Friday, January 3, 2020

Ahmadiyah and Islamic Revivalism in the Twentieth Century Java, Indonesia: A Neglected Contribution

APA KONTRIBUSI AHMADIYAH KE INDONESIA?
Bbrp org menyebut Ahmadiyah sbg benalu, kanker, & sebutan negatif lain. Berbeda dg itu, Howard Federspiel (2001) & Justus van der Kroef (1962) menulis bahwa Ahmadiyah berkontribusi pada "revival of Islam" (kebangkitan Islam) & modernisme Islam di Indonesia.
Artikel berikut ini bermaksud untuk (1) mempelajari peran Ahmadiyah dalam kebangkitan Islam di Indonesia pada paruh pertama abad ke-20; (2) menggambarkan perbedaan antara inteligensia Muslim yang berpendidikan Arab dan Belanda dalam melihat Ahmadiyah; dan (3) menguraikan daya tarik Ahmadiyah bagi intelektual Muslim dan peran gerakan ini dalam revivalisme Islam.
Ahmad Najib Burhani. 2020. “Ahmadiyah and Islamic Revivalism in the Twentieth Century Java, Indonesia: A Neglected Contribution”, in Alternative Voices in Muslim Southeast Asia: Discourse and Struggles, eds. Norshahril Saat & Azhar Ibrahim, pp. 199-220 (Singapore: ISEAS).
Buku ini penting dibedah, bersanding dg "Contentious Belonging: The Place of Minorities in Indonesia" (ISEAS 2019), "Menemani Minoritas" (Gramedia 2019), & "Dilema Minoritas di Indonesia" (Gramedia 2020)






Pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan, duduk berdampingan dengan R. Ng. H. Djojosugito, pendiri Gerakan Ahmadiyah Indonesia. Ketika itu Djojosugito masih menjadi tangan kanan Ahmad Dahlan dan pengurus Bagian Pendidikan Muhammadiyah.

Tuesday, December 24, 2019

313 Ahmadiyah (1)

23 Desember 2019

Oleh Dahlan Iskan



Ada 30 orang Indonesia di sini --sebagian besar untuk kuliah.
Desa Qadian memang tidak lagi menjadi pusat aliran Islam Ahmadiyah. Tapi masih tetap dipertahankan sebagai salah satu pusatnya.
Bahkan ketika umumnya orang Islam mengungsi ke Pakistan tempat ini dipertahankan mati-matian.
"Waktu itu pimpinan Ahmadiyah menugaskan 313 orang untuk mempertahankan tempat ini," ujar Saifullah Mubarak, asal Solok Sumbar.
"Jumlah itu sama dengan pasukan yang diperintahkan oleh Rasulullah untuk perang Badr," tambahnya. "Sebenarnya kan tidak ada niat untuk perang. Hanya mempertahankan diri. Tapi akhirnya terjadilah perang Badr itu," tambahnya.
Saifullah sudah menetap di Qadian. Sudah kawin dengan wanita Punjab.
Waktu itu umumnya orang Islam di Punjab (India) mengungsi ke Pakistan. Semua orang Hindu di Punjab (Pakistan) mengungsi ke India.
Terjadinya begitu mendadak. Dalam satu hari. Kisruh dan rusuh. Saling bunuh. Jutaan orang meninggal.
Itu tahun 1947. Ketika Inggris memutuskan memerdekakan wilayah itu menjadi dua negara: India dan Pakistan.
Itu tahun 1947 --ketika di Indonesia berlangsung perundingan Linggarjati --di pegunungan Kabupaten Kuningan dekat Cirebon.
Di perundingan itu Belanda baru mengakui kemerdekaan Indonesia sebatas untuk Jawa, Sumatera, dan Kalimantan.
Di Punjab, kemerdekaan itu berarti kesengsaraan.
Itu tercatat sebagai salah satu tragedi kemanusiaan terbesar di dunia.
Orang-orang Ahmadiyah juga mengungsi ke Pakistan. Pusat Ahmadiyah pun di pindah ke Lahore --sekitar 100 km di balik garis yang ditentukan Inggris sebagai perbatasan.
Pasca pengungsian masal ini nasib Ahmadiyah tidak lebih baik. Dari minoritas di negara Hindu ke minoritas di negara Islam.
Yakni setelah mayoritas Islam di Pakistan memusuhi Ahmadiyah habis-habisan.
Terjadilah tragedi kemanusiaan yang lain. Di sesama orang Islam. Begitu banyak yang meninggal.
Ahmadiyah pun terusir lagi. Kali ini mereka mengungsi jauh --ke Inggris. Menjadi minoritas lagi --di negara Kristen.
Bagi Ahmadiyah menjadi minoritas di negara Hindu ternyata lebih baik daripada menjadi minoritas di negara Islam.
Demikian juga ketika menjadi minoritas di negara Kristen.
Di Inggris Ahmadiyah bisa berkembang. Sampai mendirikan TV Islam.
Saya sempat salat Jumat di masjid Ahmadiyah dekat Wimbledon. Yang tertua di sekitar London.
Berkat 313 orang itulah pusat Ahmadiyah di Qadian bertahan sampai sekarang. Saya pun tidak menyangka ada 30 orang Indonesia belajar di sini.
Untuk ke Desa Qadian saya harus melakukan perjalanan 35 km. Dari hotel saya di pusat kota suci agama Sikh Amritsar --ke arah luar kota.
Setelah tiba di satu kota kecamatan saya harus benar-benar masuk desa. Lewat jalan kecil yang meliuk-liuk di tengah sawah.
Dari sawah ini terlihat pagar tembok panjang sekali. Dari bentuk temboknya saya pikir di baliknya ada situs sejarah kuno.
Sopir saya tidak tahu bangunan apa di balik pagar panjang itu.
Ternyata kami berbelok ke arah pagar itu. Google Map justru mengarahkan kami ke situ.
Di balik pagar itulah kampung Ahmadiyah.
Ups... Salah.
Di balik pagar itulah makam pendiri Ahmadiyah --Mirza Ghulam Ahmad.
Untuk memasuki pagar ini kami harus melewati pos pemeriksaan. Harus pula ada izin dari pengurus.
Saya pun berjalan kaki sekitar 200 meter. Ke kampung dekat makam itu.
Saya dipersilakan masuk ke salah satu bangunan di situ. Oh... Kantor Ahmadiyah. Yang dari depan terlihat kecil. Di dalamnya ternyata ruang besar.
Saya diminta masuk ke ruang yang lebih dalam lagi. Juga besar. Dengan kursi-kursi tamu yang banyak.
Di situlah saya ditemui ustadz muda asal Uttar Pradesh. Ramah dan cerdas. Ia kelihatan ingin menjelaskan panjang lebar apa itu Ahmadiyah.
"Saya sudah tahu itu. Saya ingin tahu soal lain," sela saya.
Ia tidak tersinggung oleh selaan saya itu. "Saya hanya punya waktu setengah jam di sini. Maafkan," kata saya.
"Alhamdulillah kalau sudah tahu Ahmadiyah," katanya.
"Saya pernah salat Jumat di masjid Ahmadiyah di London," kata saya.
Ia kian ramah.
"Maukah bertemu orang yang asal Indonesia di sini?" katanya.
"Lho, ada? Mau sekali."
Ia pun merogoh saku baju panjang khas Indianya --ambil ponsel. Bicara-bicara.
"Lima menit lagi ia bisa tiba di sini," katanya.
Anak muda itu terus memohon agar saya mau bermalam di situ. Ada guest houseuntuk saya. Bahkan ia minta saya di situ selama satu minggu.
Yang dipanggil pun tiba.
"Masyaallah...Pak menteri...," sapanya. Kaget. "Alhamdulillah bisa bertemu justru di sini," tambahnya.


Itulah Saifullah Mubarak. Asal Solok, Sumbar. Yang kawin dengan wanita setempat itu.
Saifullah lantas memperkenalkan siapa saya --ke anak muda itu.
Saya langsung menyela: gak usah disebut-sebut siapa saya.
Tapi kata minister sudah sempat didengar anak muda itu.
"Kalau begitu silakan berdua saja pakai bahasa Indonesia," katanya.
Lalu pamit.
Masih banyak tamu yang harus ia layani.
Belum lama ini, katanya, juga ada rombongan tamu dari Makassar. Para guru besar dari universitas di Makassar.
Maka Saifullah-lah yang membawa saya 'Tour de Qadian'. Masuk-masuk ke kampung padat itu. Yang semuanya Islam. Semuanya Ahmadiyah.
Saya juga diantar ke rumah tempat Mirza Ghulam Ahmad lahir. Dari orang tuanya yang kaya raya --masih keturunan keluarga kerajaan zaman dulu.
Sebenarnya sang ayah kecewa. Kok Mirza tidak mau meneruskan usaha bapaknya. Mirza justru mendalami agama. Sangat intens.
Umur 9 tahun Mirza sudah menguasai soal agama. Ketika muda pun ia sangat sibuk mencari lawan debat. Terutama dari kalangan misionaris Kristen. Yang pusatnya di Kota Ludhiana, sekitar 120 km dari Qadian.
Mirza menjadikan Kota Ludhiana sebagai pusat kegiatan misionarisnya. Termasuk di situlah Mirza membaiat para pengikutnya. Untuk kali pertama.
Di situlah Mirza memproklamasikan prinsip-prinsip keagamaannya. Misalnya: Isa (Yesus) itu memang nabi tapi manusia biasa. Tubuh Isa tidak ditarik ke surga --sebagaimana diyakini dalam Islam maupun Kristen.
Menarik jasad ke surga itu ia anggap tidak masuk akal.
Jenazah Isa itu dikuburkan seperti manusia biasa. Entah di mana dan oleh siapa. Saat itu keadaan kacau.
Mirza terus menantang debat misionaris Kristen. Dengan topik itu. Lama-lama orang Islam juga menentang prinsipnya itu.
Suatu saat Mirza melawat jauh ke Delhi. Nama Mirza sudah terkenal pun sampai ke Delhi.
Di ibu kota itu Mirza pasang iklan: menantang siapa pun untuk berdebat terbuka.
Yang ia tantang ulama Islam. Juga ulama Kristen.
Tempat debatnya Mirza sudah menentukan: di Masjid Jama Old Delhi (DI's Way: Indah Kumuh).
Cara debatnya pun Mirza yang menentukan. Agar tidak terjadi debat kusir. Juga agar tidak ada yang salah dalam mengutip apa yang sudah diucapkan.
Ucapan semua orang di arena itu harus ditulis. Untuk dibacakan. Ada bukti --siapa mengucapkan apa.
Syarat lain: topiknya satu persatu. Satu dulu yang diperdebatankan. Tidak boleh melebar ke topik lain.
Kali pertama itu topiknya soal kematian Isa (Yesus) tadi.
Kian mendekati hari debat suasana kian panas. Terutama dari kalangan Islam.
Mereka tidak mau topik debat dibatasi. Harus juga membahas topik lain: mengapa Mirza menyebut dirinya sebagai nabi.
Padahal, menurut keyakinan Islam, nabi terakhir adalah Muhammad.
Setelah itu memang diyakini akan ada orang hebat yang diturunkan ke bumi. Di akhir zaman nanti. Tapi itu adalah Isa yang diangkat ke surga dulu. Bukan Mirza.
Pro-kontra terjadi. Kian keruh. Di hari perdebatan masa sangat besar. Sulit diatur. Berpotensi bentrok.
Polisi Inggris membubarkan mereka.
Saya juga diajak Saifullah ke masjid pertama. Yang dibangun Mirza di dekat rumah bapaknya.
Awalnya tidak ada yang mau salat. Lingkungan ini semua beragama Sikh. Atau Hindu.
"Makmum pertama Mirza adalah orang yang dibayar untuk mau ikut salat," kata Saifullah.
Lama-lama Islam berkembang di situ. Ayahnya kian khawatir anaknya tidak mau jadi pengusaha.
Di akhir hidupnya sang ayah bangga pada anaknya itu. 
Kini sudah ada masjid besar di situ. Dengan menara-menara tinggi.
Saya lantas minta diantar ke komplek pagar tembok panjang itu. Waktu saya sudah habis.
Ternyata itulah komplek makam Mirza Ghulam Ahmad. Suasana di dalamnya seperti Taman Makam Pahlawan. Luas dan indah. Dengan pohon-pohon besar dan taman yang luas.


Di ujung sana ada ribuan makam lain. Itulah para pejuang Ahmadiyah.
Yang dimaksud pejuang adalah termasuk mereka yang mau sedekah 10 persen dari penghasilannya.
Perpuluhan.
Kisah tentang 313 orang yang mempertahankan Qadian sebenarnya sangat dramatik. Tapi apakah pembaca DI's Way mau? (Dahlan Iskan)

https://www.disway.id/r/776/313-ahmadiyah

Monday, December 16, 2019

Khilafah dan Pancasila

Diskusi Pancasila dan Khilafah, Sabtu, 14 Desember 2019, Hotel Sumber Alam Garut, Jawa Barat.







Pancasila dan Khilafah Jangan Dipertentangkan, Ini Alasannya
https://gentrapriangan.com/pancasila-dan-khilafah-jangan-dipertentangkan-ini-alasannya/

Indonesia Plural, HTI dan ISIS Disebut Bisa Jadi Ancaman Bangsa https://www.liputan6.com/news/read/4134641/indonesia-plural-hti-dan-isis-disebut-bisa-jadi-ancaman-bangsa

Friday, November 8, 2019

Erfan Dahlan: Antara Muhammadiyah & Ahmadiyah


Erfan Dahlan, putra KH Ahmad Dahlan, adalah simbol dinamika keagamaan pada awal abad ke-20. Termotivasi oleh semangat revivalisme Islam, ia dikirim ke perguruan Ahmadiyah di Lahore, untuk belajar Islam. Ketika ia kembali ke Indonesia, hubungan Muhammadiyah-Ahmadiyah sangat buruk. Sebagai alumnus sekolah Ahmadiyah, di satu sisi, dan putra pendiri Muhammadiyah, di lain pihak, ia berada dalam suasana yang sulit.

Artikel ini mengungkap dinamika hubungan Muhammadiyah dengan Ahmadiyah pada 1920-an; membahas kesalahpahaman yang terus-menerus tentang afiliasi keagamaan Erfan Dahlan; dan menunjukkan kerumitan sosial akibat klaim ortodoksi-heterodoksi.

Ahmad Najib Burhani. 2019. “Torn between Muhammadiyah and Ahmadiyah in Indonesia: Discussing Erfan Dahlan’s religious affiliation and self-exile,” Indonesia and the Malay World. DOI: https://doi.org/10.1080/13639811.2019.1663678

Foto 1: Maulana Abdul Haque Vidyarthi yang adalah guru Erfan Dahlan di Lahore. Tanda tangan Erfan muncul di kanan bawah. Penggunaan foto atas izin Dr Zahid Aziz (cucu Maulana Abdul Haque Vidyarthi)



Foto 2: Erfan A. Dahlan di Ishaat Islam (Ahmadiyah) College, Lahore, British India bersama guru-guru dan kawan-kawannya.



Foto 3: Erfan Dahlan (berjas abu-abu berdiri di antara Djojosoegito dan Mirza Wali Ahmad Baig) dalam Kongres I GAI di Purwokerto tahun 1930.


Torn between Muhammadiyah and Ahmadiyah in Indonesia: Discussing Erfaan Dahlan’s religious affiliation and self-exile



The Ahmadiyah in Indonesian Islam has often been seen as a deviant Muslim group, but there was a time when it had a cordial relationship with major Muslim organisations, particularly Muhammadiyah. The Ahmadiyah was once perceived as a highly respected revivalist and modernist Muslim movement, and became a model to be emulated by other Muslims. Erfaan Dahlan is a symbol of the dynamics of this religious relationship in the first half of the 20th century. Motivated by the spirit of Islamic revivalism, he was sent to an Ahmadiyah college in Lahore, British India, during the period of friendly relationship between Muhammadiyah and Ahmadiyah. But when he returned to Indonesia that relationship had deteriorated. As an alumnus of an Ahmadiyah missionary college, on the one hand, and a son of the founder of Muhammadiyah, on the other, he was in the midst of that difficult relationship. His religious identity has been a subject of controversy among competing Muslim communities. The fact that he chose to leave his country to live in Thailand after he completed his study in Lahore further raises curiosity about his religious affiliation. This article, firstly, intends to reveal the dynamics of Muhammadiyah’s relationship with Ahmadiyah in the 1920s. Secondly, it will discuss Erfaan Dahlan’s religious relation with Muhammadiyah and Ahmadiyah, and particularly, the controversy around the alleged heresy of the Lahori Ahmadiyah and persistent misunderstanding of Erfaan Dahlan’s religious affiliation. Finally, the article shows that the case of Erfaan Dahlan reveals the discordancy in a society which categorises its people on the orthodox-heterodox spectrum.

Additional information

Acknowledgements

The author wishes to thank the family of Erfaan Dahlan in Thailand, particularly Dr Winai Dahlan, for their warm welcome and information. The Ahmadiyya community in Thailand was also helpful and generous during my fieldwork. Additional thanks to the two reviewers and to the IMW editorial team for their prompt and helpful feedback. Dr Kevin W. Fogg took time to read and suggest improvements to the draft of this article. The fieldwork in Thailand was partly supported by ISEAS-Yusof Ishak Institute, Singapore. A draft of this article was first presented at the symposium on ‘Religious Literature and Heritage - Cultivating Religious Culture for Nationalism’, in Bogor, Indonesia, 18–21 July 2017.

Disclosure statement

No potential conflict of interest was reported by the author(s).

Note on contributor

Ahmad Najib Burhani is a Researcher at the Indonesian Institute of Sciences (LIPI), Jakarta, and currently, visiting fellow at ISEAS-Yusof Ishak Institute, Singapore. His research focuses on religious minorities and Islamic movements in Indonesia. Email: najib27@yahoo.com

ORCID

https://www.tandfonline.com/doi/abs/10.1080/13639811.2019.1663678?journalCode=cimw20