara? Kewajiban negara adalah melindungi hak dasar beragama setiap warga, seperti amanat konstitusi pada UU Nomor 12 Tahun 2005 tentang Ratifikasi Hak-hak Sipil Politik. Negara juga mesti menjamin hidup beragama yang tidak mengkhianati cita-cita pembentukan Republik Indonesia.

Mengenang gagasan Bapak Bangsa, Soekarno, terkait perumusan Pancasila sebagai rekonsiliasi islamisme, nasionalisme, dan marxisme. Berislam dan bernegara, berislam di republik ini mesti bernasionalis, bersetia pada kebinekaan bangsa. Karena berislam yang intoleran tidak hanya mengikis identitas bangsa yang bineka, tetapi juga mengancam persatuan bangsa. Berislam di Banten mesti bersetia pada sejarah panjang pertemuan bangsa-bangsa dan tata cara hidup. Berislam di Indonesia mesti bersetia pada penghormatan kebinekaaan budaya, dinamika sejarah hidup bersama dari sejak dijajah kolonial hingga pemerintahan reformasi yang perlu perbaikan di sana-sini.

Di atas itu semua, jika beragama untuk kemanusiaan, mestinya setiap pertimbangan untuk mengatur hidup bersama Ahmadiyah dan umat minoritas mana pun didasarkan juga pada nilai-nilai kemanusiaan, seperti disepakati pada sila ke-2 kontrak berbangsa, Pancasila. Jika negara dan warga berani mewujudkan kesetiaan pada sejarah berbangsa dan konstitusi, ada banyak cara untuk hidup bersama Ahmadiyah. Juga dengan semua pemeluk keyakinan dan agama apa pun. 

Retrieved from: http://indonesia-for.blogspot.com/2011/07/hidup-bersama-ahmadiyah.html

Friday, April 27, 2012

Dua Karib dari Muara Baru

Indoprogress, 17 Maret 2011

Mereka mengenang dua Ahmadi yang tewas dibunuh
Fahri Salam

PADA pukul 7 malam Minggu, 5 Februari 2011, Roni Pasaroni bilang “mau ngojek” kepada Rahmawati. Anak mereka, Tati Apriani, gadis lincah usia 5 tahun, melihat Papa dia pergi dari ruang tengah, sebuah petak beralas semen sekaligus ruang tidur bagi empat anggota keluarga ini. Wati, yang menjaga warung kecil di depan rumah, menyaksikan rutinitas itu selama dua tahun belakangan sejak suaminya menanggalkan identitas preman. Roni biasa berangkat pukul 8 pagi, pulang saat zuhur dan rehat siang hingga pukul 14:00, kembali ke rumah jam 4 sore. Jam 7 malam dia melanjutkan ngojek sampai pukul 01:00 dini hari. Roni mengendarai sepedamotor Yamaha MX warna merah, dibeli dengan kredit, tempat mangkalnya di ujung jalan. Itulah keseharian tetap dari suaminya, melalui sudutmata Rahmawati dari dalam rumah, hingga dia tak kembali dinihari itu.
Roni Pasaroni & Warsono
Roni Pasaroni & Warsono

Perilaku Roni berubah sejak Mahdarisa lahir, anak pertama mereka, sembilan tahun lalu. Dia kemudian mendalami agama jauh lebih intens, dengan rajin beribadah, sampai-sampai Wati kaget melihat perubahan Roni yang shalat tahajud dari seseorang yang sama yang sebelumnya bahkan tak pernah shalat lima waktu. Jumiyati, kakak perempuan Roni, pengganti peran ibu setelah orangtua cerai, terkenang masa-masa rutin saat Roni selalu mengingatkan ibadah shalat tepat waktu. Jumiyati mengalami kekagetan yang senyap sesudah Roni tiada hanya dari mendengar suara motor melintasi tempatnya. Roni rutin pergi ke tempat Jumiyati disela-sela mengojek. Tempat tinggal Jumiyati dan Mansyur, suaminya, dan enam anak mereka di kolong jembatan di Penjaringan, Jakarta Utara. Saat ada bunyi sepedamotor mendekat, Jumiyati merasa adiknya kembali—sesuatu yang takkan mungkin; dan dia mendadak menangis saat ingatan itu mengalir.
Sebulan kemudian Rahmawati mengetahui Roni pergi bersama Warsono dan Imron—cerita dari Erni Jaeroni, istri Warsono, saat mereka berkumpul di ruang tengah, tempat di mana Tati Apriani melihat Papa dia pamit pada malam Minggu. Ini rumah petak 3×5 meterpersegi, berdempetan rumah-rumah ukuran serupa, di mana sepanjang hari tercium bau menyengat dari gelombang udara yang mengirimkan campuran air mampat di selokan, tumpukan sampah, serta ikan-ikan yang dijemur di suatu tempat di dekat muara. Kini Rahmawati duduk menggelosor di dekat lemari es, membelakangi dinding plastik yang memisahkan kamar mandi. Rak televisi, lemari pakaian dan barang-barang lain, termasuk perkakas makan, ditempatkan di tepian tembok yang menghubungkan pintu rumah. Keluarga Roni dan Warsono tinggal di Muara Baru—sebuah permukiman padat perkotaan Jakarta Utara; sebagian besar warga di sini bekerja nelayan dan buruh pabrik perikanan.

Ketidaktahuan Rahmawati akan kepergian Roni pada malam itu, bukan lantaran dia tak acuh mengikuti keseharian suaminya, tapi justru cenderung menguatkan kesan “bidadari”—sebutan yang disematkan Jumiyati, kakak Roni, atas peran Wati menetralisir sifat-sifat buruk Roni. Itu juga kurang-lebih menyiratkan masa silam pasangan ini. Wati dan Roni menikah sebelas tahun lalu dan keluarga Wati dari Jeneponto, Makassar, menolak anaknya menikah dengan preman. Roni jatuh cinta seperti remaja berhati buta kepada perempuan buruh pabrik dan dia mengancam, “Kalau Lu kagak mau, gua culik, gua bunuh!” Pada suatu malam Minggu saat pacar Wati berkunjung, Roni muncul tanpa diduga lalu amarahnya meledak, mengajak pacar Wati berkelahi—oleh Wati diminta kabur. Gelas yang dihidangkan untuk pacarnya dipecahkan Roni. Roni menyayat pergelangan tangan sendiri dan luka itu mendapat sepuluh jahitan.

Saat hamil muda, keluarga Wati mengirim abang dia dan polisi ke Muara Baru, minta kandungan digugurkan. Tetapi Roni menolak, “Jangan, Ma! Nanti kita berdosa kalau gugurin.”
“Ya, saya juga tahu,” kata Wati, “Tapi kamu bajingan. Kita mau makan apa?”
“Ya, udah, ayo kita ke Surabaya!”

Roni mengajak Wati ke rumah ayahnya, yang menikah lagi dengan perempuan dari Malang sesudah bercerai. Mereka kembali ke Muara Baru saat usia kandungan sudah tua. Orangtua Wati mulai menerima pernikahan mereka setelah Mahdarisa lahir. Empat tahun kemudian, Tati Apriani mengeluarkan tangisan pertamanya di dunia.

Roni belum memutuskan kehidupan jalanan. Namun Jumiyati, diasuh nenek dari pihak ibu bersama Roni, mengatakan adiknya “nggak pernah” memberikan “uang haram kepada keluarga” dari jatah dia sebagai preman. Abdul Atto, pensiunan guru berusia 67 tahun dan guru pembimbing Roni, menyebut Roni dulu adalah “bajingan.” Rahman, teman mengobrol Roni nyaris sepanjang malam, bercerita Roni pegang keamanaan dua pabrik di Muara Baru serta satu pangkalan bus, jurusan Jakarta-Pekalongan, di mana dia “tinggal duduk” sudah dapat duit “minimal Rp 50ribu.”

Sewaktu kecil di Tanjung Priok, Roni lari saat hendak disunat, naik mobil kontainer. Satu gigi-seri dia tanggal separuh kala terjatuh dari atap sewaktu mengambil bulu kok badminton. Bertahun-tahun setelah dia bisa menyetir sepedamotor, dia pun terjatuh lagi dan gigi-seri itu tanggal utuh. Orang-orang di Muara Baru menjulukinya “Roni Ompong.”

Dia memiliki tato naga di punggung yang melilit sekujur badan. Mansyur, suami Jumiyati, bercanda tentang tato itu: “Udah makan belum tuh naganya, nih makan, laper kali tuh naga, Ron?!”—sambil menyodorkan piring nasi ke mulut naga. Pada akhirnya, tato itu adalah pengenal yang jelas dari tubuh Roni, plus satu giginya yang ompong, saat tubuhnya tak bernyawa, berada sekira tujuh jam perjalanan dari Muara Baru.
Nama dia yang pertama muncul, secara definitif, sebagai korban tewas di Cikeusik pada 6 Februari 2011. Seseorang dari kolega Roni mendatangi rumah Rahmawati pada pukul 10 malam Senin, mengabarkan Roni telah meninggal. Wati jatuh pingsan. Saat terbangun, para tetangga sudah berkerumun. Ada kegaduhan. Ada banyak dari mereka menangis. Mahdarisa dan Tati Apriani meraung histeris.
Wati
Wati dan foto mendiang suaminya, Roni.

Rahmawati segera menelepon keluarga di Jeneponto. Oom dan Mama dia langsung pesan tiket pesawat pada hari Senin, 7 Februari. Mereka dapat jadwal penerbangan pukul 5 sore dan tiba di Muara Baru pukul 8 malam. Mayat Roni diotopsi di rumahsakit daerah Serang, dijemput oleh Jumiyati dan keluarganya. Jenazah datang pukul 01:30 dinihari, di tengah ruangan sempit yang mendaraskan surat Yasin. Pada pukul 7 pagi, 8 Februari, penanda waktu yang menunjukkan Roni siap beraktivitas untuk ngojek tapi saat itu terbaring dalam kain kafan, jenazahnya dibawa ke Gondrong, Tangerang, untuk dimakamkan. Penguburan berlangsung sekira pukul 10 pagi bersama jenazah Tubagus Chandra, warga Parung, Bogor.

Sebulan kemudian saat Rahmawati dan kedua anaknya berkumpul bersama istri dan empat anak Warsono, almarhum Roni hadir dari bibir Wati dalam ingatan subuh hari selagi membangunkan Wati untuk segera wudhu. Itu kebiasaan rutin Roni yang paling diingat istrinya. Ingatan itulah yang seketika membuat airmuka Wati sembab.

Di sela cerita tentang Roni, Tati Apriani menimpali ibunya dengan berteriak, “Mama bohong! Mama bohong!”

Jumiyati, duduk di belakang pintu, meladeni: “Eh, nanti nggak diajak ke kolong loh!”
Tati paling suka mengisi waktu senggang bersama “Tante Ati” di tempatnya, di kolong jembatan Berok, Penjaringan. Tati menimpali, “Nggak mau… Nggak mau!”—seraya melonjak-lonjak hingga ibunya mendongakkan kepala, sementara jemarinya meraih mulut si mama. Ucapan Tati bukan berasal dari nada sedih, tapi ada sesuatu yang lugu dan ceria dari spontanitasnya. Tante Ati mengatakan polah Tati seperti adiknya sewaktu kecil.

Ada seorang tamu di tengah keluarga ini yang mengajak Tati mengobrol. Dia bertanya, “Papa Tati mana?”
“Lagi kerja!”
“Kemana?”
“Ke Bandung.”
Jumiyati menimpalinya, “Kemarin bilang ke Bogor, sekarang ke Bandung. Mana yang bener?”
“Nggak mau… Nggak mau…” Bocah itu melonjak-lonjak lagi.
“Dia sering bilang, ‘orang-orang bohong!’” kata Rahmawati.
“Siapa yang bohong, Dek?” tanya bibinya.
“Tante Ati bohong!”
“Oom bohong!”
“Semua BOHONG.”

Tati sering merengek pada ibunya, “Minta Pak Atto balikin Papa lagi! Suruh pulangin, Ma!”
Sehari sebelumnya, Abdul Atto mendatangi keluarga Roni dan Tati bilang lagi kepada “Pak Atto”: “Balikin, Papa. Bawa pulang!”
Tati melihat Roni Pasaroni dikuburkan. Tapi dia mengiba kepada ibunya, “Kasihan Papa di sana sendirian kerja…”
Mahdarisa, kini kelas 3 sekolah dasar, sering berkata kepada adiknya, “Bapak bukannya kerja. Dia di sana meninggal.”
“Nggak! Papa lagi kerja. Dia kerja di Bandung!”
“Tati nggak ngerti ayahnya meninggal. Dia tahu dan melihat Papa-nya dikubur. Dia minta sama Pak Atto, minta digali lagi dan dibawa pulang,” Rahmawati berkata.

WARSONO, dari foto di internet, memiliki mata sendu, kumis tipis, jejak cambang di dagu dan rambut hitam belah tengah, dengan arah mata menengok kamera ke sudut kanan. Dia yang tertua, berusia 35 tahun, dari tiga korban tewas di Cikeusik.

Dia menikah dengan Erni Jaeroni. Mereka memiliki lima anak, satu telah meninggal. Anak pertamanya, Merliana, usia 17 tahun, sempat sekolah kejuruan selama tiga bulan lantas memilih bekerja sebagai buruh pabrik udang di Muara Baru. Anak kedua hingga keempat, berturut-turut Dwiyati, usia 14 tahun, Tri Ayu Lestari, 9 tahun, dan Selvi Juliyanti, 1,5 tahun. Ketika Warsono pamit “mau rapat” ke Balikpapan, pada malam Minggu, 5 Februari 2011, si bungsu sedang sakit demam. Balikpapan adalah nama jalan di wilayah Cideng, lokasi kegiatan Ahmadiyah Jakarta Pusat. Warsono berangkat naik bajaj bersama Imron dan Roni Pasaroni. Dia janji kepada Erni Jaeroni: “Entar jam 10 pagi pulang.” Senin sore, Erni mendengar suaminya meninggal.

Senin pagi, 7 Februari, Erni sempat melayat ke rumah Rahmawati. Dua korban lain sebelumnya masih sumir. Nama yang beredar hingga sehari setelah penyerangan, plus pembunuhan itu, adalah Adi Mulyadi dan Tarno; keduanya jemaat Ahmadiyah dari Cikeusik. Kabar pasti datang sesudah otopsi di rumahsakit daerah Serang. Jenazah Warsono diberangkatkan menuju desa Dukuh, Kapetakan, Cirebon, kampung halamannya.
Rahman, jemaat Ahmadiyah yang tinggal sekampung dengan Warsono, kaget mendengar sahabatnya meninggal. Rahman supir bajaj, dia tinggal di Jembatan Dua. Sejak Januari dia pulang ke Kapetakan untuk urusan keluarga. Dia segera mendatangi kepala desa, “Pak, Warsono meninggal di peristiwa Cikeusik. Bapak sebagai kepala desa, tolong amankan pemakamannya.” Kepala desa mengamini. Setelah Rahman pulang, ada sekitar sepuluh orang mengklaim dari kelompok As-sunnah yang beraliran Wahabi, datang ke kepala desa, menolak pemakaman Warsono dan mengancam mayatnya akan “dibakar.” Namun kepala desa tak menggubris. Sempat terjadi lempar kursi. Rahmans sendiri diminta tetap di rumahnya. “Kamu diam saja di rumah. Ini urusan kami. Yang penting, besok terjadi pemakaman di sini!” ujar petugas polisi. Esok hari, 8 Februari sekitar pukul 10 siang, Warsono dikuburkan tanpa gangguan.

Sekitar duapuluh tahun lalu Warsono ke Jakarta ikut orangtuanya. Kustolib, ayahnya, bekerja supir taksi. Kustolib berasal dari Brebes, pulang ke Kapetakan, kampung istrinya, setelah sepuh dan sakit-sakitan; dia juga mengidap stroke. Warsono tetap merantau di Jakarta. Profesi terakhir tukang service elektronik.
Dia kenal Roni Pasaroni sejak muda. Mereka teman “nongkrong bareng dan mabuk bareng”—demikian kesaksian satu kolega mereka. Menurut Rahman, keduanya pernah belajar beladiri di satu guru silat yang sama di Muara Baru. Roni, yang seorang preman, memiliki banyak musuh dan pesaing. Warsono menjadi pendamping plus pelindung Roni berkat kepercayaan dia akan kejawen; suatu keyakinan sinkretis yang masih mengakar kuat dalam kultur masyarakat Jawa, termasuk di Cirebon pedalaman. Baik keduanya sama-sama menjalani kehidupan keras pinggiran ibukota Jakarta.

Pada 2002 Warsono mengenal Ahmadiyah dari seorang sahabatnya. Dia penasaran tentang Mirza Ghulam Ahmad, pendiri Jemaat Ahmadiyah. “Apa benar Mirza Ghulam seorang nabi?” pikirnya sampai sulit tidur. Rasa penasarannya kian bertambah. Dia putuskan untuk datangi mubaligh Ahmadiyah di Jelambar, Jakarta Barat. Menurut kesaksian koleganya, Warsono bergabung menjadi jemaat Ahmadiyah setelah berdiskusi untuk kali kedua. Namun dia “vakum” selama dua tahun. Dia pernah sakit selama tigabelas hari, tak bisa makan dan minum. Perasaannya tersentuh saat mendapat besuk dari kolega Ahmadiyah. Dia kembali aktif dan kemudian berperan selaku ketua kelompok jemaat Ahmadiyah di Muara Baru serta pengurus jemaat Jakarta Utara. “Militansinya sangat luar biasa dalam jemaat,” demikian kesaksian itu.

Mirza Ghulam Ahmad—yang menarik keingintahuan Warsono—lahir dari keluarga elit di Qadian, Punjab, British India pada 1835, mendirikan satu komunitas Muslim pada 1889, yang sepuluh tahun kemudian bernama Jemaat Ahmadiyah. Ia mengedepankan dialog antar-iman dan pendekatan non-kekerasan. Jemaat Ahmadiyah Indonesia resmi berdiri sebagai organisasi berbadan hukum pada 1953.

Dalam khasanah Ahmadiyah, ada dua macam kategori nabi: kategori tasyri di mana Nabi Muhammad adalah nabi tasyri terakhir; serta ghairi tasyri, golongan nabi yang tak membawa syariah. Ia terbagi dua: mustaqil, nabi yang berdiri sendiri, serta ghairi mustaqil, menjadi nabi karena mengikut nabi lain. Kategori ghairi mustaqil, dalam istilah Nahdlatul Ulama, ialah nabi yang melaksanakan syariah Nabi Muhammad. Ia hanya pelayan Islam dan Nabi Muhammad. Dalam khasanah Ahmadiyah, kategori ini termasuk Nabi Zilli, Nabi Buruzi, Nabi Mazazi, Nabi Ummati maupun Mirza Ghulam Ahmad.

Namun perkara “nabi” untuk merujuk Mirza Ghulam Ahmad belakangan dijadikan isu sensitif di Indonesia, terutama di Pulau Jawa, dan kian menonjol sejak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berkuasa pada 2004. Isu lain yang “didramatisir” ialah buku berjudul Tadzkirah, disari dari kutipan-kutipan buku atau naskah dan ceramah-ceramah Ghulam Ahmad, 27 tahun setelah dia wafat, yang dijadikan kampanye hitam sebagai “kitab suci” jemaat Ahmadiyah. Berkat siar kebencian, serta mobilisasi warga umum oleh ulama dan kyai-kyai setempat, intensitas kekerasan terhadap jemaat Ahmadiyah kian menjalar sekaligus membesar. Nama komunitas ini makin terdengar setelah ada penyerangan di Parung, Bogor, pusat kegiatan JAI, pada 19 Juli 2005.

Pada 29 Juli 2005, Majelis Ulama Indonesia mengeluarkan fatwa yang menyatakan Ahmadiyah “…berada di luar Islam, sesat dan menyesatkan…” serta pengikutnya dianggap “murtad.” Fatwa ini perpanjangan fatwa MUI 1980 serta keputusan muktamar Organisasi Konferensi Islam di Jeddah, Arab Saudi, Desember 1985. Tiga tahun kemudian, Menteri Agama Maftuh Basyuni, Menteri Dalam Negeri Mardiyanto, dan Jaksa Agung Hendarman Supanji meneken Surat Keputusan Bersama Tiga Menteri, pada 9 Juni 2008, melarang penyebaran ajaran Ahmadiyah yang dinilai “menyimpang.”

Tahun-tahun kekerasan terhadap jemaat Ahmadiyah itu membawa pengaruh keimanan seorang Ahmadi bernama Warsono, yang baru giat lagi setahun sebelum penyerangan Parung. Dia bukannya takut; sesuatu yang diinginkan oleh para penyerang, justru keimanannya kian solid. Ini juga Secara tak langsung melibatkan Roni Pasaroni, karib dekat Warsono, yang bukan jemaat Ahmadiyah. Ketika insiden Parung tahun 2005, Roni geram mendengar kolega-kolega Warsono diserang. Roni “sangat marah”—demikian kesaksian satu koleganya—terhadap kelompok organisasi bernama Front Pembela Islam, yang terlibat dalam penyerangan tersebut, di mana banyak pengikut FPI berasal dari Muara Baru. Namun Warsono menenangkan Roni untuk tetap sabar.

Pada 2008, enam tahun setelah Warsono menjadi jemaat Ahmadiyah, Roni Pasaroni mengikuti langkah sahabatnya. Dua tahun kemudian mereka menjadi syuhada; korban tewas pertama dari mobilisasi kebencian sejak prakarsa fatwa MUI tahun 2005 dan SKB Tiga Menteri. Di ujung perjalanan keimanan Warsono, sejak dia pamit “ke Balikpapan” pada malam Minggu, 5 Februari, istrinya Erni Jaeroni mengenang:
“Anaknya yang paling kecil sedang sakit demam. Saya bangun, dia nangis. Pagi saya tungggu, eh tahu-tahu dia nggak ada…”
MASJID “Baiturrahim” di Jelambar, Jakarta Barat, berdiri di atas tanah wakaf Nasyir Mahmud Neway. Ia terletak di tengah permukiman, bangunan dua lantai, bercat putih, lantai pertama dipakai sebagai masjid. Pada 4 Maret 2011, usai shalat Jumat, lima jemaat Ahmadiyah duduk melingkar di atas karpet masjid. Ada Abdul Atto, Mansyur, Rahman serta mubaligh dan satu jemaat—menerima kedatangan saya untuk cerita almarhum Roni Pasaroni dan Warsono. Ruangan bersih dan teduh.

Abdul Atto datang ke Jelambar sejak 1970-an, guru sekolah dasar di komplek Bank Dagang Negara di Pesing, lalu menjadi kepala sekolah dan pensiun tahun 2000. Atto mengisi waktu dengan buka tambal ban dan warung kelontong bersama Mardiyah. Atto lahir di Cisalada, perkampungan di Bogor, yang pernah diserang pada 1 Oktober 2010. Dia punya rumah di Cisalada, letaknya di belakang rumah Basyirudin Karim, front terdepan dari gang perkampungan yang berbatasan desa Kebun Kopi dan Pasar Salasa—tetangga mereka yang menyerang Cisalada. Rumah Atto selamat tapi rumah Karim beserta isinya hancur berantakan. Saya pernah bertemu Karim di Cisalada, pria sepuh 60 tahun dengan mata lelah, yang membangun rumah tersebut setahap demi setahap dari usaha menjahit sejak dari Jelambar. Properti milik Karim yang selamat hanyalah mesin jahit dan mesin obras.

Menurut Atto, almarhum Warsono adalah “orang yang rajin.” “Dia mau usaha apapun,” kata Atto. Almarhum Roni Pasaroni dikenalkan Ato lewat Warsono, “Pak, ada preman, bapak ke rumah saya dah!”
Atto biasa pergi dengan sepedamotor dan kali pertama bertemu Roni, dia mencium bau alkohol dari mulutnya. Roni bertanya bagaimana cara sembahyang, bagaimana cara bermasyarakat yang benar. “Saya terangin, ‘kita jangan merendahkan orang lain, nggak boleh sombong. Kalau ada orang yang nggak suka sama kita, yang jahat, kita tidak boleh melawan.’ Seperti itu. Yang biasa saja,” kata Atto. Kali kedua bau alkohol masih menguar. Ketiga kali, Roni menceritakan suatu mimpi: dia pergi haji ke Mekkah, bertemu seseorang dari 7 orang dalam rombongan haji, mengenakan kemeja rapi dan peci hitam—mirip Abdul Atto. Dia juga bermimpi minum air putih dari semacam teko dan kemudian llihat gambar muka Mirza Ghulam Ahmad. Atto menimpali, “Wah itu, Ron, air itu air rohani, berarti kamu harus belajar banyak rohani.”

Sesudahnya, Roni sering diskusi dengan Abdul Atto. Dia datang ke Jelambar dan banyak membaca literatur Ahmadiyah. Satu kali Atto menanggapi Roni, “Sudah bener bergabung? Yakin? Kalau nggak, saya nggak mau.” Atto tanya lagi, “Kamu mau bergabung, saya nggak ngajak kan, atas kemauan kamu sendiri kan?”
“Nggak,” jawab Roni, pendek. “Awas jangan salah,” kata Atto, “sedikit pun saya nggak ngajak kamu. Kamu datang atas keyakinan kamu sendiri.” Pada 2008, Roni memutuskan menjadi jemaat Ahmadiyah.
Perilaku Roni berubah tapi juga bingung bagaimana mencari nafkah halal. Atto mengusulkan, “Kamu mau bawa motor?” Roni mengangguk. Dia kredit motor Yamaha MX. Dia datang ke Atto, “Pak, ini motornya nih!”
“Wah, alhamdulillah,” jawab Atto. “Mubarak!”

Mansyur, kakak ipar Roni, menyaksikan perubahan Roni yang dulunya pemadat dan langganan dikejar-kejar polisi. Kontrakan Mansyur dan Jumiyati mulanya satu rumah dengan Roni dan Rahmawati—mereka tinggal di lantai atas sebelum menghuni petak seadanya di kolong jembatan Berok, Penjaringan. Melihat Jumiyati penasaran dengan keimanan Roni, Mansyur berkata, “Ngapain Lu ikutan-ikutan adik Lu? Adik Lu aja nggak bener, Lu ikutan-ikutan dia?!” Tapi kemudian keluarga Mansyur menjadi jemaat Ahmadiyah. Atto bilang kepada saya, pertama kali Mansyur ibadah shalat “ya di sini, di masjid sini,”—merujuk “Baiturrahim.” Mansyur menganggukan kepala.

Saat peristiwa berdarah di Monumen Nasional, 1 Juni 2008, ketika puluhan milisi Islam garis keras menyerang apel damai Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan, Warsono dan Roni Pasaroni justru mendatangi massa penyerang. Mereka mengajak mengobrol, “Kenapa ikut demo kamu? Ada duit nggak buat beli kopi. Ini duit.” Terutama Roni, yang mantan preman, disegani dan punya banyak kenalan. Roni dikenal humoris. Dia suka menghibur tetangga yang sedang kesusahan di Muara Baru. Rahman cerita, jika ada apa-apa, Warsono dan Roni “yang maju terdepan, saya di belakang mereka.”
Semua dekat dengan Warsono dan Roni. Rahman cerita, ada seorang teman sekolah dasar di Kapetakan, lulusan sarjana, bercerita tentang almarhum Warsono, “Kalau masalah pelajaran mah Warsono cerdas. Tapi kalau soal agama, dia mah nol!” Saat ramai pemberitaan insiden Parung 2005, Rahman menimpali obrolan satu temannya, “Wajar diserang, orang nabinya ada 26!” Si teman membalas, “Eh, ingat ya, Lu, ada satu kampung dengan Lu yang ikut Ahmadiyah.” Rahman kaget, “Masak ya?” Si teman menjawab, “Ada. Di Muara Baru!” Kapetakan daerah kecil. Rahman tahu semua teman dia dari Kapetakan yang tinggal di Muara Baru. Dia mendengar nama Warsono.

Dia datangi Warsono. Rahman tipe orang penuh minat besar; dia ingin mendengar langsung dari Warsono, “Bener apa nggak?” Warsono membenarkan. Mereka bahkan mengobrol banyak tentang agama. Rahman berpikir, Warsono yang dia kenal “orang yang kurang dalam soal agama. Kok saya di bawah dia.” Kesan Rahman, “Hebat amat ya!” Rahman justru tertarik. Dia minta bacaan terbitan Ahmadiyah. “Coba kayak apa?” katanya.

Singkatnya, Rahman makin tertarik sesudah membaca khasanah Ahmadiyah. Dia diskusi panjang dengan Warsono. Dia tanya, “Kalau saya ketemu mubaligh Jakarta Barat, bisa nggak?” Warsono jawab, “Bisa!” Rahman berdebat dengan mubaligh Yaqub Suriadi di masjid “Baiturrahim”.

Diskusi-diskusi dengan Warsono, sering berjalan hingga larut pagi, malahan bikin repot istri Warsono. Abdul Atto menjadi penengah; dia bilang menemani seseorang yang gelisah merupakan “ibadah.” Warsono juga kerap kerepotan dengan pertanyaan-pertanyaan Rahman. Atto sering diminta memberi saran.

Penasaran, Rahman pindah ke Muara Baru dari Jembatan Dua, untuk lebih dekat dengan Warsono. Istri Rahman bilang, “Mas, apa-apaan?! Kerjanya di Jembatan Dua kok tinggalnya di Muara Baru?!” Rahman rela pulang malam. Pangkalan ojek dia di Muara baru dan sering naik dua angkutan umum jika pulang kemalaman. Rahman menangkap kesan, Ahmadiyah mengajarkan kedamaian, salah satu yang dia cari, bahkan saat dia marah sewaktu berdebat justru jemaat Ahmadiyah malah “nggak balik marah.”

“Saya tertarik karena yang dia pahami itu yang saya cari, ajaran agama Islam seperti ini!” kata Rahman.
Menurut Atto, Rahman “nggak main-main” belajar tentang Ahmadiyah, “Ngobrol dengan Rahman memang lama! Bukan hanya sebulan-dua bulan.” Pada akhir 2007, Rahman pun bergabung sebagai jemaat Ahmadiyah.

Istrinya mula-mula menentang, “Kenapa kamu ikut?” Rahman menjawab, “Kalau kamu nggak suka dengan aqidah saya, nggak toleran dengan aqidah saya, silakan kamu pulang ke Pemalang.” Itu kampung halaman istrinya; ada paman Rahman, seorang penghulu, akan mengurus istri Rahman. “Jangan takut nggak diurusin,” kata Rahman. “Saya percaya dengan keyakinan saya, yang sudah saya selidiki dari awal.” Istri Rahman akhirnya ikut Ahmadiyah.

Orangtua Rahman tahu anaknya Ahmadi. Ayah Rahman pengikut aliran As-syahadatain, satu agama lokal—sesuatu yang menjelaskan proses osmosis, atau penyerapan, akan persilangan agama dan budaya. Ibunya seorang Nahdlatul Ulama. Ibunya kasih pendapat, “Kalau menurut kamu itu benar, maju terus! Yang penting kamu jangan mencari keributan. Soal aqidah, itu urusan pribadi kamu, jika menurut kamu benar, lanjut!”
Pada akhirnya, semua orang ini saling menguatkan. Rahman kembali mengontrak di Jembatan Dua; istrinya kini tinggal di Kapetakan. Roni Pasaroni, sepulang mengojek, biasa menjemput Rahman yang juga baru kelar menyupir bajaj. Mereka kumpul di rumah Warsono. Mereka menyewa sebuah rumah petak, di samping rumah kontrakan Warsono, dijadikan mushalla untuk shalat berjemaah. Tempat ibadah itu dibikin bersih. Ia juga menjadi lokasi obrolan larut malam antara mereka: Warsono dengan Rahman, Warsono dengan Roni, Warsono dan semuanya; lebih sering bertiga.

Dua minggu sebelum penyerangan di Cikeusik, Roni dan Warsono sesekali menyinggung tentang syuhada. Dalam satu obrolan, Roni tanya kepada Rahman, “Kalau syahid tuh bagaimana?”

“Wah, orang kayak kamu mah nggak mungkin, Ron,” Rahman menjawab tanpa beban. Dia merujuk satu contoh khilafah Sayyidina Umar bin Khattabb, yang tewas dibunuh. “Kamu…” kata Rahman, bercanda, “Gimana bisa syahid?!”

Tahu kemudian Roni tewas di Cikeusik, 6 Februari 2011, Rahman mengingat perkataan itu. Dia bilang kepada saya, “Syahid dan nggak syahid itu hak Allah. Itu kan karunia. Saya tidak merasa bersalah akhirnya.”

Jenazah Roni, dari hasil visum, mengalami patah berkeping—tulang-tulang dia hancur. Ada luka di rahang. Ada lecet geser di bagian tulang iga. Rahang atas kepala patah. Ada resapan darah di kepala. Punggung bawah dia menunjukkan luka sayat; tanda dia disabet dengan benda tajam selagi dikeroyok.
Sementara pada jenazah Warsono, kepalanya sobek. Ada lecet geser di bagian dada, yang menunjukkan dia diseret sewaktu ajal mendekat. Ada pendarahan di kepalanya. Saat tubuhnya tak bernyawa, para penyerang masih melukai bagian zakar dengan benda tumpul.

Abdul Atto cerita, empat hari sebelum meninggal, Roni datang ke rumahnya, masih bertanya tentang menjadi syuhada. Esoknya, Roni pinjam motor. Pada Sabtu, 5 Februari, pukul 10 pagi, Roni mengembalika motor tersebut. Mardiyah, istri Atto, sedang pulang ke Cisalada, aktivitas rutin saban bulan yang dilakukan bergantian keluarga ini. “Ron, nggak ada ibu nih, nggak ada yang masak. Kamu belikan makan ya?” Atto memberikan lembaran Rp 50ribu, “Nasi padang dong, enak nih!” Mereka makan bersama. Mendekati zuhur, Roni pamit, hendak pergi ke masjid “Baiturrahim” .

“Udah kamu saja,” kata Atto, “Saya kan jaga warung.” Atto melihat Roni hingga kelokan jalan. Atto sempat menyahut, “Ron, tadi ada kembaliannya?”
“Ada nih, Pak, 28 ribu.”

“Begini, saja, uang itu kamu simpan. Kalau kamu nemenin bapak, ke sini saja. Kalau kamu mau pulang langsung dari masjid, ya silakan.” Roni tak kembali ke rumah Atto. Esok siang, pukul 14:00, Atto kaget mendengar Roni meninggal diibunuh. Senin sore, Atto mengetahui korban tewas yang lain adalah Warsono. Istrinya, Mardiyah, menangis sepanjang hari selama sebulan.
Istri dan anak yang ditinggalkan.
Istri dan anak yang ditinggalkan.

KAMI mendatangi keluarga Roni Pasaroni dan Warsono di Muara Baru. Jumiyati, saat itu sedang main ke rumah Abdul Atto, menjadi pengarah jalan. Kami naik bajaj dengan supir Rahman. Rahman mengenakan kemeja hitam bersih sesudah shalat Jumaat; rambutnya pirang, lelaki ini merantau ke Jakarta dari tahun 1995. Kami menuju Tanah Pasir ke rumah kontrakan Erni Jaeroni, istri almarhum Warsono. Namun Erni tak ada di rumah, menjemput anaknya yang masih sekolah di Muara Baru. Kami lanjutkan ke rumah Rahmawati, istri almarhum Roni. Selagi Wati menceritakan suaminya, Erni datang sesudah ditelepon oleh Jumiyati. Dia membawa ketiga anaknya. Merliana, putri sulung Erni, masih bekerja di pabrik udang.
Almarhum Roni lahir dari keluarga perantauan Makassar; lahir di Jakarta, 33 tahun lalu. Pada Lebaran tahun 2010, dia diajak mudik ke rumah orangtua Rahmawati di Jeneponto. Ini kunjungan pertama Roni setelah mereka menikah. Itu juga kunjungan terakhir baginya.

Jumiyati dan Rahmawati bilang “ikhlas” adik dan suaminya meninggal. “Yah… mau gimana?” ujar Jumiyati. Roni pernah berpesan kepada Rahmawati, “Anak-anak jangan dimarahin…”—“mungkin dia ingat masa kecil dia yang nakal,” ujar Jumiyati. Mereka heran kenapa Ahmadiyah diserang, “Shalatnya sama, Al Quran yang dibaca sama.”

Erni Jaeroni kerap menangis saat anak-anaknya sudah tidur. Warsono sempat berkata kepada Erni, “Kalau saya meninggal nanti, makam saya jangan diapa-apakan, pakailah cara Ahmadiyah, dikubur sederhana saja.”

Pada 22 Februari, dia pindah diam-diam ke Tanah Pasir, tak tahan lagi dengan gunjingan tetangga dan orang-orang sekitar. Di Muara Baru, ada anggota-anggota Forum Betawi Rembug maupun Front Pembela Islam. Mereka sesekali mengancam sambil lalu saat lewat di depan rumah kontrakan dia, dengan kata-kata kasar seperti “bakar” maupun “hancurin.” Anak ketiganya, Tri Ayu Lestari, sering memanggil “Bapak… Bapak..” saat lihat seseorang adzan maghrib di televisi.

Lima hari setelah Warsono meninggal, rumah petak yang dijadikan mushalla kembali berfungsi rumah kontrakan. Tak ada lagi tempat ibadah bersama bagi jemaat Ahmadiyah di Muara Baru. Sesuatu telah berubah.

Erni dan Rahmawati menghindari nonton berita dari televisi setelah kejadian Cikeusik. Mereka juga belum pernah melihat video kekerasan itu. Rahman, yang duduk bersandar di dekat pintu, menyergah, “Jangan… Jangan nonton!” Rahman langsung mengunduh dari internet saat video penyerangan serta pembunuhan itu tersebar via YouTube. Dia “sangat terpukul” melihat dua sahabatnya dibunuh secara brutal.

Rahman kembali ke Jakarta pada 1 Maret 2011. Dia masih berkabung, “sudah tidak ada teman mengobrol lagi,” katanya. Dia sering datang ke Muara Baru untuk diskusi agama dengan Roni dan Warsono. Bahkan dia baru narik bajaj lagi sewaktu mengantar kami bertemu keluarga almarhum.

Mardiyah, istri Abdul Atto, yang telah menganggap Roni dan Warsono sebagai keluarga sendiri, baru bisa berhenti menangis setelah bertemu Imron sehari sebelum kami tiba.

Saya datang saat ada rencana dari keluarga ini berziarah ke makam Warsono dan Roni di Gondrong. Tati Apriani, anak bungsu Roni, bertanya, “Ma, katanya mau ke Papa? Kapan?”
Rahmawati bertanya balik ke Jumiyati, “Eh jadi besok ke Gondrong?”
“Jadi!” kata Jumiyati, dengan suara yang mekar. Tati ikut menimbrung, “Kemana, Ma?”
“Jenguk Papa!” kata Tante Ati.
“Asyiik!”
Tati melonjak-lonjak di pangkuan Mama dia, berteriak girang.*

Retrieved from: http://indoprogress.com/2011/03/17/dua-karib-dari-muara-baru/

Friday, April 20, 2012

Saya Ingin Pulang

indoprogress.com, 25 Oktober 2011

Kisah Pengungsi Ahmadiyah Yang Merindu Keluarga
Liza Desylanhi, penulis lepas, mantan jurnalis radio ABC, Australia

‘SAYA INGIN PULANG. Bagaimana caranya?’ Itu kalimat pertama yang menyambut saya ketika bertemu Sutarno bin Mattori, akrab dipangil Tarno, muslim Ahmadiyah di Cikeusik, yang menjadi korban serangan 6 Februari 2011.

Hampir delapan bulan Tarno mengungsi di sebuah rumah milik jemaat Ahmadiyah di pinggiran Jakarta, terpisah dari istri dan kedua anaknya, Hendra dan Asrip. Kerinduannya tak tertahankan, terutama pada bungsu yang dilihat terakhir kali ketika baru berusia 40 hari.

‘Nggak tahu saya sekarang sudah bisa apa dia. Pasti lagi lucu-lucunya,’ ujar Tarno. Matanya menerawang, memandang ke suatu titik di mana ingatannya membayang. Mungkin, dengan begitu, pandangannya makin lekat dengan Asrip.


Tarno mendapati dirinya tak bisa pulang dengan bebas setelah sekitar 1,500 orang menyerang, menghancurkan rumah, dan membunuh tiga Ahmadi: Roni Pasaroni, Warsono dan Tubagus Chandra. Pagi, Minggu, awal Februari itu, rumah Ismail Suparman, mubaligh Ahmadiyah Cikeusik, pusat kegiatan 25 Ahmadi di desa Umbulan, jadi sasaran kemarahan dan kebencian. Para penyerang menyasar 20 Ahmadi, termasuk Tarno, yang berusaha mempertahankan rumah tersebut.

Dia diminta Suparman, kakaknya sendiri, untuk jaga rumah dua hari sebelum serangan. Polisi membawa Suparman ke Polres Pandeglang pada 5 Februari dengan alasan ‘keamanan.’

Tarno tinggal selama lima tahun terakhir di desa Pasir Gebang, kecamatan Wanasalam, berjarak 3 kilometer dari Umbulan. Anak sulungnya, Rosanti, tinggal di rumah Suparman. Belakangan, setelah penyerangan, Rosanti ikut mengungsi bersama dia, lantas dipindahkan ke tempat lain agar bisa meneruskan sekolah. Pada saat kejadian, Tarno tengah sarapan nasi kuning ketika para penyerang mendatangi pekarangan depan rumah Suparman. Bingung dan panik, dia keluar rumah yang justru disambut lemparan batu diselingi hujatan dan, dalam menit-menit penyerangan, sebagian dari para penyerang mengambil golok dari balik jaket, mengejar-ngejar para Ahmadi.

‘Saya berusaha melawan, tapi mana bisa?! Kita cuma segitu,’ ucapnya.

Kalah jauh dalam jumlah, Tarno memilih menyelamatkan diri.  Semua terpencar. ‘Saya nggak tahu kondisi saudara yang lain.’

Dia sempat bersembunyi dua hari di hutan, sebelum akhirnya ditemukan Nayati, adik iparnya, dan akhirnya ikut bersama korban Cikeusik yang lain.

Demi alasan keamanan, Tarno terpaksa menitipkan istri dan kedua anak ke rumah mertua di desa Sumur Batu, sekitar 2,5 kilometer dari Umbulan. Kata Tarno, kelompok penyerang masih mencari-cari dia dan keluarga.

‘Istri sebetulnya pingin nyusul saya ke sini. Biar kita bisa kumpul lagi. Tapi nggak bisa. Istri dan keluarga istri saya ditekan sama warga dan kyai di sana. Katanya, ‘Kalau nyusul saya, berarti ikut jadi jemaat Ahmadiyah, kalau gitu jangan berharap bisa pulang lagi.’ Istri Tarno bukan anggota jemaat Ahmadiyah. Istrinya bersikap wajar atas pilihan keyakinan Tarno.

Pengikut Ahmadiyah menyebut dirinya ‘Muslim’ dan percaya Mirza Ghulam Ahmad, pendiri Ahamdiyah dari Qadian, sebagai Imam Mahdi, yang melaksanakan ajaran atau syariat Nabi Muhammad—nabi terakhir umat Muslim. Sebagian besar mazhab Islam, terutama kalangan Wahabi,  menganggap Ahmadiyah ‘kafir.’ Organisasi Jemaat Ahmadiyah Indonesia diakui pemerintahan Sukarno pada 1953. Pada 2005, Majelis Ulama Indonesia, sebuah badan semi-pemerintah yang dibentuk rezim Soeharto, mengeluarkan fatwa anti-Ahmadiyah pada 2005, meneruskan fatwa serupa pada 1980. Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono mengeluarkan surat keputusan bersama tiga menteri pada 2008, yang melarang kegiatan Ahmadiyah di depan publik, dengan ancaman lima tahun penjara. Banyak peristiwa kekerasan anti-Ahmadiyah di daerah-daerah, termasuk pembunuhan di Cikeusik, didorong oleh keputusan bersama tiga menteri tersebut.

Muslim Ahmadiyah merasa tak ada yang salah dan keliru dengan keyakinannya—jika pun alasan itu yang dipakai untuk penyerangan, pengusiran, dan pembunuhan.

‘Mereka sebetulnya nggak punya alasan nyerang keluarga saya. Apa dasarnya? Keluarga saya selalu baik pergaulannya dengan tetangga,’ kata Tarno dengan raut muka muram.

Delapan bulan di pengungsian, tanpa anak-istri, tanpa pekerjaan tetap, ‘cukup sudah,’ kata Tarno. Dia ingin pulang. Kerinduannya mengalir deras. Dinding itu runtuh.

‘Sebagai suami tugas saya melindungi istri saya. Sebagai bapak, saya harus ada buat melindungi anak-anak saya. Gimana nasib mereka kalau bapaknya di sini terus?!’

‘Saya juga mesti menyelamatkan aset keluarga saya. Rumah, sawah, dan kebun.’

Kekhawatiran Tarno memuncak saat saudaranya, Maryani dan Miun, menelpon. Mereka bilang rumah keluarga di desa Umbulan dijarah, perabot rumah tangga hilang, kusen-kusen dipreteli.

Kisah warga Ahmadiyah di Lombok jadi cermin Tarno. Hingga enam tahun berlalu, muslim Ahmadiyah di Lombok terasingkan di tempat penampungan Transito, sebuah bangunan pemerintah di Mataram. Hidup mereka terberai dari sanak keluarga. Mereka sudah tak bisa pulang. Setiap upaya pulang selalu diganjar penyerangan oleh kelompok anti-Ahmadiyah. Pemerintah abai.


Keinginan melindungi anak-istri dan menjaga aset keluarga jadi pendorong kuat bagi Tarno untuk segera pulang. Apalagi Hendra, anak keduanya, sering bertanya ’Kapan bapak pulang?’ tutur Tarno setiap anaknya itu menelpon dirinya. Saya cuma bisa bilang, ’Sabar ya. Nanti bapak pulang.’

Hendra sempat bertanya kepada ibunya, kenapa bapak tak kunjung pulang? ‘Istri saya nggak cerita kejadian sebenarnya. Dia cuma bilang, ’Bapak takut’. Anak saya tanya, ‘Takut kenapa?’ Ibunya bilang, ’Bapak takut pulang soalnya dikejar-kejar orang’,’ cerita Tarno. Senyum tipis tersungging di bibirnya.
‘Terus anak saya nelpon. Dia bilang, ’Kalau pulang lewat hutan aja, Pak, kalau takut ketemu orang mah. Kan di hutan nggak ada orang,’ ujar Tarno, kali ini sambil tertawa lebar, teringat celoteh polos Hendra.
Telpon ditutup dengan janji yang tak kunjung dipenuhi Tarno, ‘Nanti bapak pulang lebaran.’

Nyatanya lebaran dilewati Tarno di sebuah rumah milik jemaat Ahmadiyah di pinggiran Jakarta. Ini lebaran pertamanya tanpa keutuhan keluarga.

‘Saya pingin pulang. Saya minta perlindungan biar aman, minta jaminan kalau saya pulang ke Umbulan, nggak akan ada lagi demo-demo, nggak ada serangan. Saya mau minta ke Mabes Polri. Kalau perlu saya dianter, supaya yakin aman.’

Meski hanya sekitar 6 jam dengan mobil menuju kampungnya dari Jakarta, tetapi, bagi Tarno, kata pulang seolah membentang jarak dan waktu tanpa perhentian; terlipat dalam ingatannya.
Dia mengenang ucapan Hendra, ‘Bapak, kapan pulang?  Kalau pulang beli kurma, sepeda, beli jeruk ya, Pak…”***

Retrieved from: http://indoprogress.com/2011/10/25/saya-ingin-pulang/