Wednesday, October 12, 2011
Ahmadyah against Christianity and Atheism
Ter versterking van de eenheid tusschen deze kringen en tevens om propaganda te maken voor de beginselen der vereeniging, hield ,,De Ahmadyah Beweging Indonesia" van 23—25 Juni 1930 een congres te Poerwokerto, bestaande uit een openbare vergadering en eenige besloten bijeenkomsten, w. o. een voor vrouwen.
De heer Djojosoegito, die intusschen voorzitter van het hoofdbestuur was geworden, opende de congres-vergadering, welke door een 200-tal personen werd bezocht. Hij wees op de beteekenis van den Islam voor het heil en de welvaart der menschheid en verklaarde, dat Ahmadyah den Islam propageert in samenwerking met de vereenigingen, welke dien godsdienst willen vooruitbrengen.
Daarna hield Maradja Sajoeti Loebis, die niet tot Ahmadyah behoort, een propagandistische rede over den Islam, terwijl hij met lof sprak over den arbeid van alle Islamietische organisaties, als Sarekat Islam, Moehammadyah, Nahdatoel Oelama, Jong-Islamieten Bond en Ahmadyah. Hij wees op de schaduwzijde van het Westersch onderwijs, dat de jeugd van den eigen godsdienst doet vervreemden; voorts op de verdeeldheid in den Islam, die een godsdienst is voor het geheele maatschappelijke leven en door vele vijanden wordt belaagd. Ahmadyah zal, volgens spreker, den Islam in kracht doen toenemen en vele voor den godsdienst verlorenen weer tot den Islam terugbrengen; Ahmadyah wil de vijanden overwinnen, niet door geweld maar langs heilige wegen. Zich tot de aanwezigen richtend, riep spreker uit: ,,wij vragen offers van U, van Uw lichaam, Uwe goederen en Uw verstand".
Ook Erfan Ahmad Dahlan hield een rede met propagandistische strekking; hij wees op den slechten toestand, waarin de Islam verkeert: de Moslimsche geest is verdwenen; hierin wil Ahmadyah verandering brengen. Het Christendom vreest Ahmadyah, zeide spreker. Daarna sprak Mirza Wali Ahmad Beig over de gevaren, die den Islam bedreigen, w. o. het Christendom en het Atheisme; over de verdeeldheid in de Islam-wereld, waar over nietige dingen wordt getwist en gestreden; ten slotte over de wenschelijkheid om de jeugd naar Westersche scholen te zenden, mits zij tegelijkertijd in de wetenschap van den Koran wordt onderwezen.
Nadat ook een andere spreker het woord had gevoerd over het gevaar, dat den Islam bedreigt van de zijde van het Christendom, werd door het congres besloten: een boekenfonds en een studiefonds te stichten en voorts een propaganda-afdeeling op te richten.
Uit de redevoeringen op dit congres blijkt het streven van dezen ,,Bond van Moeslims" om het Christendom ver te houden van Islamietischen grond, doch ook om de intellectueele nationalisten voor den Islam te behouden.
Sedert de zendeling Mirza Wali Ahmad Beig naar Lahore is teruggekeerd, tracht de Ahmadyah-vereeniging op Java, door de energieke propaganda van haren stichter ontstaan te midden van nationalistische en religieuze stroomingen, zich staande te houden door den steun der Sarekat Islam-leiders.
Friday, July 1, 2011
Ahmadiyah tak bertemu ruas
". . . atas perintah Allah melalui Hazrat Mirza Chulam Ahmad. "
SEPENGGAL kalimat di atas terbit berkenaan dengan 100 tahun lalu berdirinya Jemaat Ahmadiyah. Itu ditulis dalam selebaran. Pada 23 Maret silam kelompok ini memasuki usia abad keduanya. Perayaannya dipusatkan di Parung (Bogor) selain di Bandung, Padang, dan Medan.
Di Qadian, sebuah desa kecil dan terpencil di Punjab, India, lahir kejadian menakjubkan. "Suatu peristiwa yang ditakdirkan akan mengubah masa depan sejarah umat manusia. Di sana muncul seorang pemimpin agama yang khusus diutus Tuhan untuk membimbing umat manusia, sebagai Pembaru Yang Dijanjikan di akhir zaman." Demikian sambutan Mirza Tahir Ahmad, khalifah keempat, yang dibacakan di setiap tempat peringatan "seabad Ahmadiyah" di 120 negara. Sementara itu, hampir lima ribu jemaat yang sebagian besar lelaki memiara Jenggot (ini "sunah nabi") meramaikan Kampus Mubarak, Parung. Ceramah demi ceramah malah mengalir setelah didului, antara lain, pembacaan Pancasila. Dan yang khas di tengah Ahmadiyah, sewaktu ceramah berlangsung, salah seorang berteriak "nara-i takbir" (bahasa Urdu: nara-i artinya "mari"). Seruan Allahuakbar membahana. Mereka antusias. Dan pada malam sebelumnya mereka sudah salat tahajud bersama.
Memang tidak terkesan riuh. Tak ada umbul-umbul atau poster yang dipasang, bukan seperti di Padang ada enam umbul-umbul merah, kuning, hitam. Baliho besar bertuliskan ucapan selamat diletakkan di tanah. "Khawatir ribut lagi kalau dipasang," kata seorang anggota panitia. Kekhawatiran itu wajar. Perjalanan sejarah aliran ini diwarnai dengan penolakan umat Islam lain terhadap mereka, dan terkadang mengarah ke fisik. Di antaranya, pusat Ahmadiyah di Parung itu pernah diporakporandakan beberapa waktu lalu. Sebelumnya telah terjadi di Garut. Dan dari sekian banyak tekanan tadi, yang paling pahit adalah di Pakistan.
Selebaran Berita Seabad Ahmadiyah menuduh bahwa serangan itu didalangi oleh Jenderal Zia sebelum almarhum. Kaum Ahmadi dicegahnya mengucapkan syahadat, mengumandangkan azan, dan tak boleh menyebut "masjid" untuk tempat ibadatnya. Bila larangan itu dilanggar, berarti mereka dapat dituntut hukuman penjara sampai tiga tahun, selain dikenakan denda yang tidak ditentukan batasnya. Orang-orang Ahmadiyah sering menjadi korban kekerasan secara beramai-ramai, pembunuhan, penghinaan.
Pada 1984, Dr. Muzaffar Ahmad ditembak di hadapan istri dan anak-anaknya di rumahnya di Detroit. Di Trinidad, seorang anggota Ahmadiyah bernasib serupa. Kurang jelas motif penembakan itu, walau kalangan Ahmadiyah menuding bahwa pemerintah Pakistan yang bertanggung jawab. "Kami ini muslim yang mempunyai Rukun Iman dan Rukun Islam seperti dipercayai muslim lainnya," kata Khaerudin Barus, ketua misi Sumatera bagian utara. Pernyataan ini agaknya belum cukup untuk menyingkirkan soal mendasar yang menjadi ganjalan, sehingga kaum Ahmadiyah dan umat Islam lainnya ketemu ruasnya. Yakni status Mirza Ghulam Ahmad.
Bagi penganut Ahmadiyah, ia dianggap nabi. Ghulam Ahmad lahir pada 1835 di Qadian. Ia dikaruniai lidah fasih, otak cemerlang, kharismanya kuat. Bahkan terkesan hebat ketimbang Nabi Muhammad, yang "biasa saja dan tak pintar berpidato". Konon, ia memang mahir menjelaskan pemahaman tentang Islam secara baru dan rasional. Ketika hampir semua muslim menganggap Nabi Isa bukan mati disalib tetapi "diangkat ke arasy" misalnya, waktu itu Ghulam mengatakan, Nabi Isa mati biasa. Malah "atas petunjuk Allah" ia menunjuk sebuah kuburan di Srinagar (India) sebagai makam Isa. Karena ia piawai, umat lalu berduyun datang padanya. Qadian berkembang menjadi pusat kajian Islam. Bahasa Urdu bahkan ikut naik status.
Tapi kebangkitan Ghulam juga berarti konflik. Para pemeluk agama samawi, waktu itu, sedemikian percaya pada konsep Mahdi atau Almasih, yakni bakal turunnya seorang juru selamat. Sejumlah hadis -- masih bisa didebat kesahihan dan maknanya -- dipakai untuk rujukan, berikut dengan tanda-tanda turunnya Sang Mahdi. Dalam kondisi pemahaman seperti itu, Ghulam mengumumkan bahwa dialah "Mahdi dan Almasih yang dijanjikan" itu. Apalagi nama Ahmad ada disebut di Quran, sekalipun nama itu oleh ahli tafsir diartikan sebagai Muhammad.
Jemaat Ahmadi berpendapat, umat Islam harus mengimani Mahdi Ghulam Ahmad. Kalau tidak, menurut mereka, orang itu termasuk yang oleh hadis Nabi disebut "72 dari 73 golongan Islam yang masuk neraka". Padahal, dalam konteks ini, Nabi Muhammad tak menyebutkan ciri "satu golongan itu yang termasuk umatku". Umat Islam lalu menyimpulkan: Mirza Ghulam Ahmad menyatakan dirinya sebagai "nabi baru" sesudah Muhammad. Meledaklah heboh. Umat yakin bahwa Muhammad adalah nabi terakhir, yang oleh Quran disebut khataman-nabiyyi. Tentang anggapan ini, dalam Hamamatul Busyro 13 Ghulam Ahmad berkata "Ketahuilah, hai saudaraku, sesungguhnya saya tidak pernah mendakwakan diri saya jadi Nabi. Dan tidak pernah saya berkata saya ini Nabi."
Tapi pembelaan pengikut Ahmadiah sering menyoalkan status Nabi Muhammad. Khataman-nabiyi, kata mereka bukanlah "nabi terakhir" melainkan "nabi yang mulia". Mereka hanya setuju Muhammad itu nabi terakhir sebagai nabi hakiki, nabi pembawa syariat. Begitu klasifikasi kenabian itu menurut versi mereka. Dan sesudah itu dimungkinkan ada "nabi zilli" alias nabi yang tidak membawa syariat. Dialah Mirza Ghulam Ahmad. Dalam tubuh Ahmadiyah juga terdapat tantangan.
Sejumlah kaum Ahmadi pimpinan Maulana Muhammad Ali menampik anggapan Ghulam Ahmad itu nabi. Bagi mereka, tokoh ini hanya mujaddid. Pembaru, bukan nabi. Mereka lalu menamai kelompoknya sebagai Ahmadiyah Lahore. Sebaliknya Ahmadiyah lama (disebut Qadian) memojokkan mereka. Lahirnya Ahmadiyah Lahore, kata yang Qadian semata-mata karena Maulana Muhammad Ali gagal jadi khalifatul masih atau pemimpin umat setelah sepeninggal Ghulam Ahmad.
Di Indonesia, soal Ahmadiyah adalah debat lama, setelah 2 Februari 1925. Rachmat Ali dari Qadian tiba di Tapak Tuan Aceh Selatan. Ia diundang oleh Abubakar Ayyub, Zaini Dahlan, dan Ahmad Nuruddin. Tiga pemuda Minang itu semula hendak pergi haji. Tapi kapal kandas, dan mereka, karena mencoba lewat darat tertahan di Qadian. Perdebatan sengit dan disaksikan sekitar dua ribu hadirin terjadi akhir September 1933. Abubakar Ayyub "ketemu batu" sewaktu berdebat dengan A. Hassan. Hingga kini debat Ayyub dan Hassan seperti tak akan pernah selesai.
Ahmadiyah Lahore, yang menyebutkan organisasinya serupa Muhammadiyah atau NU, agaknya tak banyak masalah. Lain dengan Jemaat Qadian. Mereka mengatakan Ahmadiyah didirikan "atas perintah Ilahi" (Muhammadiyah dan NU dibentuk atas kehendak manusia, Syiah, dan Sunah karena "proses perubahan pikiran"). Ganjalan makin berkepanjangan. Karena itu K.H. Hasan Basri, Ketua Majelis Ulama Indonesia, tegas menyebutkan Ahmadiyah "sesat dan menyesatkan". Beda sudut pandang ini sulit ditumpulkan karena pendapat boleh ada "nabi bayangan" sesudah Nabi Muhammad, lalu muncul Mirza Ghulam Ahmad. Padahal, di zaman Rasulullah memang tak pernah ada risalah demikian. Inilah yang membuat umat Islam layak curiga. Zaim Uchrowi Ahmadie Thaha (Jakarta) Mukhlizardy Mukhtar (Medan)
http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/1989/04/01/AG/mbm.19890401.AG20565.id.html (Accessed on 6/23/2011)
Thursday, June 23, 2011
Nasib Ahmadiyah, Simalakama Ahmadiyah
SEKITAR dua ratus demonstran dari kelompok Umat Islam Indonesia (UII), Jumat pekan lalu, kembali menyatroni kampus Mubarok di Parung, Bogor. Tanpa mempedulikan pita plastik kuning bertuliskan police line, mereka menerobos ke kampus milik Jemaah Ahmadiyah itu. Sambil meneriakkan kalimat Laa ilaha ilallah, demonstran yang mengenakan sorban itu memeriksa tiap pojok gedung yang kosong melompong. Tak kurang dari 100 polisi dan 30 anggota Satpol Pamong Praja hanya menonton aksi massa. "Kami harus memastikan Ahmadiyah yang sesat bubar," ujar Abdurrahman Assegaf, Ketua UII. "Kalau Ahmadiyah jual, kami akan borong."
Ahmadiyah memang sedang jadi topik polemik panas. Pelbagai mailing list di ranah Internet selama sepekan ini ramai membicarakan organisasi yang berasal dari Pakistan ini. Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Amidhan, meminta pemerintah segera turun tangan. KH Amidhan mengatakan MUI tetap berpegang pada fatwa tahun 1980 yang menyebut Ahmadiyah sebagai "jemaah di luar Islam yang sesat dan menyesatkan". Dalam fatwa itu juga disebutkan MUI akan menyerahkan nasib Ahmadiyah ke pemerintah. "Sekarang tugas pemerintah segera membubarkan aliran yang sesat itu," ujar Amidhan.
Menghadapi pelbagai serangan, Ahmadiyah melakukan perlawanan. Adnan Buyung Nasution, pengacara Ahmadiyah, memastikan akan menempuh langkah hukum untuk menggugat aksi penyerbuan ke kampus Mubarok di Bogor. Buyung menilai penyerbuan yang anarkis itu sudah masuk ke pelanggaran pidana yang berat. Soal tuntutan pembubaran Ahmadiyah oleh MUI, Buyung justru mempertanyakan status hukum fatwa MUI. "Mana yang lebih tinggi: UUD 45 yang menjamin kebebasan beragama, atau fatwa MUI," kata Buyung Nasution, yang mengaku bukan penganut Ahmadiyah.
Memang, sungguh tak mudah bagi pemerintah untuk membubarkan Ahmadiyah. Undang-Undang Dasar 1945 yang telah diamendemen jelas menjamin kebebasan setiap warga untuk memeluk keyakinan masing-masing. Ini berbeda dengan di era masa otoriter, ketika pemerintah dapat membubarkan organisasi keagamaan yang dianggap sesat dengan Undang-Undang No. 1 Tahun 1965. Itu pun harus melalui prosedur yang panjang dan hati-hati.
Apalagi dalam menilai aliran yang diciptakan oleh Mirza Ghulam Ahmad (1835-1908) di Qadian, India itu. Ajaran tersebut kini memiliki 200 juta pengikut setia di seluruh dunia. Di Indonesia, jumlahnya diperkirakan tak kurang dari 500 ribu Ahmadie-sebutan untuk penganut aliran Ahmadiyah. Persoalan makin rumit karena Ahmadiyah terpecah menjadi Ahmadiyah Qadian dan Ahmadiyah Lahore. Kelompok pertama tetap menganggap Mirza sebagai "nabi yang tak membawa syariat". Tapi, kelompok Lahore lebih bersikap moderat karena menganggap Muhammad SAW sebagai nabi terakhir dan menilai Mirza Ghulam Ahmad hanya sebagai tokoh pembaharu (mujadid).
Di Indonesia, aliran Ahmadiyah Qadian memang lebih berkembang. Kampus Mubarok di Bogor merupakan pusat penyebaran Ahmadiyah Qadian di Indonesia. Sedangkan aliran Ahmadiyah Lahore mendirikan organisasi Jemaah Ahmadiyah Indonesia (JAI), yang berpusat di Yogyakarta. Ir Haryana M. Arch, mantan Pembantu Rektor III UGM, tercatat pernah memimpin JAI Yogyakarta. Beberapa intelektual, antara lain Prof Dr Rika Haryana (guru besar Fakultas Kedokteran UGM), Prof Dr Muchlisah (guru besar Fakultas MIPA UNS), Munawar Ahmad, M.Si (dosen UIN Yogyakarta), terang-terangan menjadi anggota JAI.
Upaya membahas aliran Ahmadiyah sebenarnya sudah dilakukan pemerintah. Tim Koordinasi Pengawasan Aliran Kepercayaan Masyarakat (Pakem) pada 18 Januari 2005 dan 12 Mei 2005 melangsungkan rapat maraton di Kejaksaan Agung. Pertemuan penting itu dihadiri wakil dari Badan Intelijen Negara, Polri, Departemen Agama, Departemen Dalam Negeri, Kejaksaan, dan MUI. Amin Djamaluddin, yang mewakili MUI dalam pertemuan, mengatakan rapat sudah berhasil mencapai mufakat. "Ahmadiyah dan buku-bukunya diusulkan dinyatakan terlarang," ujar Amin Djamaluddin. "Sekarang tinggal presiden mengeksekusi keputusan tersebut."
Tapi, Menteri Agama Maftuh Basuni mengatakan tak bisa bertindak gegabah. Maftuh mengaku pemerintah sedang membahas persoalan Ahmadiyah secara serius. Soal tuntutan agar pemerintah segera membubarkan Ahmadiyah, "Kami harus hati-hati. Ini sensitif," ujar Maftuh Basuni kepada Ami Afriatni dari Tempo.
Sikap hati-hati pemerintah ini didukung oleh Prof Dr Azyumardi Azra. Rektor Universitas Islam Negeri Jakarta ini bahkan meminta MUI supaya meninjau ulang fatwa tentang Ahmadiyah. Menurut Azyumardi, konteks sosial-politik saat fatwa dikeluarkan pada tahun 1980 dan kini sudah jauh berbeda. Guru besar bidang sejarah Islam ini juga menegaskan, perkembangan Islam selalu diwarnai perbedaan tafsir atas kitab suci Al-Quran. Jadi, "Kita harus menghormati tafsir Ahmadiyah soal nabi mereka," katanya.
Setiyardi, Deffan Purnama (Bogor), dan Syaiful Amin (Yogyakarta)http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2005/07/25/NAS/mbm.20050725.NAS116080.id.html (Accessed on 6/23/2011)
Menunggu pembaru bermandat
AHMADIYAH, aliran Lahore, seharusnya sudah bubar. Sebab abad ke-14, yang merupakan masa ke-pembaru-an Mirza Ghulam Ahmad (yang menjadi anutan aliran ini) sudah berlalu baru-baru ini. Demikian pikiran setengah orang. Tetapi GAI, Gerakan Ahmadiyah Indonesia aliran Lahore, malah mengadakan muktamarnya di Yogya 23-25 Desember lalu. Dan dalam persidangan kecil yang menjadi penting karena sekaligus dimaksud memperingati 50 tahun usia organisasi ini, bahkan diumumkan tekad untuk sejak tahun ini memperbesar tabligh.
Seperti dikatakan ketua Pedoman Besar (pucuk pimpinan) GAI yang baru dipilih, Prof. dr. H. Ahmad Muhammad, "kita tidak perlu malu-malu lagi keluar lubang yang kita diami ini. Kita siarkan Islam dengan paham Ahmadiyah (Lahore - red.) terang-terangan." Dan dengan demikian mereka berniat mengisi awal abad XV yang cerah.
Masalahnya ialah, Ahmadiyah bukan hanya berarti Ghulam Ahmad. Tetapi juga sebuah jalan pikiran -- yang umurnya sudah tentu lebih panjang dari masa hidup sang pemimpin. Dan jalan pikiran itu, ditubuhkan dalam organisasi, mengetengahkan prinsip 'pemeliharaan agama oleh Tuhan secara bersambung-sambung'. Ahmadiyah, aliran Qadian maupun Lahore, memang salah satu dari kelompok dalam Islam yang membuat "resmi" urusan pemeliharaan itu. Pada aliran Qadian, yang mengakui Ghulam Ahmad sebagai nabi (persisnya "nabi yang tidak membawa syari'at"), pelembagaan itu diwujudkan dalam pengakuan terhadap para "khalifah" Ghulam Ahmad -- dan sekarang ini khalifah ke-3, Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad.
Bedanya dengan khalifah zaman awal Islam, yang merupakan pengganti Muhammad s.a.w. sebagai kepala masyarakat atau pemerintahan, khalifah Ahmadiyah ini tak lain kepala masyarakat Ahmadiyah yang sama sekali tak ada hubungannya dengan pemerintahan negara. Tapi justru pada ahmadiyah Lahore legitimasi ketuhanan pada pemeiharaan agama untuk masa-masa selanjutnya itu lebih jelas. Berdasar sebuah hadis Nabi Muhammad (yang di kalangan Islam luaran tidak menduduki tempat sentral) yang menerangkan bahwa Allah akan membangkitkan pada tiap permulaan abad seseorang "yang akan membarui ihwal agama mereka," mercka menetapkan adanya para "pembaru yang bermandat". Dengan kata lain Allah sendiri yang menunjuknya melalui 'wahyu wali' atau 'wahyu tajdid' -- bukan wahyu kenabian.
Masalah Swasta
Bagi mayoritas muslimin di luaran, masalah pembaru sebaliknya tak dipusingkan benar -- lebih dianggap "masalah swasta". Kalaupun memang Tuhan menurunkan para pembaru setiap abad, biarlah para pemimpin itu bergerak dan nanti dicocokkan dengan ajaran induk plus tuntutan aktual zaman. Hanyalah sejarah (meskipun hakikatnya Tangan Tuhan juga) yang akan mendorongnya sampai ke tingkat penerimaan umum.
Demikianlah terjadi dengan misalnya Imam Syafi'i, Ghazali, Ibnu Taimiah-yakni sebagian dari nama-nama yang oleh kaum Lahore diyakini sebagai para pembaru bermandat untuk abad-abad sebelum Ghulam Ahmad. Yang sangat penting sehubungan dengan kaum Lahore ialah, kesadaran tentang kesinambungan para pembaru itu betapapun datang setelah kehadiran Ghulam Ahmad. Lagi pula bukankah dia (seperti juga diyakini kalangan Qadian) sekaligus Almasih Yang Dijanjikan dan Almahdi yang ditunggu-tunggu? Keyakinan ini memang sangat bagus -- dan agaknya memang dimaksud -- untuk menghapus semangat messianisme di kalangan muslimin tradisional, tentu saja kalau mereka mau menerimanya.
Dan kenyataan bahwa Ghulam Ahmad kemudian merupakan titik pangkal, ditunjukkan oleh keyakinan bahwa abad ke-14 tak lain abad penaburan benih -- sementara abad ke-15, sekarang ini, merupakan abad perkembangan dan berikutnya menjadi abad kegemilangan Islam (seperti juga dituliskan Imam Musa Projosiswojo dalam komentar di TEMPO). Toh umat Islam di luaran kenyataannya tak terlalu berkeberatan dengan golongan yang Lahore ini. Tentang mandat Tuhan untuk kesinambungan pemeliharaan agama misalnya. Bukankah itu juga hidup di kalangan Syi'ah -- melalui para imam bersambung-sambung, dan seterusnya praktis para ulama tinggi yang betapapun tidak pernah mereka anggap kafir? Padahal perbedaan struktur keagamaan Islam mayoritas (Sunni) dengan Syi'ah jauh lebih besar dibanding perbedaannya dengan yang Lahore.
Berlainan dengan golongan Qadian mayoritas muslim kelihatannya keki kepada pangkat nabi yang mereka berikan kepada Ghulam Ahmad -- sementara Muhammad s.a.w. jelas menda'wakan dirinya sebagai nabi terakhir. Demikianlah pertemuan para ulama di Mekah di tahun 1974 menganggap kaum Qadiani sebagai "di luar Islam" -- sementara kaum Qadian sendiri menganggap demikian pula terhadap semua yang tak mau mengakui kenabian Mirza. Adapun golongan Lahore, setelah tidak menyetujui tindak saling mengafirkan itu, mereka memang tidak menganggap yang tak percaya kepada Ghulam Ahmad sebagai mujaddid atau tak percaya prinsip tajdid menurut pengertian mereka, sebagai kafir. "Melainkan, yah, bodoh, dalam tanda petik," seperti misalnya diungkapkan Prof. Ahmad Muhammad.
Toh perbedaan dengan Qadiani rupanya mereka anggap penting. Dalam muktamar sendiri terjadi perdebatan tentang perlu tidaknya tetap mencantumkan 'Lahore' dalam nama organisasi. Dan 21 suara mempertahankan, sementara hanya dua yang menentang. Ini penting rupanya. Seperti dikatakan Soewindo SH, Ketua II PB GAI yang sehari-harinya hakim pada Pengadilan Negeri Yogya, "karena ada 'Lahore' itu pula izin muktamar cepat keluar." Tapi jangan dikira Ahmadiyah Lahore laku keras. Jumlah peserta muktamar itu memang mencerminkan sedikitnya warga resmi (yang dibai'at), yang menjadikan kumpulan ini organisasi yang barangkali paling mini. Anggota seluruhnya hanya 708 orang, tersebar di 16 cabang. Cabang Yogya, tempat berdirinya organisasi pada 29 September 1929, terhitung paling menonjol karena punya kompleks sekolah PIRI (lihat box). Tapi sekolah-sekolah PIRI itu memang memberi kesan seolah organisasi ini lebih merupakan pusat kegiatan dari pada penampungan warga.
Prestasi golongan ini di masa penjajahan dulu, yakni menyebarkan pikiran "modern" yang "mempertemukan religie dan wetenschap", dan betapapun mempengaruhi banyak sekali tokoh seperti ir. Soekarno atau lebih-lebih Tjokroaminoto (TEMPO 21 September 1974), rupanya memang memuaskan setidak-tidaknya pada waktunya. Dan mereka barangkali juga merasakan hal itu. Tapi entahlah kalau "kebangkitan" seperti yang diucapkan berulang-ulang dalam muktamar berarti semangat baru untuk mencari anggota resmi -- sambil menunggu datangnya mujaddid abad ini. Siapa? "Tidak harus dari golongan Ahmadiyah," kata Ahmad Muhammad, yang sehari-harinya Guru Besar dalam Ilmu Faal pada Fakultas Kedokteran UGM. "Tetapi dia harus dan memang diramalkan akan mengakui Mirza Ghulam Ahmad. Juga mengakui bahwa ajaran Mirza belum sempurna, karena itu perlu disempurnakan. Dan hanya dengan itu kita ikuti." Dan itulah sebabnya Ahmadiyah tetap bernama Ahmadiyah.
http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/1980/01/12/AG/mbm.19800112.AG53216.id.html (Accessed 6/23/2011)
Saturday, June 18, 2011
Ahmadiyah, sebuah titik yang dilupa (5)
Tetapi bahkan Moh. Natsir, murid ulama A. Hassan, musuh Ahmadiyah Qadian itu, menggunakan banyak keterangan Mohammad Ali (Lahore) untuk catatan kaki sebuah bukunya tentang shalat. Juga buku kecil Agus Salim tentang Isra Mi’raj (dicetak kembali oleh Tintamas pada 1966) yang nyaris merupakan pindahan dari The Holy Qoeran Muhammad Ali untuk bagian yang sama — yakni jalan fikiran yang mengantarkan kepada kesimpulan bahwa Isra Mi’raj itu peristiwa rohani dan bukan peristiwa fisik. Adapun Bahrum Rangkuti, pada 1949 seniman ini menterjemahkan Bentuk Dasar Ekonomi Lama karangan Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad, Khalifah ke-II Ahmadiyah Qadiani.
Setelah itu bisa pula ditunjuk Tafsir Qur’an Departemen Agama. Tafsir ini tidak hanya menukil The Holy Qur’an Muhammad Ali maupun The Holy Quran Yusuf Ali, tapi bahkan menterjemahkan mentah-mentah sebagian pengantar The Holy Qur’an Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad di atas (TEMPO, 12 Januari 1974).
Tetapi kesimpulan yang paling menonjol dari seluruh “peninggalan” Ahmadiyah ialah: mereka telah memberikan senjata yang bagus bagi umat Islam setidak-tidaknya dalam apologi — menghadapi serangan Eropa yang terutama santer sampai sesudah Perang Dunia ke-I. Senjata ini adalah salah-satu- dari dua senjata: yang pertama telah diberikan oleh Muhammad Abduh, Rasyid Ridha atau Jamaludin Al-Afghani, yang telah lebih dahulu dibaca di Indonesia. Merekalah yang dikenal pertama kali menaikkan harga diri umat muslim dari menampakkan keindahan Islam di atas agama dan faham-faham Eropa yang selama ini mereka pandang dengan perasaan minder.
Tetapi Muhammad Ali dan buku-buku kaum Ahmadi telah “menyerang dengan lebih langsung”. Buku-buku yang mengupas Perjanjian Lama, Perjanjian Baru dan kitab-kitab agama-agama lain, berasal dari mereka — hal-hal yang tidak pernah muncul dari bumi Mesir atau Arab umumnya sampai pada tahun-tahun yang lebih akhir. Seakan-akan mewarisi ilmu ulama klasik Syahrastani yang mengarang kitab Al-Milal wan-Nihal (Agama-Agama dan Pandangan-Pandangan Hidup — buku perbandingan agama yang pertama di dunia), dari India bermunculan buku-buku kristologi menurut versi Islam. Dan itulah yang diterjemahkan atau menjadi sumber penulisan baru di Indonesia.
De Bronnen van Het Christendom misalnya, karangan Sudewo terbit pada 1931 di Sukabumi. Seiring dengan itu adalah De Ceboerte van Jezus in Het Licht van Den Heiligen Qoer-an, terjemahan Sudewo dari pengarang Basyarat Ahmad, terbit di Yogyakarta.
Pada tahun 1937 muncul pula dari Ahmadiyah Qadian empat buah buku dan brosur: Jezus Dalam Bibel serta Nabi lsa Anak Allah? — oleh M. Sadiq HA, terbitan Medan dan Jakarta. Dua yang lain adalah Kebenaran Nabi Muhammad Menurut Bijbel dan Nabi Isa Menurut Bijbel oleh M. Rahmat Ali HAOT, Jakarta.
Itulah buku-buku perbandingan agama atau kristologi yang pertamakali di tangan umat Islam di Indonesia. Baru sesudah itu, di belakang hari, mahasiswa Islam di sini menerima buku perbandingan agama Prof. Dr. Syalabi (Kairo). Djarnawi Hadikusumo lantas mengarang pula dua jilid komentar terhadap Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Drs Hasbullah Bakry menulis Nabi Isa Dalam Al-Quran dan Nabi Muhammad dalam Bibel. Tapi yang sangat populer adalah brosur-brosur kecil keluaran Jajasan Pembela Islam (YAPI) dan penerbit Anoa di Surabaya. Di sini menulis orang-orang muda dengan voltase tinggi, sebagian dari mereka ini warga Ahmadiyah Qadian seperti Saleh A. Nahdi. Pada umumnya semuanya berfikir menurut jalan fikiran Ahmadiyah.
Enam Tahun Lagi
Tapi itu berarti bahwa jalan fikiran Ahmadiyah diterima orang boleh dikatakan hanya “pada segi-seginya yang praktis untuk pembelaan Islam”. Bila seorang khatib muda naik di mimbar Jum’at dan “mengupas” Bibel dan mengutip Muhammad Ali, atau kadang-kadang Mirza Basyiruddin tanpa menyebut sumber, dan dengan itu telah mengesankan keluasan berfikir yang cukup, galibnya ia tidaklah bermaksud mempropagandakan Ahmadiyah.
Fikiran-fikiran Ahmadiyah itu telah demikian saja merupakan satu bagian tak terpisahkan dari pemikiran Islam mutakhir. Mereka ini, setelah tidak bisa menerima Ghulam Ahmad sebagai Nabi (kalau bisa tentulah mereka masuk jemaat Qadiani), biasanya tidak begitu peduli apakah Ghulam Ahmad memang Pembaharu yang diutus Allah (seperti diyakini kaum Lahore), atau Yesus dan Imam Mahdi yang seperti dijanjikan dalam hadis Ibnu Majah akan bangkit mendukung syari’at Muhammad (seperti diyakini baik Qadiani maupun Lahore). Bagi umumnya umat muslimin, hadis-hadis semacam itu termasuk jenis “hadis-hadis rawan”, yang boleh menimbulkan banyak penafsiran dan umum tertimbun di bawah hadis-hadis yang mereka anggap lebih praktis dan langsung berhubungan dengan amal.
Adalah menarik bahwa bagi aliran Lahore sendiri “masa kerja” ajaran Mirza Ghulam Ahmad sebagai Mujaddid pilihan Allah akan sudah bisa berakhir dengan berakhirnya abad tahun Hijrah yang sekarang yakni enam tahun Iagi — sementara insya Allah sudah muncul Mujaddin pilihan yang lain. Dan bagaimana lantas nasib GAI? “Terserah beliau nanti” jawab tokoh-tokoh mereka sekarang.
Ini secara diametral membedakan aliran Lahore dari Qadian. Yang terakhir ini menganggap Ghulam Ahmad tokoh satu-satunya dan setelah tiga abad nanti akan menjadi lantaran bagi bersatunya dunia di bawah Khalifah beliau. Moertopo SH misalnya — Ketua PB Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) yang Qadian menyatakan bahwa cita-cita terakhir Islam memanglah membentuk sebuah dunia dengan seorang pemimpin rohani tertinggi — apa boleh buat: “kira-kira seperti yang dicita-citakan dunia Katolik”.
Ini selain kurang populer di kalangan Islam umumnya juga menyebabkan mereka — terutama kalangan intelektuilnya yang cenderung tetap membuka pintu bagi pembaharuan-pembaharuan sepanjang bisa dibenarkan –memandang jemaat Ahmadiyah sebagai semacam ikatan yang akhirnya bahkan tidak “membebaskan”, begitu konon istilahnya. Pegangan teguh kepada Mujaddid pilihan sendiri sudah dengan sendirinya melenyapkan kemungkinan ijtihad yang kebetulan tidak sesuai dengan sang Mujaddid.
Terbaca Samar-Samar
Alhasil, minus kepercayaan-kepercayaan dasar terutama dari aliran Qadian, fikiran-fikiran Ahmadi memang baru menimbulkan bekas. Sekarang misalnya dunia Islam — seperti diwakili Syekh Mahmud Syaltut dari Al-Azhar dan lain-lain — sudah mengakui bahwa Isa benar-benar wafat dan bukan diangkat ke langit hidup-hidup seperti penafsiran kaum Sunni sebelumnya.
Jusuf Wibisono juga menyebut misalnya betapa fikiran-fikiran Muhammad Ali mempengaruhi pemikiran Islam tentang ekonomi. Dalam hal riba, merekalah yang mengumumkan bahwa yang dimaksud riba adalah rente dengan motif penindasan. Sesuai dengan bunyi Qur’an: “Jangan kamu menindas dan janga kamu ditindas” (la tazhlimun wala tuzhlamoun). Benar masalah riba tersebut telah disinggung dalam tafsir Al-Manar ‘Abduh & Rasyid Ridha. Namun penafsiran yang olell Jusuf Wibisono dibaca dari Muhammad Ali tersebut, seperti dikatakannya, membuka pintu bagi eksistensi bank asal tak menuruti syarat di atas. Jusuf Wibisono sendiri memang tidak bisa menerima misalnya penafsiran yang terlalu jauh dalam Tafsir Muhammad Ali untuk ayat-ayat mu’jizat. “Bagi saya”, katanya, “kalau Nabi Musa memecah laut dengan tongkat, ya kejadiannya memang begitu. Bukan misalnya ditafsirkan bahwa tongkat itu lambang kekuasaan dan mereka menyeberang dalam keadaan laut kering dan sebagainya”.
Tetapi pro dan kontra terhadap fikiran-fikiran Ahmadi, dengan asumsi pertama bahwa dari mereka banyak bisa diambil hal-hal yang elok, menunjukkan kedudukan ajaran ini dalam sejarah pemikiran Islam di Indonesia. Sesudah masuknya kitab-kitab dari Timur Tengah di akhir abad 19, yang menumbuhkan perkumpulan-perkumpulan tajdid (pembaharuan) seperti Muhammadiyah dan lain-lain, dan sebelum datangnya konsep-konsep yang relatif lebih jelas seperti pemikiran-pemikiran tentang negara dari Iqbal atau Seyd Amir Ali, di Indonesia berhembus udara India yang merupakan sebuah titik yang penting, meskipun lazimnya dilupa.
Nama Mirza Ghulam Ahmad sendiri seakan-akan hanya terbaca samar-samar di sini. Bahkan Tafsir Muhammad Ali yang diterjemahkan antara lain oleh Tjokroaminoto itu, tidak mengupas apa-apa tentang salah seorang tokoh dunia ini.[]
http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/1974/09/21/AG/mbm.1974092
Ahmadiyah, sebuah titik yang dilupa (4)
Majalah Time misalnya pernah menulis bahwa di beberapa tempat di sana “satu orang masuk Kristen dan 10 orang masuk Ahmadiyah” — sebagai perbandingan. Sampai-sampai sambutan yang diterima Hafiz Mirza Nazir Ahmad (yang oleh orang Qadian dianggap Khalifah ke-III Nabi Mirza Ghulam Ahmad) ketika tokoh ini datang ke sana pada 1970, boleh mengherankan orang-orang di luar. Bagai menyambut Paus layaknya, kepala-kepala negara bahkan menunggu kedatangannya di lapangan terbang.
Boleh ditambahkan bahwa di Afrika, konon Ahmadiyah juga dikenal sebagai perkumpulan sosial. Beberapa rumahsakit dan sekolah misalnya mereka dirikan — walaupun di hampir tiap negeri anggotanya tetap saja merupakan kelompok minoritas.
Tetapi kebesaran syi’ar seperti itu sudah tentu tidak pernah dialami golongan Lahore. Pertama karena, setelah kelompok ini tidak mengakui Ghulam Ahmad sebagai Nabi — dan dengan demikian juga tidak punya khalifah, ia pun pada dasarnya tidak merupakan organisasi yang ketat. Di tiap-tiap negeri hanya terdapat perkumpulan-perkumpulan yang relatif bebas, yang hubungannya dengan Presidennya di Lahore semata-mata sekedar korespondensi — mereka misalnya menerima kiriman majalah The Light, karena berlanganan. Bahkan hanya satu-dua orang, dari tokoh-tokohnya di Indonesia sekarang yang sudah pernah melihat kota di Pakistan itu — berbeda dengan jemaat Qadiani, yang bahkan untuk tabligh masih tetap memakai tenaga-tenaga Pakistan.
Kolonel II. Sutjipto SH, Sekjen PB GAI (Lahore), menerangkan kedudukan organisasinya seperti ini: “Bukan onderbouw apa-apa. Kami ini muslim, dan menjadi muslim juga tidak berarti kami onderbouw Arab. Jadi kami memang tidak organisasi-sentris, tapi lslam-sentris. Kapan saja tidak diperlukan menyebut organisasi, dan cukup Islam saja, itupun bagi kami tidak menjadi soal”. Bahkan akhirnya: “Ada atau tidak ada GAI, bagi kami sendiri sebenarnya tidak penting. Tidak ada pun tidak apa”, katanya.
Kalau sudah begitu? bisalah difahami mengapa da’wah (dalam arti memperbanyak anggota resmi) bukan yang paling penting bagi mereka. Sebab yang paling penting ialah. “bagaimana fikiran-fikiran kami dapat diterima sebanyak-banyak orang, seluruhnya atau sebagiannya”, kata Sutjipto. Dan untuk itulah diadakan GAI dan dilakukan da’wah — tentu saja, menurut jalan yang mereka tempuh sejak pertama, melalui buku-buku dan brosur-brosur. Harus diakui bahwa dari segi ini mereka sudah mencapai hasil.
Tafsir Muhammad Ali yang telah dibicarakan itu sendiri boleh diambil sebagai contoh pertama. Terjemahannya ke bahasa Melayu yang dikerjakan Tjokroaminoto memang tidak terkenal akhirnya, selain juga tidak selesai dan hanya merupakan dokumentasi di museum. Tapi De Hedige Qoeran, terjemahannya ke bahasa Belanda oleh Sudewo — bersama pengantarnya — boleh dicari di semua rumah tokoh-tokoh Islam intelektuil angkatan sehelum perang. Dan boleh dipastikan mereka menyimpan itu kitab. Demikian pula buku Muhammad Ali, Mohammad De Profeet (Sukabumi 1932) atau buku Khwaja Kamaluddin et Geheim van Het hetaat of Het Evangelie van De Daal (Yogya 1939). Kedua-duanya juga terjemahan (dari bahasa Inggeris) oleh Sudewo.
Mengapa buku-buku tersebut begitu terkenal? Antara lain karena tokoh-tokoh Muhammadiyah tahun 20-an itu, yakni sayap intelektuilnya yang berpendidikan Barat, juga menjadi anggota Jong Islamieten Bond yang bersejarah. Sudewo misalnya banyak mengisi majalah JIB yang bernama HetLicht dengan ajaran Ghulam Ahmad versi Lahore yang dia terima dari Mirza Wali Ahmad Baig. Tak heran bila semangat intelektuil seperti itu, apa lagi diyakini bersumber dari Islam, banyak memikat kaum terpelajar yang memang sedang berada dalam kegandrungan untuk “memadukan antara reliied an wetenschap ” — istilahnya waktu itu.
Lebih lagi, mengingat banyaknya kaum intelektuil Islam yang masih berada di luar JIB, yakni tokoh-tokoh yang dinilai “tipis agamanya” — pada waktu itu didirikan pula di Yogyakarta perkumpulan Muslim Broederschap di bawah asuhan Djojosugito dan Moh Husni. Di sini misalnya berkumpul Mustopo, Sjamsuridjal, Sudewo, Mohammad Kusban — dan menerbitkan sebuah majalah berbahasa Belanda pula bernama Correspondentie Blad. Perkumpulan ini boleh dibilang hanyalah wadah lain bagi Ahmadiyah Lahore selain (atau sebelum adanya) Ahmadijah Beweging.
Tidak berlebihan bila misalnya Jusuf Wibisono SH, orang tua yang juga anggota Muhammadiyah dan salah-seorang dari banyak rekan-rekannya yang dahulu aktif dalam JIB, mengatakan bahwa “aliran Lahore banyak sekali meninggalkan karya monumental”. Ia sendiri mengaku, meskipun tidak pernah menjadi anggota gerakan tersebut, “ikut mempropagandakan agar buku-buku mereka dibaca banyak orang lain” Mengapa? “Karena bisa menenteramkan fikiran”. Lihatlah misalnya: De Heilige Qoeran sendiri dahulu sudah habis dipesan dari pelosok-pelosok, umumnya kaum terpelajar, sebelum percetakannya sendiri selesai. Karena itu tak heran pula bila, di masa sebagian intelektuil Islam berpendidikan Barat merasa kikuk karena agama yang mereka peluk dianggap “begitu buruk”, Ir. Soekarno sendiri tidak absen dalam mengejar buku-buku Ahmadiyah — sampai-sampai sebuah koran di Jakarta memberitakannya sebagai telah membentuk cabang gerakan Ahmadiyah di tempat pembuangannya di Endeh.
Soekarno misalnya, seperti juga Jusuf Wibisono dan boleh dipastikan banyak yang lain, menyatakan secara jelas bahwa buku Khwaja Kamaluddin, Het Cehebn van Het Bestaan itu — yang di belakang hari diterjemahkan ke bahasa Indonesia menjadi Rahasia Hidup, sebagai sebuah karya brilliant.[]
http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/1974/09/21/AG/mbm.19740921.AG65421.id.html
Ahmadiyah, sebuah titik yang dilupa (3)
Keturunan Ksatria!
Maka “naik kuda”lah Tjokroaminolo. Tokoh ini dengan segera datang ke Yogya bersedia menghadapi sebuah debat terbuka mengenai itu Tafsir yang heboh. Tokoh-tokoh lanjut usia yang berada di sana waktu itu boleh menceritakan jalannya peristiwa begini: Pertemuan diadakan di Pakualaman sebagian besar dihadiri orang-orang Muhammadiyah. Alangkah ributnya hadirin waktu itu. Sangat ribut sampai-sampai pidato tokoh tua ini tidak terdengar. Maka naiklah Tjokro — kalau tidak salah ke atas meja — sembari berseru dengan suaranya yang dahsyat: “Ini Tjokroaminoto keturunan ksatria! Mau ribut coba ribut!”. Maka hadirin pun heninglah. Namun tak ada perdebatan. Dan Tafsir itu akhirnya terbit pada tahun itu juga, 1928. Orang bisa melihatnya sekarang di musium: baru jilid I-III berisi juz ‘Amma atau bagian ke-30. Di dalam kata pengantar bisa pula dibaca tulisan Agus Salim yang dengan bersemangat membela Tafsir itu.
Tapi itu Agus Salim. Bagi ulama Muhammadiyah lebih selamat bila mereka menyingkiri segala cara penafsiran yang bagi mereka sama dengan pengertian ta’wil. Ta’wil satu kata yang biasa digunakan untuk mengecam adalah “penyeret-nyeretan teks” ke arah maksud-maksud yang jauh yang lazimnya sudah direncanakan lebih dulu. Semua lektur Ahmadiyah kemudian mereka hindari.
Tertanggal 5 Juli 1928, Pengurus Besar Muhammadiyah mengeluarkan maklumat ke cabang-cabangnya di seluruh pelosok. Isinya: melarang mengajarkan ilmu dan faham Ahmadiyah di lingkungan Muhammadiyah. Tapi maklumat tersebut hanyalah paralel belaka dengan keputusan lain yang diambil dalam Kongres tahun itu juga: yang mengecam disiplin partai SI plus Tafsir Muhammad Ali.
Dalam kongres tersebut juga terjadi semacam kegaduhan: yakni ketika sidang membicarakan persoalan Djojosugito dan Muh Husni. R. Ng. Djojosugito direktur yang pertama dari Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Yogya, waktu itu Ketua Muhammmadiyah cabang Purwokerto. Sedang Husni tak lain Sekretaris Jenderal PB Muhammadiyah. Kedua-duanya adalah tokoh-tokoh Ahmadiyah.
Tetapi pro dan kontra untuk menggeser mereka rupanya berjalan sengit dalam sidang. Maka berdirilah Kyai Abdullah Sirad — sambil menangis. Kyai memohon kepada sidang supaya demi persaudaraan Islam, semua hiruk-pikuk itu dihentikan saja. Supaya kedua tokoh itu sendiri disuruh memilih: atau Muhammadiyah atau Ahmadiyah …… Dan kedua-duanya, di bawah tekanan perasaan, memilih yang terakhir.
Sudah tentu. Sebab baik Djojosugito maupun Husni termasuk orang-orang pertama yang berhubungan dengan mubaligh Lahore, Mira Wali Ahmad Baig. Djojosugito bahkan di belakang hari dikenal sebagai penterjemah Tafsir The Holy Quran — yang dikerjakan Tjokroaminoto ke bahasa Melayu — kali ini ke bahasa Jawa.
Tetapi keputusan untuk memilih juga mengenai seorang tokoh lain. Meskipun kedudukannya dalam Muhammadiyah tidak begitu penting, ia harus disebut sebagai orang pertama dalam usaha penyebaran faham Ahmadiyah Lahore. Ialah Sudewo, guru HIS Muhammadiyah. Di belakang hari orang tahu belaka bahwa hampir semua terjemahan lektur Ahmadiyah ke dalam bahasa Belanda tak lain berkat jerih-payah tangannya.
Yang terpenting tentu saja kembali Tafsir Maulana Muhammad Ali
Rupanya begitu Tjokroaminoto terlibat dalam polemik mengenai terjemahan tafsir tersebut ke bahasa Melayu, Sudewo diam-diam menterjemahkannya ke bahasa Belanda dan itulah de Heilige Qoeran, terbit pada 1935 beriringan dengan pengantarnya Inleiding tot de Studie van Den Heilige Qoer’an. Tetapi waktu itu Ahmadiyah sebagai organisasi belum lagi berdiri. Dan justru disiplin organisasi Muhammadiyah tersebut memaksa tokoh-tokoh seperti Djojosugito dan Moh. Husni mencari wadah lain buat aktifitas mereka. Pada tahun itu juga mereka mendirikan Indonesische Ahmadiyah Beweging — mendapat badan hukum pada 1929 yang sekarang dikenal sebagai Gerakan Ahmadiyah-Lahore Indonesia (GAI). Bedakan dari Jema’at Ahmadiyah Indonesia atau JAI perkumpulan kaum Qadian.
Kecil saja perkumpulan Ahmadiyah itu. Hanya 10 atau beberapa belas orang yang menyatakan bai’at (prasetia) pada tahun tersebut. Bahkan sekarang ketika anggota Muhammadiyah sudah berjumlah lebih setengah juta (SI pada 1918 sudah beranggota 800. 000 sedang Muhammadiyah ketika Ahmadiyah Lahore berdiri beranggota 175 ribu) anggota gerakan Lahore hanya berjumlah 500 sampai seribu orang. Dengan catatan terdapat juga para simpatisan, yakni mereka yang mengikuti pengajian-pengajian di cabang-cabang.
Di Jawa Timur misalnya, di mana gerakan Lahore terhitung kuat (terutama Kediri) simpatisan itu berjumlah lima ribu orang. Adapun organisasi kaum Qadian sendiri (JAI) paling banyak sekarang beranggota 20.000 orang di seluruh tanah-air. Jadi ternyata kedua perkumpulan yang hampir sama terkenalnya dengan Muhammadiyah itu bukan perkumpulan yang “laku”.
Mengapa? Beberapa hal mungkin bisa menjelaskan sebab-sebabnya. Untuk menjadi anggota GAI (Lahore) misalnya orang harus bersedia menyerahkan 1/16 penghasilannya kepada organisasi. Mereka yang tidak mampu diberi batas minimal 1%. Bagi Ahmadiyah Qadian (JAI) bahkan pungutan itu minimal 1/16 dan maksimal 1/3. Itu semuanya di luar zakat yang wajib untuk semua orang Islam yang besarnya 1/40 alias 2% dari harta-lebih dan bukan dari penghasilan.
Bisa disimpulkan bahwa, seperti dinyatakan tokoh-tokoh Ahmadiyah sendiri, mereka yang menyatakan bai’at dan masuk organisasi adalah orang-orang yang dengan sendirinya bersedia menjadi aktivis yang bisa juga berbentuk da’wah pribadi. Dan da’wah memang dilaksanakan dengan rajin khususnya oleh jemaat Qadian — meskipun tidak boleh dikatakan melebihi atau sama gencar dengan da’wah kalangan Kristen.
Hanya saja bisa dilihat bahwa dalam pelaksanaan da’wah kedua kelompok itu tetap saja konvensionil. Yang mereka “serang” biasanya adalah alam fikiran: mereka menyebarkan brosur-brosur atau melayani debat. Padahal sebagian besar rakyat bukanlah orang-orang yang “rasionil” dan siap berubah pendapat lewat fikiran. Banyak orang misalnya tertarik kepada Muhammadiyah — yang dulu juga dikenal ahli berdebat– justru oleh amal sosialnya seperti sekolah-sekolah dan rumah sakit-rumah sakit yang banyak.
Sedang kaum Ahmadi tidaklah masyhur dalam bidang ini. Tetapi sebaliknya merekapun tidak pernah menggunakan taktik “pintu belakang” atau membonceng kekuatan-kekuatan lain secara tidak sportif dan karena itu tak pernah terdengar berita kericuhan di Indonesia dalam hal Ahmadiyah. Toh faktor materi ajaran sendiri turut pula menentukan.[]
http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/1974/09/21/AG/mbm.19740921.AG65421.id.html
Ahmadiyah, Sebuah titik yang dilupa (2)
Orang tahu, daerah peninggalan Imam Bonjol ini pusat pergerakan dan pembaharuan keagamaan. Dan memang disinilah pertama kali Ahmadiyah Qadian menjejakkan kaki.
Sudah sejak tahun 20-an perguruan Sumatera Thawalib lembaga pendidikan Islam yang bersejarah melihat-lihat keluar untuk memperluas orientasi bagi memperkaya idham modernisme Islam. Sebagaimana Imam Bonjol pada abad sebelumnya berlayar ke jazirah Arab dan berkenalan dengan aliran Wahabi, demikianpun beberapa orang murid Sumatera Thawalib pada 1922 pergi berlayar — tetapi bukan ke Mekah. Atas anjuran Labai ElYunusiyah ulama besar dan ayah Rahmah El-Yunusiyah yang terkenal tiga orang anak muda tersebut pergi ke India. Mereka adalah Ahmad Nurdin, Abu Bakar Ayub sendiri dan Zaini Dahlan. Ini memang suatu keluar-biasaan. Alkisah, berkeliling di negeri Hindustan mereka konon tak mendapati perguruan yang mereka maksud — sebab semuanya “sama saja denan yang sudah mereka pelajari” memang harus dipercaya.
Demikianlah maka akhirnya mereka mendengar tentang Qadian dan pergi ke sana meskipun banyak mahasiswa Islam di perjalanan melarang. Kesudahannya sudah bisa ditebak. Tahun 1924 ketiga-tiganya bertemu dengan Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad Khalifah ke-II dari Ghulam Ahmad menurut faham kaum Qadian — dan mereka langsung minta dikirim mubaligh ke Indonesia. Maka berangkatlah ke sini Maulvi Rahmat Ali. Kapalnya hinggap di Aceh — dan dari sini entah naik apa pergi ke Padang dan Bukittinggi. Di sinilah benih pertama ditabur. Dan di sini pula setahun kemudian ayahanda Hamka (pribumi Indonesia pertama yang mendapat titel Doktor yakni dari Universitas Al-Azhar Kairo) menulis bukunya yang telah disebut yang dengan tegas menganggap kaum Ahmadiyah Qadian berada di luar Islam: bahasa populernya kafir.
Tapi sementara itu mubaligh Rahmat Ali yang juga berhadapan dengan A. Hassan dalam debat di atas — naik kapal lagi dan pergi ke Jakarta. Dari sini ke Bogor, dari Bogor ke Bandung. Dan menyebarlah faham Ahmadiyah di Jawa Barat. Bahkan Jawa Barat dihitung-hitung merupakan daerah di mana pengikut mereka paling banyak sampai sekarang.
Rahmat Ali tidak pergi berda’wah ke Yogya. Di sini sudah lebih dahulu bermukim mubaligh India yang lain — hanya saja dari Ahmadiyah Lahore. Pada 1924 dua belas tahun setelah Muhammadiyah berdiri dan setahun sebelum datangnya mubaligh Qadian ke Aceh dan Minangkabau, dua orang ulama Hindi muncul di Yogya. Mereka itu Maulana Ahmad dan Mirza Wali Ahmad Baig. Tidak begitu jelas siapa yang mengundang mereka — kalaupun ada. Tapi ceritanya kedua mubaligh itu semula hendak pergi ke Hongkong — hanya saja di Singapura konon tertarik ke Indonesia karena mendengar kuatnya zending dan missi Kristen di sini.
Bagaimana sambutan kalangan Muhammadiyah? Mereka dielu-elukan. Sementara Maulana Ahmad pulang kembali ke India, Mirza Wali Ahmad Baig diberi tempat tinggal di Jalan Gerjen Kauman di rumah milik Haji Hilal — tokoh Muhammadiyah dan ayah ‘Aisyah Hilal yang terkenal itu. Pengurus Besar Muhammadiyah sendiri menyambut mereka dalam Kongresnya yang diadakan tahun itu: di sini Maulana Ahmad melontar pidato dalam bahasa Arab sementara rekannya berusaha berkomunikasi dengan pidato bahasa Inggeris.
Maka inilah cerita tentang Yogya
Rumah di mana Ahmad Baig tinggal menjadi tempat bertemu orang-orang Muhammadiyah khususnya yang muda-muda. Mereka terutama belajar bahasa Inggeris. Bahkan jangan lupa: ke sini pula sering datang HOS Tjokroaminoto dan para anggota Sarekat Islam. Itu adalah masa ketika SI dan Muhammadiyah berbaur demikian rupa. Adapun Cokro sudah tentu tidak sekedar belajar bahasa Inggeris. Diam-diam rupanya pemimpin ini menterjemahkan Tafsir Qur’an Maulana Muhammad Ali MA LLB (Presiden Ahmadiyah Lahore) ke dalam bahasa Melayu. Itu bahkan dikerjakan di dalam kapal beliau sebagai wakil SI bersama Haji Mas Mansur dari Muhammadiyah berangkat ke Mekah untuk Mu’tamar ‘Alam Islami.
Persaudaraan Muhammadiyah dan Ahmadiyah bahkan lebih kelihatan tatkala beberapa pemuda Muhammadiyah kemudian dikirim ke Lahore. Mereka adalah Kyai Ma’sum almarhum (terakhir ikut gerombolen Kahar Muzakar) lantas Kyai Sabit dari Wonosobo yang di belakang hari menjadi aktivis PKI dan Jumhan, putera KHA Dahlan sendiri. Putera pendiri Muhammadiyah ini yang di tanah India berganti nama menjadi Irfan meninggal di Bangkok sebagai mubaligh Lahore .
Tetapi persaudaraan memang tak pernah bisa mulus terus-menerus. Kyai Dahlan meninggal sudah. Muhammadiyah akhirnya menghadapi kenyataan bahwa betapapun juga terdapat perbedaan-perbedaan doktrin tertentu dengan saudara-saudaranya dari Hindi itu. Benar bahwa Ahmadiyah yang Yogya ini bukan aliran Qadian yang secara sangat prinsipiil punya perbedaan asas dengan mereka. Namun penafsiran-penafsiran kaum Lahore (tentang Isa, tentang Adam, pengertian mu’jizat, pengertian wahyu, tentang Isra Mi’raj, dan beberapa hal tentang sorga-neraka misalnya) dirasa “kelewat jauh”. Kesadaran terhadap perbedaan tersebut berkelindan pula dengan beberapa friksi yang terjadi antara perkumpulan tersebut dengan SI.
Memang tidak boleh dikatakan hanya faktor keagamaan yang mendasari ketidak-akuran Muhammadiyah dan SI, meskipun pentolan-pentolan SI seperti Tjokro — dan jangan lupa Haji Agus Salim — dikenal “bersaudara lekat” dengan Lahore. Iklim politik dan beberapa hal lain memegang peranan. Tetapi yang agaknya termasuk penting ialah adanya pejabat-pejabat Belanda dari Islamietische Zazen yang sering “bertamu” baik ke rumah Tjokro maupun ke rumah H. Fakhruddin, pengganti KHA Dahlan — dan selalu ada saja hal-hal yang mereka bawa yang menyebabkan hubungan SI-Muhammadiyah makin kurang harmonis. Boleh diingat pula bahwa masalah ko-operasi dan non-koperasi dengan Gubernemen waktuitu sudah timbul: dan sementara SI memilih non-kooperasi, Muhammadiyah memanfaatkan subsidi pemerintah untuk program-program sosialnya.
Tetapi yang menarik ialah, pada 1927 kembali datang seorang ulama dari India ke Yogya. Namanya Abdul ‘Alim Siddiqui. Dan Muhammadiyah sebagaimana yang mereka lakukan dahulu pada kedatangan mubaligh Lahore, menyambut tamu tersebut. Kali ini dengan sebuah pengajian umum — dan pengajian ini menyerang Ahmadiyah baik Qadian maupun Lahore secara luar-biasa sengit.
Tak begitu jelas apakah hal itu melukai perasaan Cokroaminoto yang justeru sedang menterjemahkan tafsir Qur’an karangan pemimpin Lahore — atau barangkali tokoh-tokoh SI yang lain. Tapi kemudian SI pada tahun itu juga dalam kongresnya di Pekalongan memutuskan untuk menjalankan disipin partai kepada warganya yang juga menjadi anggota Muhammadiyah: mereka dipersilahkan minggir. Ini tak urung mengingatkan orang kepada tindakan serupa yang dilancarkan SI pada 1921 kepada anggota-anggotanya yang komunis. Tak heran bila Muhammadiyah yang pada tahun-tahun 1922 dan 1924 telah bersedia bersama-sama SI menyelenggarakan ‘Kongres Al-Islamli Cirebon dan Garut — dengan pembicaraan lebih luas dari sekedar soal-soal agama — tidak bersedia ikut dalam Majlis Ulama yang dahulu direncanakan bersama. Majlis itu akhirnya hanya berarti Majlis Ulama PSI, dibentuk pada 1928 dalam Kongres di Yogya. Dalam forum ini juga dibicarakan Tafsir Qur’an yang sedang dikerjakan Tjokroaminoto.
Mr. AK Pringgodigdo dalam bukunya Sejarah Pergerakan Rakyat Indonesia, ada menyatakan bahwa lantaran dan bagian-bagian pertama Tafsir itu ternyata hanya saduran dari Tafsir kaum Lahore, timbullah di korupsi itu perlawanan yang keras. Maka tampillah Agus Salim: beliau ini menerangkan bahwa dari segala jenis tafsir, tafsir Lahore yang paling baik untuk memberi kepuasan kepada pemuda-pemuda Indonesia yang terpelajar. Tapi wibawa dua tokoh besar itu saja rupanya tak cukup: perlawanan baru mereda setelah diambil keputusan uutuk menunda penerbitan selanjutnya sampai Majlis Ulama mengambil ketentuan. Dan ketentuan itu diambil dalam rapat Majlis tahun itu juga di Kediri. Isinya: terjemahan boleh diteruskan asal dilakukan dengan pengawasan Majlis. Dalam forum ini Tjokro tampil bersama Mirza Wali Ahmad Baig, sang mubaligh Lahore. Tetapi reaksi kaum ulama sudah tentu belum selesai.
Kongres Muhammadiyah diadakan tahun itu juga di tempat yang sama. Sidang selain mencela keras disiplin partai SI yang dikenakan kepada anggota organisasi agama non-politik seperti Muhammadiyah, jua menyatakan tidak bisa membenarkan tafsir Qur’an karangan Maulana Muhammad Ali tersebut. Alasan: tidak cocok dengan ajaran Islam yang sesungguhnya.[]
http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/1974/09/21/AG/mbm.19740921.AG65421.id.html
Ahmadiyah, sebuah titik yang dilupa (1)
JAKARTA, 1933. Pada tanggal 29 September malam orang berjejal di sebuah tempat di gang Kenari, Salemba. Mereka mengikuti perdebatan antara dua orang tokoh: Nama terkenal A. Hassan yang mewakili Pembela Islam dan Abu Bakar Ayub Ahmadiyah Qadian. Pada akhir itu juga fihak Pembela Islam menerbitkan rekaman debat tersebut yang kemudian dicetak ulang 40 tahun kemudian.
Pada halaman-halaman pertama boleh dibaca keterangan yang menggambarkan jalannya perdebatan: Rapat dihadiri oleh lebih kurang 2.000 orang Wakil pers yang datang: Keng Po, Sin Po, Pemandangan, BintangTimur, Sikap Adil. Sumangat, Senjata Pemuda Jawa Barat, Ceto Welo-Welo. Wakil-wakil perkumpulan yang datang: Persatuan Islam, Pendidikan Islam, AnNadil Islamie, Persatuan Islam Garut, MAS Garut, Persatuan Islam Leles, Islamiyah Jatinegara, Perukun Kebon Sirih, Salamatul-Insan, Al Irsyad, PBO.
Pukul 8 rapat dibuka oleh Ketua, tuan Mohd. Muhyidin dengan lebih dahulu mengucapkan seperti berikut. Tuan-tuan putera dan puteri. Saya mengucapkan teimakasih atas kedatangan sekalian. Ternyatalah perdebatan ini dapat perhatian yang penting. Melainkan saya harap supaya tuan-tuan sekalian akan tinggal dengan iman, seperti kemaren. Sekarang akan diperingati lagi kepada tuan-tuan supaya janganlah mencela atau mengeluarkan perkataan atau isyarat-isyarat yang memihak ke salah satu partai yang sedang berdebat. Barang siapa tiada menurut akan aturan ini, saya akan ambil tindakan. Ingatlah, walaupun tidak setuju juga simpan sahaja dalam hati. Tetaplah memegang aturan seperti kemaren malam. Pembicaraan ini malam akan dibicarakan, apakah sesudah Nabi Muhammad s.a.w. akan ada lagi Nabi atau tidak. Fihak Ahmadiyah akan mengasih keterangan, dalil-dalil yang menguatkan pendiriannya, bahwa sesudah Nabi Muhammad, ada Nabi lagi yang tidak membawa syare’at. Pembela Islam akan kasi keterangan sesudah Nabi Muhammad tidak akan ada Nabi lagi, walaupun yang tiada membawa syare’at baru. Saya persilahkan tuan Abu Bakar Ayub waktunya 1 jam paling lama janganlah menyimpang dari rel.
Tuan A. Hassan: Tuan Ketua dan Yuri! Saya minta bicara. Tuan Ketua: Apa panjang? Tuan A. Hassan: Cuma perkara yang kemaren malam sahaja. Tuan Ketua: Jangan sekarang dibicarakan. Tuan A. Hassan: Saya majukan pertanyaan, apakah aturan tetap seperti kemaren atau ada robahnya, karena praktek kemaren tidak baik. Tuan Ketua: Saya tidak mengizinkan. Saya pegang aturan yang sudah ditetapkan oleh kedua belah fihak. Tuan A. Hassan: Karena tuan Rahmat Ali mendustakan saya. Tuan Ketua: Saya minta tuan tunduk kepada aturan. Tuan Hassan lalu duduk.
Itu bukanlah satu-satunya debat antara Ahmadiyah dengan kaum muslimin umumnya. Zaman itu adalah zaman ketika kebebasan mimbar terbuka penuh. Sedang munculnya organisasi-organisasi pembaharuan Islam di awal abad 20 seperti Muhammadiyah Al-lrsyad atau Persatuan Islam telah menyebarkan satu udara di mana kegemaran berdebat secara terbuka tumbuh menjadi satu institusi yang di belakang hari boleh mengejutkan para penyelidik yang kurang teliti. Namun dari besarnya perhatian — baik pers maupun para pengunjung luar kota — terhadap debat di atas diketahui bahwa pada tahun 30-an itu masalah Ahmadiyah bukan masalah yang asing bagi rakyat muslimin umumnya. Bahkan boleh dipastikan ia lebih aktuil di masa-masa tersebut dibanding sekarang ketika sudah begitu banyak soal-soal lain yang lebih merebut minat umat beragama.
Orang seakan-akan baru diingatkan kembali ketika dari Makkah dari satu muktamar organisasi-organisasi Islam sedunia beberapa waktu yang lalu datang keputusan yang mengkafirkan Ahmadiyah Qadian. Disusul dengan berita remang-remang tentang beberapa kericuhan di Pakistan negeri asal Ahmadiyah akibat keputusan tersebut.
Tidak begitu banyak yang diketahui orang tentang perincian peristiwa tersebut secara jelas. Namun dari berita-berita kecil di koran-koran didapat kesan bahwa di negeri yang baru pecah dua itu gumpalan sentimen yang rupanya sangat berakar — antara kaum Ahmadiyah Qadian dan umat muslim umumnya — memang cukup kuat untuk menimbulkan ledakan setiap waktu.
Dan bagaimana di Indonesia? Tak ada ledakan apapun. Syukurlah. Di kalangan muslimin Indonesia sekarang Ahmadiyah kurang-lebih hanya menduduki tempat pengenalan samar-samar. Mereka tahu ada Ahmadiyah Qadian dan ada Ahmadiyah Lahore. Bedanya tak begitu jelas tapi yang pasti Ahmadiyah Qadian meyakini Mirza Ghulam Ahmad (1835-1908) sebagai Nabi — meskipun hanya Nabi yang menghidupkan kembali ajaran Rasulullah Muhammad S.A.W. dan bukan Nabi yang membawa syari’at baru. Sedang yang Lahore menganggap Ghulam Ahmad sekedar seorang Mujaddid Pembaharu untuk abad ini — tak beda dengan pembaharu-pembaharu untuk abad-abad terdahulu seperti Iman Syafi’i Al-Ghazali. Ibnu Taimiah dan lain-lain. Para pembaharu ini menurut mereka juga menerima wahyu hanya saja bukan wahyu kenabian (TEMPO 18 September 1971).
Terhadap Ahmadiyah Lahore memang bukan tidak pernah terjadi serangan dari kalangan muslimin selebihnya. Bahkan pada masa hidupnya HOS Tjokroaminoto bapak pergerakan rakyat itu sendiri pernah terlibat dalam satu debat terutama dengan kalangan Muhammadiyah: tentang penilaian terhadap tafsir Qur’an yang ditulis Maulana Muhammad Ali, bapak aliran Lahore.
Meski begitu reaksi yang lebih berat tentulah ditujukan kepada Ahmadiyah Qadian. Debat A. Hassan lawan AlBakar Ayub sendiri hanyalah salah-satu bentuk reaksi tersebut. Di Sumatera Barat misalnya tujuh tahun sebelum itu telah tampil Aji Rasul — nama ppuler Dr. Abdul Karim Amrullah ayah Hamka — yang menulis sebuah buku berbahasa Arab berjudul Al-Qaulush Shahieh (Sabda Yang Benar) buat menyerang habis kaum Qadian. Buku tersebut lantas dibalas oleh lawannya dengan judul yang juga dalam bahasa Arab Izharul Haqq (Kumandang Kebenaran).
Sementara itu majalah seperti Pedoman Masyarakat yang terbit di Medan (1937) maupun Panji II/Masyarakat di Jakarta tak ayal pula memuat tulisan-tulisan yang “menguliti” Ahmadiyah. Pada 1936 misalnya majalah ini memuat tulisan keras yang kemudian dibalas oleh Abu Bakar Ayub (lawan debat A Hassan) dengan brosurnya berjudul Bantahan Lengkap. Beberapa bulan lalu Panji juga memuat terjemahan Ali Aman dari ulama An-Nadi yang juga merupakan serangan kepada kaum Qadiani.
Tetapi mengapa Sumatera Barat dalam hal Ahmadiyah lebih dahulu terdengar beritanya daripada Jakarta misalnya?
http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/1974/09/21/AG/mbm.19740921.AG65421.id.html