Saturday, December 8, 2012

Ahmadiyah dan Kondisi Bangsa Indonesia

Oleh Rahmat Basuki Suropranoto

Ahmadiyah adalah organisasi pergerakan modern dalam Islam yang bertujuan membela dan menyiarkan Islam. Didirikan oleh Hazrat Mirza Ghulam Ahmad (1835–1908), yang menyata-kan bahwa Ahmadiyah didirikan atas perintah Allah SWT melalui bai’at kepada Allah melalui tangan Hazrat Mirza Ghulam Ahmad, Mujaddid Abad ke empat belas Hijriyah, atau yang mewakilinya untuk bertekad “menjunjung tinggi kehormatan agama Islam melebihi apa saja, bahkan melebihi jiwa, harta, tahta, anak dan keluarga.
 Menurut Pendiri Gerakan Ahmadiyah, “Hanya orang yang taat sajalah yang akan masuk dalam keluargaku, yang oleh Allah telah dijanjikan: “AKU sendiri yang akan menjaga setiap orang yang berada dalam rumah ini. Ini bukan berarti bahwa ALLAH hanya akan menjaga orang-orang yang berada dalam rumahku yang dibuat dari batu bata. Melainkan pula orang-orang yang memasuki rumah ruhaniku, yang berbai’at dan bersungguh-sungguh menetapinya”. (Nasehat Hazrat Mirza Ghulam Ahmad, Mujaddid Abad 14 H).
Ahmadiyah sebagai nama resmi pergerakan Islam baru dimulai sejak tahun 1900, meskipun kiprah pergerakan ini telah dimulai beberapa tahun sebelumnya. Pada tahun 1885 HM Ghulam Ahmad menyatakan dirinya sebagai Mujaddid, dan mempersilahkan kepada siapa saja yang bertekad berjuang dalam Islam, untuk bai’at kepada beliau. Pada tanggal 12 Januari 1889 mengumumkan 10 syarat untuk bai’at, dan kemudian ada 40 orang yang berbai’at kepada beliau di kota Ludhiana.
Pada 1891 atas petunjuk Allah SWT, HM Ghulam Ahmad menyatakan dirinya sebagai Masih Yang Dijanjikan. Beliau juga menyatakan dirinya adalah Imam Mahdi, atau Mahdi Yang Dijanjikan, yang berkewajiban menegakkan perjuangan Islam kembali dan menyelamatkan manusia dari cengkeraman syaithan.
Pada tahun 1905, untuk perjuangan Islam, Hazrat Mirza Ghulam Ahmad menetapkan untuk mengelola kegiatan organisasi, dibentuk Anjuman (Central Body; Organisasi Pusat) yang bernama Sadr Anjuman Ahmadiyah. Pada waktu itu sebagai Ketua adalah Imam Hazrat Mirza Ghulam Ahmad dan sebagai Sekretaris adalah Maulana Muhammad Ali.
Imam HM Ghulam Ahmad wafat pada tanggal 26 Mei 1908 di kota Lahore dan dimakamkan di kota Qadian. Di nisan makamnya ditulis: “Janab Mirza Ghulam Ahmad Sahib Qadiani. Pemilik Qadian. Al Masih Yang Dijanjikan. Mujaddid abad keempat belas. Hari wafatnya 26 Mei 1908”. Namun beberapa waktu kemudian, tulisan Mujaddid abad keempat belas pada nisan ada yang menghilangkannya. Hal ini diakui oleh harian Rabwah Al Fadl pada tanggal 15 September 1936.
Setelah Hazrat Mirza Ghulam Ahmad wafat, sebagai penerus pimpinan organisasi Ahmadiyah adalah Hazrat Maulana Al-Hajj Hakim Nuruddin. Beliau melanjutkan sebagai penerus perjuangan dakwah Islam hingga wafatnya pada tanggal 13 Maret 1914, jam 14.00. Setelah beliau wafat kemudian dilaksana-kan pemilihan untuk mengganti penerus perjuangan dakwah berikutnya dan kemudian terpilihlah Hazrat Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad sebagai pengganti Maulana Alhajj Hakim Nuruddin. Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad adalah putera Almarhum Mirza Ghulam Ahmad, pendiri Ahmadiyah. Pada tanggal 14 Maret 1914, Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad mengeluarkan pernyataan:
  1. H. M. Ghulam Ahmad adalah Nabi.
  2. H. M. Ghulam Ahmad adalah “Ahmad” yang diramalkan dalam Qur’an Suci 61:6.
  3. Semua orang Islam yang tidak berbaiat kepada beliau adalah keluar dari Islam.
Pernyataan yang menggemparkan ini menyebabkan hampir semua ummat Islam terusik dan tidak menyetujui. Berikut adalah pernyataan resmi dari Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad:
“Maulana Muhammad Ali telah menyatakan telah terjadi perubahan kepercayaan saya dalam tiga perkara. Pertama, saya telah membuat konsep bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah Nabi Hakiki. Kedua, bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah “Ahmad” yang diramalkan kedatangannya oleh Nabi Isa dalam Al-Qur’an Surat ke 61 (As-Shaf) ayat ke 6. Ketiga, bahwa seluruh kaum muslimin yang tidak bergabung bersama Mirza Ghulam Ahmad, meskipun tidak tahu menahu, adalah kafir, diluar Islam. Saya mengaku itulah kepercayaan saya.” (Aina Sadaqat, Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad).
Dengan adanya pemyataan yang menggemparkan itu, Maulana Muhammad Ali yang menjabat sekretaris Imam HM Ghulam Ahmad tidak menyetujui dan hijrah ke Lahore. Beliau bersama Khawaja Kamaluddin, Maulana Sadruddin dan anggota senior yang lain membentuk Ahmadiyah Anjuman Ishaati Islam (Ahmadiyah Gerakan Penyiaran Islam) dengan tujuan untuk mengembalikan Ahmadiyah kepada akidah Islam sebenarnya yang telah diamanatkan oleh Imam HM Ghulam Ahmad. Kemu-dian kelompok yang menyetujui pernyataan Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad disebut kelompok Qadiani, sedang yang tidak menyetujui disebut kelompok Lahore, namun ada juga yang meyebut sebagai Ahmadiyah Lahore. (Catatan singkat mulai terbentuknya Ahmadiyah sampai Ahmadiyah pecah menjadi dua, dikutip sepenuhnya dari buku “Hasil Studi Banding Ahma-diyah” hlm. 9-12, oleh Dr. H. Nanang RI Iskandar, MSc. PhD.)
Ajaran Ahmadiyah
Ahmadiyah yang didirikan Hazrat Mirza Ghulam Ahmad dan dimulai dengan 40 orang yang berbai’at pada tahun 1891, akhirnya pada tahun 1914 pecah menjadi dua organisasi yang berbeda prinsip, yaitu:
  1. Ahmadiyah Lahore, yang mengakui Hazrat Mirza Ghulam Ahmad sebagai Mujaddid, dipimpin oleh Maulana Muham-mad Ali. Sebagai akibat pengakuan Mujaddid ini maka para anggota Ahmadiyah Lahore boleh shalat makmum di belakang imam shalat bukan Ahmadi dan boleh menikah dengan muslim/muslimah bukan Ahmadi.
  2. Ahmadiyah Qadian, yang mengakui Hazrat Mirza Ghulam Ahmad sebagai Nabi, dipimpin oleh Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad. Sebagai akibat pengakuan Nabi ini maka seluruh anggota Ahmadiyah Qadian tidak diizinkan shalat makmum di belakang imam shalat bukan Ahmadiyah Qadian dan dilarang menikah dengan muslim/muslimah bukan Ahmadiyah Qadian.
Dapat disimpulkan secara umum bahwa Ahmadiyah adalah aliran modern dalam agama Islam yang didirikan oleh Mirza Ghulam Ahmad di kota Qadian di daerah Punjab, sebelum tahun 1900. Pengikutnya banyak di Punjab (Pakistan), sekitar Mumbay (India), Afghanistan, Iran, beberapa negara Arab, juga ada di Indonesia.
Dalam rangka memenuhi kebenaran hadits: “Matahari akan terbit dari Barat!”, yang ditafsirkan Mujaddid Mirza Ghulam Ahmad bahwa cahaya Kebenaran Islam akan muncul di negara Barat, maka Ahmadiyah bertekad memperkenalkan Islam ke dunia Barat. Pada 1911, Khawaja Kamaluddin datang ke London, mendirikan Woking Muslim Mission di Masjid kota Woking; London. Pada 1924, Maulana Sadruddin mendirikan masjid dan pusat penyiaran Islam di Berlin, Jerman. Kemudian pusat-pusat penyiaran Islam oleh Ahmadiyah banyak terdapat di Eropa dan Amerika yang berhasil mengislamkan ribuan orang Barat. Sekarang ini kota Dublin, di Ohio, Amerika Serikat, menjadi pusat penyiaran buku-buku Islam, termasuk tafsir Qur’an Suci dari Maulana Muhammad Ali, yang diterjemahkan dalam berbagai bahasa.
Walaupun banyak persamaan dengan ajaran Sunni (ahlus-sunnah wal jama’ah), ajaran aliran Ahmadiyah berbeda dalam tiga hal dengan kaum muslimin pada umumnya yaitu:
  1. Tentang Ajaran Kristologi.
  2. Tentang Imam Mahdi, dan
  3. Tentang Pengertian Jihad.
Ketiga masalah ini menimbulkan salah pengertian di antara kaum muslimin. Padahal ketiga masalah inilah yang merupakan ‘reformasi pemikiran di dalam Islam’ yang dibawa oleh Imam Zaman, Mujaddid Abad ke 14 H.
  1. Tentang Ajaran Kristologi
    Ahmadiyah mengajarkan bahwa Nabi Isa Almasih (Yesus Kristus) tidak wafat di atas palang kayu salib di Palestina, melain-kan beliau diselamatkan dari kematian di atas palang kayu salib. Beliau menyelamatkan diri ke arah Timur dan akhirnya di usia lanjut beliau wafat dan dimakamkan di Kashmir.
    Kaum muslimin pada umumnya sama seperti ummat Nasrani, percaya bahwa Isa Almasih (Yesus Kristus) tidak wafat, beliau berada di langit, mereka itu sama-sama menunggu kedatangan kembali Isa Almasih dari langit turun ke bumi. Untuk memenangkan Islam menurut kaum muslimin (versi Islam) serta untuk memenangkan agama Kristen (versi Nasrani).
    Padahal menurut ajaran Ahmadiyah, Isa Almasih (Yesus Kristus) sudah wafat dan dimakamkan di bumi, jadi Isa Almasih tak mungkin turun dari langit. Kedatangan kembali Almasih bersifat majazi, kedatangan Almasih yang dijanjikan Nabi SAW sudah digenapi dengan kedatangan Mujaddid Hazrat Mirza Ghulam Ahmad yang melalui ajarannya berjuang menyiarkan kebenaran dan keindahan Islam di muka bumi.
  2. Tentang Imam Mahdi
    Kaum muslimin pada umumnya menunggu kedatangan Imam Mahdi yang akan menegakkan keadilan dan memenang-kan Islam dengan pedang atau kekerasan. Sedang menurut ajaran Ahmadiyah, Imam Mahdi yang adalah Mujaddid abad 14 H., sudah datang dengan ajarannya memimpin kaum muslimin menuju kemenangan Islam dengan cara damai.
  3. Pengertian Jihad
    Kaum muslimin pada umumnya mengartikan Jihad sebagai tindakan memerangi orang-orang kafir dengan kekuatan senjata. Sedang menurut ajaran Ahmadiyah, Jihad adalah suatu perjuangan besar memenangkan Islam yang caranya bukan hanya dengan perang senjata saja, seperti pada zaman Islam terdahulu. Tapi khususnya di zaman mutakhir ini, Jihad berarti berkorban dan berjuang keras menyiarkan keindahan dan kebenaran Islam secara damai, sehingga dengan demikian orang-orang kafir tunduk kepada kebenaran universal yang diajarkan Islam tanpa suatu paksaan (dalilnya “Laa ikraaha fiddien!”)
Doktrin Kenabian Ahmadiyah Qadian
Masalah krusial lain yang dihadapi Ahmadiyah dalam menghadapi kaum muslimin non Ahmadiyah yaitu pengakuan Ahmadiyah Qadian bahwa Pendiri Ahmadiyah adalah seorang Nabi. Masalah kenabian H.M.Ghulam Ahmad menjadi sorotan tajam ummat Islam, doktrin kenabian ini adalah sebab utama penolakan kaum muslimin umumnya terhadap ajaran Ahma-diyah. Ahmadiyah Lahore, yang juga menolak kenabian H. M. Ghulam Ahmad sama seperti kaum muslimin yang lain, seharus-nya menjadi garda terdepan untuk mengoreksi doktrin kenabian Ahmadiyah Qadian yang keliru ini.
Maulana Muhammad Ali menyatakan bahwa hanya dua alternatif yang bisa dipilih orang Qadiani. Pertama, jika tetap berpegang pada doktrin kenabian, maka Ahmadiyah Qadian akan dikeluarkan dari masyarakat muslimin dan harus menjadi agama sendiri di luar Islam. Kedua, mencabut doktrin kenabian, mengakui kembali HM Ghulam Ahmad sebagai Mujaddid, maka Ahmadiyah Qadian bergabung dengan Ahmadiyah Lahore bersatu bersama kaum muslimin lainnya membangun masyara-kat dunia baru yang tercerahkan ajaran Islam.
Ahmadiyah di Indonesia
Dua aliran Ahmadiyah masuk di Indonesia. Pada tahun 1924, Ahmadiyah Lahore masuk di Indonesia di Yogyakarta dengan pemukanya Mirza Wali Ahmad Baig dan Maulana Ahmad. Sedangkan Ahmadiyah Qadian masuk dengan pemuka-nya Rahmat Ali, di Jakarta. Kedua Ahmadiyah tidak mencampuri urusan politik dan keduanya berpendirian bahwa agama Islam itu lebih tinggi daripada agama Kristen. Kegiatan Ahmadiyah tertuju kepada kalangan terpelajar.
Ahmadiyah Lahore memang bukan organisasi politik, tetapi penganjur terkemuka Ahmadiyah Lahore ialah Haji Oemar Said Tjokroaminoto (1882-1934) dari Surabaya, seorang tokoh politik pemimpin utama Sarekat Islam. Berkat kegiatan beliau yang berani dan tidak kenal lelah, faham Ahmadiyah dikenal masya-rakat luas di Indonesia. Tjokroaminoto menjadi anggota Ahmadi sebelum Gerakan Ahmadiyah Indonesia terbentuk pada 1929, bahkan sudah aktif mempropagandakan Ahmadiyah sebelum Mirza Wali Ahmad Baig datang di Jogjakarta tahun 1924. Oemar Sai Tjokroaminoto menyatakan bai’at kepada Maulana Muhammad Ali, President Ahmadiyya Anjuman Ishaati Islam melalalui surat ke Lahore.
Beliau menerjemahkan dan menerbitkan buku “Da’watoel ‘Amal” yang berisi seruan dakwah untuk bergabung dalam Ahmadiyah, gerakan penyiaran Islam oleh Mirza Ghulam Ahmad, Mujaddid abad ke 14 Hijriah (pada sampul buku Da’watoel Amal jelas disebutkan karangan Maulana Muhammad Ali, President Ahmadiya Anjuman Ishaati Islam, dan diterjemah-kan oleh Oemar Said Tjokroaminoto, President Central Sarekat Islam, dan dicetak di Percetakan Moehammadiyah).
Pada tahun 1921 HOS Tjokroaminoto selaku President Central Sarekat Islam, mengundang muballigh Anjuman Ahmadiyah Ishaati Islam, Lahore, yaitu Khawaja Kamaluddin untuk ceramah agama Islam di Surabaya, berjudul “The Gospel of Action or The Secret of Existence”. Isi ceramah itu langsung diterbitkan dalam bahasa Belanda dengan judul “Het Evangelie van den daad”, Kemudian pada tahun 1960-an H.M. Bachrun menterjemahkan dengan judul “Rahasia Hidup “. Buku-buku seperti “Het Evangelie van den daad” tidak ayal saya menyebut brilliant, berfaedah sekali bagi semua orang Islam.” kata Bung Karno, dalam Surat dari Endeh, 25 Nopember 1936.
Dengan mulai diberikan pendidikan kepada bumiputera pada tahun 1901, telah menimbulkan kesadaran dan keterbukaan terhadap pentingnya pengetahuan, sekaligus bangkitnya kesa-daran nasionalisme pada bumiputera yang bermayoritas muslim. Maka pada tahun 1905 Haji Samanhudi (1878-1956) mendirikan Sarekat Dagang Islam (SDI) yang basisnya adalah pedagang di Laweyan, Surakarta. Kemudian atas permintaan H. Samanhudi bergabunglah seorang pemuda militan dari Surabaya bernama Oemar Said Tjokroaminoto ke dalam SDI. Pada tahun 1911, atas usul SDI cabang Surabaya, di bawah pimpinan Tjokroaminoto, SDI merubah namanya menjadi Sarekat Islam. Kegiatan baru dari Sarekat Islam yang menjelma dari Sarekat Dagang Islam ini dirasakan dirasakan membahayakan kekuasaan Belanda. Strategi Belanda untuk menghambat pergerakan Islam yang diwakili Sarekat Islam itu adalah menugaskan “Sayyid Utsman bin Agil bin Yahya” untuk berfatwa. Fatwanya adalah melarang Quran untuk diterjemahkan serta ditafsirkan, dan khutbah harus dalam bahasa Arab.
HOS Tjokroaminoto, selaku President Central Sarekat Islam, sejak 1926 mulai menerjemahkan karya Maulana Muhammad Ali yaitu The Holy Qur’an, Arabic Text, Translation and Commen-tary, ke dalam bahasa Melayu, beliau banyak mendapat tantang-an. Untuk menjawab tantangan itu Sarekat Islam membentuk Madjelis Oelama untuk mengawasi penterjemahan tafsir Qur’an oleh HOS Tjokroaminoto tersebut.
Pada tahun 1927 datanglah seorang ulama dari Singapura  yang sangat anti Ahmadiyah, yakni Abdul Alim Siddiqi yang berceramah hebat sekali dengan mencerca Ahmadiyah, sehingga banyak yg terpengaruh. Akibat fatwa Sayyid Utsman bin Agil bin Yahya dan Abdul Alim Siddiqi, pemikiran rasional dan maju dari Ahmadiyah terhambat, sebaliknya pikiran jumud dan kolot mendapat dukungan. Bahkan Muhammadiyah-pun tidak bersedia menyertai Majelis Ulama bentukan Sarekat Islam, karena menurut Muhammadiyah, tafsir Qur’an oleh HOS Tjokroaminoto tidak cocok dengan Islam yang sesungguhnya.
Kongres Sarekat Islam di Pekalongan tahun 1927, dengan alasan Muhammadiyah tidak setuju menyertai Majelis Ulama usulan Sarekat Islam, maka kongres menjatuhkan disiplin partai kepada Muhammadiyah. Ini berarti anggota Muhammadiyah tidak boleh merangkap jadi anggota Sarekat Islam. Kemudian, pada tahun 1928 Muhammadiyah memecat seluruh anggota Sarekat Islam dari Muhammadiyah.
Kongres Sarekat Islam (Januari 1928) di Yogyakarta mem-bentuk Madjelis Oelama dan membahas tafsir Qur’an karya Tjokroaminoto, yang menemui tantangan keras, karena dianggap berdasarkan tafsir Ahmadiyah. Diputuskan untuk menunda penerbitan juz-juz tafsir Qur’an berikutnya sambil menunggu keputusan Majelis Ulama. Kemudian rapat Sarekat Islam di Kediri (September 1928) memutuskan mengizinkan kelanjutan penerjemahan di bawah pengawasan Majelis Ulama. Tafsir Qur’an Suci terjemahan HOS Tjokroaminoto terbit tiga juz pada tahun 1928 dengan kata pengantar oleh Haji Agus Salim, juga seorang pimpinan Sarekat Islam. Kata pengantar Haji Agus Salim dapat juga dibaca pada ‘Sepatah Kata dari Penterjemah’, dalam terjemah tafsir Qur’an Suci Maulana Muhammad Ali, oleh H.M.Bachrun.
Usaha HOS Tjokroaminoto menerbitkan terjemah tafsir Qur’an Suci karya Maulana Muhammad AIi berakibat saling pecat anggota di antara Sarekat Islam dan Muhammadiyah. Ada dua orang terkemuka pengurus pusat, PP Muhammadiyah, yaitu H. Minhadjoerrahman Djojosoegito sebagai Ketua Cabang Muhammadiyah Purwokerto dan R. Moehammad Hoesni sebagai Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Muhammadiyah, pada tahun 1928 terpaksa harus keluar dari Muhammadiyah karena Pengurus Besar Muhammadiyah mengirimkan maklumat, tertanggal 5 Juli 1928 nomor 294 ke seluruh cabangnya yang isinya antara lain melarang mengajarkan ilmu dan paham Ahmadiyah di lingkungan Muhammadiyah. Untuk melanjutkan missi dakwah Islam kedua mantan pemuka Muhammadiyah ini terpaksa harus membentuk organisasi di luar Muhammadiyah, yaitu Gerakan Ahmadiyah Indonesia pada tahun 1929, dengan ketua H. M. Djojosoegito dan sekretarisnya Moehammad Hoesni. Hal ini semata-mata untuk menyelamatkan dakwah Ahmadiyah yang menghadapi tantangan besar.
Sumbangan Pemikiran Ahmadiyah pada Pra Kemerdekaan Indonesia
Pada awal abad ke-20, pemerintah kolonial Hindia Belanda telah berhasil menancapkan kuku penjajahannya. Tidak ada lagi perlawanan rakyat yang berarti. Menyadari bahwa Indonesia telah menjadi sekadar sapi perahan Belanda, atas usulan kaum sosialis seperti Van Deventer maka Pemerintah Kerajaan Belanda di bawah Wilhelmina melaksanakan Etische Politiek, atau politik balas budi di Indonesia, yang diumumkan pada September tahun 1901 di Parlemen Belanda. Kemudian dilaksanakanlah awal kegiatan pendidikan di Hindia Belanda, yang memberikan pendidikan sekolah berbahasa Belanda untuk Bumiputera. Akibat pendidikan itu maka lahirlah kaum terpelajar bumiputera yang mampu berbahasa Belanda yang dipakai untuk membantu kerja administrasi Belanda.
Seluruh tingkat birokrasi pemerintahan pusat sampai ke daerah, pusat-pusat usaha ekonomi dipegang orang Belanda dibantu bumiputera yang telah mendapatkan pendidikan sekolah berbahasa Belanda. Pemerintah kolonial sudah berhasil mengasing-kan kaum terpelajar pribumi dari agama dan budaya mereka. Kaum terpelajar sudah terbiasa berpakaian, berbicara dan berfikir seperti orang Belanda, mereka tidak lagi terbiasa melaksanakan shalat apalagi membaca Qur’an. Zending Kristen dan Missi Katholik berhasil memurtadkan banyak pemuda terpelajar.
Tetapi, bersamaan dengan diberikannya pendidikan kepada bumiputera, kesadaran kebangsaan di Hindia Belanda menjadi bangkit. Pada tahun 1905 Haji Samanhudi mendirikan Sarekat Dagang Islam yang basisnya adalah pedagang di Laweyan, Surakarta.Kemudian seorang tokoh militan dari Surabaya yaitu Oemar Said Tjokroaminoto bergabung dalam SDI. Pada tahun 1911 dalam kongres SDI di Surabaya, SDI Cabang Surabaya mengusulkan perubahan Sarekat Dagang Islam menjadi Sarekat Islam. Sarekat Islam yang baru memilih Oemar Said Tjokro-aminoto sebagai Ketua Central Sarekat Islam yang pertama, beliau selalu terpilih menjadi Ketua sampai wafatnya di tahun 1934.
Sementara itu pada tahun 1924, muballigh Ahmadiyah yaitu, Mirza Wali Ahmad Baiq dan Maulana Ahmad yang dalam perjalanan diutus Ahmadiyah Anjuman Ishaati Islam Lahore untuk menyiarkan Islam di Cina; di Singapura mendengar kabar bahwa Zending Kristen dan Missi Katholik di Hindia Belanda berkembang pesat. Maka kedua mubaligh Ahmadiyah itu memutuskan untuk tidak meneruskan perjalanannya ke Cina, melainkan pergi ke Hindia Belanda untuk menyelamatkan bangsa Indonesia dari ancaman pengkristenan penjajah. Atas izin pusat Ahmadiyah di Lahore, kedua mubaligh itu pun pergi ke Jogjakarta.
Setibanya di Jogjakarta, mereka disambut PB Muhammadiyah. Dalam kongres Muhammadiyah tahun 1924, Maulana Ahmad berpidato dalam bahasa Arab, disusul Mirza Wali Ahmad Baiq dalam bahasa Inggris. Pidato inilah yang oleh majalah “Bintang Islam” dan harian “Cahaya Timur” disebut sebagai “ruh baru dalam gerakan Islam di Indonesia”. Beberapa bulan kemu-dian, Muhammadiyah mengirim beberapa pemuda supaya belajar di Lahore, antara lain Jumhan, putera KH Ahmad Dahlan, Ketua Muhammadiyah yang kemudian menjadi muballigh di Bangkok sampai akhir hayatnya.
Ahmadiyah datang ke Indonesia di mana Zending Kristen dan Missi Katholik berkembang pesat. Ahmadiyah datang dengan membawa missi “mematahkan salib dan membunuh babi”. Ahmadiyah suatu kelompok Islam rasional dan militan yang berani berdebat menantang pendeta Nasrani, tentang agama Kristen yang ketika itu sedang berkuasa. Kedatangan Ahmadiyah dengan pemikiran Islam yang berbeda dengan pemikiran Islam tradisional itu tentulah menarik perhatian kaum terpelajar untuk mempelajari Ahmadiyah untuk menimba ilmu melawan penjajah Belanda yang Kristen.
Dakwah Ahmadiyah terutama dilakukan melalui buku-buku tebal berbahasa Inggris dan Belanda serta buku-buku tipis berbahasa Melayu. Bagi kaum terpelajar yang terbiasa berbahasa Belanda dan Inggris, buku-buku Islam keluaran Ahmadiyah mendapat perhatian besar. Mengingat ketika itu belum terbit buku-buku standard agama Islam seperti Tafsir Qur’an, Kitab Fikh, Sejarah Nabi, dll yang berbahasa Melayu, maka kaum ter-pelajar pada umumnya mendapat pengetahuan dan pencerahan agama Islam melalui Ahmadiyah.
Itulah rahasia keberhasilan dakwah Ahmadiyah pada zaman pra kemerdekaan! Khususnya dengan bergabungnya Oemar Said Tjokroaminoto, Ketua Central Sarekat Islam yang juga anggota dan penganjur Ahmadiyah maka pengaruh pemi-kiran Islam Ahmadiyah mempengaruhi pola pikir para aktivis pergerakan kemerdekaan yang beragama Islam.
HOS Tjokroaminoto, Bung Karno dan Haji Agoes Salim, adalah ikon-ikon besar sejarah kemerdekaan Indonesia yang mendapat pencerahan pemikiran Islam dari pemikir dan penulis Ahmadiyah Lahore seperti Maulana Muhammad Ali, Khawaja Kamaluddin dll. Walaupun semula ulama Muhammadiyah menentang terjemahan tafsir Qur’an Suci Muhammad Ali, tetapi pada kenyataannya setelah versi tafsir Qur’an dalam bahasa belanda “De Heliege Qoer’an” oleh Soedewo PK terbit pada tahun 1935, banyak tokoh-tokoh Muhammadiyah, Jong Islametein Bond, Jong Java, dll. seperti Mr. Kasman Singodimedjo, Mr. Muhammad Roem, Mr. Jusuf Wibisono, Roeslan Abdoel Gani, dll., apalagi S. M. Kartosoewirjo, anggota Sarekat Islam yang murid HOS Tjokroaminoto. Kesemuanya adalah peminat tafsir Qur’an Suci oleh Maulana Muhammad Ali yang kontroversial itu.
“Kepada Ahmadiyah pun saya wajib berterima kasih!”, tulis Bung Karno, murid HOS Tjokroaminoto, dalam suratnya dari Endeh 25 Nopember 1936. “Saya tidak percaya bahwa Mirza Ghulam Ahmad seorang nabi dan belum percaya pula ia seorang mujaddid Tapi ada buku-buku keluaran Ahmadiyah yang saya dapat banyak faedah dari padanya: “Mohammad the Prophet” dari Mohammad Ali, “Het Evangelie dan den daad” Chawadja Kamaloeddin. “De bronnen van het Christendom”, dari idem, dan “Islamic Review” yang banyak memuat artikel yang bagus. Dari tafsir Qur’an buatan Mohammad Ali, walaupun ada bebe-rapa fatsal yang tidak saya setujui, adalah banyak juga menolong kepada penerangan bagi saya. Dan mengenai Ahmadiya, walau-pun beberapa fatsal di dalam mereka punya visi saya tolak dengan yakin, tokh pada umumnya ada mereka punya “features” yang saya setujui: mereka punya rationalisme, modernisme, mereka punya hati-hati terhadap hadits, mereka streven Qur’an sahaja dulu, mereka punya systematische aannemelijk making van den Islam. Buku-buku seperti “Het Evangelie van den daad” tidak ayal saya menyebut brilliant, berfaedah sekali bagi semua orang Islam” (dikutip dari buku Di Bawah Bendera Revolusi)
Catatan: Walaupun bukan anggota Ahmadiyah, tetapi Bung Karno mengakui kebaikan dan keunggulan buku-buku Ahma-diyah. Yang dimaksudkan dengan buku-buku Ahmadiyah adalah buku-buku Ahmadiyah Lahore, tidak satu pun buku dari Ahmadiyah Qadian!
Banyak pemimpin Indonesia di awal kemerdekaan adalah simpatisan Ahmadiyah, ini berkat pengaruh Ahmadiyah pada organisasi Sarekat Islam, Moeslim Broederschap, Jong Islamieten Bond, Jong Java dan lain-lain. Ahmadiyah Lahore adalah juga merupakan Anggota Istimewa dari Masyumi (Majelis Syuro Muslimin Indonesia). Posisi Ahmadiyah Lahore di Masyumi diwakili oleh H. Mahmoed Latjuba yang dulu menjadi Duta Besar R.I. di Pakistan dan di Mesir, atas dukungan Masyumi.
Sejarah mencatat bahwa perilaku para pemimpin tua di awal kemerdekaan Indonesia jauh lebih baik daripada perilaku pemim-pin Indonesia sekarang. Pada awal kemerdekaan para pemimpin lebih idealis, sekarang para pemimpin cenderung pragmatis dan materialis. Ini disebabkan karena pada awal kemerdekaan Ahma-diyah berhasil mencerahkan Islam melalui aktivis muda per-gerakan kemerdekaan yang kelak menjadi pemimpin bangsa Indonesia merdeka.
Kondisi Bangsa Indonesia Sekarang
Mengingat ajaran Islam yang tercerahkan oleh ajaran Mujaddid belum menyinari bangsa Indonesia sekarang ini, maka kondisi bangsa kita ibarat kondisi Ibu Pertiwi yang sedang sakit, merintih dan berduka.
Oh, lihat ibu pertiwi,sedang bersusah hati
Air matamu berlinang, mas intan yang terkenang
Hutan sawah gunung lautan, simpanan kekayaan
Kini ibu sedang lara, merintih dan berduka
Kepedihan Ibu Pertiwi adalah penderitaan sebagian besar rakyat. Segelintir elite bangsa tinggal dalam  kemewahan hidup di tengah-tengah kemelaratan rakyat.
Elite bangsa hidup sejahtera tujuh turunan, karena meng-hisap kekayaan rakyat. Kelakuan elite bangsa (para pemimpin pemerintahan, para pemimpin partai politik dan para pemimpin lainnya) digambarkan dengan jelas dalam al-Qur’an, di surat Al-Fajr ayat 15-20:
Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dimuliakan-Nya dan diberiNya kesenangan, maka dia berkata: “Tuhanku telah memuliakan aku”. Adapun bila TuhanNya mengujinya lalu mem-batasi rizkinya, maka dia berkata, “Tuhanku menghinakanku”. Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya kamu tidak memuliakan anak yatim, dan kamu tidak saling menjajal memberi makan orang miskin, dan kamu memakan harta warisan dengan rakus, dan kamu menyintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan.
 Manusia jika sudah diberi sukses kehidupan dunia/materi, maka mereka melupakan idealisme membela kaum melarat. Bahkan kecintaan kepada dunia membuat elite bangsa yang berkuasa menumpuk kekayaan untuk kepentingan sendiri dan merugikan rakyat.
Selanjutnya untuk menyegarkan ingatan, kami sampaikan tulisan yang bersumber antara lain dari BPS, BI, LSM dan mass media, tentang Kondisi Bangsa Indonesia yang carut marut termasuk kelemahan diri kita para Ahmadi, yang mungkin relevan dalam jalsah ini, yaitu:
A. Orang Miskin di Indonesia
  1. Sebelum kenaikan harga BBM, 1 Oktober 2005, jumlah keluarga miskin (Gakin) 15.500.000 keluarga. (1 Gakin terdiri dari 4 orang). Jumlah orang miskin: 15.500.000 x 4 orang = 62.000.000 orang.
  2. Setelah kenaikan harga BBM, dan Bantuan Langsung Tunai (BLT) kepada Gakin, menurut para ahli ekonomi SBY, Gakin akan berkurang 10% s/d 15%
  3. Tapi kenyataannya Gakin malah naik menjadi 24.600.000 Gakin, yang berarti orang miskin menjadi 24.600.000 x 4 orang = 98.400.000 orang. Selama satu bulan kenaikan BBM, orang miskin bertambah: 98.400.000 – 62.000.000 = 36.400.000 orang. Kenaikan orang miskin: 36.400.000: 62.000.000 x 100% = 58,7%.
  4. Apabila dibandingkan dengan penduduk Indonesia yang berjumlah 216.000.000 jiwa. Jumlah orang miskin adalah 98.400.000: 216.000.000 x 100% = 45,5%.
  5. Jadi hampir separuh penduduk Indonesia adalah orang miskin. Padahal Indonesia merdeka telah berumur 60 tahun dan mempunyai kekayaan sumber daya alam yang berlimpah, baik nabati, hewani maupun barang tambang dan mineral.
B. Memerangi Korupsi
Kita mengharapkan korupsi segera diberantas. SBY+JK telah 46 kali pidato memberantas korupsi: SBY telah 35 kali pidato tentang pemberantasan korupsi dan JK telah 11 kali pidato tentang masalah korupsi.Tapi amat sedikit dalam kwantitas maupun kwalitas perkara yang dituntaskan yaitu:
  1. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) baru mampu menyidangkan 2 (dua) perkara korupsi yaitu Kasus Gubernur Aceh non aktif dan Kasus KPU.
  2. Tim Koordionasi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Timtas Tipikor) yang dipimpin langsung oleh SBY baru menyidangkan Kasus Dana Abadi Umat (Dana Haji) dan masih ada 16 (enam belas) perkara korupsi yang belum tersentuh.
  3. Kejaksaan Agung telah menyelesaikan 450 perkara korupsi, sebagian besar kasus terjadi di daerah dengan nilai rata-rata ratusan juta rupiah, jadi cuma korupsi kelas teri. Tetapi korup-tor kelas kakap yang mengkorup uang negara sampai Rp. 114,5 trilyun seperti korupsi BLBI (Bantuan Likuiditas Bank Indo-nesia) yang telah diproses Kejaksaan Agung, sampai sekarang dihentikan tanpa diketahui di mana rimbanya.
  4. POLRI (Kepolisian Republik Indonesia) yang ketahuan beberapa perwiranya memiliki dana pribadi di Bank secara tak wajar (ada yang mencapai Rp. 800 milyar), terlibat kasus korupsi BNI dan ada yang menerima uang sogok dari pabrik ekstasi terbesar ketiga dunia, sampai hari ini belum ada yang disidangkan.
Karenanya, Indeks Persepsi Korupsi (IPA) Indonesia tahun 2005, yang dikeluarkan Transparancy International menyata-kan bahwa dari 159 negara yang disurvei, Indonesia adalah negara terkorup nomor 6 di dunia dengan skor 2,2 (Naik dari urutan ke-5 pada tahun 2004 dengan skor 2,0).
C. Penyerbuan Markas Ahmadiyah
Di awal Juli 2005 terjadi serbuan brutal atas nama suatu kelompok Islam ke dalam “Kampus Mubarak”, suatu kompleks di atas lahan 4,5 hektare terdiri dari masjid, kampus perguruan, rumah dan kantor milik Jemaat Ahmadiyah Qadian, yang terletak di Parung, Kabupaten Bogor. Kabarnya, sedikitnya ada 5.000 sampai 10.000 orang massa menyerbu, dengan dalih Ahmadiyah punya Nabi yang bernama Mirza Ghulam Ahmad. Keyakinan Ahmadiyah Qadian yang tidak mengakui Nabi Muhammad SAW sebagai nabi terakhir dinilai para penyerbu telah menghina agama Islam.
Walaupun massa menyerang markas “Ahmadiyah yang punya Nabi”, tetapi kenyataan-nya sepanjang jalan antara Ciputat menuju Parung terdapat posko-posko bertuliskan “Posko Pem-bubaran Ahmadiyah Qadian dan Ahmadiyah Lahore”. Ketika seorang aktivis massa penyerbu ditanya, dia menjawab: “Qadian dan Lahore itu sama-sama Ahmadiyah jadi keduanya harus dilarang!”.
Di akhir Juli 2005 di Cianjur, terjadi perusakan sebuah masjid, 42 rumah penduduk, sebuah gudang, dan sebuah mobil dibakar, semuanya milik anggota Ahmadiyah Qadian.
Berita di dua tempat kejadian di Bogor dan Parung, hendak-nya menjadi perhatian kita para anggota Ahmadiyah Lahore, untuk berkaca memperbaiki diri. Karena berita itu menunjukkan bahwa:
  1. Ahmadiyah Qadian, ternyata  punya kekuatan sosial ekonomi yang kuat terbukti punya kompleks masjid, perguruan, perumahan dan kantor seluas 4,5 hektare di Parung, Bogor. Sedangkan di Cianjur saja sedikitnya punya anggota 42 keluarga, jadi lebih dari 100 orang, dan mereka punya ikatan kegiatan sosial-ekonomi bersama terbukti punya masjid, gudang dan mobil angkutan barang. Belum lagi cabang-cabangnya yang tersebar di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan NTB.
  2. Ahmadiyah Qadian sudah berhasil merebut opini massa di masyarakat bahwa “Ahmadiyah yang asli adalah Ahmadiyah yang mengakui Mirza Ghulam Ahmad sebagai Nabi”. Sedangkan suara dan opini masyarakat bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah Mujaddid terdengar samar-samar. Oponi umum menyatakan bahwa HMGA mengaku dirinya Nabi, bukan Mujaddid.
  3. Alhamdulillah kekuatan kita yang tidak bisa ditandingi organisasi Islam manapun di dunia ialah khasanah buku-buku hasil pemikiran para Ahmadi pendahulu kita. Ahmadiyah Qadian tidak punya buku bermutu seperti Ahmadiyah Lahore. Walau demikian, untuk bisa mengejar ketertinggalan itu kita harus dengan rendah hati mengakui bahwa kita lemah dalam:
  • Keyakinan doktrin kemujaddidan melawan doktrin kenabian Qadian.
  • Solidaritas sosial-ekonomi karena lemahnya ruh-qurban para agniya
  • Keberanian untuk mengakui diri sebagai Ahmadiyah Lahore.
  • Organisasi, sehingga belum tercapai kerjasama optimal antar komponen anggota.
Penutup
Sebagai penutup, kami ingatkan hadirin jalsah salanah Ahmadiyah tahun 2005 ini bahwa pada periode persiapan dan awal kemerdekaan bangsa kita, tokoh-tokoh para penganjur dan anggota Gerakan Ahmadiyah Indonesia telah berhasil mencerah-kan sebagian besar elit bangsa dengan ajaran Islam yang telah ditajdid oleh Mujaddid Abad ke-14 H. Sehingga bangsa kita berhasil mencapai kemerdekaannya. Karena itu adalah kewajiban Gerakan Ahmadiyah Indonesia untuk bangkit kembali meraih keberhasilan para pendahulunya untuk membuat bangsa kita tunduk kepada kebenaran Islam guna membangkitkan bangsa ini dari keterpurukannya. Sebagaimana firman Allah pada Alquran 7:96
Jika sekiranya penduduk negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan limpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi.
(Berkah Allah tampak jelas ketika bangsa Indonesia merdeka).
Tetapi mereka mendustakan ayat-ayat kami itu. Maka kami siksa mereka disebabkan karena perbuatannya.
(Siksa Allah tampak sekarang ini di Indonesia negeri kaya raya tapi rakyatnya melarat dan sengsara!)
Demikianlah hanya kepada Allah kita mohonkan petunjuk dan pertolongan.[]

Retrieved from: http://ahmadiyah.org/ahmadiyah-dan-kondisi-bangsa-indonesia/

No comments:

Post a Comment